Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Hari Bahagia


__ADS_3

"Owalah, dia ternyata yang mau nikah sama sepupuku, aku emang belum pernah bertemu dengan calon suaminya," kilah Yesha. Ia sengaja berbohong di sini, untuk mengorek informasi dari Angkasa.


"Iya, tadinya aku yang di jodohkan, tapi aku menolak, karena aku tahu seperti apa Alisha, aku jadi berfikir akan seperti apa nanti keluarga kami? Menurutku Kakak ku lah yang tepat hidup dengannya, dia bisa membimbing Alisha nanti, sedangkan aku masih butuh banyak bimbingan," Angkasa menjeda ucapannya, "dan satu lagi, karena aku juga menyukai seseorang," tambahnya lalu menatap Yesha yang juga sedang memperhatikannya.


Yesha terkejut mendengar hal itu, jadi benar dugaannya jika Adnan melakukan itu karena adiknya, dan ia tahu pasti kalau Adnan menyukai dirinya tentu saja setelah Alisha bercerita. Memang sebelumnya ia hanya menduga, setelah mendengar ucapan Alisha kemarin tapi saat mendengar langsung dari Angkasa ia semakin yakin.


"Maaf Kak, aku harus pulang ini sudah sore," Yesha tidak mau melanjutkan perbincangan mereka, karena ia sudah mendapat jawaban sesungguhnya.


"Tapi...." belum juga Angkasa menyelesaikan ucapannya Yesha lebih dulu menyela.


"Maaf Kak, kita bisa bicara lain waktu," Yesha berdiri lalu meninggalkan Angkasa begitu saja, ia kesal pada Adnan, ia juga kesal dengan Angkasa karena Angkasalah ia merasakan patah hati seperti saat ini, pikirnya.


Angkasa menghela nafas panjang, belum juga dirinya mengungkapkan perasaan pada gadis itu, tapi Yesha justru lebih dulu meninggalkannya. Ia jadi menyesal kenapa harus ada basa-basi dulu, tidak langsung mengatakan yang sesungguhnya. Ah sial dan benar-benar sial. Padahal momen tadi sangatlah susah ia dapatkan, tapi justru ia juga menyia-nyiakannya.


🌻🌻🌻


Beberapa hari berlalu, setelah kejadian itu, Angkasa makin sulit bertemu dengan Yesha karena gadis itu selalu menghindar. Angkasa jadi bingung sendiri, seperti ada yang salah dari dirinya sampai-sampai Yesha menghindarinya. Tapi apa? Karena ia merasa tak pernah berbuat salah dengan Yesha? Ah entahlah. Tapi ia tetap berusaha untuk menemui Yesha meskipun hasilnya selalu mengecewakan. Kenapa susah sekali untuk mendapatkan gadis itu?


Sedangkan hari pernikahan Alisha makin dekat saja, gadis itu terlihat bahagia meski Yesha tidak sedikit pun membantunya untuk mempersiapkan pernikahannya bahkan Yesha jarang sekali datang ke rumah, tapi Alisha tak pernah sedikit pun curiga karena ia berfikir jika Yesha sibuk dengan kuliahnya.


Dan hari yang di tunggu-tunggu pun tiba, Alisha saat ini berada di sebuah kamar hotel yang di khususkan untuk make up, gadis itu terlihat cantik bahkan terlihat berbeda alias manglingi. Ia baru saja selesai di rias oleh MUA.


Yesha masuk ke dalam kamar tersebut tanpa mengetuk pintu, ia terkagum-kagum dengan penampilan Alisha.


"Cantik banget calon pengantin," celetuk Yesha.


"Kakak bisa aja," Alisha tersenyum menanggapi, ia melihat tampilan dirinya di dalam cermin, memang cantik karena gadis itu tak pernah bermake up sebelumnya.

__ADS_1


"Gimana rasanya? Pasti dag dig dug ya?" tebak Yesha. Ia duduk di sisi Alisha yang sedang asyik menatap dirinya di dalam cermin.


Sebenarnya gadis itu yang merasa hatinya berdegub tak seperti biasanya. Ia tadi sempat tidak mau datang ke acara pernikahan Alisha, tapi demi sepupunya itu akhirnya Yesha menguatkan diri untuk datang ke acara itu.


"Kalau Kakak enggak kuat, di rumah aja. Atau nanti pas acara ijab qobul Kakak enggak usah nyaksiin, aku khawatir Kakak pingsan," Arga yang mengatakan hal itu, sambil tersenyum menggoda sang Kakak.


"Kakak harus tetap ikut, katanya udah ikhlas?" sang Mami menimpali, "Akan ada jodoh terbaik buat Kakak, percaya sama Mami," Mami menepuk pundaknya.


"Kak," Alisha menepuk pundak Yesha, "Kok malah melamun sih Kak?" tanyanya.


