Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Jangan Ragu Untuk Mengatakannya


__ADS_3

Malam hari Alisha terbangun dari tidur nyenyaknya, entah kenapa tenggorokannya terasa kering. Dilihatnya jam baru menunjukkan pukul satu dini hari, masih lama jika menunggu waktu subuh tiba. Beranjak dari tempat tidur, ia meraih botol minuman yang selalu tersedia di dalam kamar, tapi nihil airnya telah tandas tak tersisa, akhirnya ia pun memilih untuk turun ke lantai bawah mengambil air minum.


Adnan yang menyadari sang istri terbangun, ia pun ikut bangun dan menyusul Alisha ke dapur. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan istrinya itu, mengingat Alisha masih saja lupa jika ia sedang mengandung.


"Sayang, ngapain?" tanya Adnan dengan suara parau khas bangun tidur saat melihat Alisha membuka lemari pendingin.


"Tadinya mau minum, tapi pas liat kulkas jadi laper," jawab Alisha tanpa menoleh ke arah sang suami, ia sudah bisa menebak jika Adnan ikut terbangun, seperti biasanya suaminya itu akan terbangun jika ia bangun, tapi tak seperti biasanya kali ini justru mengikutinya ke dapur. Ia berfikir sejenak, ada untungnya juga Adnan bangun, pikirnya.


"Mau makan apa?" tanya Adnan yang sudah berdiri di belakang Alisha.


"Buatkan ini ya Mas." Alisha memberikan satu boks makanan instan pada Adnan.


"Tteokbokki? Serius mau makan ini? Ini kan pedas, kamu bukannya tidak suka makan pedas," Adnan terheran-heran melihat selera makan Alisha yang selalu ingin makan pedas.


"Iya aku mau itu, tadi aku liat di Drakor kayaknya enak, jadi penasaran," Alisha membayangkan betapa lezatnya makanan tersebut, bahkan air liurnya seakan ingin mengalir.


"Sejak kapan kamu suka nonton Drakor, dan ini kapan juga belinya?" tanya Adnan, ia tahu pasti istrinya itu tidak pernah menonton drama-drama romantis apalagi Korea. Dan ia juga heran Alisha dapat makanan tersebut dari mana?


"Itu punya embak Anita, aku tadi udah ijin," ternyata makanan tersebut bukan Alisha yang membeli sendiri melainkan Anita.


Adnan memang beberapa kali melihat Anita menonton Drakor saat Cantika tertidur. Mungkin pengasuh Cantika itu salah satu peminat drama Korea.


"Sekali ini aja ya, lain kali kalau mau makan ini kita beli langsung di restoran Korea, kalau yang instan gini kan kurang sehat," ucap Adnan sambil mempersiapkan memasak makanan yang di inginkan oleh sang istri.


Alisha tersenyum bahagia, tidak disangka jika Adnan memiliki ide untuk mengajaknya makan di restoran Korea, sungguh membahagiakan. Memang ia tak pernah sekali pun masuk restoran yang menjual makanan khusus dari negara gingseng tersebut, "Iya Mas, tapi kamu janji harus ajak aku ke sana," ucapnya.


"Iya sayang," Adnan mengedipkan sebelah matanya membuat Alisha tersipu malu. Ternyata dia masih punya rasa malu juga dengan suaminya itu.


Tak butuh waktu lama, semangkok tteokbokki telah terhidang di hadapan Alisha, lengkap dengan sausnya. Alisha menelaah salivanya berkali-kali, sudah tidak sabar ingin menyantap makanan tersebut, lalu ia segera meraih sendok untuk mencicipi makanan itu.


"Pelan-pelan sayang, masih panas," Adnan memperingati ketika Alisha akan memasukkan satu sendok penuh tteokbokki ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Baru saja Alisha akan meniup makanan dalam sendok tersebut, Adnan lebih dulu melarangnya, membuatnya meletakkan sendok beserta isinya ke dalam mangkuk.


"Stop, jangan di tiup. Bentar aku cari kipas dulu." Adnan beranjak dari duduknya, mencari kipas angin kecil milik Cantika.


"Sini biar aku kipasin." Adnan meraih mangkuk dihadapan Alisha dan mulai mengipasi makanan tersebut.


"Makanan panas itu tidak boleh di tiup, nanti bakteri di dalam mulut bisa menempel ke makanan, jadi tidak sehat. Itu menurut ahli kesehatan," Adnan mejelaskan alasannya tidak boleh meniup makanan.


"Rasulullah juga melarang kita untuk meniup makanan yang masih panas, karena akan menghilangkan barokah dari makanan tersebut," tambahnya.


Alisha menyimak semua penuturan sang suami, sebenarnya ia juga pernah mendengar hal tersebut, tapi selalu lalai dan tidak melaksanakannnya.


