Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Antara Dua Pilihan


__ADS_3

Flashback On


.


.


.


Adnan mondar-mandir mencari sesuatu, tapi benda yang di carinya itu tak kunjung di temukan. Ah iya ingat, tadi sebelum tidur siang di hari libur ini, dia berada di kamar sang adik, bermain game online berdua. Setelah mengingat itu dia menuju kamar sebelah, di mana kamar Angkasa berada, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar perbincangan Angkasa dengan sang Bunda.


"Lho, anaknya Jeng Icha yang mau Bunda jodohin sama kamu itu dia, iya gadis yang ada dalam foto ini, namanya Alisha," ucap Bunda sambil memegang ponsel Angkasa.


"Bunda salah orang, dia bukan Alisha Bun, dia Ayesha. Aku kenal banget siapa Alisha, dia sering balapan motor, dia seperti apa aku tahu Bun," Angkasa menjelaskan.


Bunda terkejut mendengar penuturan Angkasa, begitu pun dengan Adnan. Dia terkejut ketika Angkasa menyebut dua nama gadis yang berbeda yang satu dia sangat hafal, dan satu lagi dia baru saja berkenalan beberapa waktu lalu. Ya, pemuda yang berkenalan dengan Alisha sekaligus penolong Alisha adalah Adnan.


"Kamu serius?" tanya Bunda.


Angkasa mengangguk.


"Terus pas kalian ketemuan gimana?" tanya Bunda, "Atau jangan-jangan kalian enggak jadi ketemu lagi?" tebak sang Bunda.


"Bukan aku yang nemuin Alisha Bun, tapi Bang Adnan, jadi please ya Bun, bang Adnan aja yang di jodohin sama Alisha," Angkasa memohon.


"Akan jadi seperti apa nanti keluarga ku Bun, kalo harus nikah sama Alisha, kalau sama Bang Adnan Alisha pasti bisa berubah jadi lebih baik, percaya deh Bun,"


"Aku juga suka sama gadis itu Bun, aku suka sama dia sejak dulu," terang Angkasa.

__ADS_1


Adnan masih mendengarkan penuturan Angkasa, hatinya seakan tercabik. Ternyata dia mencintai gadis yang sama dengan Angkasa. Tunggu, berarti Ayesha juga jadi korban di sini, bukan hanya dirinya. Ah, kenapa semua jadi kacau seperti ini? Dia mencintai Ayesha, tapi Angkasa juga iya bahkan Angkasa lebih lama memendam rasa pada gadis itu, tentu saja Adnan tahu karena Angkasa selalu bercerita meskipun tak pernah menunjukkan foto atau pun ciri-ciri gadis itu bahkan namanya pun tak pernah terucap dari bibir Angkasa.


Adnan jadi teringat akan kejadian beberapa waktu lalu, saat di kampus. Ia tak sengaja melihat Angkasa berada di kampusnya, tapi dia tidak tahu Angkasa sedang bersama siapa, karena waktu itu dirinya terburu-buru. Mungkin waktu itu dia akan menemui Yesha, pikirnya.


"Bunda tahu, makanya waktu melihat dia Bunda langsung berbicara sama Jeng Icha untuk menjodohkan kamu dengan anaknya, karena Bunda kira dia anaknya Jeng Icha, dia sering nganterin Jeng Icha belanja atau arisan," ucap Bunda.


"Jadi Bunda setuju kan, kalau Abang aja yang di jodohin sama anak Tante Icha itu,"


Bunda Ayu mengangguk, "Asalkan abangmu mau, tapi kalau dia tidak mau, batalkan saja perjodohan ini, tidak masalah,"


Setelah mendengar penuturan sang Bunda, Adnan segera meninggalkan tempat persembunyiannya. Dia masuk ke dalam kamar, supaya tidak di ketahui jika telah mendengar semua pembicaraan dua orang tersebut.


Kini hatinya gundah, harus memilih cintanya atau saudaranya, tentu saja Adnan bingung. Karena Yesha adalah perempuan pertama yang membuat dia jatuh cinta.


Adnan menghela nafas berkali-kali, dia harus memilih sekarang juga sebelum semuanya terlambat. Meskipun berat, ia harus memilih, apapun pilihannya nanti, semoga akan menjadi yang terbaik di masa depan.


