
"Mas bangun, udah setengah enam, kita telat sholat subuh." Alisha mengguncang tubuh Adnan dengan kuat, hingga suaminya itu terbangun. Ia terkejut saat terbangun sudah sesiang ini, padahal hari ini hari Senin dan ia ada kuliah pagi.
"Jam berapa?" tanya Adnan dengan suara parau khas bangun tidur, sambil mengucek kedua matanya.
"Setengah enam," jawab Alisha sambil turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Adnan pun terkejut mendengar jawaban Alisha, padahal ia merasa baru tidur sebentar tapi kenapa sudah siang? Ia pun bergegas turun dari ranjang, menyusul Alisha yang lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi.
Semalam mereka entah tidur jam berapa, karena lagi-lagi Adnan meminta haknya, karena saat mandi bersama semalam Alisha menolak melakukannya, ia beralasan tidak mau melakukan seperti itu di kamar mandi. Dan saat tengah malam ketika Alisha terbangun, Adnan meminta haknya lagi, padahal dirinya belum memejamkan mata sama sekali, alhasil mereka tidur hingga menjelang subuh.
"Sayang, buka pintunya. Aku mau masuk, kalau gantian enggak keburu," Adnan berusaha membuka pintu kamar mandi, tapi ternyata Alisha mengunci pintu tersebut.
Ceklek
"Jangan macam-macam ya," celetuk Alisha.
"Iya, ini sudah siang enggak mungkin macam-macam," timpal Adnan lalu masuk ke dalam kamar mandi. Mereka pun benar-benar mandi sendiri karena waktu sudah terlalu mepet.
π»π»π»
"Nanti aku ada meeting sama klien setelah mengajar, kamu pulang naik taksi ya, tapi ke kantorku jangan ke rumah, kita makan siang bareng," ucap Adnan.
Mereka saat ini sudah berada di depan fakultas Alisha, seperti biasa Adnan mengantar Alisha ke kampus setelah itu baru menuju kampusnya.
"Baiklah, aku masuk dulu," timpal Alisha, baru saja akan membuka pintu mobil ia kembali menghadap ke arah Adnan, ia melupakan sesuatu.
"Minta uang," ucapnya sambil menyodorkan tangan ke hadapan Adnan, ia seperti gadis kecil yang sedang meminta jatah uang saku pada ayahnya, membuat Adnan tersenyum akan kelakuannya itu.
"Enggak ada uang cash, pake ini aja." Adnan memberikan kartu yang beberapa waktu lalu di tolak oleh Alisha, kali ini mau tidak mau Alisha pun menerimanya, karena ia melihat sendiri isi dompet Adnan kosong, hanya ada selembar uang berwarna biru.
"Kata sandinya tanggal lahir kamu," tambahnya.
Alisha mengangguk, "Terimakasih, yaudah aku masuk dulu ya," pamitnya lalu meraih telapak tangan Adnan untuk di cium.
Adnan menangkup wajah Alisha setelah istrinya itu mencium punggung tangannya, lalu ia mendaratkan sebuah kecupan di kening Alisha, "Belajar yang bener dan jangan lupa sarapan setelah kelas pertama," ucapnya, karena tadi di rumah mereka tidak sempat sarapan pagi.
__ADS_1
Alisha tersenyum, lalu mengangguk, "Baiklah, kamu juga jangan lupa sarapan ya," ucapnya menjauh dari jangkauan Adnan, tapi ia kembali mendekat ke arah wajah Adnan.
Cup
Alisha mengecup singkat pipi kiri Adnan, "Semangat kerjanya ya sayang," ucapnya lalu bergegas ke luar dari mobil, meninggalkan Adnan yang masih melongo karena kelakuan Alisha, dan panggilan 'sayang' yang baru saja meluncur dari bibir Alisha.
Adnan tersenyum sambil menyentuh pipi kirinya yang baru saja di kecil oleh Alisha, ia tidak menyangka Alisha sekarang lebih berani bahkan tanpa ia minta, tapi justru itu yang ia harapkan.
Sedangkan Alisha juga tersenyum karena berhasil membuat Adnan terkejut, ia bahkan tersenyum dengan semua orang yang ia lewati, padahal biasanya ia tak pernah melakukan itu sekali pun yang ia temui adalah senior di kampusnya.
Bruk
Alisha duduk di kursi yang biasa ia tempati dengan kasar, tapi tak membuah teman-temannya heran karena itu hal biasa.
"Lo keliatan bahagia banget pagi-pagi gini, pasti dapet jatah banyak dari suami," tebak salah satu teman Alisha yang mengira Alisha mendapatkan uang lebih dari Adnan.
