
Sudah seminggu Alisha menjalani hukuman dari Adnan, tapi gadis itu belum juga lulus dari hukumannya, karena masakan yang ia masak belum juga lulus dari Adnan. Jika tahu begini Alisha akan memilih hukuman ke dua yang hanya masak saat makan malam saja karena kegiatannya ini benar-benar menghabiskan waktunya hanya untuk di dapur, ia bahkan jarang ikut teman-temannya nongkrong membuatnya kesal dengan Adnan. Jika ia melanggar sedikit saja Adnan mengancam akan menambah hukumannya. Dan satu lagi kegiatan Alisha, ia harus mengantar makan siang hasil karyanya ke kantor Adnan selama gadis itu belum masuk kuliah.
Kadang Alisha bingung, Adnan selalu mengatakan masakannya kurang garam lah, keasinan atau kemanisan tapi suaminya itu tetap memakannya, hanya saat pertama kali Alisha masak itu saja yang tidak di makan, membuat Alisha curiga saja.
Siang ini, Alisha baru saja masuk ke dalam ruangan Adnan, duduk di sofa dengan malas saat mendapati suaminya itu masih sibuk bekerja, bahkan tidak melirik dirinya yang baru saja datang, mungkin belum menyadari kehadiran Alisha. Jika saja Adnan tidak memintanya menemani makan siang di kantor, Alisha pasti sudah meninggalkan pemuda itu.
"Aku pulang ya, mau tidur siang," capek menunggu lama, akhirnya Alisha bersuara.
"Bentar lagi selesai," ternyata pemuda itu menyadari kehadiran Alisha, tapi kenapa sejak tadi hanya diam tak menyapanya.
Alisha berdecak malas, kembali menyenderkan kepala di sofa, sambil melipat ke dua tangan di depan dada. Beberapa menit berlalu, Adnan sudah menyelesaikan pekerjaannya, pemuda itu menghampiri Alisha, duduk di sisi Alisha lalu membuka makanan yang di bawa oleh Alisha tadi.
"Ayo makan, setelah ini baru boleh pulang," ucapnya.
"Aku dah kenyang, kamu makan aja sendiri," timpal Alisha tanpa membuka mata.
Adnan tidak mau memaksa, akhirnya ia memilih untuk makan siang sendirian, sambil sesekali melirik Alisha yang memuaskan mata. Sepertinya gadis itu kecapean, ia sedikit merasa kasihan sebenarnya, tapi ia akan tetap menjalankan rencananya supaya Alisha tetap di rumah dan tidak keluyuran selama libur kuliah.
"Aku udah selesai, kamu mau tidur di sini apa pulang? Aku mau bertemu klien sebentar lagi, kalau kami mau tidur di sini enggak apa-apa, tapi aku tinggal," ucap Adnan setelah menyelesaikan makan siangnya, pemuda itu juga sudah membereskan bekas makanannya.
"Ada kamu apa enggak sama aja, aku pulang aja," Alisha membuka mata, lalu ia meraih tempat bekas makan Adnan yang sudah masuk ke dalam paperbag. Melangkah meninggalkan ruang Adnan, tepat saat ia akan membuka pintu, seseorang dari luar lebih dulu masuk dan sepertinya tidak menyadari adanya Alisha di sana.
Alisha melihat orang itu dengan kening mengkerut, sepertinya orang itu sedang menahan amarah, terlihat wajahnya yang memerah juga tatapan tajamnya, menatap Adnan penuh kekesalan. Membuat ia mengurungkan niat untuk ke luar dari ruangan sang suami, ia takut terjadi sesuatu dengan suaminya itu.
"Tumben? Ada apa?" tanya Adnan pada seseorang tersebut.
Orang itu tidak menjawab pertanyaan Adnan, dia langsung mencengkram kerah baju Adnan yang masih duduk santai di sofa. "Jangan pura-pura enggak tahu!" ucap orang itu dengan nada keras.
Bugh
Orang tersebut melayangkan kepalan tangannya tepat di wajah tampan Adnan. Tapi Adnan tetap diam, sepertinya enggan untuk membalas pukulan tersebut.
Alisha meringis saat Adnan mendapatkan bogeman dari orang itu, ia pun mendekat,, "Bisa enggak sih kalau enggak main kasar?!" ia meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Inget dia Kakak Lo, kalau ada masalah bicara baik-baik," ucap Alisha sok bijak, padahal dirinya saja jika ada masalah selalu kabur dan tidak menyelesaikan masalah dengan baik-baik, sok bijak bukan?
Ya, orang yang datang ke kantor Adnan adalah Angkasa, entah kenapa pemuda itu terlihat marah. Mungkin ada masalah yang membuatnya murka dengan sang Kakak. Memang hubungan mereka sedikit renggang setelah Adnan menikah dan Angkasa mengetahui alasan Adnan menikah dengan Alisha, bukannya bahagia karena Adnan berkorban untuk dirinya, tapi Angkasa justru kesal karena mengetahui gadis yang ia cintai patah hati.
"Lo enggak usah ikut campur, ini urusan gue sama dia." Angkasa menunjuk Alisha, dirinya dan Adnan dengan jari telunjuk saat berbicara. Ia sudah melepaskan cengkeramannya di leher Adnan.
"Urusan Adnan juga urusan gue, dia suami gue sekarang!" Alisha tak mau mengalah, membuat Adnan menggelengkan kepala suapaya Alisha menuruti ucapan Angkasa.
