Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Usaha Tanpa Hasil


__ADS_3

Angkasa hampir sebulan berada di negara ini, di mana lagi jika bukan di negara yang terkenal dengan sebutan Der Panzer dalam bidang olahraga sepak bola, yaitu Jerman. Ia menyewa sebuah apartemen di tengah kota, berharap bisa bertemu dengan seseorang yang ia cari, gadis yang selama ini masih tertanam setia di dalam hatinya.


Cinta terkadang membuat orang bisa melakukan apa pun, tak memandang di belahan dunia manapun pasti akan selalu di cari, seperti yang di lakukan Angkasa saat ini, tapi alih-alih bertemu sang pujaan hati ia justru bernasib malang, baru saja ponsel kesayangannya hilang entah kemana, mungkin terjatuh saat di jalan tadi, berkali-kali ia menghembuskan nafas kesal. Untung saja ia hafal nomor ponsel Bunda di luar kepala. Menghubungi Bunda memberi kabar jika ia baik-baik saja dan baru saja kehilangan ponsel kesayangannya. Ponsel penuh memori, galerinya di penuhi foto gadis pujaan hatinya, itu yang membuat ia frustasi karena selain di ponsel ia tak memiliki foto gadis itu lagi.


"Si Naga pasti bohongin gue kalau Yesha kuliah di sini, buktinya selama sebulan gue nungguin di depan kampus itu tak pernah bertemu dengan dia," gumam Angkasa, kesal karena sahabatnya Naga telah membohongi dirinya.


Ia ingat sebulan lalu sebelum ke negara ini, saat itu mereka sedang berada di apartemen Nevan, Naga tiba-tiba datang dan langsung menghampirinya yang sedang santai di sofa.


"Ang, gue dapet informasi yang bakalan buat Lo bahagia," celetuk Naga, duduk di sisi Angkasa yang masih setia menatap layar ponselnya.


"Enggak ada informasi yang buat gue bahagia, kecuali....," Angkasa tidak meneruskan ucapannya karena Naga lebih dahulu menyela.


"Kecuali informasi tentang Yesha, nah gue dapat info itu," ucap Naga antusias, "Dari sumber terpercaya, yakin seratus persen bisa di percaya informasi dari gue," tambahnya.


Angkasa yang tadinya bermalas-malasan akhirnya bangkit, meletakkan ponsel di atas meja, "Apa infonya?" tanyanya.


"Yesha kuliah di Jerman di salah satu universitas terbaik di sana," Naga menyebutkan sebuah universitas di Jerman.


"Lo yakin? Dapet info dari siapa?" tanya Angkasa lagi.


"Dari Yasmin, baru aja gue makan siang bareng dia, dan dia keceplosan ngomong kalo Yesha kuliah di sana," jawabnya masih dengan semangat yang membara.

__ADS_1


"Udah jadian Lo sama cewek itu?" tanya Rian yang sejak tadi hanya diam menyimak, sedangkan si pemilik rumah entah kemana.


"Awas kalo sampe informasi yang Lo bawa itu enggak bener," ucap Angkasa, sebelum Naga menjawab pertanyaan Rian. Tanpa tertarik dengan pembahasan tentang Naga dan Yasmin, Angkasa lebih memilih pulang, ia bertekad untuk mencari Yesha di negara itu. Dan di sinilah Angkasa saat ini.


"Sialan, Naga bener-bener mempermainkan gue," gerutu Angkasa. "Tiap pagi, gue dateng ke kampus itu, pulang sore udah kaya satpam aja, tapi mana Yesha enggak di sana, awas aja Lo Naga," kesal Angkasa. Mungkin jika Naga berada di hadapannya saat ini sudah menjadi perkedel karena ulah Angkasa.


Hujan di luar sana membuatnya tak mungkin untuk ke luar apartemen saat ini, untuk sekedar membeli ponsel, karena jujur saat ini hidupnya seperti tak ada guna jika tanpa benda tersebut. Setelah hujan reda baru ia akan ke luar untuk membeli itu, meskipun malam sekali pun karena ia berencana untuk meninggalkan negara ini esok hari. Uang yang ia gunakan selama sebulan di tempat ini tidaklah sedikit dan tidak mungkin ia mengemis pada ayah dan Bundanya, karena selama sebulan ini ia menggunakan uangnya sendiri.


