
Adnan di buat melongo berkali-kali ketika mengantar Alisha ke mall, bukan hanya Adnan bahkan Cantika yang masih bocah saja tampak terkejut melihat Mamanya berbelanja. Selain beberapa koleksi baju, tas dan juga sepatu, Alisha juga membeli beberapa make up yang berbeda brand, bahkan dengan alat fungsi yang sama. Entah kerasukan apa istrinya itu bisa berubah seratus delapan puluh derajat bahkan hanya dalam waktu satu hari.
"Emang kamu bisa pake kaya gini?" Adnan berkali-kali melontarkan pertanyaan yang sama saat sang istri membeli alat-alat make up yang ia sendiri tidak tahu namanya apalagi fungsinya.
"Bisa dong, nanti kan bisa liat tutorialnya," jawab istrinya itu tanpa beban. Membuat Adnan membiarkan Alisha berbelanja semaunya.
"Sejak kapan kamu suka koleksi sepatu dan tas kaya gini?" lagi-lagi Adnan bertanya saat melihat Alisha memilih beberapa tas dengan harga fantastis dan juga sepatu yang harganya tak kalah mahal dari tas tersebut, mungkin satu tas harganya sama seperti gajinya satu bulan di kantor.
"Lagi pengen aja sekarang, gara-gara liat yutuber jadi pengen," jawab Alisha lagi-lagi dengan entengnya.
Adnan hanya bisa menggelengkan kepala, ia berjanji tidak akan membiarkan Alisha menonton video yang sisinya para artis yang sukanya pamer kekayaan. Bisa-bisa ia jatuh miskin dalam sehari kalau istrinya itu sedang dalam mode seperti ini.
Tapi sejurus kemudian ia bernafas lega ketika pilihan sang istri jatuh ke tas dan sepatu dengan harga lebih miring dari pada yang tadi.
Tapi ia di buat terkejut plus bahagia saat di toko baju, istrinya itu memilih beberapa baju hamil.
"Kok beli baju hamil? Buat siapa?" tanyanya.
"Buat aku dong, entah kenapa feeling ku mengatakan kalau aku sedang hamil," jawabnya.
"Kamu serius? Yaudah setelah ini kita langsung ke dokter," putus Adnan tanpa meminta persetujuan Alisha.
"Besok aja ya, kalau sekarang aku males," tapi Alisha ternyata menolak keinginan Adnan, membuat suaminya itu menghembuskan nafas pasrah.
__ADS_1
Setelah dari toko baju, mereka melipir ke hyperapril membeli bahan makanan, tapi yang di beli Alisha bukanlah bahan makanan melainkan berbagai cemilan dari yang harganya mahal sampai yang harganya paling murah, bahkan satu troli penuh berisi makanan ringan. Adnan tidak banyak berkomentar kali ini, ia jadi berfikiran sama dengan sang istri sebab adanya keanehan ini mungkin karena Alisha benar-benar sedang hamil, pikirnya.
Saat ini mereka hanya berdua saja, karena Cantika sudah kelelahan. Alhasil gadis cilik itu memilih untuk ke mobil bersama Anita dan sang sopir yang membawa belanjaan Alisha tadi. Adnan sebenarnya juga sudah lelah, tapi demi mengingat ucapan istrinya tadi ia rela mengantar Alisha berkeliling meskipun kakinya terasa pegal.
Alisha masih terus berjalan mengelilingi supermarket tersebut, tapi saat akan meletakkan barang yang ada di tangannya ia tak menemukan troli beserta pembawa troli yaitu suaminya sediri. Ia menoleh ke belakang, mendapati sang suami sedang berbicara dengan seorang perempuan beserta anak kecil, suaminya itu tampak tersenyum rama pada perempuan tersebut, bahkan tak sungkan menyentuh pipi anak kecil itu.
Alisha mendengus, "Ternyata dari tadi gue ngomong sendiri. Yang di ajak ngomong malah asyik bicara sama orang lain," gerutunya lalu mendekat kearah Adnan.
