Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Hotel Kakek


__ADS_3

Selama perjalanan dari Jakarta sampai Bandung, Alisha tertidur pulas. Begitu pun dengan Adnan, hingga membuat si sopir kesal, saat dirinya capek dan ingin istirahat, bosnya justru tertidur pulas sambil memeluk tubuh sang istri yang bersandar di bahunya. Melihat itu jiwa jomblonya meronta-ronta, bahkan ia berkali-kali mengumpat karena melihat aksi mesra sepasang suami istri itu.


Mobil berhenti di depan halaman rumah Oma, halaman itu di penuhi oleh mobil-mobil mewah, mungkin semua kerabat dan anak-anak Oma sudah datang. Sopir sekaligus sekretaris Adnan, sengaja meninggalkan dua sejoli itu dalam mobil, karena mereka masih terlihat pulas, ia ke luar dari mobil dan langsung masuk ke dalam, karena dirinya memang sering datang ke sana di bandingkan Adnan dan Angkasa


Alisha mengerjapkan mata, melihat sekeliling, tapi ia tak mengetahui di mana dirinya saat ini. Ia membangunkan Adnan saat mengetahui jika sang sopir tak ada di dalam mobil.


"Mas, mungkin sudah sampai, sekretaris kamu juga udah enggak ada di sini," ucap Alisha, berusaha melepaskan diri dari pelukan Adnan.


Adnan pun membuka mata, ia melihat sekeliling, "Dia ninggalin kita? Ck," ucapnya di akhiri decakan sebal.


"Kamu jangan jauh-jauh dari aku, terus kalo ada orang-orang yang membicarakan kita, kamu diem aja, biarkan mereka mau ngomong apa, tapi semoga aja enggak ada, ini kan suasana duka," ucap Adnan sebelum ke luar dari mobil, ia khawatir Alisha merasa tidak nyaman di sana, apalagi keluarga besar Bunda tidak pernah menerima kehadiran Adnan di keluarga mereka.


Alisha mengangguk, sudah siap jika nanti di dalam banyak yang membicarakan tentang dirinya atau pun Adnan, bukankah ia selalu cuek jika ada orang yang membicarakannya? Sekarang pun yang ia lakukan memang harus seperti itu, cuek.


Mereka masuk ke dalam rumah mewah tersebut sambil bergandengan tangan. Sampai di depan pintu masuk, ternyata Ayah Faris lah yang menyambut kedatangan mereka.


"Alisha kamu temani Bunda di kamar aja, Bunda masih syok, Ayah sama Adnan akan mengurus pemakaman," pinta Ayah Faris.


Alisha menatap Adnan, ia butuh persetujuan dari suaminya.


"Biar aku antar," ucap Adnan, dan itu membuat Alisha yakin jika Adnan menyetujui permintaan Ayah.


Mereka berdua berpamitan, masuk ke dalam rumah tersebut lebih dalam, menyapa setiap orang yang mereka temui, Alisha bisa melihat tatapan tak suka dari kerabat Bunda Ayu saat menatap dirinya dan Adnan, tapi ia tak menghiraukannya, terus mengikuti Adnan hingga masuk ke dalam sebuah kamar.


Alisha sedikit ragu saat akan masuk ke dalam kamar tersebut, pasalnya bukan hanya Bunda yang ada di dalam sana, tapi ada dua wanita lain yang sepertinya belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Masuk aja, enggak apa-apa. Mereka teman-teman Bunda," ujar Adnan, sepertinya pemuda itu mengetahui kegelisahan Alisha.


Alisha mengangguk, ia masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Adnan, memberi salam pada Bunda dan dua temannya, terlihat kedua mata Bunda membengkak, pasti karena terus menangis sejak tadi. Yang namanya orang tua meskipun tidak menyetujui semua langkah anaknya, namun mereka begitu berati. Seperti yang Bunda rasakan kali ini, pasti sangat syok karena di tinggal orang yang pertama di cintai dan mencintainya, yaitu Ibu. Apalagi Ayahnya sudah lebih dahulu meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Yang sabar ya Bun," ucap Alisha sambil memeluk tubuh ibu mertuanya.


Bunda mengangguk, "Terimakasih sayang," timpal Bunda terbata karena masih sesegukan.


Akhirnya Alisha benar-benar menemani Bunda, bahkan saat kedua sahabat Bunda memilih untuk pulang gadis itu terus menemani Bunda, kemana pun wanita paruh baya itu melangkah. Ia merasa lebih aman bersama Bunda, karena semua anggota keluarga tampak tak menghiraukan kehadirannya.


Di sana ia tak menemukan satu orang, sejak ia datang hingga ke pemakaman keesokan paginya, ia baru melihat keberadaan orang tersebut di pemakaman.


