Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Makin Pintar


__ADS_3

"Udah dong jangan marah, aku kan udah minta maaf," ucap Adnan sudah berkali-kali setelah kepergian dua tamu Ayah yang masuk ke dalam ruangannya tadi siang.


Kedua tamu itu sejatinya mau bertemu dengan Ayah Faris, tapi Ayah sedang ke luar dan meminta Adnan supaya membawa tamu itu ke ruangannya. Dan Adnan tidak menyangka jika di dalam ruangannya ada Alisha yang sedang tertidur, ia mengira Alisha sedang tidak tidur.


"Kenapa kamu engga telfon aku, ngabarin kek kalau mau ada tamu, kan aku bisa bangun, enggak kaya tadi," sejak tadi jawaban Alisha selalu saja seperti itu, ia masih marah sekaligus malu. Bahkan ia tidak bisa menghindari kedua tamu itu, karena ke dua tamu itu cukup lama berada dalam ruangan Adnan, membuatnya bertambah malu berkali lipat.


"Aku minta maaf, lain kali enggak akan gitu lagi deh," Adnan tetap berusaha meminta maaf pada Alisha, ia bahkan melupakan pekerjaannya karena Alisha masih merajuk.


"Hem," Alisha hanya berdehem, "Aku lapar," celetuknya karena ia benar-benar lapar, ini sudah lewat jam makan siang dan dia belum makan, energinya sudah terkuras karena marah-marah. Mungkin alasannya marah-marah juga karena perutnya kosong.


"Mau makan di sini apa di luar?" tanya Adnan, ia juga sebenarnya menahan lapar sejak tadi, bahkan tadi sengaja tidak makan siang bersama klien karena sudah berjanji dengan Alisha untuk makan bersama.


Alisha berfikir sejenak sebelum menentukan pilihannya, "Makan di sini aja, males ke luar," jawabnya.


Adnan mengangguk, lalu ia mulai memesan makanan lewat online. Tak butuh waktu lama, makanan mereka pun datang, keduanya menikmati makan siang yang sudah terlewat itu, seperti sarapan pagi tadi yang sudah terlewat karena bangun


kesiangan.


"Makannya pelan-pelan, aku enggak akan minta kok," ucap Adnan, ia melihat Alisha makan seperti di kejar rentenir.


"Lapar," timpal Alisha sedikit tidak jelas karena mulutnya penuh dengan makanan.


Adnan menyingkirkan anak rambut Alisha yang hampir saja masuk ke dalam mulut, ia teringat sesuatu dan beranjak menuju meja kerjanya. Entah dia mengambil apa? Sepertinya sebuh benda kecil berwarna kecokelatan. Kembali duduk di sisi Alisha yang sedang menikmati makan siangnya, lalu meraih seluruh rambut Alisha dan mengikatnya. Ternyata tadi ia mengambil ikat rambut, sepertinya ikat rambut Alisha yang selalu ia ambil, beberapa waktu lalu saat berangkat kuliah.


"Nah gini kan lebih enak, kamu juga nyaman makannya," ucap Adnan setelah mengikat rambut Alisha.


"Kan kamu sendiri yang melarang aku mengikat rambut, yaudah nikmatin aja,"


"Itu khusus saat kamu enggak sama aku, kalau kita sedang berdua, boleh aja, terserah kamu," timpal Adnan, ia kembali melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda karena mengikat rambut Alisha.


"Makasih,"


Adnan mengangguk, ia kemudian menyodorkan sendoknya ke hadapan Alisha, "Coba ini enak," ucapnya.

__ADS_1


Alisha menatap sendok bergantian menatap Adnan yang sedang tersenyum, lalu menerima suapan itu dari Adnan. Ia tersenyum bukan karena makanannya yang enak tapi karena Adnan menyuapinya, sedikit malu sebenarnya, tapi ia senang.


"Enak?" tanya Adnan.


Alisha mengangguk, "Enak banget, apalagi kamu yang nyiapin," ucapnya hanya dalam hati.


"Lumayan," jawabnya.


Setelah itu mereka melanjutkan makan siang dan menghabiskan semua makanan yang mereka pesan.


"Kita nginep di rumah Bunda ya, katanya Bunda mau pulang hari ini," ucap Adnan setelah mereka menyelesaikan makan siang.


"Kita belum pernah menginap di sana kan, setelah menikah?" tambahnya


Alisha mengangguk, ia tak mengatakan apa pun dan sepertinya tak berniat mengucapkan apa pun.


