Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Aku Sudah Tidak Sabar


__ADS_3

*Terimakasih buat yang udah doain dan beri semangat author, maaf tidak bisa balas satu-satu, semoga kalian semua sehat selalu, dilindungi dari bahaya apa pun. Jangan lupa jaga kesehatan, dan ingat tiga M. Karena si bang Covid ternyata makin menjadi.


.


.


.


.


"Jangan gini," ucapnya sambil melepas tangan Adnan di dagunya.


"Kenapa?" Adnan pura-pura bertanya, padahal dirinya tahu jika Alisha gugup di perlakukan seperti itu.


"Aku mau tidur, capek," Alisha sengaja mengalihkan topik pembicaraan, ia tidak mau menanggapi pertanyaan Adnan, karena jika di teruskan akhirnya tidak akan baik.


"Eits, tadi kamu bilang apa sebelum aku mandi, enggak mungkin lupa, kan? Jadi?" Adnan menaik turunkan satu Alisha, membuat Alisha semakin gugup saja.


Alisha mengira Adnan melupakan ucapannya tadi, tapi nyatanya tidak, pemuda itu benar-benar menagih janjinya.


"Janji kalau tidak di tepati, dosa lho. Apalagi janji sama suami," ucap Adnan karena Alisha hanya diam, sepertinya tidak akan menjawab pertanyaannya.


"Tapi aku tad...." Alisha tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena Adnan sudah lebih dahulu membungkam mulut nya. Menyatukan bibir mereka, menciptakan kenikmatan untuk mereka berdua yang baru merasakan kenikmatan itu.


Beberapa menit berlalu, mereka melepaskan tautannya karena merasa kehabisan oksigen. Adnan tersenyum menatap wajah Alisha yang bersemu merah, ia mengusap bibir gadis itu dengan ibu jarinya karena di sana masih ada sisa pertarungan keduanya. "Manis," satu kata yang meluncur dari bibir Adnan membuat wajah Alisha semakin bersemu merah.


Adnan merengkuh tubuh Alisha, lalu secara bersamaan merebahkan diri di ranjang, dengan Alisha berbantalan lengan kekar milik Adnan. Suasana makin memanas, Alisha benar-benar gugup, tapi ia sudah bertekad jika Adnan menagih janjinya tadi, maka ia akan memenuhi janji itu.


"I love you, sayang," ucap Adnan sambil mengecup kening Alisha.


"Love you too," balas Alisha dalam hati, ya gadis itu hanya berani menjawab dalam hati.


Adnan tidak protes karena Alisha tidak membalas ungkapan cintanya, tapi ia yakin jika gadis itu juga mencintainya.


"Sekarang tidurlah yang nyenyak, karena aku enggak yakin jika nanti malam kamu bisa tidur," ucap Adnan sambil tersenyum penuh kemenangan, tapu sayang Alisha tak melihat senyum itu, karena ia berada dalam dekapan Adnan.


Alisha mengangguk, akhirnya ia lega sekarang karena Adnan tidak meminta haknya saat ini juga, tapi entah nanti malam apakah dia akan terbebas lagi atau tidak, ia tidak tahu. Tapi jika mereka masih menginap di sana pasti ia tidak akan selamat.

__ADS_1


Siang itu, akhirnya mereka tertidur saling berpelukan dan tidak ada kegiatan apa pun selain tidur, karena jujur Adnan juga sebenarnya hanya ingin menggoda Alisha saja, ia juga masih capek dan ingin istirahat saat ini.


🌻🌻🌻


"Sayang, bangun. Udah sore," celetuk Adnan sambil meniup telinga Alisha, ia melakukan itu supaya Alisha kegelian dan terbangun, cara yang efektif.


"Lima menit lagi," timpal Alisha tanpa membuka mata, bahkan ia mengeratkan pelukannya. Membuat Adnan tersenyum, mungkin gadis itu belum menyadari jika yang ia peluk saat ini adalah suaminya bukan bantal guling.


"Nyaman banget kayaknya, sampai enggak mau bangun," ucap Adnan, ia tersenyum ketika Alisha langsung terbangun, melepas pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari Adnan, tapi pemuda itu kini justru mempererat pelukan mereka.


"Aku juga nyaman seperti ini, rasanya jadi malas bangun," celetuknya, membuat wajah Alisha bersemu merah, dan membalas pelukan Adnan, menyembunyikan wajahnya di dada Adnan.


"Kita pulang besok aja ya, nanti malam aku mau ajak kamu ke suatu tempat," ucap Adnan.


Alisha mendongak menatap wajah pemuda itu, mengernyitkan dahi, penasaran juga Adnan akan membawanya ke mana.


"Nanti kami akan tahu," celetuk Adnan seakan tahu apa yang menjadi kebingungan Alisha.


Alisha tak mengerti ketika malam hari Adnan menyuruhnya memakai gaun yang baru saja di kirim oleh petugas hotel ke kamar mereka, baru saja ia akan protes karena tidak bisa memakai sepatu berhak tinggi, tapi ia urungkan saat melihat sepatu yang ada dalam boks ternyata tidak memiliki hak, alias flat shoes. Adnan tahu saja, pikirnya sambil tersenyum.


Alisha tersenyum malu, melangkah mendekati Adnan karena pemuda itu sudah menunggunya. Ia tak percaya ketika Adnan menutup matanya dengan sebuah kain.


