
Beberapa hari berlalu, hubungan Alisha dengan Adnan semakin dekat saja, meskipun hati Adnan belum terpaut dengan Alisha tapi ia selalu mencoba untuk menerima Alisha dalam hidupnya, sulit memang, tapi ia harus menerima itu bahkan mereka akan segera di persatukan. Jika tidak di mulai dari sekarang mau kapan lagi coba?
Adnan sering berkunjung ke kediaman Alisha, bahkan ia tak segan menjemput Alisha untuk ke kampus meskipun kampus mereka beda arah. Dan itu membuat Alisha mulai bisa menerima Adnan, gadis itu juga sepertinya sudah memiliki rasa pada Adnan, rasa yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, karena jika berada di dekat Adnan hati Alisha serasa di penuhi bunga-bunga bermekaran.
Alisha masih terus belajar memasak bahkan membuat kue, ia sejenak sudah melupakan kegiatan ekstrimnya. Ia tak jarang menolak untuk di ajak ke arena membuat Dani dan teman-temannya heran dengan perubahan Alisha. Ia juga sudah mulai terbiasa dengan pakaian feminim karena Mama selalu membelanjakan dress untuk dirinya, tentu saja tanpa persetujuannya dan tapa sepengetahuannya.
Tentang Angkasa, pemuda itu masih belum menyatakan cintanya pada gadis pujaan hatinya siapa lagi jika bukan Yesha, karena ia akhir-akhir ini, ia sulit sekali bertemu dengan gadis itu dan harus ke rumahnya jika ingin bertemu dengan Yesha. Bahkan saat di kampus, Yesha jarang sekali bisa di temui, gadis seperti menghilang dari peredaran. Selalu mengurung diri di kamar ketika berada di rumah dan ketika berada di kampus, ia tak pernah ingin bergabung dengan teman-temannya, bahkan ia selalu menghindari kantin karena tak mau bertemu dengan Adnan.
Hari Minggu, Adnan tidak ada kegiatan yang menentu. Ia memilih untuk pergi ke rumah Alisha, bukan tanpa sebab, hari ini ia akan mengajak Alisha untuk memilih undangan yang akan mereka sebarkan nanti. Kenapa di hari Minggu? Karena ia bisanya hanya di hari Minggu, di hari biasanya mereka berdua sama-sama sibuk, apalagi Alisha yang akan menghadapi ujian.
Baru saja Adnan duduk di ruang tamu di temani oleh Papa karena Alisha masih bersiap. Terdengar suara mobil berhenti di halaman, sepertinya ada tamu, karena semua orang berada di rumah. Tak berapa lama terdengar suara salam seseorang yang amat di kenali oleh Adnan, ya suara seorang perempuan.
"Assalamu'alaikum," ucap salam perempuan itu, ia masuk begitu saja sebelum pemilik rumah menjawab salamnya.
Dan ternyata dugaannya benar, yang datang adalah gadis yang sudah ia sakiti beberapa hari yang lalu.
Deg
Hatinya sebenarnya juga sakit karena sengaja menyakiti hati gadis sebaik Yesha, tapi apa mau di kata ia memang harus melakukan itu, ia tidak mau melihat Angkasa sakit, karena baginya kebahagiaan Angkasa lebih utama dari pada dirinya. Adiknya itu segala-galanya untuknya.
"Wa'alaikumussalam," jawab dua lelaki itu.
"Eh ada tamu rupanya, siapa Om?" tanya Yesha setelah menyalami Om Al, ia pura-pura tak mengenal Adnan.
__ADS_1
Entah mengapa hati Adnan begitu perih saat melihat gadis itu tak memperdulikan kehadirannya, seakan gadis itu benar-benar tak mengenalnya.
"Kenalin Nak, ini Adnan calon suaminya Alisha," Om Al memperkenalkan Adnan pada Yesha, "dan ini Yesha, sepupunya Alisha," bergantian Om Al memperkenalkan Yesha, mereka pun berjabat tangan sebentar karena Yesha sengaja menghindari tatapan mata Adnan.
"Aku masuk ya Om, mau ketemu Mama Icha," Yesha pun berlalu meninggalkan dua lelaki beda generasi tersebut.
"Yesha itu sering banget pergi sama Mamanya Alisha, ya karena Alisha yang jarang di rumah dan dia dulu paling enggak suka di ajak-ajak belanja atau ke toko kue Mamanya," Om Al menjelaskan tanpa di minta.
