
"Aku tahu, kamu pasti mau sesuatu, katakan saja sayang, mau makan apa? Nanti aku buatin," Adnan kembali bertanya.
Tapi Alisha tetap terdiam.
"Atau mau beli?" pertanyaan apa ini? Duh, tengah malam begini mau beli makanan di mana? Jujur kali ini Adnan menyesal dengan pertanyaannya sendiri. Ia hanya berdoa semoga Alisha tidak ingin membeli sesuatu, apalagi sesuatu yang sangat mustahil ada di malam hari.
Tapi ke khawatirannya benar-benar terjadi.
"Aku pengen makan asinan, tapi beli," jawab Alisha.
Adnan makin menyesal dengan pertanyaannya sendiri, ia berjanji lain kali tidak akan bertanya seperti itu lagi.
Adnan menghembuskan nafas panjang, "Tengah malam begini emang ada yang jual asinan ya? Kalau besok aja gimana sayang?" tanya Adnan.
"Oke besok, tapi aku enggak mau maafin kamu dan libur servis sebulan full," ucap Alisha sekaligus ancaman terberat buat Adnan.
"Yah, jangan dong. Oke aku akan carikan, moga aja masih ada penjual asinan malam gini," mau tak mau Adnan pun mengalah, daripada tidak mendapatkan servis selama sebulan penuh, yang pasti akan membuat kepalanya pusing dan pekerjaannya menjadi amburadul.
Alisha mengangguk, "Harus dapat, kalau enggak kasian anak kita, nanti ileran lagi." Ucapnya sambil mengelus perut yang masih rata.
"Iya sayang, kalau gitu aku pergi ya," timpal Adnan, lalu ia mengecup singkat kening sang istri.
Setelah itu Adnan benar-benar menuruti permintaan sang istri, meskipun dalam hati sempat meragu, mengingat tengah malam begini, apakah ada makanan yang di minta Alisha itu? Sepertinya mustahil sekali.
Ia sebenarnya ingin bertanya dengan Pak Joko, tapi urung saat melihat kamar Pak Joko dan istrinya sudah padam. Tentu saja ini tengah malam, tidak mungkin mereka belum tidur. Akhirnya ia pun memilih untuk mencari sendiri, entah itu dapatnya besok pagi atau siang yang penting sekarang berangkat.
Tin Tin Tin
Adnan membunyikan klakson mobilnya ketika berada di depan gerbang, tak berapa lama gerbang terbuka dengan otomatis dan seorang satpam ke luar dari pos.
__ADS_1
"Mau kemana Den?" tanya satpam tersebut, merasa heran karena Tuannya pergi di tengah malam seperti ini.
Adnan tersenyum menanggapi, setelahnya ia tidak menjawab melainkan bertanya, "Mang, di sini penjual asinan yang buka dua puluh empat jam di mana ya?" tanyanya.
Satpam itu tampak berfikir sejenak, tapi tiba-tiba satpam yang satunya juga ke luar dari pos dan menghampiri mereka.
"Tadi Aden tanya penjual asinan?" tanya satpam ke dua yang bernama Yanto, terlihat dari tanda pengenal di dada kirinya.
"Iya Pak, Bapak tahu di mana ada penjual asinan tengah malam gini?" tanya Adnan.
"Kalau tengah malam gini sih sudah pasti tidak ada Den, tapi saudara saya itu penjual asinan, mungkin Aden bisa ke sana, tempatnya sih lumayan jauh, satu jaman bisa sampai tempat saudara saya itu," jelas Pak Yanto.
"Kalau gitu, Bapak boleh anterin saya ke rumah saudara Bapak itu? Nanti biar Mang Usup di temenin Pak Joko," pinta Adnan pada Pak Yanto, tentu ia akan menerima tawaran tersebut dari pada berkeliling tidak jelas.
Kedua satpam tersebut saling melempar pandangan, seperti meminta persetujuan satu sama lain.
"Nanti saya yang akan bertanggungjawab, Pak. Jadi Bapak tidak usah khawatir," ucap Adnan seakan tahu kegelisahan Pak Yanto.
Di dalam mobil, sesekali Adnan bertanya pada Pak Yanto dan sebaliknya, supaya menghilangkan rasa kantuk yang menyerang.
"Istrinya ngidam ya Den?" tanya Pak Yanto di tengah perjalanan mereka.
"Iya Pak, kalau enggak di turutin nanti ngambeknya enggak sembuh-sembuh Pak, apa pun dan bagaimanapun keadaannya ya mesti di turutin,"
"Iya Den, dulu istri saya juga ngidam aneh-aneh, untung saja saya bisa penuhi, kalau enggak ya gitu marah-marah enggak jelas, untung hanya anak pertama saja, waktu hamil anak ke dua dan selanjutnya udah enggak pernah ngidam aneh-aneh," Pak Yanto menceritakan masa mudanya dulu saat sang istri hamil anak pertma.
