
"Ada apa?" tanya Adnan, ia tadi mengetahui saat Alisha berbicara dengan manager hotel tersebut tapi tak mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Enggak apa-apa," jawab Alisha. "Kamar nomer berapa? Ayo aku ngantuk," tambahnya.
Padahal masih pagi, tapi Alisha memang benar-benar mengantuk, karena semalam tidur hanya beberapa jam dan itu saat di mobil menuju rumah Oma,sedangkan di rumah Oma ia tidak memejamkan mata sama sekali, begitu pun dengan Adnan.
Adnan memberi tahu kamar mereka, lalu Alisha lebih dahulu masuk, seakan gadis itu sudah hafal betul area hotel tersebut. Adnan mengikuti langkah Alisha, dan mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu.
"Lumayan bagus juga ternyata," Alisha berkomentar saat mereka sudah sampai di dalam kamar hotel.
"Iya, ini kan hotel terbaik di daerah sini," jawab Adnan, ia tidak tahu saja jika Alisha adalah cucu dari si pemilik hotel tersebut.
"Harusnya kamu tadi bilang kalau mau masuk hotel, kan enggak usah bayar, dapat kamar luas juga," celetuk Alisha saat mengelilingi kamar hotel tersebut.
Adnan mengernyitkan dahi menjadi berlipat-lipat, ia tidak mengerti apa yang di katakan oleh Alisha, "Maksudnya?" tanyanya.
"Apa kita pindah di lantai paling atas aja," tak menghiraukan pertanyaan Adnan, Alisha justru berucap seperti itu, membuat Adnan makin bingung.
"Nenekku dari Mama itu kan namanya Sinta, kamu tau, kan? Hotel ini sesuai nama beliau, 'Dewi Sinta'," Alisha menjelaskan tanpa di suruh.
Adnan mengerti sekarang, tapi kenapa ia tidak pernah tahu sama sekali jika hotel tersebut milik keluarga Alisha. Ia menghembuskan nafas panjang, lalu mendekati Alisha yang kini sudah duduk di sofa.
"Anggap aja ini bukan hotel Kakek, jadi kita tetap di kamar ini, tidak usah pindah ke lantai paling atas, kamu kan udah biasa di sana, belum pernah masuk kamar sini, kan?" tebakan Adnan benar sekali, karena baru pertama kali Alisha masuk kamar lain di hotel itu, selain kamar di lantai paling atas yang biasa di pakai keluarganya.
__ADS_1
"Iya juga sih," ucap Alisha. Ia beranjak dari duduknya lalu menuju tempat tidur, menjatuhkan tubuhnya di sana. Adnan pun mengikuti langkah gadis itu, ikut menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur tepat di sisi Alisha dengan posisi sama-sama tengkurap.
"Ukir sejarah di sini yuk," ucap Adnan, ia menatap Alisha yang juga menatapnya dengan kening mengkerut, mereka masih dalam posisi yang sama.
"Maksudnya ukir sejarah apaan sih?" tanya Alisha, ia memang tidak tahu apa yang di maksud oleh Adnan.
Adnan merubah posisinya menjadi miring menghadap Alisha, ia membisikkan sesuatu tepat di dekat telinga Alisha. "Melanjutkan tadi malam, tapi harus lebih seru sekarang," ucapnya sambil tersenyum, meskipun Alisha tak bisa melihat senyumannya.
Alisha terkejut mendengar ucapan Adnan, ia tidak berfikir sampai ke sana, karena pikirannya saat ini adalah tidur. "Boleh, tapi mandi dulu, biar seger, nah setelah mandi baru deh," ucapnya, "Tidur maksudnya," tambahnya dalam hati, ia tertawa geli tapi dalam hati.
"Sekarang aja, biar nanti mandinya sekalian, bareng," celetuk Adnan sambil menaik turunkan alisnya.
Wajah Alisha bersemu merah, mengingat semalam saja membuatnya malu sampai sekarang, bagaimana jika harus mandi bareng? Mau sampai kapan dia akan menanggung malu?
Cup
Adnan mengecup singkat bibir Alisha, karena gadis itu hanya diam, tak merespon ucapannya.
