
Banyak pasang mata menatap dua insan yang baru saja masuk ke dalam sebuah kafe, kebanyakan dari tatapan mereka bisa di artikan Alisha sebagai tatapan aneh, tapi gadis itu tidak perduli, ia pede dengan penampilannya seperti itu, toh tidak ada yang salah bahkan tidak menentang norma, pakaian yang ia kenakan tertutup. Berbeda jika pakaian yang ia kenakan memperlihatkan lekuk tubuhnya, menurutnya itu lebih aneh dan patut untuk di permasalahkan.
Adnan pun ternyata tidak perduli dengan tatapan mereka semua, ia terlihat biasa saja bahkan tak terusik sedikit pun. Ia juga tahu mereka menatap dirinya dan Alisha dengan tatapan aneh, mungkin ada yang mengartikan jika dirinya sedang berdua dengan bodyguard, seperti yang di katakan tadi pada Alisha.
Mereka berdua tetap menikmati makan malam dengan santai tanpa menghiraukan orang lain.
Usai makan malam, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju hotel tempat mereka menginap.
"Mau ke mana lagi setelah ini?" tanya Adnan yang baru saja melakukan mobilnya ke luar dari area kafe.
"Pulang aja, aku ngantuk," jawab Alisha.
Adnan pun mengangguk, setelah itu mereka kembali diam tenggelam dalam pikiran masing-masing, hingga mobil berbelok ke arah hotel.
"Alis, aku mau bicara, bisa kan?" tanya Adnan. Keduanya kini sudah berada di dalam kamar.
"Bicara aja, aku akan dengerin," jawab Alisha, gadis itu sedang duduk di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.
Adnan yang tadinya berdiri di sisi ranjang, ia ikut naik ke atas ranjang, mendekat dengan Alisha.
Sebenarnya Alisha merasa gugup berada di atas tempat tidur seperti ini berdua dengan Adnan, karena sejak menikah beberapa hari lalu, mereka belum pernah tidur satu ranjang. Adnan selalu tidur di sofa, bahkan saat kemarin malam di rumah mereka.
"Mau sampai kapan kamu nyuekin aku gini? Kita bahkan tinggal satu atap, tapi tak saling menyapa, apa kamu nyaman seperti ini terus?" tanya Adnan.
Alisha mengalihkan pandangannya dari ponsel, lalu ia menatap Adnan yang juga menatapnya, "Iya, aku masih nyaman seperti ini," jawabnya. "Sebenarnya aku juga tidak nyaman sih, tapi mau gimana lagi, aku harus melakukan ini," sambung Alisha dalam benaknya.
__ADS_1
"Aku tahu kamu masih kecewa, maafkan akan hal itu, aku salah," ucap Adnan, "Aku ingin kita jadi teman, saling bicara dan saling berbagi kebahagiaan atau pun kesedihan. Kalau kamu belum bisa menganggap ku sebagai suami, anggaplah aku temanmu, jadi kita tidak seperti orang asing," pinta Adnan.
Adnan belum berani meminta Alisha menganggapnya sebagai suami, meski hakikatnya dia memang suami Alisha dan orang yang bertanggung jawab penuh atas Alisha saat ini. Tapi untuk saat ini, ia hanya ingin Alisha menganggapnya ada dulu, meski hanya sebatas sebagai teman.
"Oke, dan anggap saja aku masih kecewa sama temanku. Jadi biarkan seperti ini dulu sampai rasa kecewaku sedikit memudar," timpal Alisha.
"Kalau seperti itu, aku harus bagaimana supaya kamu memaafkan ku?"
"Aku sudah memaafkan kamu, Mas, tapi aku masih kecewa, itu aja. Intinya aku kecewa sama kamu,"
"Kalau kamu sudah memaafkan ku, kamu tidak akan seperti ini," protes Adnan.
"Udah ah, aku males debat, mau tidur," Alisha merebahkan dirinya, lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Aku tahu, kamu sayang sama aku, Alis," ucap Adnan, membuat Alisha membuka selimutnya dengan gerakan cepat.
