
Alisha menghembuskan nafas berkali-kali setelah kepergian pemuda tadi. Jika tadi dia terlihat bahagia karena telah menemukan orang yang dia cari selama ini, tapi setelah bertemu dengan orang yang ia cari justru kembali menelan kekecewaan, karena kenyataanya nama pemuda itu bukanlah orang uang dia cari. Meskipun dia yakin pemuda itu memiliki foto yang sama, tapi kenapa namanya bukan Kak Bintang nya.
"Haruskah aku kecewa atau bahagia?" gumamnya.
"Tunggu, mana fotonya ya," Alisha berbicara sendirian, dia mencari dompetnya lalu mengeluarkan sebuah foto lama. Meneliti wajah seseorang yang sangat ia rindukan.
"Wajahnya sedikit mirip sih sama cowok tadi, tapi Kak Bintang tidak memiliki tahi lalat di dagunya, sedangkan cowok tadi ada," Alisha kembali mengingat wajah pemuda yang baru saja pergi dari hadapannya. "Mungkin cuma mirip," Alisha menghela nafas, lalu ia pergi dari kafe tersebut. Tadinya ia berharap jika pemuda itu adalah Bintang, tapi kenyataannya dia bukanlah Bintangnya yang ia cari sejak dulu, entah kemana Bintang perginya, bahkan hingga belasan tahun tak pernah terlihat batang hidungnya.
Sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke dalam kamar karena di rumah terlihat sepi, sepertinya sang Mama sedang pergi, dua adiknya entah di mana, mungkin masih di sekolah masing-masing.
🌻🌻🌻
Pagi ini, Alisha sengaja membolos kuliah. Dia masih memendam kekecewaan atas kenyataan yang ia ketahui kemarin. Dia memilih untuk mendatangi taman masa kecilnya bersama Bintang. Duduk di sebuah kursi yang dulu mereka tempati, meski keadaan taman itu mengalami banyak perubahan, tapi kenangan masa kecilnya tetap tersimpan rapi dalam memori. Ia mengingat saat bercerita dengan Bintang, ah ia rindu sekali dengan Bintang. Pertanyaannya apakah Bintang juga merindukan dirinya? Entahlah.
Hampir dua jam Alisha duduk termenung seorang diri, bahkan ia tidak peduli dengan beberapa orang yang lalu lalang melintasinya. Karena ia sedang asyik mengingat masa menyenangkan saat bersama Bintang. Karena lelah, ia akhirnya memutuskan untuk pergi dari taman tersebut, baru saja akan menjalankan mobilnya, Alisha melihat seseorang yang sangat ia kena baru saja ke luar dari sebuah mobil.
"Angkasa? Ngapain ke sini?" tanyanya pada diri sendiri.
"Ah iya ya, ini kan taman umum, ya bebaslah mau ngapain aja," ia bertanya sendiri dan menjawab sendiri pula. Setelah itu dia melajukan mobilnya tanpa mempedulikan Angkasa dan seseorang yang baru saja ke luar dari mobil tersebut.
🌻🌻🌻
Beberapa hari berlalu, Alisha sudah kembali ceria, dia kembali ke kehidupannya yang dulu, sering nongkrong bersama teman-temannya, tapi untuk balapan motor dia masih berfikir dua kali, meskipun kadang tetap melakukan hal itu. Tentunya dengan motor sewaan karena motornya masih di sita oleh sang Papa.
Sore ini, ia baru saja sampai di rumah, setelah mengerjakan tugas kampus bersama Dani dan teman-temannya.
"Kok baru pulang Sha?" tanya sang Mama yang sedang sibuk di dapur entah sedang membuat apa, Alisha tidak ingin tahu.
__ADS_1
"Abis ngerjain tugas Ma," jawabnya lalu mengambil botol minuman dari dalam kulkas.
Terlihat Mama mengangguk, "Yaudah habis ini mandi, siap-siap, nanti ada temen Mama yang mau datang ke sini, kamu harus ikut nemuin ya," titah sang Mama.
Setiap ada pertemuan dengan teman Mama atau Papa, semua anaknya harus ikut menemui, kata Mama sebagai tanda penghormatan terhadap tamu dan tidak sopan juga ketika ada tamu kita malah sembunyi di kamar, jadi mau tidak mau semuanya harus menemui tamu itu, terutama tamunya adalah teman dari Mama atau Papa.
"Iya Ma," jawabnya. "Yaudah aku ke atas dulu, mau bersih-bersih," tanpa menunggu jawaban sang Mama, Alisha pun masuk ke dalam kamar untuk membersihkan dirinya.