"Makasih, aku cari dari tadi ternyata di kamar mu," Adnan menerima ponsel tersebut, lalu melihat ada beberapa pesan dari seorang gadis yang akhir-akhir ini membuatnya tersenyum. Tapi setelah mengetahui kenyataan yang tadi dia dengar, sedikit membuatnya terselimuti kabut hitam.


"Bang, gue udah bilang sama Bunda masalah perjodohan itu, dan Bunda setuju," ucapan Angkasa membuyarkan lamunannya. Bahkan suara Angkasa terlihat lebih jauh, ternyata pemuda itu berdiri di depan jendela kamar.


"Lo kan udah ketemu dan saling mengenal sama cewek itu, jadi Lo mau kan?" tanya Angkasa, karena dia yakin jika Adnan sudah kenal dekat dengan gadis itu, tapi tidak taukah kamu Angkasa, jika gadis yang dekat dengan Abangmu adalah gadis yang kamu sukai.


"Iya, aku udah setuju sejak pertama, kan?"


"Makasih Bang," Angkasa membalikkan badan menghadap Adnan.


"Tidak masalah, oh iya. Cewek seperti apa sih yang kamu sukai, boleh dong liat fotonya, pasti punya kan?" Adnan sengaja, ia ingin memastikan apakah benar Ayesha yang di sukai oleh Angkasa itu orang yang sama dengan Ayeshanya.

__ADS_1


Tanpa di duga, Angkasa langsung memberikan ponselnya pada Adnan yang masih menyala, menampilkan foto seorang gadis berambut panjang sedang duduk di sofa sambil tertawa riang, sepetinya foto itu di ambil diam-diam tanpa sepengetahuan si empunya.


Tiba-tiba dadanya terasa sesak, saat memerhatikan foto tersebut, tapi dia tak boleh menampakkan wajah sendunya di hadapan Angkasa, ia tidak mau Angkasa mencurigainya.


"Cantik, pantesan kamu tergila-gila sama dia," Adnan mengembalikan ponsel Angkasa, sudah tidak kuat menahan gejolak dalam dadanya. "Segera ungkapkan perasaanmu padanya, sebelum di ambil orang lain," tambahnya


Angkasa mengangguk, "Iya Bang, doakan ya," ucapnya.


Tak lama Angkasa pun ke luar dari kamar Adnan.


Setelah kepergian Angkasa, Adnan segera menghubungi seseorang, ia harus bertemu orang itu saat ini juga dan orang itu pun menyetujui untuk bertemu Adnan siang ini.


🌻🌻🌻


Dan di sinilah sekarang Adnan berada, di sebuah kafe favoritnya sejak mengenal seorang gadis yang membuat hatinya berbunga-bunga. Ia menunggu kehadiran gadis itu, mungkin yang sebentar lagi akan ia sakiti, meski tak tega ia harus tetap melakukan itu. Ya, Adnan lebih memilih Angkasa dalam hal ini, ia tidak setega itu jika harus menyakiti Angkasa, karena ia tahu bagaimana kehidupan Angkasa selama ini.


"Maaf, telat Kak, udah nunggu lama ya," ucapan lembut seseorang membuat Adnan tersadar dari lamunannya.


Ia sempat tersenyum ke arah sang gadis, senyum yang selalu jadi penyemangat hari-hari gadis itu. Meski mereka berdua tidak pernah mengatakan jika keduanya 'jadian' tapi mereka saling memiliki rasa yang sama. Ia merubah ekspresi wajahnya ketika ingat apa tujuannya kali ini. Ah berat sekali sebenarnya, ia tidak tega harus menyakiti hati gadis itu. Tapi ia harus melakukan ini, jika tidak semuanya akan runyam dan mungkin Angkasa akan membencinya, ia tidak mau itu terjadi.


"Tidak masalah," ucapnya.


"Mau pesen apa? Biar sekalian," tambahnya lalu ia memanggil pelayan.


Setelah memesan minuman dan beberapa cemilan, mereka berdua kembali hening. Adnan bingung harus memulai dari mana, ia masih tidak tega apalagi harus mengatakan hal menyakitkan pada gadisnya.


"Kakak mau bicara apa? Tadi katanya penting," gadis itu yang tak lain adalah Ayesha, tidak sabar jika harus berdiam diri apalagi waktu sudah hampir sore, ia harus segera kembali sebelum senja menghampiri.

__ADS_1


__ADS_2