Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Hari Yang Luar Biasa


__ADS_3

Alisha baru saja keluar dari kamar Cantika, setelah gadis kecil itu tertidur. Ia melewati sang suami yang sedang sibuk dengan laptopnya, duduk di sofa depan kamar mereka. Tanpa sepatah kata pun terucap dari bibir manis perempuan itu, menutup pintu kamar lalu menguncinya.


Adnan yang memperhatikan sang istri sejak ke luar dari kamar Cantika sampai masuk ke dalam kamar dan terdengar bunyi kamar di kunci hanya bisa menghela nafas, dan kembali fokus menatap layar yang ada di pangkuannya.


'Benar-benar bukan Alisha yang aku kenal selama ini,'


Adnan menggelengkan kepala tidak percaya jika Alisha bisa berubah seperti bukan istrinya saja, tapi tunggu, apakah ini pertanda? Ah bisa jadi yang di ucapakan istrinya tadi siang itu benar adanya, jika benar maka ia akan sangat bahagia. Memikirkan hal itu membuat Adnan tersenyum, ia kembali bersemangat untuk memeriksa beberapa berkas yang harus ia selesaikan malam ini juga.


Alisha menghukum Adnan bermaksud supaya suaminya itu tidak melakukan hal yang sama, selain itu ia juga ingin melihat apakah suaminya itu benar-benar tulus meminta maaf atau hanya alasan saja supaya ia memaafkannya. Tapi keadaan justru berbalik, justru dirinya yang merasakan hukuman itu, karena sudah hampir tengah malam tapi matanya tak kunjung terpejam, bahkan ia sudah berusaha untuk memejamkan mata dengan berbagai cara. Ia benar-benar tidak bisa tidur jika tanpa dekapan hangat dari sang suami.


Hanya berguling-guling tidak jelas selama beberapa jam lamanya, ini harus seger di akhiri tidak mungkin ia begadang sepanjang malam, sedangkan sang suami yang mendapat hukuman justru tidur dengan nyenyak tanpa beban.


Alisha beranjak dari tempat tidur, membuka kunci pintu dengan perlahan berharap tidak membangunkan Adnan yang sedang terlelap. Setelah pintu terbuka, benar saja suaminya tidur dengan nyenyak di sofa, membuatnya mendesah tak percaya. Lalu ia pun mendekat ke arah Adnan, mendudukan diri di lantai, ia memperhatikan wajah lelap suaminya dengan intens, sesekali tersenyum membayangkan jika ia justru kena hukuman yang ia buat sendiri, memalukan sekali bukan?


Tapi tiba-tiba tangannya reflek menyentuh pipi Adnan, dan tersadar ketika sang suami seperti terusik dengan perbuatannya, ia pun langsung lari bermaksud masuk ke dalam kamar, tapi ia justru menabrak tubuh seseorang.


"Duh," keluhnya.


"Sssttt, Embak jangan bilang sama suami saya ya," bisik Alisha sebelum Anita mengeluarkan suara. Setelah itu ia langsung masuk ke dalam kamar karena Adnan sepertinya sudah terbangun dan semoga tidak menyadari keberadaannya.


"Kamu? Kenapa di sini?" tanya Adnan penuh selidik.


Alisha masih bisa mendengar interaksi antara Anita dan Adnan, ia menebak jika sang suami mengira Anitalah yang mengusik tidurnya.


"Maaf Pak, mau ke kamar Nona kecil," jawab Anita, memang setiap malam Anita selalu tidur menemani Cantika meskipun perempuan itu punya kamar sendiri di lantai bawah.

__ADS_1


Setelah Anita berpamitan untuk masu ke kamar Cantika, Adnan akan kembali tertidur tapi urung ketika melihat pintu kamar Alisha yang terbuka dengan lampu yang masih terlihat menyala. Ia yakin istrinya belum tidur, karena Alisha selalu tidur dalam keadaan lampu padam.


"Tadi aku mimpi apa nyata ya? Tapi pas bangun yang ada Anita bukan Alisha, tapi tadi beneran Alisha deh kayaknya yang duduk di sini," gumam Adnan, sebenarnya ia merasakan ada seseorang yang duduk di hadapannya, tapi ia rasa itu hanya mimpi tapi kenapa seperti nyata?


"Apa mungkin Alisha?" Adnan menghembuskan nafas, ia beranjak dari sofa menuju kamar yang masih menyala terang. Dan ternyata benar dugaannya sang istri belum tertidur, justru berguling-guling tidak jelas membuatnya tersenyum penuh kemenangan.