"Makin keren aja kamu sekarang, beda banget enggak kaya dulu," samar-samar Alisha mendengar perempuan itu memuji suaminya.
"Lo juga beda banget," timpal Adnan, membuat Alisha ingin menyemburkan api dari mulutnya untuk menyembur Adnan, jika saja ia bisa melakukan itu.
"Gue makin jelek ya? Apalagi sekarang udah jadi emak-emak," perempuan itu tampak terkekeh saat mengatakan itu.
"Mas?" sebelum Adnan kembali membuka suara, Alisha sengaja menghentikan pembicaraan mereka, karena membuat kepalanya di penuhi oleh api yang siap membakar kapan saja.
Alisha menatap Adnan dengan tajam, membuat suaminya itu justru tersenyum penuh arti.
"Kenalin ini Alisha istri gue dan ini Angel teman SMA ku dulu," ucap Adnan memperkenalkan Alisha pada teman perempuannya itu, dan beralih memperkenalkan Angel pada Alisha.
"Lo udah nikah? Kapan? Kok gue enggak di undang sih?" perempuan itu nampak terkejut mendengar ucapan Adnan yang mengatakan jika Alisha istrinya.
"Udah lama, udah hampir setahun kita nikah," jawab Adnan.
__ADS_1
Angel pun mengangguk, lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Alisha, dan Alisha pun menerima jabatan tangan Angel.
"Salam kenal," ucap Angel sambil tersenyum ramah.
Alisha membalas senyuman Angel, tapi ia nampak tidak percaya jika perempuan yang ada di hadapannya itu hanya sekedar teman suaminya saat SMA, sepertinya ada hal lebih. Ia bisa melihat dari sorot mata Angel saat menatap Adnan dan keterkejutan perempuan itu saat mendengar Adnan sudah menikah, terlihat raut kekecewaan meski tak begitu jelas.
"Yaudah kita duluan ya Gel, salam buat suami Lo," Adnan berpamitan kepada Angel, ia sengaja menitipkan salam buat suami Angel supaya Alisha tidak salah paham, karena ia bisa melihat jika Alisha sepertinya dalam mode cemburu. Tapi ucapannya itu justru membuat ia dan Alisha tertahan di tempat.
"Iya, tapi suami gue udah meninggal lima bulan lalu," ucapan Angel membuat Adnan tidak jadi melangkah.
"Serius? Gue turut berduka cita Gel," ucap Adnan penuh penyesalan, lalu ia mengacak rambut anak lelaki yang berada di samping Mamanya, "jadi anak yang pintar ya sayang," ucapnya.
Anak itu tampak tersenyum malu-malu sambil bersembunyi di balik tubuh Angel.
"Yaudah gue duluan ya," pamit Adnan.
Setelah menjauh dari Angel dan anaknya, Alisha mengambil barang yang ada di rak dengan acak, lalu melempar benda-benda tersebut ke dalam troli dengan kasar.
Adnan tahu jika istrinya itu sedang cemburu akut, "Jangan salah paham, dia cuma temen aku waktu SMA, ya memang sih, Angel dulu pernah bilang suka sama aku, tapi aku tidak pernah menanggapinya," ucapnya lalu berusaha menghentikan kegiatan Alisha melempar bungkusan snack ke dalam troli.
"Aku cuma sayang sama kamu sejak pertama kita berjumpa," ucapnya lagi.
Alisha menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan menatap Adnan, "Dasar bohong banget, terus yang sama sebelum aku apa?" tanyanya ketus, menatap netra Adnan penuh selidik.
__ADS_1
Adnan tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal, "Kecuali itu maksudnya, kalau itu kan beralasan, sayang. Udah ya, jangan ngambek gitu," ucapnya lalu meraih tangan Alisha dan menggenggamnya.
"Hem," Alisha hanya berdehem, ia melepaskan tangan Adnan lalu berjalan ke arah kasir. Sudah lelah berbelanja setelah melihat Angel tadi, apalagi saat wanita itu sepertinya masih mengharapkan sang suami.