Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Dalam Bahaya


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Adnan kembali mendapatkan informasi dari orang kepercayaannya. Saat ini mereka berada di ruangan Adnan dan tak lupa Alisha yang ikut serta bersama mereka.


"Katakan informasi apa yang kalian dapatkan?" tanya Adnan pada dua orang yang duduk di sofa berhadapan dengan dirinya dan Alisha.


"Ini informasi yang kami dapatkan Pak." Salah seorang dari keduanya memberikan map berisi beberapa bukti informasi yang mereka dapatkan.


Adnan pun meraih map tersebut, lalu membukanya.


"Seperti yang saya katakan waktu itu, jika Bapak Erik Raharjo adalah salah satu putra Tuan Raharjo, dia di usir dari rumah bahkan tidak diakui oleh Bapak Raharjo karena menikah dengan Luna Mahesa, pernikahan mereka tidak di restui keluarga Raharjo. Tuan Raharjo menganggap jika Luna hanya memanfaatkan pernikahannya dengan Erik untuk merebut harta kekayaan keluarga Raharjo, mengingat keluarga Luna baru saja bangkrut dari semua usaha yang didirikan oleh ayahnya," jelas salah satu dari mereka.


Adnan mengangguk sambil terus menatap map yang ia pegang. Ia seperti tidak asing dengan nama Luna Mahesa, tapi ia sedikit lupa-lupa ingat.


"Akhirnya Pak Erik memulai usaha sendiri dengan modal dari tabungannya selama ini. Dia dan sang istri membuka usaha tata busana, awalnya pendapatan mereka biasa saja, hingga Pak Erik pun sukses dan memiliki beberapa cabang toko pakaian. Tapi di saat kesuksesan mereka dapatkan, mereka sekeluarga meninggal karena rumahnya terbakar habis,"


"Semua toko kini sudah di kuasai atas nama Raditya Raharjo yang tak lain saudara kandung Bapak Erik, sepertinya mereka memang sudah mengincar semua kekayaan Bapak Erik, saya rasa kebakaran itu juga ada kaitannya dengan keluarga Raharjo, tapi sayang sekali Pak, kita tidak bisa membuka kasus itu kembali tanpa ijin dari keluarga karena dari pihak keluargalah yang meminta untuk menghentikan penyelidikan,"


Adnan menghela nafas panjang, ia sudah menduga jika kasus kematian kedua orang tua Cantika ada hubungannya dengan keluarga Raharjo, dan sudah menduga kasus itu tidak akan bisa di buka lagi tanpa ijin dari pihak keluarga.


"Soal putri Anda, mereka sepertinya tidak ada yang tahu jika salah satu putri Erik masih hidup, karena menurut tetangga Pak Erik, putrinya itu di bawa pergi oleh sahabat Pak Erik sendiri, dan orang itu juga meminta warga untuk merahasiakan jika salah satu putri Erik masih hidup, tapi sayang saat saya tanya di mana rumah sahabat Pak Erik itu, tetangganya tidak ada yang tahu,"


Adnan dan Alisha tercengang mendengar cerita dari mereka, berarti Cantika dalam bahaya jika keluarga itu mengetahui gadis kecil itu masih hidup.


"Menurut saya, sebaiknya tidak usah di lanjutkan lagi penyelidikan tentang mereka Pak, karena bisa membahayakan putri Bapak,"


"Iya benar yang kamu katakan, sebaiknya kita bungkam seakan tidak tahu menahu tentang itu, meskipun sebenarnya tidak adil bagi Cantika," timpal Adnan yang sejak tadi hanya diam menyimak tanpa menyela sebelum kedua orang itu mengungkapkan semua informasi yang mereka dapatkan.

__ADS_1


"Yaudahlah Mas, yang penting sekarang Cantika aman bersama kita, aku tidak mau terjadi sesuatu pada dia. Aku yakin semua perbuatan mereka pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah tanpa harus kita membalasnya," Alisha juga tidak mau jika Cantika justru dalam bahaya jika mereka melanjutkan penyelidikan atau membuka kasus kematian kedua orang tua Cantika.


"Apa kalian punya informasi tentang Mamanya Cantika? Saya kok tidak asing dengan nama Luna Mahesa, tapi siapa ya?" Adnan bertanya pada dua orang tua itu.


