Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Makin Membaik


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, tak terasa Alisha sudah harus masuk ke kampus lagi hari ini, tapi nyatanya gadis itu kesiangan saat bangun. Kebiasaan jika sedang mendapatkan tamu bulanan bangun pagi pun malas, rasanya masih betah di atas kasur, begitu pun Alisha, ia bahkan lupa jika hari ini harus masuk kuliah.


"Duh, gue kesiangan!" Alisha terkejut saat mendapati jam di dindingnya membentuk bujur seratus delapan puluh derajat, alias pukul enam tepat. Melompat dari atas tempat tidur, lalu menyambar handuk masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak sampai lima menit, gadis itu sudah ke luar dari kamar mandi, entah mandi seperti apa bisa secepat itu. Setelah itu, ia turun ke lantai bawah, berniat membuat sarapan simple untuk dirinya dan sang suami. Tapi ia di kejutkan dengan adanya Adnan di dapur, pemuda itu sepertinya habis memasak, terlihat dia membawa dua buah piring berisi nasi goreng.


"Kamu udah bangun? Ayo kita sarapan, aku habis masak nasi goreng sosis dengan toping telur mata sapi, ini makanan kesukaan kamu, kan?" Adnan meletakkan dua buah piring tersebut di atas meja.


Alisha terbengong melihat Adnan, bahkan pemuda itu bisa tahu jika dia suka sarapan pagi dengan nasi goreng sosis plus telur mata sapi, dari mana dia tahu, coba? pikir Alisha.


"Kok malah bengong? Cepetan sini sarapan, nanti kamu telat ke kampusnya." Adnan menarik satu kursi laku ia duduk di kursi tersebut.


Alisha pun mendekat, ia duduk di sisi Adnan yang sudah mulai menikmati sarapannya.


Suapan pertama masuk ke dalam mulut Alisha, ia terkagum-kagum dengan rasa masakan suaminya itu, benar-benar enak, pantas saja jika Adnan masih belum puas dengan rasa masakannya yang biasa saja.


"Enak enggak? Ini spesial buat kamu, aku sengaja tidak bangunin kamu tadi, karena aku mau masak di hari pertama kamu masuk kuliah,"


Alisha mengangguk, "Makasih, ini enak banget, masakan Bik Ana kalah deh," ucapnya.


"Alhamdulillah, besok aku masakan lagi kalau kamu suka," Adnan tersenyum, ia bersyukur Alisha menyukai masakannya.


"Kamu kok bisa masak? Sejak kapan?" tanya Alisha setelah menelan nasi goreng dalam mulutnya.


"Sejak kuliah, aku kan dulu kuliah di London tempat Abang kamu kuliah saat ini, di sana kalau mau makan masakan negara kita mahal, jadi mau tidak mau ya masak sendiri," jawab Adnan.


"Pantesan, aku jadi insecure sama kamu, masakan kamu aja enak gini, sedangkan aku? Udah sebulan lebih masakin kamu tapi belum juga lulus," ucap Alisha, ia benar-benar tidak percaya diri. Tapi kenapa Adnan tidak pernah protes dengan hasil masakannya selama ini.


Adnan meletakkan sendoknya, lalu ia menoleh ke arah Alisha yang masih menikmati masakannya, meraih salah satu tangan Alisha yang berdekatan dengan dirinya. Otomatis Alisha pun menoleh, terkejut melihat Adnan yang seperti itu.


"Semua itu butuh proses, hasil masakan kamu sudah lumayan enak kok, jangan bilang gitu ya," ucap Adnan, masih memegang tangan Alisha.


Bukannya berterimakasih, gadis itu justru terkejut mendengar ucapan Adnan, "Jadi, kamu bohong sama aku selama ini? Kenapa enggak bilang kalau masakanku udah enak? Aku kira masih belum enak karena kamu enggak bilang kalau hukumannya selesai," Alisha cemberut, ia melepas genggaman Adnan dengan kasar. Ia mengira Adnan masih menghukumnya, karena masakan yang ia masak belum memenuhi kriteria Adnan.

__ADS_1


"Aku enggak bohong, kamu enggak pernah nanya lagi, jadi aku kira kamu ikhlas masakin aku, bukan karena hukuman," Adnan kembali melanjutkan makannya, ia berpura-pura kesal, hanya pura-pura ya, karena ini semua rencananya.


"Ya aku ikhlas, tapi keselnya kenapa kamu enggak jujur aja?"


"Iya deh maaf, sebagai gantinya aku akan masakin sarapan buat kamu selama seminggu, gimana?"


