Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Masa Lalu Biarlah Berlalu


__ADS_3

"Udah, enggak usah sedih. Aku janji setiap Minggu kita ke panti buat jengukin Cantika," ucap Adnan ketika melihat Alisha duduk di atas ranjang, menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, wajahnya terlihat masih di penuhi rasa kecewa. Ia baru saja masuk ke kamar menyusul Alisha setelah berbincang-bincang dengan Papa mertua.


"Aku enggak sedih cuma kecewa aja, tapi aku juga mikir yang di katakan Mama ada bener juga sih," timpal Alisha.


Adnan naik ke atas tepat tidur, ikut menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. "Tapi kenapa masih keliatan sedih gitu?" tanyanya.


Alisha menggidikkan bahu, "Papa bicara apa?" tak menghiraukan pertanyaan Adnan, Alisha justru bertanya balik.


Adnan terdiam, ia teringat apa yang di ucapkan oleh Papa mertuanya tadi saat mereka berdua berbicara di ruang kerja Papa.


"Tolong jaga Alisha, jangan pernah menyakitinya meskipun kamu belum mencintai dia," ucap Papa, ia tahu jika Adnan belum mencintai Alisha dan ia juga yakin suatu saat mereka berdua akan saling mencintai seperti dirinya dan sang istri tercinta. Papa menatap Adnan sekilas, lalu kembali menatap tembok yang jauh di belakang Adnan.


"Saya pernah menyakiti hati Mamanya Alisha, dan saya sangat menyesal telah melakukan itu dulu, sekarang saya berharap kamu tidak melakukan kesalahan yang sama dengan saya, karena saya yakin kamu juga akan menyesal jika melakukan itu," Papa kembali menatap Adnan.


Adnan mengangguk, "Iya Pa, aku akan berusaha untuk tidak menyakiti Alisha, tapi aku tidak berani berjanji karena manusia sering kali melakukan kesalahan meskipun berjanji tidak akan melakukannya, Papa ngerti kan maksudku?"


Papa pun mengangguk, "Iya Papa ngerti, yang penting kamu jaga dia, nasehati dia jika melakukan kesalahan," Papa mengubah nada bicaranya menjadi lebih santai tidak seperti pertama kali berbicara tadi.


Puk


Sebuah hantaman bantal tak terlalu keras menerpa lengan Adnan, pemuda itu terkejut dan tersadar dari lamunannya. Perbuatan siapa lagi jika bukan Alisha, karena mereka hanya berdua di dalam kamar.


"Di tanyain malah bengong, mikirin apa sih?" tanya Alisha, karena ia sejak tadi menunggu jawaban Adnan tapi pemuda itu justru terlihat melamun saat dia menatapnya.


"Ah, enggak. Aku cuma teringat ucapan Papa aja," jawab Adnan sambil tersenyum menatap Alisha.


"Emang Papa ngomong apa?" tanya Alisha lagi.


Adnan menatap Alisha, "Papa tanya apa kamu masih sering kabur, ke luar malam buat balapan, dan masih banyak lagi," ucapnya.


Seketika Alisha teringat beberapa waktu lalu saat dia kabur dari rumah, "Kamu jawab apa?" tanya Alisha, dia terlihat panik takut jika Adnan mengadu.


"Ya, aku jujurlah masa mau bohong," jawab Adnan santai, ia sengaja mengerjai Alisha, ingin melihat seperti apa reaksi gadis itu.


Bugh

__ADS_1


Alisha kembali memukul Adnan dengan bantal, kali ini lebih keras, "Dasar tukang ngadu," ucapnya.


Bugh


Pukulan ke dua kembali Alisha layangkan karena Adnan menertawakannya.


"Papa besok pasti bakalan marah sama aku, kamu sih," Alisha kembali akan memukul Adnan tapi kali ini pemuda itu bisa menahannya.


Sedangkan Adnan masih tertawa, seakan-akan menertawakan kesedihan Alisha, padahal Adnan tertawa karena berhasil mengerjai gadis itu.


"Iya Papa bilang katanya mau marahin kamu besok, mau nyita mobil kamu juga," Adnan semakin asyik melancarkan aksinya.


"Tuh kan, kita pulang aja deh sekarang, aku enggak mau di marahin Papa," ucap Alisha, gadis itu benar-benar terlihat takut. Baru saja akan beranjak dari tempat tidur, tarikan di tangannya membuat ia menoleh.


"Ini udah malem, tidur aja, lagian aku tadi bohong," ucap Adnan seakan mengerti apa yang Alisha tanyakan.


Alisha melepas tangannya dari Adnan, mengambil bantal lalu melempar ke arah Adnan. Bukannya marah pemuda itu justru semakin tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjai Alisha.


"Malah ketawa lagi, seneng iya? Buat aku takut dan was-was, menyebalkan sekali," gerutu Alisha, ia akan melempar bantal lagi, tapi sayang semua bantal sudah berada di belakang Adnan, bahkan bantal guling satu-satunya sudah tergorok di lantai.


Adnan masih saja tertawa, "Mau pukul lagi, ini aku kasih bantalnya," Adnan menyodorkan salah satu bantal ke hadapan Alisha dan gadis itu pun segera menerimanya, tapi tidak berhasil karena Adnan kembali menarik bantal itu.