Adnan hanya mendengarkan tanpa berniat menimpali. Ia jadi teringat akan percakapan Bunda dengan Angkasa beberapa waktu lalu, jika Bunda mengira kalau Yesha itu anaknya Om Al. Pantes aja, karena yang sering pergi bareng Tante Icha itu Yesha bahkan wajah mereka berdua sekilas mirip ya meskipun jika di perhatikan sebenarnya mereka tidak mirip.
"Bahkan banyak yang mengira kalau Yesha itu yang kembarannya Aufa, ya karena Mamanya Alisha sering pergi dengan Yesha," lanjut Om Al.
Nah, kan? Bunda juga berfikiran seperti itu. Pikir Adnan.
Sedangkan di lantai atas, Alisha terlihat baru saja ke luar dari kamar. Mengenakan rok plisket di bawah lutut berwarna gold , kaos putih serta jaket crop kulit berwarna hitam dan sepatu sneakers berwarna putih. Rambut di biarkan terurai, terlihat cantik dan lebih dewasa.
"Cantik banget Sha, nah gitu dong jangan pake kaos kebesaran sama sepatu boots mulu," Yesha tak bisa untuk tidak berkomentar.
"Dia seperti itu karena sedang jatuh cinta, biasa orang jatuh cinta pengen terlihat sempurna di mata orang yang kita cinta," tiba-tiba Mama Icha keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi pula.
Wajah Alisha tampak memerah mendengar ucapan sang Mama, ia tersipu malu. Entah sejak kapan gadis tomboy itu bisa malu-malu seperti itu?
"Ah, Mama bisa aja," celetuknya.
__ADS_1
Beda Alisha, Yesha hampir saja tak bisa menyembunyikan kesedihannya, ia tahu orang yang membuat Alisha jatuh cinta adalah Adnan, lelaki yang juga membuatnya jatuh cinta dan bahkan menyakitinya begitu saja. Di balik semua itu, Yesha sudah mengikhlaskannya, apalagi saat melihat perubahan Alisha yang begitu pesat, bahkan bukan hanya Alisha yang bahagia tapi juga keluarga besarnya. Semoga saja sakit hatinya kali ini membawa berkah berlipat ganda di kemudian hari.
"Syukurlah kalo Shasa udah jatuh cinta sama calon suaminya, aku ikut seneng. Akhirnya gadis tomboyku jatuh cinta juga," untung komentar yang keluar dari bibir Yesha tidak menghianati pemiliknya, meskipun menghianati hatinya.
"Kakak bisa aja," timpal Alisha malu-malu, "yaudah duluan ya, udah di tungguin dari tadi," tambahnya, lalu menyalami Mama dan bergegas meninggalkan mereka berdua.
"Kamu baik-baik saja Yes? Kok muka kamu pucet gitu Nak?" tanya Mama Icha saat melihat wajah Yesha yang memucat.
"Baik Ma, aku cuma kurang tidur aja beberapa hari ini, banyak tugas Ma," kilahnya, padahal yang terjadi ia merasa lemas setelah melihat wajah bahagia Alisha apalagi ia sempat melihat Adnan seperti tanpa beban ketika menatapnya tadi. Itu berarti pemuda itu sudah melupakannya. Ah lupakan saja, aku sudah ikhlas, yang penting Alisha bahagia. Pikirnya.
Untung saja saat turun ke lantai bawah, Alisha dan Adnan sudah pergi hingga membuat Yesha lebih tenang dan tidak harus bertemu dengan Adnan lagi.
🌻🌻🌻
Adnan sebenarnya sempat terpesona dengan penampilan baru Alisha, karena biasanya saat di rumah ia hanya melihat Alisha mengenakan kaos kebesaran dan celana selutut. Ah ia sampai lupa, pernah melihat Alisha waktu itu memakai gaun, tapi ia bisa melihat jika Alisha tak nyaman waktu itu, seperti ada paksaan, karena kenyataanya memang seperti itu, Alisha waktu itu terpaksa memakai dress sesuai permintaan Tante Martha.
Keduanya kini berada di dalam mobil, mereka masih betah membisu. Alisha sebenarnya ingin bertanya terlebih dahulu, tapi ia malu. Bingung juga mau membahas apa, akhirnya ia menunggu Adnan yang berbicara terlebih dahulu.
"Alis,"
Alisha mengernyitkan dahinya, mendengar Adnan memanggilnya dengan sebutan 'Alis'.
"Kok Alis sih?" protesnya.
__ADS_1
___________&
Maaf udah beberapa hari enggak update, karena author kurang enak badan. Terimakasih yang sudah menunggu cerita ini update.