"Ah enggak, cuma kepikiran kita enggak bakalan bisa tidur bareng lagi," kilah Yesha. Ia tadi melamun memikirkan ucapan adiknya.


"Masih bisa dong, nanti Kaka bisa main ke rumah, kita bisa tidur bareng," timpal Alisha sambil terkekeh.


"Mana bisa begitu, pasti su....." Yesha memotong ucapannya saat suara seseorang terdengar dari arah luar kamar.


"Ma, aku kok jadi grogi gini ya, duhh," keluh Alisha saat mengetahui calon suaminya sudah datang.


"Rileks ya, kita temui mereka," Mama Icha menuntun Alisha untuk berdiri, "Yes, ayo tutun Alisha ke luar sama Dinda, Mama harus ke sana dulu, nemuin mereka,"


Mau tak mau, Yesha mengikuti permintaan Mama Icha, ia tidak bisa menolaknya. Mereka berdua menuntun Alisha ke balroom hotel, di mana tempat ijab qobul akan di langsungkan.


Saat matanya tak sengaja menatap netra Adnan, hati Yesha kembali perih, ia sepertinya tidak akan sanggup menyaksikan Adnan mengucap ijab qobul untuk Alisha. Sedangkan Alisha terlihat bahagia apalagi saat menatap Adnan yang begitu tampan bahkan tersenyum menatapnya. Yesha menyaksikan interaksi ke dua orang itu dengan hati perih, bahkan hatinya seperti tersayat silet di tambah ketumpahan garam, gimana rasanya itu. Perih sekali.


Setelah Alisha duduk di tempatnya, tepat di sisi Adnan. Yesha tak tahan lagi untuk tetap di sana, ia langsung pergi entah kemana. Ia takut benar-benar akan pingsan nanti saat menyaksikan Adnan mengucap ijab qobul untuk Alisha. Bahkan hanya mendengarnya saja sepertinya Yesha tak sanggup.


Setelah semuanya benar-benar siap, akhirnya ijab qobul pun di laksanakan. Dengan satu tarikan nafas Adnan telah menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya Alisha Noureen Al Ghifari binti Bapak Vicky Al Ghifari dengan maskawin tersebut, tunai,"


"Bagaimana para saksi sah?" tanya penghulu.


"Sah,"


"Sah,"


"Sah,"


Setelah itu, penghulu membacakan doa untuk kedua mempelai.


Hati Alisha yang tadinya gundah gulana, kini sudah sedikit lega, akhirnya ia sudah sah menjadi istri seorang Adnan. Pria yang sempat ia kagumi, pria yang ia kira cinta masa kecilnya, namun pada akhirnya ia salah menduga.


Sedangkan Adnan yang tadi sempat goyah hatinya saat menatap wajah Yesha, kini pun sudah lega karena dengan begini ia akan semakin mudah melupakan gadis itu. Meskipun terlihat jahat sepertinya, tapi ia akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Alisha, ia juga akan berusaha mencintai Alisha meskipun tidak semudah itu karena hatinya saat ini masih terpaut dengan orang lain.


Setelah itu mereka berdua pun bertukar cincin, dan untuk pertama kalinya Adnan harus mencium kening Alisha yang sudah sah menjadi istrinya. Ia memejamkan mata saat bibirnya bersentuhan dengan kening Alisha, ia sedikit gemetar saat melakukan itu, bukan karena gemetar mencium wanita yang ia cintai, tapi lebih tepatnya gemetar karena wanita yang ia kecup itu kini menjadi tanggungjawabnya, dan ia tidak boleh mengabaikan istrinya setelah itu, meski cinta belum tumbuh di hatinya. Akan sulit sepertinya.


Kemudian bergantian Alisha yang mencium punggung tangan Adnan, sebagai bakti jika ia sekarang sudah sah menjadi istri Adnan. Dan lepaslah tanggung jawab sang Papa terhadap dirinya.


Acara selanjutnya, kedua mempelai lebih dulu sungkem dengan para orang tua. Alisha menangis saat berhadapan dengan Mama dan Papanya, ia begitu banyak salah dengan kedua orang tuanya itu. Susah diatur, bahkan sering membangkang. terutama terhadap Mama.


"Jadilah istri yang baik ya sayang, jangan pernah membantah suamimu, kecuali suamimu menyuruhmu melakukan hal yang di larang oleh Allah maka kamu wajib menolaknya. Jadilah istri yang berbakti, jangan pernah mengecewakan suamimu," Mama Icha berpesan panjang lebar, ia memeluk tubuh putri kesayangannya itu dengan derai air mata.


Sama hal dengan sang Mama, wajah Alisha pun sudah banjir dengan air mata. Ia hanya mengangguk saat Mama menasehatinya.


______________

__ADS_1


__ADS_2