Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Cemburu


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu setelah semua fakta terkuak, kini hidup Adnan dan Alisha makin sempurna, apalagi setelah mengetahui jika Cantika ternyata masih bagian dari keluarga Adnan, membuat lelaki itu makin sayang dengan Cantika.


Usia kandungan Alisha sudah tujuh bulan, tapi ia masih masuk kuliah meskipun sang suami sudah melarangnya. Niatan Alisha ingin menyelesaikan kuliahnya sampai akhir semester ini baru ia akan mengambil cuti, supaya tidak mengulang terlalu banyak, dan Adnan pun pasrah yang terpenting sang istri dan bayi yang ada dalam kandungan Alisha tetap sehat.


Pagi ini Alisha hanya masuk kuliah sebentar, biasanya sang suami selalu menjemput ketika ia selesai kuliah, tapi kali ini Adnan ada jadwal di kampus juga, dengan terpaksa Alisha pun menaiki taksi untuk pulang ke rumah.


Sudah hampir lima belas menit, tapi taksi yang ia pesan lewat online belum juga datang, membuat Alisha sedikit kesal. Karena udara hari ini begitu terik, mekipun belum tengah hari tetap saja tidak tahan jika berlama-lama di bawah sinar matahari langsung.


Alisha menunggu taksi sambil duduk di halte depan kampus, ia jengah ingin menghubungi sopir saja dari pada berlama-lama di sini dan membatalkan pesanan taksinya. Tapi tiba-tiba sebuah motor berhenti di hadapannya. Ia tak perduli, tapi saat si pengendara membuka helm full face nya, ia terkejut mendapati siapa orang tersebut.


"Apa kabar Sha? Ow, luar biasa seorang perempuan jadi-jadian bisa hamil juga ternyata," ucap orang tersebut menampilkan senyum devilnya.


Alisha tak merasa takut sedikit pun dengan orang itu, meskipun di dalam perutnya ada kehidupan lain yang harus ia jaga, ia yakin orang itu tidak berani macam-macam di tempat umum.


"Bukan urusan Lo!" Alisha melirik sekilas ke arah orang tersebut, ia tak mau meladeni orang itu untuk saat ini.


"Santai aja kalo, gue enggak akan dendam sama Lo, tenang aja, gue cuma pengen tau aja gimana kabar Lo sekarang? Gue kira Lo udah cerai sama suami Lo yang tukang bohong itu, ternyata Lo kemakan rayuannya juga ya," orang itu terus saja berbicara meskipun Alisha tak menghiraukannya. Merasa di baikan oleh Alisha, orang tersebut duduk di sisi Alisha lalu merebut ponsel yang sedang di mainkan oleh Alisha.


"Mau Lo apa sih? Lo itu muka tembok banget, enggak ada malu-malunya sama sekali, masih berani muncul di depan gue setelah apa yang Lo lakuin ke sepupu gue! Mendingan Lo pergi deh, kalau enggak gue akan teriak, nih." Alisha geram dengan tingkah orang tersebut yang seenak jidatnya sendiri.


"Slow dong, kasian anak Lo kalo Lo teriak-teriak gitu," orang itu tampak santai menghadapi kemurkaan Alisha.


"Balikin hape gue!" teriak Alisha setelah berusaha merebut kembali ponselnya tapi tak juga mendapatkan ponsel tersebut.


"Hei! Beraninya Lo ganggu wanita hamil, dasar b a n c i, Lo!" Seru seseorang dari arah samping halte.


Alisha dan orang itu pun menoleh saat mendengar ucapan seseorang tersebut.


"Oh, ternyata Lo, udah bebas aja dari penjara? Nyogok berapa Lo?" ejek orang tersebut yang tak lain adalah Dani, sahabat Alisha. Ia tadi mendapatkan pesan gambar dari salah satu teman kampusnya. Gambar di mana Alisha sedang berada di depan halte dengan seseorang yang sepertinya bukan orang baik, ia pun langsung bergegas ke luar kelas untuk menemui Alisha, takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu.


"Cuih! Bukan urusan Lo, gue juga enggak ada urusan sama Lo," sinis orang tersebut.

__ADS_1


"Max, Max, apa lagi si yang Lo inginkan? Apa Lo belum puas di penjara?" Dani tak menghiraukan ucapan Max.


Ya, orang tersebut adalah Maxim, ia sudah ke luar dari penjara satu bulan yang lalu, tentu saja karena campur tangan orang tuanya. Ia sengaja datang menemui Alisha karena sebelumnya telah mencari keberadaan Yesha yang sampai sekarang juga belum ia ketahui. Entah apa yang akan dia lakukan? Padahal dia sudah pernah merasakan kehidupan di penjara tapi tetap saja belum jera.


"Ck, enggak seru!" ucap Maxim, lalu melempar ponsel Alisha ke pangkuan wanita itu, untung saja tidak terjatuh. Setelah itu ia kabur meninggalkan Dani dan Alisha.


"Lo enggak apa-apa, kan Sha?" tanya Dani.


"Lo liat sendiri, gue baik-baik aja. Tapi makasih karena ada Lo tu cowok pergi," jawab Alisha sekaligus berterimakasih karena sudah mengusir Maxim meski tidak terang-terangan.


"Tenang aja, meskipun dia udah ke luar dari penjara dia tidak berani berbuat macam-macam lagi. Gue denger dia di ancam sama Papanya, kalau sampai masuk penjara lagi, Papanya tidak akan menganggap anak dan akan menarik semua fasilitas yang dia punya, dan satu lagi dia udah di depak dari geng motornya," jelas Dani panjang lebar, karena ia memang lebih mengetahui tentang kebebasan Maxim dari penjara, ketimbang Alisha yang memang sejak hamil tidak pernah berkumpul dengan geng motornya.