"Nich udah lumayan anget," Adnan menyerahkan makanan itu kepada Alisha.


"Makasih Mas," ucap Alisha sambil tersenyum. Ia bahagia sekali malam ini karena sang suami sudah rela menemaninya bangun di tengah malam, dan membuatkan makanan yang ia inginkan.


"Kamu mau enggak, Mas?" tanya Alisha.


"Makanlah, aku akan tunggu sampai kamu selesai makan," ucap Adnan dan diangguki oleh Alisha.


"Aku mau ganti baju dulu, gerah," ucap Alisha setelah sampai di kamar.


Adnan hanya mengangguk, lalu naik ke tempat tidur, duduk di atas tempat tidur sambil bersandar di kepala ranjang. Lalu meraih ponsel di atas nakas dan membukanya, sambil menunggu sang istri kembali.


Adnan menoleh ke arah Alisha ketika mendengar langkah kaki, ia terkejut mendapati sang istri yang benar-benar sudah mengganti pakaiannya, tapi kenapa yang di pakai Alisha seperti itu tak seperti biasanya, bahkan istrinya itu memakai pakaian seperti itu bisa di hitung dengan jari selama mereka menikah. Ya, Alisha memakai pakaian dinasnya.


"Tumben?" tanyanya.


Alisha mendengus, lalu memutar tubuhnya berniat untuk mengganti pakaian, tapi Adnan lebih dulu menarik tangan istrinya itu.


"Mau kemana?" tanya Adnan lalu memeluk tubuh sang istri dari belakang.

__ADS_1


"Ganti baju, malu tau enggak sih. Tadinya aku mau berterimakasih, tapi kamu gitu," jawab Alisha ketus, mendengar jawaban Alisha membuat Adnan menarik sudut bibirnya.


"Serius cuma ucapan terimakasih? Tidak ada yang lain?" tanya Adnan.


Alisha kembali mendengus, tentu saja ada alasan lain. Sebenarnya ia ingin sekali mendapatkan sentuhan dari sang suami, tapi malu lah jika harus mengatakannya secara langsung. Jadi, ia menemukan ide untuk memakai pakaian minim bahan tersebut berharap sang suami tergoda dengan penampilannya. Tapi yang namanya harapan kadang tidak sesuai dengan kenyataan, lihatlah Adnan bahkan sepertinya tidak tertarik dengan dirinya yang berpakaian seperti itu.


"Enggak," jawabnya.


Adnan sebenarnya juga tahu jika sang istri menginginkannya, tapi ia sengaja menggoda Alisha supaya istrinya itu berkata jujur, tapi sepertinya tidak mungkin.


"Istriku memang pengertian," ucap Adnan masih setia memeluk Alisha dari belakang. "Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini," tambahnya.


Tanpa di duga Adnan mengangkat tubuh Alisha dan merebahkan istrinya itu di atas tempat tidur.


"Sudah siap bertempur sampai pagi?" tanyanya ketika Alisha sudah terbaring di ranjang.


Alisha yang tadinya cemberut kini tersenyum, lalu ia mengangguk karena memang itu yang ia inginkan sejak tadi. Tentu saja Adnan memperlakukan Alisha dengan lembut, ia tidak mau kandungan Alisha kenapa-napa. Sebenarnya ia bisa menahan sampai kandungan Alisha sudah tidak rawan lagi, tapi melihat sang istri yang mendamba, ia pun tak mungkin menolak karena urusannya pasti akan panjang. Apalagi Alisha tadi sempat merajuk setelah mendapatkan respon kurang baik darinya.


"Jika kamu menginginkannya lagi, jangan ragu untuk mengatakan, dan enggak usah malu," ucap Adnan setelah mereka selesai berperang malam ini. Ia memeluk sang istri yang sedang mengatur nafasnya, lalu mengusap peluh yang membanjiri wajah ayu Alisha.


"Malu Mas," Alisha membenamkan wajahnya di dada sang suami.


"Kenapa harus malu coba?" tanya Adnan.


Alisha menggeleng, "Enggak tahu, malu aja. Yang penting kamu harus peka," kini Alisha mendongak menatap wajah sang suami yang sedang tersenyum.


"Baiklah, aku selalu peka dengan hal-hal menyenangkan,"


Alisha justru mendengus mendapat jawaban seperti itu.


"Mau lagi apa tidur?" tanya Adnan.

__ADS_1


"Lagi," jawab Alisha sambil menyembunyikan wajahnya di dada Adnan.


Adnan tersenyum penuh kemenangan, hari ini ia mendapatkan jatah berkali lipat, padahal kemarin malam sempat tidur di luar kamar.


__ADS_2