Bruk


Tubuh Alisha menabrak tubuh Adnan, sialnya Adnan tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya hingga ia terjatuh dah Alisha berada di atas tubuhnya. Beberapa detik mereka tertahan dalam keadaan seperti itu, netra keduanya bertubrukan, terdengar detak jantung keduanya yang saling bersahutan, hingga Alisha berusaha melepaskan diri dari tubuh Adnan. Tapi Adnan tidak membiarkan hal itu terjadi, ia memeluk erat tubuh Alisha supaya tertahan di sana.


"Lepas, aku mau tidur," Alisha berusaha melepaskan diri.


"Sebentar," ucap Adnan mencegah Alisha.


"Jangan manfaatin kesempatan dalam kesempitan deh," Alisha masih tetap berusaha melepaskan diri


"Coba tatap mataku, Alis," ucap Adnan dengan lembut. Ia tak menghiraukan ucapan Alisha.


Mendengar permohonan Adnan yang terdengar lembut di telinganya, membuat Alisha menurut, dengan penuh keberanian ia menatap Adnan yang juga menatapnya. Untuk beberapa detik keduanya saling membisu, hingga Adnan lebih dahulu mengahiri keheningan itu.

__ADS_1


"Mari kita lupakan masa lalu, aku tahu kamu masih teringat akan masa lalu padahal aku sudah melupakannya, dan sekarang yang aku pikirkan masa depanku, masa depan kita, karena masa lalu telah berakhir dan tidak akan terulang lagi, sedangkan masa depan akan terus berjalan. Mau kan?" ucap Adnan panjang lebar dan di akhiri dengan pertanyaan.


Alisha hanya mampu mengangguk, ia tidak tahu harus mengucapkan apa karena tiba-tiba pikirannya blank dan lidahnya terasa Kelu untuk di gerakkan.


"Terima kasih, kamu mau menerima kesalahanku di masa lalu, dan aku minta maaf atas semua kesalahan yang aku sengaja dulu," ucap Adnan, mereka masih saling menatap dan dalam posisi yang sama.


Adnan menyingkirkan anak rambut yang menutup wajah wajah Alisha, menyelipkan anak rambut itu di samping telinga. Lalu semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Alisha. Membuat gadis itu memejamkan mata.


Cup


Satu kecupan singkat mendarat di kening Alisha, membuat gadis itu tak bisa menahan rona di wajahnya. Alisha menyembunyikan wajahnya yang merona di balik dada Adnan, ia bahkan bisa mendengar jelas detak jantung pemuda itu, hingga beberapa saat mereka tertahan dalam situasi seperti itu.


"Betah banget kayaknya, apa mau seperti ini sampai pagi?" tanya Adnan, karena Alisha tidak bergerak sama sekali di atas tubuhnya.


Alisha terkejut, ia langsung menjauhkan wajahnya dari dada Adnan yang terasa nyaman untuk di jadikan sandaran. Baru saja akan turun dari tubuh Adnan, lagi-lagi Adnan kembali mencegahnya, membuat Alisha bingung sendiri. Tanpa sepatah kata pun Adnan merubah posisi tidurnya menjadi miring dan otomatis Alisha terlepas dari atas tubuhnya. Tapi ia tak melepaskan kedua tangannya di pinggang Alisha.


"Udah tidur, besok masuk pagi, kan?" ucap Adnan saat Alisha justru menatapnya dengan bingung.


"Aku enggak bisa tidur kalau gini, engap tau," protes Alisha karena Adnan terus memeluknya.


"Nanti juga akan terbiasa,"


"Ambilin bantalnya dong," Alisha berusaha meraih bantal yang tadi ia lempar tapi tak bisa.


"Bantalan pake tanganku aja." Adnan memindah salah satu tangannya ke bawah kepala Alisha, menjadikan tangan itu bantal untuk Alisha. Entah Adnan sedang kerasukan apa, pemuda itu tiba-tiba bersikap seperti itu, tak bisanya.


"Enggak enak," keluh Alisha, padahal sebenarnya ia menikmatinya.


"Sudah tidur,"


"Aku enggak bisa tidur kalo lampunya masih nyala,"


Adnan bangkit dari tidurnya, mematikan lampu kamar yang masih menyala dan menggantinya dengan lampu tidur. Membuat Alisha memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil bantal, tidur seperti biasa membelakangi Adnan, jujur ia belum siap jika harus tidur dalam pelukan pemuda itu, makanya ia mencari berbagai alasan supaya lepas dari dekapan Adnan yang tiba-tiba aneh menurutnya.


Tapi ternyata ia tetap tidak bisa terlepas dari dekapan Adnan saat ini, karena Adnan kembali memeluknya. Tapi kini berbeda karena Alisha membelakangi Adnan.

__ADS_1


"Udah malem, tidur. Jangan mikir yang aneh-aneh," ucap Adnan.


Alisha pun menurut, ia membiarkan Adnan memeluknya, terasa nyaman dan terlindungi saat berada dalam pelukan pemuda itu.


__ADS_2