Alisha hanya tersenyum dan sepertinya tak ingin menimpali ucapan temannya itu.
"Bukan jatah itu yang dia dapat, gue yakin jatah yang lain, nich masih keliatan bekasnya." Lyra menyentuh leher bagian kanan Alisha yang terdapat bekas kissmark yang terlihat samar-samar.
"Serius Lo? Coba mana gue pinjem kaca," ucapnya.
Lyra dan kedua temannya hanya terkekeh melihat kepanikan Alisha, "Enggak keliatan banget, ya kalo di perhatiin sih keliatan kalo enggak ya enggak keliatan," ucap Lyra.
Alisha menghela nafas lega, lalu menutup bagian yang tadi di tunjuk Lyra dengan rambut panjangnya. Ia ingat tadi pagi saat di depan cermin, terkejut karena di lehernya banyak tanda merah dan lebih terkejut saat ia sengaja membuka dadanya karena di sana banyak sekali tanda yang sama, terutama di area kedua benda menonjolnya. Bisa-bisanya Adnan membuat banyak sekali tanda seperti itu dan dia tidak menyadarinya.
"Woy, ngelamunin apa Lo Sha?" salah satu teman Alisha menepuk pundaknya membuat ia terkejut.
"Enggak ada, kenapa emang?"
"Tuh dosen udah masuk,"
Alisha melihat ke arah depan, ternyata yang di katakan oleh temannya itu benar, jika dosen sudah masuk ke dalam ruangan tapi ia tak tahu kapan dosen itu masuk, berarti ia tadi benar-benar melamun.
π»π»π»
__ADS_1
Seperti kesepakatan tadi pagi dengan Adnan, Alisha pulang ke kantor suaminya itu dengan menggunakan taksi. Ia kini berada di depan ruang Adnan, baru akan masuk ke dalam ruangan itu, ketika seseorang memanggil namanya.
"Alisha," ucap orang itu yang tak lain adalah Ayah mertua nya.
"Ayah, apa kabar? Bagaimana kabar Bunda?" tanyanya sambil menyalami Ayah mertuanya itu.
"Alhamdulillah baik, Bunda juga baik, tapi Bunda masih di Bandung, mau ketemu Adnan?" tanya Ayah.
"Iya yah, dia tadi yang minta supaya aku datang ke sini,"
"Oh gitu, tapi Adnannya lagi meeting sama klien, kamu tunggu aja mungkin dia sebentar lagi datang,"
"Baik Yah, aku masuk dulu ya," Alisha berpamitan pada Ayah mertuanya, ia sebenarnya masih canggung bicara dengan Ayah mertuanya itu karena jarang sekali mereka berbicara berdua, jika dengan Bunda ia justru sangat akrab apalagi Bunda orangnya mudah mengenal seseorang dan tak jarang juga mereka berdua berkirim pesan meskipun hanya menanyakan kabar saja tidak lebih.
Alisha mendudukkan dirinya di sofa ruang kerja Adnan, ia merasa ngantuk dan lelah sekali, apalagi semalam ia kurang tidur. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur di sofa tersebut, biarkan di bilang tidak sopan, karena ia sangat mengantuk sekali.
Alisha mengerjapkan mata saat merasakan benda kenyal menyentuh pipinya di susul suara seseorang yang amat ia kenali.
"Sayang, bangun," ucap Adnan yang kala itu baru saja masuk ke dalam ruangannya dan mendapati Alisha tertidur pulas di sofa.
"Kamu sudah kembali?" tanya Alisha setelah melihat keberadaan Adnan di hadapannya.
"Iya baru saja," jawab Adnan tersenyum, ia membantu Alisha untuk duduk dengan menarik kedua tangannya.
"Astaga!" pekik Alisha saat menyadari di dalam ruangan itu tidak hanya ada dirinya dan Adnan, melainkan ada dua orang lain, mungkin orang itu klien Adnan.
"Maaf," ucap Alisha canggung, karena kepergok tidur di sofa. Memalukan sekali, apalagi tadi Adnan sempat menciumnya di depan kedua orang itu, mau di taruh di mana muka Alisha? Seseorang tolong kirim pintu ajaib Doraemon supaya Alisha bisa keluar dari tempat itu dengan cepat.
"Tidak masalah Bu," jawab salah satu dari dua orang itu, mereka sama-sama tersenyum ke arah Alisha.
.
.
___________________________________________________
__ADS_1
*Maaf buat yang minta double update aku enggak bisa, saat ini masih sibuk dengan dunia nyataπ€ mohon di mengerti ya. Terimakasih untuk semuanya.