"Aku masu kasih kamu kejutan," celetuk Adnan. Alisha hanya pasrah, mengikuti setiap langkah Adnan yang entah membawanya ke mana.


"Mau kemana sih? Pake naik lift segala," protesnya, sepetinya kebiasaan protes Alisha kembali muncul.


"Ada deh, nanti kamu juga akan tahu,"


Tak lama mereka sampai di sebuah lantai, Adnan kembali menuntun Alisha memasuki sebuah ruangan, ruangan yang sangat luas bahkan bisa di katakan tiga kali lipat di banding kamar yang mereka tempati tadi. Adnan mendudukkan Alisha di sebuah kursi, lalu membuka kain yang menutup mata Alisha.


"Surprise!" ucap Adnan setelah berhasil membuka kain penutup mata Alisha.


Alisha nampak bingung, ia juga terkejut melihat sekeliling. Ruangan itu di penuhi dengan lilin bahkan penerangan di ruangan itu hanya menggunakan lilin-lilin tersebut, di atas meja depannya terhidang berbagai macam makanan.


"Bagus banget, ini ceritanya kita dinner romantis gitu?" tanyanya sambil menatap Adnan yang berada di hadapannya. "Tunggu, aku kayaknya tahu ini di mana," gadis itu menyadari di mana mereka saat ini berada.


"Iya, tebakan kamu benar, ini di kamar hotel yang biasa kamu tempati saat kabur dari rumah," ucap Adnan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kata siapa? Kamu kok bisa tahu?" tanya Alisha, penasaran.


"Soal itu tidak usah di bahas dulu, sekarang kita bahas yang ada di hadapan kita, kasian mereka sudah tidak sabar minta di santap," Adnan tidak mau suasana romantisnya berubah karena kembahas sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan makan malam kali ini.


"Bukan mereka yang tidak sabar pengen di santap, tapi kamu aja yang memang sudah lapar," timpal Alisha, Adnan hanya tersenyum menanggapi.


Mereka pun makan malam di kamar itu sambil sesekali melempar senyum satu sama lain. Adnan bahkan tak segan untuk menyuapi Alisha, dan gadis itu hanya tersenyum malu, lalu menerima suapan dari suaminya.


Selesai makan, Adnan mendekat ke arah Alisha membuat gadis itu bingung, bahkan pemuda itu berlutut dihadapannya, memegang kedua tangan Alisha lalu menatap penuh cinta pada gadis itu. Mereka saling menatap, berbicara dengan bola mata, setelahnya mereka sama-sama tersenyum. Entah apa yang membuat mereka tersenyum.


"Alisha, kamu mungkin bukan yang pertama yang membuatku jatuh cinta, tapi kamu adalah wanita terahir yang aku cintai. Aku benar-benar sayang dan cinta sama kamu, entah sejak kapan itu terjadi, yang pasti aku tak rela jika kamu bersama laki-laki lain," ucap Adnan, mereka masih saling menatap.


"Mau kan, jika kamu menjadi ibu dari anak-anakku? Menemani ku, disaat aku bahagia mau pun berduka dan tetap setia sampai ajal memisahkan kita,"


Alisha mengangguk, ia tidak bisa berucap apa pun. Terharu sekaligus bahagia yang ia rasakan saat ini.


"I love you, sayang," ucap Adnan lalu mengecup kedua tangan Alisha.


"Love you more," timpal Alisha.


"Terimakasih, sayang," ucap Adnan, ia kembali mengecup punggung tangan Alisha.


"Aku punya sesuatu buat kamu," Adnan mengeluarkan sebuah kotak bludru berwarna biru, membuka kotak tersebut di hadapan Alisha. Gadis itu tampak terkejut, sejurus kemudian ia tersenyum. Memeluk tubuh Adnan yang masih berlutut di hadapannya.


"Terimakasih Mas, aku seneng banget malam ini, kejutan kamu luar biasa," ucapnya.


"Ini belum ada artinya apa-apa, di bandingkan dengan kamu yang selalu sabar menungguku untuk jatuh cinta," ucap Adnan, ia melepaskan pelukan mereka karena jujur kakinya sudah mulai pegal, apalagi di tambah menopang berat bada Alisha.


"Biar aku pasangin," Adnan meraih benda yang ada dalam kotak bludru yang tak lain adalah kalung berlian yang ia pesan langsung khusus untuk istri tercinta, beberapa waktu lalu.


"Kamu makin cantik," mendapat pujian seperti itu, Alisha hanya bisa tersipu malu.


Adnan mendaratkan ciuman di seluruh wajah Alisha dan berahir di tempat yang menajdi favoritnya saat ini. Cukup lama mereka menikmati pertukaran saliva yang begitu nikmat, hingga mereka merasa kehabisan nafas dan melepaskan tautan itu secara bersamaan. Adnan mengusap bibir Alisha yang masih basah dengan ibu jarinya, begitu pun Alisha, ia mengikuti jejak Adnan, mengusap bibir pemuda itu, lalu dengan sengaja ia mengecup singkat bibir Adnan, membuat pemuda itu terkejut tapi sedetik kemudian tersenyum.


"Aku sudah tidak sabar," bisik Adnan tepat di telinga Alisha, membuat gadis itu tersenyum malu.


Alisha terkejut saat mendapati tubuhnya melayang, karena Adnan menggendongnya, ia hanya bisa melingkarkan kedua tangannya di leher pemuda itu.

__ADS_1


__ADS_2