
Dengan rasa khawatir yang makin membara, Adnan bergegas mengambil sepeda di area belakang villa. Memilih salah satu sepeda yang sering ia tunggangi, lalu menuntunnya menuju halaman depan. Kebetulan sekali di depan gerbang ia bertemu dengan salah seseorang yang sepertinya petugas kebersihan di daerah tersebut, terlihat dari seragam yang ia kenakan.
"Maaf mau tanya Mas, apa tadi lihat ada seorang wanita berumur sekitar dua puluh tahunan, ke luar dari villa itu naik sepeda?" tanya Adnan tanpa basa-basi terlebih dahulu, saking paniknya jika terjadi sesuatu pada istri tercinta.
Seseorang berseragam oranye tersebut tampak berfikir sejenak, "Oh iya lihat Mas, tadi dia naik sepeda ke arah sana." Orang tersebut menunjuk ke salah satu arah.
"Makasih Mas, kalau gitu saya permisi," setelah mengatakan itu Adnan bergegas mengayuh sepedanya dengan kekuatan penuh.
Adnan terus mengayuh, hingga sekitar lima ratus meter dari villa, ia melihat sekumpulan orang sedang berdiri di sisi jalan. Awalnya ia ingin tidak perduli karena takut kehilangan jejak sang istri, tapi saat melihat sebuah sepeda yang sangat ia kenali, seketika langsung turun dari sepeda dan meletakkan sepedanya sembarangan. Menerobos kerumunan orang tersebut, hatinya bergemuruh tak karuan ketika melihat siapa yang berada di tengah-tengah kumpulan orang tersebut.
Deg
"Isha!" serunya saat melihat orang tersebut yang tak lain adalah Alisha, ia terkejut mendapati tangan sang istri yang berlumuran darah.
Ya, Adnan sudah mengganti panggilannya kepada Alisha, setelah dia tahu jika istrinya itu gadis cerewet ya g pernah hadir di masa lalunya yang kelam. Mengikuti panggilan masa kecil Alisha, meskipun awalnya Alisha menolak, tapi Adnan memberikan alasan yang tepat dan pada akhirnya Alisha menyetujui panggilan itu.
🌻🌻🌻
Alisha baru saja ke luar dari villa menaiki sepeda dengan perlahan, ia sadar dirinya saat ini sedang mengandung, dan ia tidak mau terjadi sesuatu dengan kandungannya. Meskipun begitu ia tetap naik sepeda tanpa pengawalan dan mengayuh sendiri, padahal sangat berbahaya untuk ibu hamil seperti dirinya.
Saat ia sedang menikmati pemandangan sekitar, tiba-tiba dari arah depan ada sepeda motor yang melaju dengan kencang, dan lebih terkejut lagi saat pengendara tersebut adalah seorang bocah berusia kurang dari sepuluh tahun, ia berusaha membelokkan sepedanya membentur pembatas jalan, tapi ternyata tidak berhasil dan yang terjadi selanjutnya.
Brugh
__ADS_1
Motor tersebut menabrak sepedanya yang tergelatak di sisi jalan, untung saja ia sempat melompat sebelum sepeda motor itu menabrak sepedanya. Ia bisa bernafas lega, tapi baru saja ia bernafas lega ia terkejut mendapati bocah tersebut berlumuran darah, dengan segera ia pun menolong anak itu yang sedikit tertimpa roda depan sepeda motornya.
"Duh, hati-hati ya Dik, sakit pasti, banyak banget darahnya," Alisha sebenarnya tak kuasa melihat darah yang mengalir dari kaki anak itu.
"Sss, sakit, sakit," anak itu mengeluh dan akhirnya menangis.
Seketika tempat tersebut di penuhi banyak orang, ada yang menuduh jika dirinyalah yang bersalah, tapi ada juga yang membelanya. Tapi ia tidak peduli, lebih memilih membalut luka bocah kecil itu dengan shal yang ia gunakan. Memang Alisha tadi membawa shal saat bersepeda, mengingat hawa di sana sangat dingin menurutnya. Baru saja ia menyelesaikan acara membalutnya, orang tua dari anak itu datang dan langsung meminta maaf pada Alisha dan sekaligus berterimakasih, membuat Alisha lega karena orang yang tadi menuduhnya bersalah kini membisu.