"Bagus dong kalau gitu, mungkin dia tadi cuma mau nakut-nakutin gue aja Dan," ucap Alisha.


"Bisa jadi. Betewe taksi Lo belum dateng? Gue antar pulang aja yuk," Dani merasa kasihan melihat Alisha, ia bermaksud mengantar Alisha pulang.


"Kuliah Lo?" tanya Alisha.


"Bolos, lagian cuma dua pertemuan aja dan sekarang yang terahir, udah ijin tadi, malu dong kalo balik lagi," jawab Dani.


"Emang enggak capek ya bawa perut segede itu?" tanya Dani tiba-tiba saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Pertanyaan konyol, ya jelas capek lah, tapi bahagia pastinya, jadi nikmati aja lah," jawab Alisha, "Tapi seandainya laki-laki bisa hamil nich, gue bakalan nyerahin perut ini ke laki gue," tambahnya sambil terkekeh.


"Gue belum percaya aja gitu, Lo yang dulunya petakilan, suka kebut-kebutan naik motor, suka balapan, eh sekarang hamil jadi terlihat feminim banget," ucap Dani, baru kali ini ia memperhatikan Alisha setelah wanita itu hamil karena memang mereka jarang bertemu.


"Ini sudah jadi kodratnya seorang wanita Dan, mau dia dulunya tomboy dan petakilan, kalau saatnya seperti ini ya harus feminim, kalau enggak bisa panjang urusannya," timpal Alisha.


Merek terus mengobrol hingga sampai depan rumah Alisha, menceritakan banyak hal yang terjadi di geng motor mereka hingga kehidupan pribadi mereka masing-masing, yang ternyata Dani akan segera melamar kekasihnya.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Malam hari sebelum tidur menjadi hal yang menyenangkan bagi Adnan, karena ia bisa berbicara bebas dengan jabang bayi yang ada dalam perut Mamanya. Anaknya itu juga selalu merespon ketika Adnan mengajak berbicara, membuat Adnan makin bahagia dan tak pernah bosan mengajak bayi itu berbicara.


"Oh iya, sayang, tadi kamu pulang dari kampus sama siapa? Kata Pak Anto kamu tidak ada di kampus waktu dia menjemput kamu di sana," tanya Adnan saat teringat ucapan sang sopir tadi siang.


Alisha yang sedang membaca artikel tentang melahirkan meletakkan buku yang ia baca lalu menatap sang suami yang masih betah tiduran di pangkuannya.


"Sama Dani, maaf aku tadi lupa bilang," ucap Alisha sambil tersenyum.


Adnan menaikkan satu alisnya menatap tajam sang istri yang sedang tersenyum, "Aku kan pernah...." Ucapan Adnan menggantung, karena Alisha lebih dahulu menyela.


"Iya Mas, aku tahu. Tapi tadi terpaksa karena genting," ucap Alisha memotong ucapan Adnan yang akan protes, karena suaminya itu sudah melarang Alisha yang suka menebeng pada Dani.


"Genting apa? Karena aku enggak jemput gitu?" tanya Adnan yang sedikit kesal.


"Issh, tadi ada Maxim gangguin aku, terus Dani datang dan Maxim pergi setelah ada Dani, nah setelah itu aku terima deh tawaran Dani buat Anyer sampe rumah, lagian sih, nungguin taksi enggak dateng-dateng, pak sopir juga lama, aku kan takut kalau Maxim datang lagi," jelas Alisha panjang lebar.


Adnan mengingat-ingat siapa Maxim, setelah menemukannya ia pun terkejut, "Dia udah keluar dari penjara? Dia enggak macam-macam kan sama kamu, sayang?" tanya Adnan panik.


"Iya aku baik-baik aja kok, dia enggak ngapa-ngapain, kayaknya cuma mau nakut-nakutin aku aja,"


"Berarti kamu mulai besok harus cuti kuliah, memang harusnya kamu udah cuti kuliah, kan?" Adnan khawatir jika Maxim datang lagi saat Alisha kuliah.


"Ish, enggak ah, lagian Minggu depan ujian. Tinggal ujian aja, masak mau cuti, enggak, aku mau cuti habis ujian aja," Alisha tetap bersikeras cuti setelah ujian.


Adnan menghela nafas, Alisha masih saja keras kepala, "Yaudah, tapi harus berangkat dan pulang sama supir, biar Pak supir nungguin kamu di kampus sampai selesai. Aku enggak mau kamu pulang diantar orang lain lagi," akhirnya Adnan mengalah, ia tahu istrinya tidak akan mengalah.


"Dani bukan orang lain Mas, dia sahabat aku, masih saja kamu cemburu, orang dia sebentar lagi mau nikah," Alisha tak terima Dani di sebut orang lain oleh sang suami, karena sejak dulu Mama tak selalu percaya pada Dani tidak seperti Adnan.


"Siapa yang cemburu?" Adnan tidak mau sang istri tahu jika ia sebenarnya memang cemburu.


"Enggak ngaku juga enggak apa-apa, tapi libur sebulan atau kalau enggak sampai anak kita lahir," celetuk Alisha asal, ia hanya ingin mengerjai sang suami.

__ADS_1


"Jangan dong sayang, lama banget itu. Iya deh ngaku aku emang cemburu kalau kamu deket sama Dani, dia itu kaya ada rasa gitu sama kamu," ucap Adnan sambil beranjak dari tidurnya, memeluk sang istri dengan penuh kasih sayang.


"Ngaco kamu, itu cuma pera...." Alisha tidak melanjutkan ucapannya karena Adnan sudah membungkam mulut Alisha dengan bibirnya.


__ADS_2