Alisha tidak merasa curiga sedikit pun dengan permintaan sang Mama. Karena ia mengira yang akan datang adalah tamu biasa. Tapi kenyataanya dia salah, yang datang ternyata keluarga Bapak Faris.
"Wah ini Alisha ya, makin cantik aja," puji wanita paruh baya yang duduk di sisi Om Faris setelah melihat kehadiran Alisha.
"Iya Tan," jawabnya lalu menyalami kedua orang tersebut. Alisha menggunakan dress putih polos di bawah lutut. Sebenarnya dia menolak untuk mengenakan dress, karena sang Mama memaksa jadi ia pun menurut saja tanpa curiga sedikitpun. Dengan rambut di cepol, terlihat santai tapi sopan di bandingkan jika memakai kaos kebesaran dan celana jeans kesukaannya.
"Maaf ya Jeng, anakku lagi di jalan katanya, maklumlah dia sibuk, ini aja tadi baru pulang kerja terus aku paksa ajak ke sini, tapi kami di suruh berangkat dulu, dia mau nyusul katanya," jelas wanita paruh baya itu.
Tak lama terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah.
"Itu pasti dia datang,"
Benar saja, seorang pemuda masuk sambil mengucapkan salam. Dia langsung menyalami Mama dan Papa.
Sedangkan Alisha, terlihat melongo sejak pemuda itu masuk ke dalam rumah, ia seakan tidak percaya dengan adanya pemuda di hadapannya ini bahkan seperti mimpi di siang bolong. Hal konyol yang dia lakukan, menepuk pipinya beberapa kali, tapi sakit. Berarti ini tidak mimpi, pikirnya.
"Kenapa Sha?" tanya Mama, membangunkan dirinya dari lamunan.
"Ah, enggak Ma," jawab Alisha gugup. Sampai di sini Alisha masih tidak mengerti dengan keadaan ini bahkan kehadiran mereka.
__ADS_1
"Bukannya kamu sudah kenal sama dia Sha?" tanya Mama yang melihat kegugupan Alisha.
"Iya Tan, kami sudah kenal," bukan Alisha yang menjawab tapi pemuda tersebut. "Bahkan udah beberapa kali kita bertemu," tambahnya.
"Bagus dong kalo gitu," istri Om Faris yang menimpali.
"Karena sudah lengkap, mari kita makan malam terlebih dahulu, sebelum berbicara yang lebih serius," kali ini Papa yang mengajak mereka untuk makan malam.
Selama makan malam, dua keluarga itu tampak menikmati sajian makan malam dengan khidmat. Sedangkan Alisha, pikirannya entah melayang ke mana? Memikirkan banyak kemungkinan dan hal yang akan membuat dia kecewa, atau bahkan membahagiakan.
Setelah acara makan malam usai, Mama dan Papa mempersilahkan pemuda itu untuk berbicara berdua dengan Alisha, sesuai permintaan pemuda itu. Kini keduanya duduk di taman belakang, yang menyajikan kolam ikan hias dan beberapa tanaman hias pula.
"Kamu pasti tidak menyangkan kalau aku yang datang ke sini, iya kan?" tanya pemuda itu dan tebakannya benar sekali.
Alisha mengangguk, ia tidak berani menatap pemuda di hadapannya itu.
"Aku lebih tidak menyangka, jika kamu wanita yang akan aku nikahi," pemuda itu menatap sekilas Alisha yang masih berpaling darinya.
"Tapi tenang saja, aku sudah tahu semuanya, tentang kamu dan sepupumu,"
Mendengar ucapan itu, Alisha langsung menatap pemuda di hadapannya ini penuh selidik. Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum, seakan dia tidak memiliki beban apa pun.
______&&&&_______
Selamat hari raya Idul Fitri, buat kalian semua yang merayakannya. Mohon maaf lahir batin ya.
Oh iya, kalau seandainya cerita ini tidak mudah di mengerti atau banyak kejanggalan, tolong kritikannya ya, aku siap menerima kritikan apapun dari kalian yang penting bukan nyinyiran.
__ADS_1
Banyak banget yang pingin cerita tentang Raffa, nanti ya. Aku dulu emng pernah buat sinopsis cerita Raffa, ada juga cerita Alvian sama Irfan juga Dika, tapi aku lebih memilih anak" Icha dan Nayla saja yang aku angkat jadi novel, entah kenapa cerita mereka aku lupakan begitu saja. Nanti deh aku coba buat salah satu dari cerita mereka.