Alisha berfikir sejenak, lalu gadis itu mengangguk, "Tapi aku yang nentuin mau makan apa," ucapnya.


"Ceritanya balas dendam, nich?" tanya Adnan sambil tersenyum.


"Gitu juga boleh,"


Setelah menyelesaikan sarapan penuh drama tersebut, mereka pun bersiap-siap untuk ke kampus. Adnan juga harus ke kampus karena ia ada jadwal mengajar hari ini.


"Aku yang antar ke kampusnya," ucap Adnan saat melihat Alisha mau mengambil kunci mobil di dalam laci.


Gadis itu menoleh ke belakang tepat di mana Adnan berada.


"Ayo, ini sudah siang, setengah jam lagi kamu masuk, kan?"


Alisha mengangguk, kali ini ia tidak protes, mengikuti Adnan yang sudah jalan ke luar kamar lebih dahulu.


"Nanti pulangnya aku yang jemput, kamu telfon aja pulang jam berapa," ucap Adnan, mereka saat ini sudah berada di dalam mobil.


"Tapi, kamu kerja, kan?" tanya Alisha, ia sebenarnya tidak ingin Adnan mengantar jemput, ia ingin berangkat dan pulang kampus sendiri.


"Tidak masalah kalau cuma jemput kamu, paling cuma sebentar aja," Adnan menoleh sekilas ke arah Alisha, lalu ia kembali fokus ke arah jalanan yang sudah terlihat ramai.


Beberapa menit berlalu, kini Adnan sudah menghentikan mobilnya di kampus Alisha, tepatnya di depan fakultas bisnis.


"Yaudah, aku masuk dulu ya, lima menit lagi masuk." Alisha melepas seatbelt nya, baru saja akan membuka pintu, suara Adnan menghentikannya.


"Tunggu," ucap Adnan.

__ADS_1


Alisha menoleh, "Kenapa lagi?" tanyanya.


Adnan membuka dompetnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu berwarna silver, lalu menyodorkan kartu itu di hadapan Alisha, "Pakailah, kalau kamu butuh sesuatu, uang kamu simpan aja, pakai ini," ucapnya.


Alisha menerima kartu tersebut, membolak-balikkan kartu itu, lalu menyerahkan kembali kartu tersebut pada Adnan, "Buat apa? Aku enggak terlalu membutuhkan, minta yang cash aja," ucapnya.


"Serius ini? Emang kamu enggak mau shopping atau apa gitu? Biasanya perempuan suka shopping," Adnan sebenarnya tahu jika Alisha bukan tipe perempuan yang suka menghamburkan uang hanya untuk membeli koleksi mereka, seperti baju, tas dan sepatu.


"Kecuali aku," timpal Alisha.


Adnan mengangguk, ia menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah ke pada Alisha, lagi-lagi gadis itu mengembalikannya sebagian.


"Kebanyakan, segini udah cukup, entar kalau habis aku akan minta lagi," ucap Alisha seakan mengerti kebingungan Adnan.


"Baiklah,"


"Terima kasih," ucap gadis itu.


"Kamu enggak mau cium tangan suami kamu?" pertanyaan Adnan membuat Alisha menoleh.


"Harus ya, yaudah sini." Gadis itu meraih tangan Adnan lalu menciumnya, setelah itu gerakan tak terduga pun di lakukan oleh Adnan.


"Lepas aja tali rambutnya, nah kan gini lebih baik," Adnan baru saja melepaskan tali rambut Alisha, lalu menaruh tali rambut tersebut ke dasbor.


"Gerah kalo gini," Alisha akan mengambil tali rambutnya, tapi keburu Adnan mengambil tali rambut tersebut, memasukkannya ke dalam saku celana.


"Udah sana masuk, entar kamu telat," ucap Adnan.


Alisha berdecak sebal karena gagal meraih tali rambut tersebut.


"Belajar yang baik, jangan bolos. Kalau sampai aku tahu kamu bolos, bakalan dapet hukuman lagi," ucap Adnan sambil mengacak rambut Alisha. Adnan tentu saja tahu, jika Alisha sering membolos waktu masih SMA dulu, bahkan saat kuliah tak jarang juga gadis itu membolos. Mama mertuanyalah yang bercerita tentang sifat dan kebiasaan Alisha saat di sekolah dulu.


Alisha sempat tertegun dengan perlakuan Adnan, tapi sedetik kemudian gadis itu mengangguk, "Yaudah aku ke luar, kamu hati-hati," ucapnya lalu ke luar dari mobil. Tersenyum lalu melambaikan tangan ke arah Adnan.

__ADS_1


__ADS_2