
Pagi buta, bahkan adzan subuh belum berkumandang Alisha sudah terbangun dari tidurnya, ia sengaja tidak membangunkan Adnan terlebih dahulu, masuk ke dalam kamar mandi, entah mau kemana gadis itu mandi di pagi buta. Jika ada orang lain yang mengetahui mereka pasti mengira yang tidak-tidak, mengingat Alisha adalah pengantin baru.
Selesai mandi, Alisha melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ia melihat di atas tempat tidur Adnan masih tertidur pulas, tidak seperti biasanya pemuda itu tertidur pulas di saat adzan subuh telah berkumandang. Keadaan ini justru menguntungkan Alisha, ia mengendap-endap ke luar dari kamar, tak lupa membawa kunci mobil. Rencananya semakin mulus kala mendapati di bawah masih sepi, mungkin Bik Ana sedang sholat subuh, ia terus melangkah ke luar rumah.
"Mau kemana Non?" tanya satpam saat melihat Alisha ke mendekati gerbang mengendarai mobilnya.
"Ada urusan Pak, tolong bukain gerbangnya, ini genting Pak, buruan," Alisha tidak sabar, ia tidak mau Adnan menyadari kepergiannya.
Setelah gerbang terbuka lebar, gadis itu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju tempat tujuan.
Di sisi lain, Adnan terbangun dari tidurnya, melihat jam dinding, ternyata sudah pukul lima lebih, ia pun segera turun dari tempat tidur, melihat sebelah yang sudah kosong berarti Alisha sudah bangun, pikirnya. Tapi ia tak memiliki perasaan yang tidak-tidak, ia mengira Alisha sudah turun membantu Bik Ana masak mungkin.
Setelah melaksanakan sholat subuh, Adnan turun ke bawah, ingin membuat kopi, sudah kebiasaannya sejak dulu, meminum kopi di pagi hari sebelum melakukan aktifitas. Sebenarnya kebiasaan yang kurang baik, meminum kopi sebelum sarapan, tapi karena sudah menjadi rutinitasnya, apa mau di kata?
"Alisha mana Bik?" tanya Adnan saat sudah sampai di dapur.
"Belum turun sejak tadi, Den," ucapan Bik Ana membuat Adnan menghentikan kegiatannya, ia menoleh ke arah Bik Ana.
"Bibik serius?" tanyanya.
"Iya Den,"
Adnan mengurungkan niatnya membuat kopi, ia kembali ke kamar, meraih ponsel lalu menghubungi Alisha, tapi sayang seribu sayang nomor gadis itu tidak aktif. Lalu ia membuka laci yang biasa untuk menyimpan kunci mobil, dan benar dugaannya jika kunci mobil Alisha tidak ada di tempat.
"Kemana sih dia? Katanya mau ke Bogor ... Apa jangan-jangan dia sudah pergi ke Bogor tapi sengaja enggak mau ngajak aku?" Adnan bermonolog, ia tidak menyangka jika Alisha memilih untuk pergi sendiri tanpa dirinya.
__ADS_1
Untuk memastikan jika Alisha benar-benar pergi, Adnan pun berjalan ke arah post satpam, ia bertanya pada satpam tersebut dan ternyata benar, Alisha pergi di pagi buta dengan alasan ada urusan mendadak.
Adnan meraih ponselnya, ia duduk di teras sambil mencari kontak person seseorang, lalu menghubunginya. Lagi-lagi orang yang dia hubungi tidak menerima panggilannya, mungkin masih marah. Adnan menghembuskan nafas kasar, ia baru ingat jika adiknya itu masih marah padanya, karena masalah Yesha. Mungkin akan bertambah marah jika tahu Yesha pergi ke luar negeri.
Ia tak menyerah, kini kembali menghubungi seseorang.
"Kamu ke Bogor enggak?" tanyanya tanpa basa basi setelah panggilannya terhubung.
"Iya Bang, gue udah di Bogor malahan, kenapa?"
"Kabarin aku kalau liat Alisha, dia kabur dari rumah. Angkasa ikut?"
"Iya entar gue kabarin, enggak dia enggak ikut,"
"Makasih Yan," setelah mengucapkan terima kasih, Adnan pun mematikan sambungan telfonya.
Siang hari setelah makan siang, Adnan membuka ponselnya, ternyata banyak pesan masuk dari Rian. Ada beberapa foto juga, memberitahu jika Alisha memang ada di arena balap itu. Tapi saat membuka foto yang di kirim oleh Rian, Adnan terkejut mendapati Alisha ternyata ikut serta dalam pertandingan tersebut, padahal kemarin gadis itu mengatakan dia hanya jadi penonton, tapi lihatlah kenyataanya. Berarti Alisha sudah membohonginya, pantas saja kabur dari rumah.
