
Sejak turun dari wahana terahir yang Adnan dan Cantika naiki, Alisha tampak membisu bahkan saat suaminya bertanya Alisha ha ya menjawab dengan deheman saja. Adnan tahu pasti alasannya kenapa sang istri tercinta seperti itu. Sebenarnya ia ingin menjelaskan kepada sang istri, tapi Adnan bisa menebak jika Alisha tidak akan menerima alasannya begitu saja, dan pasti akan terus menyalahkannya. Ia tak mau menjelaskan sekarang, karena ada Cantika dan juga Pak Joko, sebenarnya jika hanya Pak Joko tidak masalah, yang jadi masalah jika Cantika tahu kedua orang tuanya bersitegang pasti tidak akan baik untuk perkembangannya.
Adnan memilih diam, memejamkan mata selama perjalanan dari pada melihat pemandangan wajah jutek sang istri.
Sedangkan Alisha tampak bertambah kesal ketika mendapati sang suami santai-santai saja, bahkan saat ini Adnan tertidur dengan nyenyaknya. Dalam hati ia berkata, 'lihat saja, aku tidak akan kasih jatah selama sebulan penuh'.
Tak lama mereka pun sampai di villa, Alisha ke luar lebih dahulu tanpa membangunkan sang suami yang masih tertidur dengan nyenyak. Ia masih kesal dengan suaminya itu, apalagi mengingat kejadian tadi.
Dari kejauhan ia tampak melihat sang suami sedang berbicara dengan Angel dan anaknya. Entah apa yang mereka bicarakan, selanjutnya Cantika bersalaman dengan Angel lalu bergantian dengan putra Angel. Alisha hanya bisa melihat pemandangan itu dari jauh sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Baru saja akan menghampiri mereka, Adnan dan Cantika lebih dahulu berjalan mendekat, membuatnya sedikit lega, tapi tetap saja kesal.
Baru saja ia merasa lega, tiba-tiba Cantika melambaikan tangan ke arah Angel dan putranya, tersenyum ke arah Angel dan putranya, sambil berseru, "Sampai jumpa Tante cantik dan adek ganteng!" teriakan Cantika yang membuatnya semakin terbakar api cemburu.
Cemburu dengan Angel yang begitu mudah di sebut 'cantik' oleh putrinya sendiri. Tapi yang paling utama karena melihat keakraban sang suami dengan wanita itu. Entah kenapa semenjak hamil, Alisha tidak suka melihat sang suami berdekatan dengan wanita lain bahkan kliennya sekali pun.
"Non, ini taruh di kulkas aja ya," ucapan Pak Joko membuat Alisha tersadar dari lamunannya.
Alisha pun mengangguk, " Iya Pak, terimakasih ya Pak," ucapnya. Setelah itu ia melihat sekeliling ternyata sudah berada di depan tangga menuju lantai dua, kok bisa? Sama sekali ia tak menyadarinya, berkali-kali menghembuskan nafas sebelum melangkah, lalu menggelengkan kepala tidak percaya jika ia melamun sejak keluar dari mobil sampai di dalam villa, padahal jaraknya lumayan jauh, untung tidak tersandung dan jatuh.
"Sayang, malam ini tidur sama Mama dan Papa lagi ya," ucap Alisha saat sudah berada di dalam kamarnya.
__ADS_1
Belum juga Cantika menjawab, suara Adnan lebih dahulu terdengar.
"Cantika tidur sama Embak aja ya, kasian Mama capek, nanti adek bayinya juga kecapean gimana?" ucap Adnan sambil membelai rambut panjang Cantika.
Cantika mengangguk, membuatnya bernafas lega. Sedangkan Alisha hanya berdecak, sebenarnya ia sengaja mengajak Cantika tidur sekamar dengannya karena menghindari Adnan, ia masih kesal dengan suaminya itu.
"Ia Pa, Cantika tidur sama Embak aja. Dah Mama, Papa." Cantika melambaikan tangan lalu ke luar dari kamar itu.
Setelah Cantika ke luar, Adnan langsung mengunci pintu, takut jika Cantika kembali lagi di waktu yang tidak tepat.
