Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Jangan Melakukan Itu Lagi


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, esok hari Alisha harus pergi ke luar kota bersama teman kampusnya. Kegiatan pembelajaran di luar kampus dan itu wajib di ikuti oleh setiap mahasiswa tak terkecuali Alisha. Ia sudah mempersiapkan semuanya yang akan di bawa esok hari. Seharian tadi Alisha mengumpulkan semua keperluannya, ia tidak mau ada sesuatu yang tertinggal atau terlupakan.


Malam ini setelah makan malam, ia kembali ke kamar setelah membantu membereskan bekas makan malamnya bersama sang suami. Ia merasa ada yang janggal dengan suaminya, pasalnya Adnan sejak sore tadi terlihat tak banyak bicara, entah apa sebabnya. Alisha menjadi khawatir jika Adnan seperti itu karena akan ia tinggal pergi esok hari.


Alisha menghela nafas panjang saat memasuki kamar, terlihat Adnan sudah berada di atas tempat tidur bahkan tak seperti biasanya, suaminya itu menyembunyikan seluruh tubuhnya di dalam selimut. Ia mendekat, duduk di sisi ranjang tepat di depan Adnan.


"Mas!" Alisha berusaha membuka selimut yang menutup wajah Adnan. Tanpa sengaja ia menyentuh kulit tubuh suaminya, betapa terkejutnya Alisha saat merasakan suhu tubuh Adnan meningkat.


"Kamu sakit, Mas?" seketika ia menjadi panik, lalu mencari pengukur suhu tubuh, kepanikannya bertambah kala ia mengetahui suhu tubuh sang suami.


"Minum obat dulu Mas, suhu tubuh kamu panas banget." Alisha mencari obat penurun panas di kotak obat, akan tetapi tak juga menemukannya, mungkin karena ia panik jadi obat itu tak terlihat sedikitpun.


"Udah," lirih Adnan.


Alisha menghentikan kegiatannya, ia tidak bisa tinggal diam menunggu obat itu bereaksi. Baru saja ia akan beranjak untuk mencari ponselnya, Adnan lebih dulu menarik pergelangan tangannya.


"Mau ke mana?" tanya Adnan.


"Mau telfon dokter, kamu panas banget, aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu, Mas," jawabnya di tengah kepanikan yang melanda.


"Enggak usah, nanti pasti sembuh," ucap Adnan, "Sini, temani aku tidur aja," tambahnya.


Alisha menghela nafas, ia menuruti keinginan Adnan, ikut berbaring di sisi sang suami. Mendekap tubuh kekar itu, ia bisa merasakan hawa panas dari tubuh Adnan, bahkan hembusan nafas Adnan juga terasa menyengat di kulit.


Selama berjam-jam menemani Adnan tidur, ia tak bisa memejamkan mata. Pikirannya melayang entah kemana, apalagi selama tertidur Adnan selalu bergumam tidak jelas, padahal suhu tubuhnya sudah mulai menurun. Entah pukul berapa dirinya tertidur, mungkin saking lelahnya ia pun akhirnya tertidur juga. Hingga pagi menjelang, ia terbangun karena mendengar suara azan, membangunkan Adnan untuk melaksanakan kewajibannya. Meskipun dalam keadaan demam, Adnan tetap melakukan salat lima waktu, setelah itu kembali memejamkan mata.

__ADS_1


"Kamu berangkat jam berapa? Kenapa belum bersiap?" tanya Adnan saat Alisha membangunkannya untuk sarapan.


Alisha menggeleng, "Aku tidak tega ninggalin kamu dalam keadaan sakit," jawabnya.


"Aku tidak apa-apa, nanti siang juga udah sembuh, kamu harus berangkat, aku tidak mau kamu membolos," Adnan kukuh menyuruh Alisha untuk berangkat ke luar kota.


"Baiklah, tapi kamu makan dulu, setelah itu aku akan bersiap," ucap Alisha, meski berat ia menuruti keinginan Adnan.


Alisha menyuapi Adnan hingga makanan yang ia bawa tadi habis tak bersisa, setelah itu membantu Adnan meminum obat, lalu ia benar-benar bersiap-siap ke kampus, karena mereka akan berangkat siang ini menggunakan bus dari kampus.


"Mas, apa aku telfon Bunda aja, buat nemenin kamu di rumah?" tanya Alisha saat ia akan berangkat ke kampus.