🌻🌻🌻


Di sisi lain, di tempat yang berbeda tapi masih dalam satu negara, seorang gadis terlihat bingung, apa yang harus ia lakukan saat ini? Melirik sebuah benda yang membuatnya dilema, lalu menghembuskan nafas kasar. Ia teringat akan kejadian tadi siang, setelah pulang dari kampus. Seorang teman satu fakultasnya menghampiri dan memberikan benda itu.


Dengan terpaksa ia menerima ponsel tersebut, tapi ia langsung menyesal begitu mengetahui jika itu ponsel seseorang yang sengaja ia hindari. Bagaimana caranya ia harus mengembalikan ponsel tersebut? Sedangkan dia tidak tahu di mana pemilik ponsel itu tinggal, ia juga tidak mungkin menemui pemilik ponsel itu.


"Kenapa dia masih di sini sih? Padahal udah sebulan lebih aku liat dia di depan kampus," ia menghembuskan nafas, "Maaf Kak, aku engga bisa menemui kamu, aku harus lulus kuliah dulu," gumamnya.


Sebulan yang lalu, setelah keceplosan berbicara dengan Naga, Yasmin pun segera menghubungi Yesha, memberitahu jika dia telah salah berbicara dengan Naga, dan pasti Naga akan memberitahukan hal itu pada Angkasa. Benar saja, sehari setelah Yasmin mengatakan itu, ia melihat Angkasa duduk di depan gerbang kampusnya, bahkan di depan fakultas kedokteran, membuatnya kelimpungan. Akhirnya membolos sehari menghindari Angkasa.


Esok harinya, ia merubah penampilan karena ia yakin Angkasa masih berada di sana dan benar saja, ia bisa melihat jelas Angkasa di tempat yang sama seperti kemarin, tapi tentu saja tak mengenalinya, karena ia menggunakan penutup wajah dan satu lagi Angkasa tidak mengetahui jika ia sudah mengenakan hijab dan itu menjadi keberuntungan untuknya.


"Yas, gue nemuin hape Kak Angkasa, menurut Lo gue harus gimana?" akhirnya Yesha memutuskan untuk menghubungi Yasmin, meminta bantuan pada gadi itu meskipun ia tidak yakin akan mendapatkan solusi.

__ADS_1


Dan benar saja, setelah ia mengungkapkan keluh kesahnya ternyata Yasmin tak memberikan solusi, akhirnya ia memilih untuk menghubungi kedua sahabatnya, meminta solusi supaya bisa mengembalikan ponsel Angkasa, kasian juga jika ponsel itu hilang, bisa jadi di dalamnya ada hal-hal penting.


"Serahin gue aja, gue yang akan ngaku kalo nemuin itu hape," celetuk Elsa yang baru saja masuk apartemen miliknya, karena tadi mereka memutuskan untuk bertemu di apartemen Yesha saja


"Gue juga penasaran sama cowok yang ngejar-ngejar Lo itu," tambahnya.


Yesha hanya memutar bola mata malas, "Gimana cara Lo balikinnya coba?" tanyanya.


"Ini tuh namanya jodoh, Ki. Kebetulan banget bisa kek gini, padahal Jerman luas, tapi cowok itu kehilangan hape bisa juga sampai ke tangan lo," celetuk Laura yang baru saja duduk di sofa tanpa menunggu dipersilahkan oleh pemiliknya.


"Kalau dia jodoh gue sih enggak masalah, asalkan jodohnya jangan sekarang, sekarang gue belum siap," timpal Yesha.


"Gimana cara Lo balikinnya El?" tanya Yeah lagi karena belum mendapatkan jawaban dari Yasmin yang sedang mengunyah kripik sambil menonton televisi.


"Tinggal hubungin nomer keluarganya, beres kan?" jawab gadis itu, masih setia dengan kripik singkongnya.


"Terus gimana lagi? Iya telfon keluarganya, terus Lo mau ngasih di mana? Apa mau Lo bawa pulang ke Indo, terus Lo kasih di sana?"


"Ribet amat sih kalian berdua, udahlah simpan aja, dia pasti punya banyak hape, hilang satu tidak ada artinya," celetuk Laura yang tidak setuju dengan ide Elsa, terlalu ribet menurutnya.


Yesha menghembuskan nafas perlahan, ia harus menyetujui ide siapa? Jujur ia bingung. Dan akhirnya setelah di pikir-pikir, ia mengambil ide Laura, untuk menyimpan ponsel itu dan memberikannya nanti kalau ia pulang ke Indonesia.

__ADS_1


__ADS_2