"Maaf Pak, kami sejauh ini tidak mencari tahu tentang keluarga Bu Luna, jika Bapak menyuruh kami untuk mencari informasinya, kami pasti akan cari,"


"Apa sih Mas? Katanya tidak mau meneruskan penyelidikan?" Alisha tidak mengerti dengan sikap Adnan.


"Ini beda sayang, nama Mahesa itu adalah nama keluarga orang tua angkat ku dulu, aku cuma pengen tahu aja, apa Luna Mahesa ada hubungannya dengan keluarga orang tuaku itu? Aku ingat kalau Papaku itu punya adik perempuan yang usianya sekitar enam sampai tujuh tahun di atasku tapi aku lupa namanya, apa mungkin dia atau bukan? Jika memang dugaanku benar, berarti Cantika anak dari tanteku itu dong," Adnan menganalisis sendiri tanpa bukti yang jelas, ia hanya menduga-duga.


"Yaudah terserah kamu aja," Alisha pasrah mengikuti keinginan sang suami.


"Tolong Carikan informasi tentang keluarga Luna Mahesa ya, kalau sudah bisa langsung datang ke sini atau ke rumah," perintah Adnan pada dua orang tersebut.


Setelah itu kedua orang kepercayaan keluarga Adnan tersebut pun undur diri, mereka masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.


"Ya begitulah, tapi tidak semua seperti itu, yang terpenting kita harus hati-hati dalam memilih rekan kerja, jika salah sedikit saja bisa fatal akibatnya,"


"Iya aku ngerti. Tapi kasian juga Cantika, masih kecil saja sudah tidak aman hidupnya. Semoga aja dia akan baik-baik saja bersama kita ya Mas,"


"Amin, Allah pasti akan melindungi dia,"


"Mas, kita buat kesepakatan, jangan sampai Cantika mengetahui semu ini Mas, meskipun dia sudah besar, aku tidak mau dia justru dalam bahaya saat mengetahuinya," Alisha tak ingin Cantika dalam bahaya.


"Iya pasti sayang, aku juga tidak mau dia dalam bahaya," Adnan pun menyetujui permintaan sang istri.

__ADS_1


Brak


Adnan dan Alisha terkejut mendengar pintu ruangan terbuka dengan kasar, tapi selanjutnya mereka justru tersenyum saat mendapati siapa yang membuka pintu tersebut. Alisha memilih bangkit dari duduknya, lalu menghampiri seseorang yang membuka pintu itu.


"Sudah pulang, sayang?" tanyanya.


"Iya Ma, kita tadi ke sini di antar temanku Ma," ucap Cantika lalu memeluk Mamanya dengan erat.


"Lho kok bisa? Pak sopir kemana?" tanya Alisha merasa heran kenapa Cantika tidak diantar oleh sopir pribadinya.


"Maaf Buk, tadi Pak supir minta ijin ke saya, kalau mau mengantar istrinya berobat, katanya telfon Ibu tapi tidak diangkat, telfon ke Bapak juga sama," Anita yang menjawab pertanyaan Alisha.


"Istrinya sakit apa?"


"Saya kurang tau Buk," jawab Anita.


"Yaudah enggak apa-apa, kita doakan saja semoga istrinya lekas sembuh,"


Adnan dan Alisha selalu memberikan kebebasan pada para pekerja di rumah yang terpenting masih dalam batasan wajar, mereka berdua menganggap para pekerja itu adalah keluarga. Tentu saja para pekerja merasa aman dan nyaman bekerja di rumah pasangan muda tersebut.


"Makan siang apa sayang?" tanya Adnan karena sudah masuk waktu makan siang.


"Ke resto Mama aja ya Mas, aku pengen makan red Velvet,"


"Hore! Cantika mau ketemu Nenek, ayo Pa cepetan, aku mau liat Kakak-kakak buat kue," Cantika selalu antusias saat di ajak ke restoran Mama, karena gadis itu selalu ingin tahu tentang cara pembuatan kue.

__ADS_1


Jika di rumah Mama selalu saja Mama mengajak Cantika untuk membuat kue, dan gadis kecil itu ketagihan. Jika saja Alisha bisa seperti Mamanya, sudah bisa di pastikan Cantika akan selalu merengek minta di buatkan kue, untung saja Alisha tidak ahli dalam hal tersebut.


__ADS_2