"Yang enggak bisa tidur kalau enggak aku peluk, apa kabar?" Adnan mendekat ke arah ranjang, bibirnya terus menyunggingkan senyuman.


Alisha tiba-tiba menghentikan kegiatannya berguling-guling. Sial sekali ia lupa menutup pintu kamar dan kepergok Adnan, apalagi suaminya itu sudah percaya diri banget, sok di butuhkan banget.


"Aku tahu kamu belum tidur." Adnan ikut naik ke atas tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya di samping Alisha.


"Tadi ada yang curi-curi kesempatan pas aku tidur, tapi sekarang malah pura-pura tidur," Adnan terus berceloteh meskipun Alisha tetap diam.


"Bilang aja kalau minta di temenin atau mau aku peluk, dengan senang hati aku menerimanya." Kini Adnan benar-benar memeluk tubuh istrinya yang tidur memunggunginya.


"Udah sekarang tidur, hukumannya lanjut besok aja. Aku juga sebenarnya tidak bisa tidur kalau enggak meluk kamu gini," Adnan mendekap Alisha makin erat dan istrinya itu tidak menolak sama sekali.


Alisha tersenyum mendengar ucapan Adnan, tapi ia juga malu sebenarnya karena Adnan mengetahui perbuatannya. Setelah itu tiba-tiba matanya terpejam, hanya kenyamanan yang ia rasakan selama terlelap dalam pelukan sang suami.


🌻🌻🌻


"Pagi ini ke dokter dulu ya, aku tadi udah izin sama Ayah kalau mau antar kamu ke dokter," ucap Adnan, ia baru saja masuk ke dalam kamar sepulang dari masjid untuk melakukan sholat subuh berjamaah


"Iya, Mama merekomendasikan untuk ke dokter Hanny, sepupu Papa. Kita langsung ke rumah sakit beliau aja," ucap Alisha.

__ADS_1


"Tapi kan kita belum tahu pasti kalau kamu hamil apa enggak," Adnan belum benar-benar yakin jika istrinya itu hamil.


Alisha terdiam ia tidak mengatakan apa pun tapi justru meninggalkan Adnan menuju kamar mandi, membuat Adnan menghela nafas. Tapi ternyata Alisha hanya sebentar karena kini sudah kembali duduk di hadapannya dengan membawa sebuah kresek berwarna putih, entah isinya apa.


"Nich," Alisha meletakkan kresek itu ke pangkuan Adnan.


"Apa?"


"Buka aja, nanti kamu akan tahu isinya,"


Adnan mulai membuka kresek tersebut, terkejut sekaligus bahagia saat melihat isi kresek itu. Ada lima buah alat tes kehamilan dengan hasil yang sama yaitu dua garis merah, meskipun ada beberapa yang masih samar, sejurus kemudian langsung memeluk tubuh Alisha dengan erat.


"Alhamdulillah, kamu beneran hamil sayang. Aku bahagia banget," ucapnya masih memeluk tubuh Alisha.


Alisha pun membalas pelukan sang suami, ia juga tersenyum bahagia sama seperti tadi ketika mengetahui hasil tespek tersebut.


Tadi setelah Adnan ke luar kamar untuk sholat berjamaah di masjid. Alisha masuk ke dalam kamar mandi, ia sengaja menunggu Adnan pergi dulu, karena ia belum yakin jika benar-benar hamil, takut mengecewakan sang suami jika hasilnya di luar ekspektasi mereka.


Alisha mulai membuka satu persatu tespek di dalam kresek yang ia beli tadi malam dengan bantuan Anita karena tidak mungkin ia membeli sendiri takut jika Adnan mencurigainya. Lalu secara bersamaan mengetes urin yang sudah ia tampung sebelumnya. Dan begitu terlihat hasilnya, ia mengucapkan syukur dan tanpa terasa kristal bening menetes dari pelupuk matanya karena haru.


Sama halnya dengan dirinya, saat ini Adnan pun mengucapkan syukur penuh haru. Air matanya pun tak bisa dicegah untuk tidak lolos begitu saja.


Adnan melepaskan pelukannya, lalu ia mengecup seluruh wajah sang istri dengan penuh kasih sayang. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya ke arah perut rata Alisha.


"Terimakasih sayang, kamu telah hadir diantara kita. Sehat-sehat di perut Mama ya," ucapnya lalu mengecup perut rata Alisha.

__ADS_1


Alisha tersenyum bahagia melihat Adnan yang begitu bahagia. Hari ini benar-benar hari yang luar biasa buat mereka berdua.


__ADS_2