"Sayang, dengerin dulu penjelasan ku, please." Adnan meraih tangan sang istri, tapi Alisha berusaha menolak sentuhan Adnan, ia masih kesal.
Adnan tidak menyerah begitu saja, setelah Alisha merebahkan diri, ia pun ikut merebahkan diri. Merapatkan tubuhnya dengan tubuh sang istri, lalu memeluk Alisha, tangannya mulai mengelus perut rata Alisha yang tertutup pakaian.
"Sayang, bantu Papa bujuk Mama dong, biar maafin Papa. Kamu tahu enggak, Papa sedih banget kalo Mama diemin Papa terus, bantu Papa ya sayang," Adnan seolah berbicara dengan janin yang berada di perut sang istri, meskipun ia tahu jika janin itu belum bisa mendengarnya.
"Kamu kasih tahu Maman dong, kalau Papa sayang dan cintanya udah mentok ke Mama, enggak ada yang lain," tambahnya.
Kalian tahu apa yang di lakukan Alisha? Alisha sempat tersenyum sekilas, tapi kemudian mencibir, menirukan ucapan Adnan dengan bibir tanpa suara. Setelah itu, ia merasakan jika Adnan kini memeluknya, tidak lagi mengelus perut ratanya.
__ADS_1
"Maafin aku sayang, tadi aku enggak enak aja kalau ninggalin mereka gitu aja tanpa menyapa, eh tapi si Angel malah minta kenalan sama Cantika, padahal aku tadi udah mau pergi. Soal panggilan Cantika ke Angel dan anaknya, aku enggak tahu menahu, dan tidak pernah minta Cantika buat manggil Angel seperti itu, jangan salah paham ya," ucap Adnan dengan lembut, ia tahu jika sang istri belum tertidur.
"Aku akan lakukan apa saja yang penting kamu maafin aku," tambahnya.
Alisha masih saja membisu, tak menimpali ucapan Adnan sedikit pun. Dan mulai memejamkan mata ketika sang suami sudah tak lagi berbicara.
Adnan memang tidak menunggu jawaban dari Alisha, yang penting ia sudah menjelaskannya dan Alisha mendengar penjelasannya. Mungkin saat ini istrinya itu masih enggan berbicara, tapi ia tahu jika Alisha sudah memaafkannya meski belum sepenuhnya, terbukti ketika sang istri tak menolak saat ia memeluk tubuhnya. Setelah menjelaskan semuanya pada Alisha, ia pun ikut memejamkan mata setelah mendengar dengkuran halus dari mulut sang istri.
🌻🌻🌻
Alisha terbangun masih dalam posisi yang sama, tiba-tiba perutnya merasa lapar. Jelas-jelas ia menginginkan sesuatu saat ini, melihat jam ternyata sudah tengah malam. Pantas saja ia merasa kelaparan, karena kebiasaanya beberapa hari belakangan ini terbangun tengah malam karena perutnya keroncongan.
Menoleh ke belakang, ternyata sang suami tertidur dengan nyenyak, mau tak mau ia harus membangunkannya. Baru saja akan mengguncang tubuh Adnan, ia teringat sesuatu. Oh iya, saat ini dirinya kan sedang dalam mode ngambek ada sang suami, tapi rasa lapar ini sepertinya tidak bisa di ajak kompromi. Jika saja berada di rumah ia tidak akan membangunkan Adnan dan langsung menuju ke dapur, tapi saat ini mereka berada di villa, jelas-jelas ia tidak berani ke dapur sendiri, apalagi ia pernah mendengar cerita jika villa ini ada penghuni tetapnya.
Alisha bergidik ngeri, membayangkan hal-hal yang seharusnya tidak ia bayangkan. Setelah itu refleks mengguncang tubuh Adnan, dan suaminya itu terbangun seperti biasa.
"Mau makan apa?" pertanyaan sekaligus ucapan pertama yang keluar dari bibir snat suami. Seakan sudah paham jika Alisha meminta bantuannya untuk membuatkan makanan.
Alisha menggeleng, ia kembali merebahkan diri. Gengsi sekali jika jujur pada Adnan, mengingat tadi ia mengabaikan suaminya itu.
__ADS_1