Tapi ia kembali di kejutkan dengan suara seseorang yang sangat ia kenali, seseorang yang sangat ia cintai.
"Isha!" Alisha menoleh dan mendapati sang suami menerobos kerumunan dengan wajah panik, bahkan seperti syok berat saat melihat dirinya. Yang Alisha lalukan justru tersenyum ke arah Adnan.
"Apa yang terjadi? Kenapa sampai berdarah begini? Mana yang sakit sayang? Ayo kita ke rumah sakit sekarang," banyak pertanyaan yang bernada kekhawatiran yang di lontarkan oleh Adnan. Tapi Alisha tak me jawab satu pun pertanyaan tersebut membuat Adnan semakin khawatir tentunya, dan baru saja Adnan akan membopongnya, Alisha lebih dahulu mencegah.
Adnan menoleh ke arah samping Alisha, ternyata ada seorang anak kecil sedang menangis dalam dekapan Mamanya.
"Darah ini?" tanya Adnan yang belum percaya jika Alisha tidak terluka.
"Dia yang nolongin anak saya Mas, itu darah anak saya, maaf ya Mas," ucap ibu itu.
Setelah itu Adnan pun meneliti seluruh tubuh Alisha, merasa belum puas jika belum memastikannya sendiri, dan benar saja tidak ada luka sedikit pun di sana.
"Alhamdulillah, syukurlah," gumamnya. Lalu memeluk tubuh sang istri dengan erat, tanpa merasa malu atau canggung di hadapan orang banyak, ia tidak perduli toh mereka sudah menikah. Tidak ada yang salah bukan? Tapi Alisha sedikit waras, ia tentu saja malu dengan perlakuan sang suami di hadapan banyak orang tersebut, berusaha melepaskan pelukan dari sang suami, tapi nihil karena Adnan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Saat Adnan akan mendaratkan kecupan di wajahnya, netra Alisha membola, seakan berbicara 'jangan Mas, banyak orang' dan Adnan pun mengerti akan tatapan sang istri, lalu ia melepaskan pelukannya.
"Buk anak ibu harus segera di bawa ke klinik atau rumah sakit, biar di obati oleh dokter," ucap Alisha, karena ibu itu hanya diam dan duduk di tempat tanpa melakukan apa pun, terus memeluk sang putra.
"Nunggu suami saya, Mbak. Dia sedang ambil motor," ucap ibu itu. Beberapa kali si ibu meminta maaf pada Alisha dan menceritakan kenapa anaknya bisa seperti itu.
Ibu itu bercerita, kalau tadi anaknya itu kabur membawa sepeda motor tersebut, anak itu marah karena keinginannya tidak di turuti. Padahal dia belum mahir mengendarai sepeda motor, alhasil terjadilah kecelakaan tersebut, untung saja tidak terlalu parah.
Orang-orang yang berkumpul sudah mulai pergi satu persatu, hanya ada beberapa orang saja yang masih di sana. Tak lama seorang laki-laki paruh baya berhenti di depan mereka, ternyata itu bapak si anak tersebut. Sekali lagi mereka berterimakasih karena telah menolong anaknya, lalu berpamitan untuk membawa anak tersebut ke klinik.
Setelah kepergian orang tersebut, tiba-tiba mobil pribadi Adnan sudah berada di hadapan mereka, tadi Adnan sempat menghubungi Pak Joko lewat pesan untuk menjemput mereka, di tempat itu.
"Ayo kita pulang, masuklah duluan, aku akan memasukkan sepeda kita," titah Adnan, lalu menuntun Alisha menuju mobil.
Adnan pun memasukkan sepedanya dan sepeda yang Alisha pakai tadi, meskipun sepeda itu sudah rusak, tetap saja harus di bawa pulang, supaya tidak jadi sampah di sana.
"Coba ceritakan kejadiannya gimana?" Adnan masih penasaran dengan kejadian sesungguhnya.
Alisha mulai menceritakan kejadian sesungguhnya, setelah mendengar cerita Alisha, Adnan kembali terkejut saat sang istri mengatakan melompat dari sepeda.
"Itu bahanya banget sayang, kamu harus periksa sekarang, enggak boleh nolak,"
Mau tidak mau Alisha menuruti perintah sang suami, karena setelah itu Adnan menyuruh Pak Joko membawa mereka ke rumah sakit, bukan ke villa padahal gerbang villa sudah di depan mata.
__ADS_1