"Aneh seperti apa Pak? Kalau boleh saya tahu," tanya Adnan, ia penasaran juga dengan cerita Pak Yanto.
"Mau makan buah mangga tapi di pohonnya langsung, gimana coba? Ya tapi tetep saya penuhi permintaannya,"
__ADS_1
Adnan terkejut sekaligus menahan tawa, ia tidak bisa membayangkan bagaimana Pak Yanto membujuk istrinya itu, "Berarti istrinya Bapak beneran naik pohon dan makan mangga di pohon?" tanyanya penasaran.
"Iya, tapi pohon pendek yang belum berbuah, dan buahnya ambil di tempat lain," Pak Yanto terkekeh mengingat tingkah konyol istrinya.
"Itu salah satunya Den, masih banyak lagi. Kadang mau makan nasi goreng, setelah di belikan enggak mau di makan malah makan yang lain, ya seperti itulah susahnya ngadepin wanita hamil. Tapi untung saja saya enggak ikutan ngidam, ada tetangga saya yang istrinya hamil malah dia yang ngidam, istrinya biasa aja," Pak Yanto bercerita panjang lebar.
Adnan mendengarkan dengan seksama, ia berbicara dalam hatinya, "Saya juga merasakan ngidamnya Pak, Pak. Malah dapet apesnya, dia yang dapet enaknya pengen makan apa aja enak, nah saya? Tapi tida apa-apalah, menikmati prosesnya,"
Selama perjalanan, mereka isi dengan berbagai cerita menarik kadang membuat mereka berdua tertawa bersama, hingga tanpa terasa mereka sampai di depan rumah penjual asinan tersebut.
Beberapa kali Pak Yanto mengetuk pintu rumah tersebut, setelah si pemilik rumah membuka pintu, Adnan mengucapkan maaf berkali-kali karena mengganggu istirahat mereka, tapi wanita paruh baya tersebut tampak memakluminya, katanya ia sudah terbiasa menerima pesanan tengah malam begini dari Bapak-bapak yang istrinya sedang ngidam. Membuat Adnan sedikit lega, selama menunggu di buatkan asinan, Adnan, Pak Yanto dan suami ibu itu pun terlihat mengobrol, sambil menikmati segelas kopi yang di hidangkan.
Tak butuh waktu lama, asinan itu pun jadi, karena semua bahan sudah siap. Setelah pesanannya jadi Adnan pun berpamitan, ia tidak mau Alisha menunggu terlalu lama. Adnan tentu saja membayar dengan uang lebih, ia tidak enak malam-malam mengganggu orang sedang istirahat.
"Pak berhenti sebentar ya, saya mau ambil pesanan martabak," ucap Adnan sebelum turun dari mobil.
Saat ini mereka sudah berada di tempat dekat villa, Adnan sengaja memesan martabak langganannya yang biasanya buka sampai subuh, untuk di berikan pada Pak Yanto dan yang lainnya, menyisakan satu untuk dirinya sendiri.
Sesampainya di villa, Adnan segera berlari masuk ke dalam villa, melihat jam di pergelangan tangannya, ternyata sudah hampir subuh, Alisha pasti sudah uring-uringan menunggu kedatangannya. Tapi saat membuka pintu kamar, ternyata sang istri tertidur dengan nyenyak, membuat Adnan sedikit lega.
"Mas? Udah pulang? Mana pesananku?" tanya Alisha, yang sepertinya menyadari kedatangan sang suami.
Adnan yang baru saja akan membuka pintu kamar mandi terkejut mendengar pertanyaan Alisha, karena tadi ia melihat istrinya itu sedang dalam mode tidur nyenyak. Tapi setelah itu, ia pun mengurungkan niatnya ke kamar mandi, lebih memilih mendekat ke arah Alisha yang sedang membuka paperbag.
"Wah, ada martabak!" Alisha justru terlihat girang saat melihat martabak, sedangkan asinan pesanannya terabaikan begitu saja.
"Lho kamu katanya mau asinan, kok yang dimakan malah martabak?" tanya Adnan heran.
"Asinannya udah enggak selera setelah liat martabak ini," jawab Alisha enteng.
__ADS_1
Adnan terkejut, lalu ia menghela nafas panjang setelah mengingat cerita Pak Yanto tadi, ia sekarang percaya dan mengalaminya sendiri.
"Tau gitu, tadi beli martabak aja," gerutu Adnan sambil melangkah ke tempat tidur.