"Yaudah, aku mandi dulu," ucapnya setelah berhasil mengecup bibir Alisha untuk ke dua kalinya. Ia juga merasa gerah dan lengket, tidak mungkin jika melakukan sesuatu dalam keadaan seperti itu, lebih baik mandi dulu. Meskipun nanti akan mandi lagi, ia merasa tidak masalah.
Alisha menggelengkan kepala, ia tidak percaya jika Adnan bisa semudah itu berubah, dan lihatlah dia juga sudah berani mencuri bibirnya. Sebuah kemajuan yang luar biasa. Memikirkan itu, Alisha menjadi waspada, ia takut jika Adnan benar-benar akan meminta haknya saat ini juga. Akhirnya ia memilih untuk memejamkan mata saja, ia benar-benar masih takut akan malam pertama. Eh ini siang ya bukan malam.
Baru saja Alisha memejamkan mata, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, ia menebak jika Adnan sudah ke luar dari kamar mandi, cepat sekali Adnan mandi, pikirnya. Tapi ia terus memejamkan mata, pura-pura tertidur supaya Adnan tidak menagih ucapannya tadi.
__ADS_1
"Mandi dulu kalau mau tidur, aku tahu kamu pura-pura tidur," ternyata Adnan mengetahui jika Alisha hanya pura-pura tidur.
Alisha bangkit, ia tidak mengatakan apapun, lalu masuk ke dalam kamar mandi, sebelumnya ia lebih dahulu meraih paperbag berisi pakaian yang ia beli tadi di mall.
Tak butuh waktu lama Alisha sudah ke luar dari kamar mandi, ia mendapati Adnan duduk di sofa, fokus dengan ponselnya, entah sedang melakukan apa? Mungkin Adnan sedang bekerja, pikirnya. Padahal ini hari Sabtu, tapi Adnan masih saja bekerja, biasalah yang namanya orang sibuk, tidak mengenal waktu saat bekerja.
"Agil mau nginep semalam lagi katanya, kita mau pulang apa menginap di sini?" tanya Adnan saat menyadari Alisha sudah ke luar dari kamar mandi.
"Ngikut aja, ah tapi kayaknya lebih baik pulang deh," Alisha nampak bimbang, "Terserah kamu aja lah, mau nginep juga enggak apa-apa, mau pulang juga siap," tambahnya.
Adnan mengangguk, ia tidak mengatakan apa pun, mungkin masih sama-sama bingung. Beranjak dari sofa menuju ranjang, lelah sekali rasanya, karena semalam tidak tidur dengan benar dan hanya beberapa jam saja.
"Kemarilah, aku mau bicara sesuatu." Adnan menepuk tempat kosong di sampingnya.
Alisha merasa gugup, tiba-tiba saja degub jantungnya menjadi tidak normal. Apalagi saat tatapan mereka berdua bertemu, tatapan Adnan yang tidak bisa ia artikan, membuat nya semakin tak karuan, menghembuskan nafas perlahan mencoba menetralisir jantungnya yang semakin menggila, tapi mau tak mau ia tetap mendekat, meski dalam keadaan gugup sekali pun. Duduk bersandar kepala ranjang seperti yang Adnan lakukan.
"Kenapa tengang gitu? Hm?" tanya Adnan saat menyadari wajah Alisha. Ia tersenyum penuh arti, sekalian di goda saja, pikirnya.
"Siapa yang tengang? Enggak tuh," kilah gadis itu, ia menatap arah lain supaya Adnan tidak menyadari jika dirinya berbohong.
Adnan memegang dagu Alisha supaya gadis itu menghadap dirinya, ia menatap Alisha yang netranya enggan bersitatap dengan dirinya, "Kenapa?" tanyanya sambil menaikkan satu alis.
Detak jantung Alisha makin bertambah, mungkin lima kali lebih cepat di banding biasanya, bahkan seperti akan terlepas dari tempatnya. Ia benar-benar tak sanggup menahan detak jantungnya itu, keadaan seperti ini harus segera di hentikan, jika tidak jantungnya benar-benar akan melompat ke luar.
__ADS_1
"Jangan gini," ucapnya sambil melepas tangan Adnan di dagunya.