🌻🌻🌻
Di sisi lain, Alisha melajukan mobilnya menuju rumah Dani karena semalam pemuda itu menghubunginya, katanya Dani tidak bisa menjadi perwakilan di pertandingan siang ini karena sang Mama mendadak sakit dan harus d bawa ke rumah sakit, akhirnya Alisha mau menggantikan Dani.
"Lo yakin mau gantiin gue Sha?" tanya Dani. Bukannya dia meremehkan Alisha, tapi ia sedikit menghawatirkan Alisha karena gadis itu sudah cukup lama tidak mengikuti balapan, terhitung sejak motornya di sita oleh sang Papa dan setelah itu di sibukkan dengan pernikahannya.
"Iya gue yakin, Lo enggak usah khawatir, yang penting kesehatan Tante, serahkan semuanya pada kita Dan," jawab Alisha mantap.
__ADS_1
"Iya, Lo enggak usah pikirin soal balapan ini, yang penting Mama Lo," timpal yang lain.
Membuat Dani mengangguk, "Makasih ya Sha, mau menang atau kalah tidak masalah, jangan terlalu di paksakan," Dani menepuk pundak Alisha.
Setelah itu Alisha beserta teman-teman lainnya pamit, yang perempuan menaiki mobil milik Alisha sedangkan yang laki-laki menaiki motor mereka masing-masing. Alisha sengaja menonaktifkan ponselnya, ia tidak mau Adnan atau yang lain menelfonnya. Ia tidak mau jika ada keluarganya yang mengetahui jika ia ikut jadi peserta, tapi Alisha lupa jika masih ada Nevan dan teman-temannya yang juga ikut jadi peserta kompetisi ini.
Alisha terlihat percaya diri, meskipun dirinya peserta paling cantik diantara puluhan peserta lainnya. Mereka sudah bersiap untuk berkompetisi, berharap menjadi juara, tapi yang nanya juara pasti hanya ada satu orang dan tidak mungkin jika semuanya akan menjadi juara.
Waktu berlalu, Alisha harus puas jadi runner-up, tapi semua teman-temannya tentu bangga terhadap dirinya terutama sang pelatih yang tadinya merasa khawatir jika Alisha tidak mendapatkan juara. Setelah pertandingan usai, Alisha segera pulang ke Jakarta, ia tidak mau jika sampai rumah nanti sudah larut, ia takut jika Adnan akan bersikap sama seperti sang Papa yang melarangnya untuk melakukan hobi berbahayanya itu.
Seperti biasa, Alisha tidak mengambil uang hasil dari kompetisinya, ia langsung menyerahkan pada teman-temannya untuk di simpan, jika ada waktu luang mereka akan sumbangkan ke panti asuhan seperti biasanya.
Alisha sampai di rumah menjelang petang, ia sedikit khawatir jika Adnan akan murka. Dengan langkah ragu, Alisha masuk ke dalam rumah, bertemu dengan Bik Ana yang sedang menyapu di ruang keluarga.
"Bik, Adnan di rumah?" tanyanya.
"Non, Den Adnan itu suami Non Alisha, kenapa panggilnya pake nama aja Non? Enggak sopan itu namanya," bukannya menjawab Bik Ana malah mengomel. Bik Ana sudah mengasuh Alisha sejak masih kecil, jadi ia sudah terbiasa menegur Alisha jika salah dan Alisha tidak keberatan akan hal itu.
"Iya deh Bik, maaf. Dia di rumah kan?" tanyanya lagi.
"Iya, dari tadi siang di kamar aja," jawab Bik Ana sambil meneruskan menyapunya.
"Bik, ambil baju kotor di dalam mobilku ya, cuci seperti biasa," setelah mengucapkan itu, Alisha menaiki anak tangga satu persatu hingga sampai di lantai dua, di mana tempat kamar mereka.
Cklek
__ADS_1
Dengan ragu Alisha membuka pintu kamar, ia langsung di kejutkan oleh Adnan yang sudah berdiri di hadapannya sambil melipat kedua tangan di dada.
"Kamu dari mana Alisha Noureen? Pergi enggak pamit, pulang ngendap-endap kaya pencuri aja," tanya Adnan penuh selidik, membuat Alisha memalingkan wajah tak mau menatap wajah seram Adnan. Ia bisa menebak jika Adnan pasti akan marah padanya.