"Yaudah, aku kerja lagi. Kamu tunggu di sini apa mau ke mana terserah, asal jangan pulang dulu, nanti pulang bareng." Adnan beranjak dari duduknya, lalu mengacak puncak kepala Alisha dan kembali ke meja kerjanya.


"Boleh keliling? Aku pengen ke atap," Alisha terlihat antusias, apalagi saat Adnan menanggapi permintaanya dengan anggukan kepala.


Alisha beranjak dari duduknya, baru saja ia melangkah Adnan kembali bersuara, "Tunggu, sini sebentar," ucapnya.


Alisha berbalik lalu menuju meja kerja Adnan, "Kenapa Mas?" tanyanya ketika sudah berdiri di hadapan Adnan.


"Kasih semangat kaya tadi pagi dong," ucapnya sambil tersenyum.


Alisha mengernyitkan dahi tidak mengerti apa yang di katakan Adnan.


"Jangan bilang kalau lupa," ucap Adnan, masih teringat jelas tadi pagi saat Alisha menciumnya, tapi kenapa Alisha semudah itu melupakannya.


Alisha tersenyum canggung, ia mendekati Adnan lalu melakukan hal yang di minta oleh suaminya. Mengecup singkat pipi Adnan, tapi tunggu ia salah, bukan pipi yang ia kecup melainkan bibir, karena saat dirinya akan mencium Adnan, suaminya itu sengaja menghadapkan wajahnya ke arah Alisha, alhasil Alisha justru mengecup bibir Adnan.


"Ck, maunya," Alisha berdecak, ternyata ia di kelabuhi oleh suaminya.

__ADS_1


Adnan tersenyum, lalu ia menarik tubuh Alisha supaya duduk di pangkuannya, melepas ikat rambut yang tadi ia kenakan dan menyimpannya di dalam laci, "Supaya tidak ada yang terpesona, cuma aku yang boleh terpesona," ucapnya sambil menyingkirkan anak rambut Alisha ke belakang telinga.


"Dasar possesive," ucap Alisha sambil memutar bola matanya jengah.


"Sayang, kamu sengaja enggak nutupin hasil karyaku ya?" bisik Adnan saat menyadari kismark yang ia buat semalam terlihat jelas di leher bawah telinga Alisha.


"Ck, gara-gara itu aku malu tau enggak, kamu sih terlalu berlebihan," Alisha berdecak sebal, ia malu saat di kampus tadi karena teman-temannya melihat hasil karya Adnan itu, membuatnya di tanyai berbagai macam pertanyaan.


"Tambahin lagi ya, biar makin banyak," celetuk Adnan tanpa dosa.


"Jangan aneh-aneh deh Mas, ingat ini di kantor. Udah ah, aku mau ke atas, cari suasana baru," Alisha mencoba melepaskan diri dari Adnan yang memeluknya dengan erat.


Adnan hanya tersenyum, sepertinya tidak mau melepaskan Alisha dari pelukannya.


"Mas, kamu katanya mau kerja, kali gini terus kapan kerjanya kalo gini terus," protes Alisha.


"Cium dulu, setelah itu aku lepas,"


"Tadi kan udah,"


"Lagi,"


Alisha terkekeh melihat tingkah Adnan yang seperti anak kecil merengek meminta uang jajan tambahan, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika mahasiswa suaminya itu melihat kelakuan Adnan saat ini, pasti mereka juga akan tertawa.


Cup


Alisha kembali mendaratkan bibirnya di bibir Adnan, niatnya hanya sekilas tapi Adnan justru menahan tengkuknya dan memperdalam ciuman itu. Tentu saja ia tak bisa menolak dan membalas ciuman suaminya. Hingga beberapa menit mereka saling bertukar saliva, setelah merasa kehabisan pasokan oksigen mereka pun saling melepaskan tautan di bibirnya.


Adnan mengusap lembut bibir Alisha dengan ibu jarinya, lalu kembali mendaratkan bibirnya di sana. "Udah tambah pinter sekarang," celetuknya sambil tersenyum penuh arti, lalu menarik hidung Alisha dengan gemas.


"Kamu juga," timpal Alisha, "Tambah mesum," tambahnya lalu beranjak dari pangkuan Adnan.


"Tapi kamu suka, kan?" tanya Adnan masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

__ADS_1


Alisha hanya menggidikkan bahu, lalu ke luar ruangan Adnan. Ia tidak mau berlama-lama di sana, bisa-bisa akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan jika terus meladeni suaminya itu.


__ADS_2