
Alisha hanya berdiam diri di sofa sejak sejam yang lalu, setelah Adnan menelfon seseorang menyuruh untuk membelikan tiket pesawat untuk dirinya. Ia tahu suaminya itu kecewa dengannya, tapi ia juga kesal karena ia melakukan semua itu juga untuk Adnan, tapi lihatlah sekarang Adnan justru asik berkutat dengan laptopnya, duduk bersila di atas tempat tidur, mengabaikan keberadaannya. Ia jadi menyesal sudah mengemis pada dosen tadi, karena nyatanya Adnan tidak menyukai idenya itu, bahkan saat ini terlihat sudah membaik. Ia menghembuskan nafas berkali-kali saat mengingat kejadian tadi di kampus.
Adnan sebenarnya masih merasa tidak enak badan, tapi ia terpaksa membuka laptop supaya Alisha percaya jika ia baik-baik saja, padahal sejak tadi pikirannya tidak di laptop yang ia pangku, tapi pada sang istri yang terlihat murung duduk di sofa. Ia tak tega sebenarnya pada Alisha, tapi jika dirinya tak bersikap seperti itu, pasti Alisha akan mengulangi perbuatan yang sama.
Tok Tok Tok
"Maaf Den, ada orang yang mencari di luar," Bik Ana muncul dari balik pintu, hanya menampakkan kepalanya saja.
"Suruh masuk ke sini aja Bik," ucap Adnan, ia tahu siapa yang datang.
Tak berapa lama orang itu pun masuk ke dalam kamar, menyerahkan beberapa berkas penting pada Adnan. Terlihat Adnan membaca berkas-berkas tersebut lalu menandatanganinya.
"Tiketnya udah dapet?" tanyanya pada orang itu yang tak lain adalah Agil.
"Udah, take off jam dua siang," jawabnya.
"Setelah makan siang kembali ke sini, antar dia ke bandara," ucap Adnan sambil menunjuk Alisha dengan ekor matanya.
Agil melihat jam di pergelangan tangannya, lalu ia mengangguk tanpa bertanya apa pun. Sebenarnya ia penasaran juga, tapi karena ini masih jam kantor ia tidak mungkin menanyakan hal di luar pekerjaan. Setelah itu ia pun berpamitan dengan Adnan dan juga Alisha.
Setelah kepergian Agil, Alisha memberanikan diri mendekati Adnan, duduk di sisi suaminya itu tapi sikap Adnan tetap cuek bahkan seperti tak merasakan kehadirannya. Alisha memberanikan diri memeluk tubuh Adnan, menyandarkan kepalnya di bahu sang suami, ia masih merasakan suhu tubuh Adnan yang tak seperti biasanya.
"Mas, aku minta maaf. Bukan maksud ku tidak mau ikut, tapi aku khawatir sama keadaan kamu," lirihnya.
Adnan menghela nafas, ia menutup laptopnya lalu meletakkan di sisi kosong sebelahnya. "Aku baik-baik saja. Kamu tahu, apa yang kamu lakukan itu merugikan diri kamu sendiri, kamu bisa saja tidak lulus di semester ini, apa kamu mau kalau kuliah kamu lebih lama lagi? Enggak, kan?" ucapnya tanpa membalas pelukan Alisha.
__ADS_1
Ia bisa merasakan jika Alisha menggeleng, ia menghela nafas lalu meraih Alisha ke dalam pelukannya. "Jangan khawatirkan aku, nanti juga pasti sembuh," ucapnya.
"Yang penting kamu harus berangkat ke Jogja, nanti aku akan bilang ke dosen kamu, biar diijinkan ikut kegiatan itu," tambahnya.
Alisha mempererat pelukannya, "Makasih Mas," ucapnya.
🌻🌻🌻
Pukul setengah satu siang, Agil kembali datang ke rumah menjemput Alisha dan mengantar wanita itu ke bandara tentu saja tanpa Adnan karena Adnan masih belum pulih. Di tengah perjalanan Agil membuka pembicaraan dengan Alisha karena sejak tadi mereka berdua hanya membisu.
"Ceritanya di usir dari rumah, ya?" tanya Agil sok tahu.