"Tapi...." Alisha menghentikan ucapannya karena Adnan lebih dulu menyela.
"Kamu pulang aja, aku akan selesaikan masalah ini dengan Angkasa," ucap Adnan, membuat Alisha diam tapi dia tidak mau meninggalkan ruangan Adnan, takut Angkasa berbuat brutal seperti waktu itu.
"Ada apa? Aku salah apa lagi?" tanya Adnan lembut, ia tidak bisa membalas kekesalan Angkasa dengan kekesalan juga, karena pasti akan menjadi semakin rumit.
Alisha menyadari satu hal tentang Adnan, jika suaminya itu tidak mudah tersulut emosi, bahkan saat dirinya menjadi korban kekesalan seseorang, ia tetap tenang tak mau membalas orang tersebut.
Angkasa menghempaskan tubuhnya di sofa, sepertinya amarah pemuda itu sudah reda, mungkin karena sikap Adnan yang lembut dan tidak membalas kekesalannya.
Alisha menghembuskan nafas lega, saat melihat raut wajah Angkasa sudah kembali normal. "Yaudah aku pulang ya," pamit gadis itu. Ia menatap wajah Adnan yang baru saja mendapatkan pukulan dari Angkasa, tidak terlalu parah, sepertinya Angkasa tadi memukulnya tidak dengan sekuat tenaga.
"Dia pergi, ini gara-gara Lo Bang, gue marah sama Lo," ucap Angkasa setelah Alisha benar-benar hilang dari hadapan mereka.
"Dia pergi enggak ngomong mau ke mana, pas tanya orang tuanya cuma jawab kalau ke luar negeri, tapi tempatnya rahasia," Angkasa terlihat frustasi.
Adnan menepuk pundak adiknya itu, ia sebenarnya merasa bersalah juga karena kepergian Yesha masih berhubungan dengan dirinya, tentu saja ia tahu jika Yesha sengaja menghindarinya dan juga Alisha.
"Jangan nyerah, entar aku bantu cariin, karena aku di sini juga salah," ucapnya.
Angkasa menghembuskan nafas kasar, "Sebenarnya kita semua salah, gue salah, Lo salah, Alisha juga salah, tapi Yesha ikut jadi korban padahal dia enggak salah menurut gue," ucapnya.
"Gue jadi mikir, kita semua saling menyakiti ternyata, entahlah gue pusing," Angkasa menjambak rambutnya frustasi.
"Lo harus bantu gue cari dia, kalau enggak gue enggak akan anggap Lo Abang lagi," Angkasa mengancam Adnan, tapi Adnan menanggapinya dengan santai.
__ADS_1
"Tenang aja, kalau dia jodoh kamu kalian pasti akan bertemu dan bersatu, tapi kalau kalian tidak berjodoh mau kamu kejar sampai kutub Utara pun, kalian tidak akan bersama," ucap Adnan mencoba menenangkan Angkasa.
"Dahlah, gue pergi." Angkasa benar-benar meninggalkan ruangan Adnan, bahkan tidak meminta maaf pada kakaknya itu padahal sudah menyakiti Adnan.
Tak lama pintu terbuka kembali.
"Kenapa balik lagi? Enggak jadi pulang?" tanya Adnan saat menyadari siapa yang datang.
"Aku khawatir kamu di gebukin sama Angkasa, tadi aku ngumpet di ruangan sekretaris,"
Ya, Alisha tidak jadi pulang ia takut Angkasa berbuat nekat, dan akhirnya memilih untuk menunggu di ruang sekretaris Adnan.
"Makasih ya, udah menghawatirkan aku," ucap Adnan, "Tapi kamu enggak usah khawatir, Angkasa tidak akan berbuat nekat di kantor," tambahnya.
"Kenapa kamu tadi enggak balas pukul aja si Angkasa?" tanya Alisha, gadis itu sudah duduk di sisi Adnan.
"Angkasa tidak bisa di perlakukan kasar, jika aku balas hal yang sama, masalahnya akan tambah rumit, dan udah pasti aku tambah bonyok karena Angkasa, jadi menghadapi Angkasa itu harus dengan kelembutan,"
"Angkasa itu hampir sama seperti kamu, jika dia di kerasi dia akan bertambah brutal, tapi jika kita bersikap lembut dia akan nurut," tambahnya
Alisha berdecak, apa tadi kata Adnan? Dia di samakan dengan Angkasa. Tentu saja dia tidak terima.
"Enak aja nyamain aku sama dia," ucap Alisha.
Adnan hanya tersenyum, ia tidak menanggapi ucapan Alisha, lalu ia berdiri dan duduk di kursi kebesarannya.
"Aku mau berangkat sekarang, kalau kamu mau istirahat tidur aja, nanti aku kunci dari luar," ucapnya.
"Aku pulang, harus ngerjain hukuman biar enggak di tambah lagi hukumannya," Alisha beranjak dari duduknya.
"Tadi masakanku gimana? Udah lolos belum?" tanya Alisha dia hampir lupa menanyakan hal itu.
"Lumayan, tapi belum lolos," jawab Adnan, ia terkekeh saat mendapati Alisha cemberut, keluar dari ruangannya dengan lemas.
__ADS_1
"Maaf ya, demi kebaikan kamu, semoga dengan ini kamu jadi lebih baik, dan tidak kepikiran untuk nongkrong lagi sama teman-teman kamu," gumam Adnan setelah Alisha menghilang dari hadapannya.