Adnan menggeleng, "Enggak usah, kasian Bunda, biar aku di rumah sama Bik Ana," tolak Adnan, ia merasa tidak enak hati jika Bunda yang mengurusnya saat sakit seperti ini.


🌻🌻🌻


Bukannya ikut bergabung dengan teman-temannya, Alisha justru ke ruangan dosen, ia menemui salah satu dosen pembimbing yang akan membawa mereka ke Yogyakarta. Sudah sejak tadi ia mengemis untuk tidak ikut serta dalam acara studi banding tersebut, namun sang dosen selalu menolak keinginannya.


"Saya mohon Pak, suami saya sedang sakit dan saya tidak mungkin meninggalkan dia sendirian di rumah, Pak," Alisha terus memohon, tapi dosen yang duduk di hadapannya itu tampak cuek tak merespon ucapannya.


"Oke, gini Pak, saya bersedia di beri konsekuensi apa pun asalkan saya boleh tidak ikut study banding," akhirnya Alisha menemukan ide, ia akan melakukan apa pun yang penting bisa menemani sang suami di saat sakit seperti saat ini.


Alisha ke luar dari ruangan dosen, setelah mendapatkan keputusan dari dosen tersebut, jika konsekuensi yang harus ia terima adalah mengulang di semester depan, karena studi banding termasuk tugas utama yang harus di kerjakan para mahasiswa. Tapi Alisha tidak merasa menyesal, ia justru tersenyum bahagia karena bisa menjaga sang suami. Ia segera memesan taksi untuk kembali ke rumah, ia sudah mempunyai alasan yang tepat jika Adnan bertanya saat ia sampai rumah nanti. Tapi apakah Adnan akan percaya begitu saja dengan alasannya, kita lihat saja nanti.


Setengah jam berlalu, Alisha sampai di rumah. Ia langsung masuk ke dalam kamar dan mendapati Adnan sedang tertidur pulas, bisa bernafas lega karena ia masih bisa memikirkan alasan terbaik sebelum Adnan bangun dari tidurnya. Tapi ternyata nasib sedang tidak memihak padanya, karena selang beberapa menit ia masuk ke dalam kamar, ponsel Adnan berdering dan si pemilik ponsel terbangun karena tidurnya terganggu.

__ADS_1


Bukannya menerima panggilan dari ponselnya, Adnan justru menatap Alsiha yang sedang duduk di sofa sambil melepas sepatunya, membiarkan ponselnya terus berdering.


"Kenapa pulang?" tanyanya tak santai.


Alisha menyengir, "Udah tertinggal," jawabnya berbohong.


Tapi ternyata Adnan tak semudah itu di bohongi oleh Alisha, ia beranjak dari tempat tidur lalu mendekati sang istri dan duduk di sisinya.


"Kamu bisa membohongi semua orang, tapu tidak denganku," ucapnya. Meskipun dalam keadaan sakit seperti ini Adnan masih mampu membuat nyali Alisha menciut.


"Tatap mataku dan katakan, kenapa kamu pulang?" ucap Adnan.


Alisha menghela nafas sebelum menuruti perintah Adnan, suaminya itu sudah di tebak. Saat ada maunya ia bisa bersikap manis, tapi saat seperti ini ia juga bisa membuat Alisha tak berkutik.


"Maaf," ucap Alisha sambil menunduk, ia sempat menatap mata elang Adnan sekilas sebelum mengucapkan permintaan maaf.


Adnan tidak berbicara apa pun, tapi justru beranjak dari duduknya. Meraih ponsel yang tadi bergetar lalu menelfon seseorang.


"Pesankan tiket pesawat ke Jogja hari ini, saya tunggu kurang dari satu jam harus sudah dapat," ucap Adnan yang masih terdengar jelas oleh Alisha.


Wanita itu terperangah mendengar ucapan Adnan, sia-sia sudah usahanya merayu dosen hingga berjam-jam tadi karenya kenyataannya ia berangkat ke Yogyakarta juga, meski menaiki pesawat bukan bus seperti teman lainnya.


"Jangan pernah lakukan hal itu lagi, karena hanya akan sia-sia," ucap Adnan tanpa menatap Alisha.


Alisha paham apa yang Adnan ucapkan, karena ia memang selalu kesulitan jika berbohong dengan suaminya itu, entah kenapa Adnan selalu saja mengetahui jika ia berbohong.

__ADS_1


__ADS_2