Alisha mendongak, karena sejak tadi ia sedang bermain ponsel, "Kamu ngomong apa? Aku enggak denger," tanya Alisha ia benar-benar tidak mendengar apa yang Agil katakan, hanya samar-samar saja karena mata dan pikirannya fokus pada ponsel.
Agil berdecak, "Kamu di usir dari rumah? Berbuat kesalahan lagi pasti," tebaknya yang memang benar adanya
Bukannya marah Agil justru tergelak mendengar ucapan sinis Alisha, terlihat sekali jika istri bosnya itu sedang kesal. "Nah ini apa? Mau pergi ke luar kota tidak di antar suami, tadi juga saat pamitan tidak ada ciuman perpisahan, pertanda apa coba kalau enggak di usir?" ucapnya dengan nada mengejek.
Alisha hanya berdecak malas meladeni Agil.
"Biasanya ya, kalau istri mau pergi lama dan jauh, suami pasti bela-belain antar ke bandara, meskipun dalam keadaan tidak enak badan kaya Adnan tadi, dan satu lagi mereka pasti akan berpelukan atau memberikan ciuman perpisahan, tapi kalian? Keliatan banget kalo sedang terjadi sesuatu," ucap Agil panjang lebar.
Alisha menatap Agil tidak percaya, "Cowok kok cerewet, sok tau lagi," ucapnya masih dengan nada sinis.
"Diem deh, tambah pusing kepala gue," ucap Alisha lagi saat melihat Agil akan kembali berbicara. Ia memasang headset lalu menyandarkan tubuhnya, memejamkan mata karena malas meladeni Agil yang sok tahu itu.
__ADS_1
Waktu berlalu, mereka sampai di Bandara. Alisha membawa kopernya sendiri tanpa meminta bantuan Agil, ia juga tidak berpamitan atau bicara apa pun dengan pemuda itu, terlalu malas karena Agil membuat moodnya jadi hancur.
Alisha melihat ponselnya, tidak ada notif yang masuk. Menghela nafas ternyata Adnan benar-benar marah dengannya. Ah sudahlah, mungkin Adnan juga tidur lagi, karena tadi masih demam.
🌻🌻🌻
Waktu berlalu, Alisha sudah sampai di Yogyakarta. Ia memutuskan untuk mencari hotel menggunakan aplikasi, istirahat di hotel sejenak sambil menunggu teman-temannya tiba. Perkiraan malam hari merwja baru tiba di Yogyakarta, masih ada waktu beberapa jam juga, pikirnya.
Alisha membelalakan matanya saat melihat ponsel, tersenyum bahagia seperti baru saja mendapatkan rejeki nomplok. Ia segera memesan taksi menuju hotel yang letaknya ada di pusat kota.
Sesampainya di hotel, ia menuju resepsionis.
"Saya mau bertemu dengan manager hotel, bisa kan?" tanyanya pada resepsionis itu.
"Maaf, Apa Embaknya sudah ada janji sebelumnya?" resepsionis itu balik bertanya.
Alisha menghela nafas, susah sekali mau bertemu dengan manager saja. Ia pun tidak menjawab, tapi menunjukkan sebuah kartu sakti pada resepsionis tersebut.
"Berikan ini ke manager hotel, saya tunggu," ucap Alisha, ia bisa menebak jika resepsionis itu tidak mengetahui pemilik kartu tersebut, karena terlihat dari wajah bingungnya.
Tak berapa lama seorang wanita cantik seumuran Mamanya datang di susul resepsionis yang tadi dengan wajah menunduk.
"Maaf Nona, dia karyawan baru," ucap manager tersebut sambil menunduk. Lalu menyerahkan kartu yang tadi ia berikan pada resepsionis itu
Kartu yang Alisha berikan tadi, adalah kartu khusus untuk keluarga pemilik hotel. Kamarnya pun khusus untuk keluarga. Ya, hotel tersebut adalah hotel milik kakek Alisha, ia sebelumnya tidak tahu jika hotel milik kakeknya ternyata ada di kota lain selain Jakarta. Tentu saja ia merasa beruntung karena menginap tanpa harus merogoh kocek alias gratis.
__ADS_1
"Tidak masalah Bu," ucap Alisha santai, "Saya mau menginap semalam saja, tolong antar ke kamar saya," ucap Alisha pada manager tersebut.