"Angkasa baru datang pagi ini? Aku kok baru aja liat," tanyanya setelah mereka masuk ke dalam mobil.


"Sepertinya gitu, dia tadi malam kirim pesan kalau mau datang pagi aja dan langsung ke pemakaman, dia sengaja tidak mau datang ke rumah Oma sepertinya," jawab Adnan sambil mengemudikan mobilnya.


Alisha paham, Angkasa pasti tidak mau mengingat masa kecilnya di rumah mewah itu.


"Kita mau langsung pulang?" tanya Alisha heran saat Adnan membelokkan mobilnya berlawanan arah dengan rumah Oma.


"Terus sekretaris kamu gimana?" tanya Alisha lagi, sebelum Adnan menjawab pertanyaan pertamanya.


"Aku baru tau kalau kamu seperti itu, kasian tau enggak? Kamu yang ngajak kamu juga yang ninggalin dia," protes Alisha.


Adnan tersenyum, "Aku juga baru tau kalau kamu ternyata sebaik ini," ucapnya sambil mengacak rambut Alisha.


Bukannya tersenyum karena pujian Adnan, Alisha justru mencibir.


"Dia nanti akan nyusul, biarkan dia kangen-kangenan sama orang tuanya dulu," ucap Adnan.


Alisha mengernyitkan dahi, "Emang rumahnya dekat sama rumah Oma?" tanyanya.


"Enggak dekat juga sih, lumayan jauh. Tapi masih satu daerah, dulu Ayahnya itu sopir Oma, dan dia akrab sama aku dan Angkasa, karena satu sekolah waktu aku masih SMA," jelas Adnan.

__ADS_1


Alisha mengangguk, pantas saja Adnan terlihat akrab sekali dengan sekretarisnya itu, terlihat seperti sahabat, meskipun saat di kantor mereka profesional antara bos dan bawahan.


Setelah itu mereka berdiam diri, hingga mobil yang Adnan kendarai berhenti di sebuah pusat perbelanjaan.


"Mau ngapain ke sini?" tanya Alisha.


"Mau ngapain aja, yang penting masuk dulu. Kita sarapan dulu di sini," ucap Adnan lalu keluar dari mobil di ikuti oleh Alisha.


Mereka memasuki sebuah kafe di pusat perbelanjaan itu. Adnan sengaja mengajak Alisha sarapan di sana, ia tidak mungkin mengajak Alisha sarapan di rumah Oma, mengingat anak dan kerabat Oma tampak tak menyukai Alisha. Adnan tadi juga sudah minta ijin pada Bunda dan Ayah untuk mengajak Alisha makan di luar, setelah itu mereka akan pulang. Bunda dan Ayah pun menyetujui, Bunda tidak keberatan, kasihan juga melihat mereka di sana.


Setelah sarapan, Adnan mengajak Alisha untuk membeli sebuah pakaian ganti.


"Kita bisa pulang pakai baju ini, kenapa harus ganti sih?" protes Alisha.


"Udah pilih aja, kamu mau yang mana, nanti kita mandi dan ganti baju terus pulang," Adnan tak menerima penolakan, akhirnya Alisha pun menurut, ia tidak protes lagi.


Tapi gadis itu kembali protes, saat Adnan membelokkan mobilnya ke sebuah hotel berbintang. Apalagi ia hafal betul itu hotel milik keluarga Mamanya. Hotel yang masih di kelola oleh sang Kakek.


"Katanya mau pulang, kok malah ke sini?" protesnya lagi.


"Kamu protes melulu, aku jadi gemas pengen nyubit," ucap Adnan terkekeh, apalagi saat Alisha mengerucutkan bibirnya.


"Tadi si Agil bilang mau pulang sore, kita istirahat dulu aja di sini, apa kamu mau kembali ke rumah Oma?" Adnan balik bertanya.


Alisha menggeleng, "Yaudah, aku juga cepek pengen tidur," ucapnya.


Tanpa bertanya lagi, gadis itu pun ikut turun dari mobil. Masuk ke dalam lobby hotel, mengikuti Adnan. Ia melihat seseorang yang mengenal dan ia kenali, meletakkan telunjuk di bibirnya supaya orang itu diam. Alisha mendekat ke arah orang tersebut, karena Adnan masih sibuk berbicara dengan resepsionis.


"Bapak jangan bilang kalau ini hotel milik Kakek, Bapak pura-pura tidak mengenal saya aja ya," ucap Alisha di depan orang tersebut yang tak lain adalah manager hotel.

__ADS_1


"Baik Non,"


"Makasih Pak," ucap Alisha lalu pergi meninggalkan manager tersebut. Ia berucap seperti itu karena tak mau di kenali oleh banyak karyawan hotel tersebut, ia akan jelaskan nanti pada Adnan.


__ADS_2