"Tapi iya, kan? Aku tahu kamu sayang sama aku sejak sebelum kita nikah," Adnan sengaja mengatakan itu, supaya Alisha masih mau berbicara dengan dirinya.
"Iya, tapi sekarang enggak." Alisha kembali menutup wajahnya dengan selimut setelah mengucapkan kata tersebut.
Tapi Adnan tak menyerah begitu saja, jujur ia bosan jika terus diam-diam an seperti itu. "Apa kamu enggak mau buat aku jatuh cinta sama kamu, gitu?" tanyanya.
"Enggak!" seru Alisha tanpa mau membuka selimut yang menutup wajahnya. "Gue maunya Lo yang ngejar gue, bukan gue yang ngejar Lo," gumamnya.
Samar-samar Adnan mendengar gumaman Alisha, tapi tidak tahu apa yang di ucapkan, "Kamu ngomong apa? Aku enggak denger," tanyanya.
__ADS_1
"Enggak ngomong apa-apa, udah deh, aku mau tidur,"
"Iya, iya, selamat tidur, aku mau ke luar mau cari cewek bule, siapa tahu ada yang mau sama aku," ucap Adnan sambil turun dari ranjang, ia sengaja mengucapkan itu, ingin melihat seperti apa reaksi Alisha.
Dan lihatlah, mulut dan hati Alisha ternyata tidak bisa bekerja sama, karena Alisha justru membuka selimut yang menutup tubuhnya, membuat Adnan tersenyum penuh kemenangan.
"Katanya mau tidur? Kok bangun lagi? Takut kalau ada cewek bule yang beneran suka sama aku ya?" tanya Adnan, senyumnya masih melekat di bibir.
"Ih, ge er, aku mau ke kamar mandi," ucap Alisha sewot, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Sebenarnya ia tidak ingin ke kamar mandi, karena malu maka ia mencari alasan. Ya, tadi dirinya refleks membuka selimut setelah Adnan mengucapkan ingin ke luar, ia tidak rela jika suaminya itu benar-benar mencari wanita di luaran sana. Menurutnya bukan hal sulit buat Adnan untuk menemukan seorang wanita, karena Adnan tampan, bahkan terlihat lebih tampan saat mengenakan pakaian seperti saat ini.
Sampai di dalam kamar mandi, ia bingung mau berbuat apa? Akhirnya memilih untuk bengong di depan pintu kamar mandi, sambil memikirkan ucapan Adnan, ia jadi sedikit khawatir jika Adnan benar-benar pergi ke luar. Ia mencari Alasan supaya Adnan tidak ke luar kamar, setelah menemukannya Alisha pun ke luar dari kamar mandi dan mendapati Adnan baru akan ke luar kamar.
"Jangan pergi, aku takut sendirian," ucap Alisha beralasan.
Adnan tahu jika Alisha hanya beralasan, mengingat gadis itu seorang pemberani, ke luar malam sendirian saja ia berani, apalagi hanya di dalam hotel yang jelas-jelas sangatlah aman.
"Ikut aja kalau gitu," Adnan memberi saran.
"Yaudah sana pergi aja! Aku males mending tidur di sini," Alisha kembali melangkah mendekat ke arah ranjang, lalu ia naik dan merebahkan diri di sana.
"Aku cuma bentar, kalau mau tidur, tidur aja. Jangan khawatir aku enggak akan cari cewek bule, cuma mau beli kopi di bawah, sambil jalan-jalan," ucap Adnan sebelum ke luar dari dalam hotel.
Setelah kepergian Adnan, Alisha memilih untuk duduk bersandar kepala ranjang, lalu meraih ponsel di atas nakas. Sebenarnya ia belum mengantuk, tadi hanya beralasan supaya terhindar dari Adnan.
__ADS_1
Hampir tiga puluh menit, tapi Adnan tak kunjung kembali membuat Alisha gelisah. Ia takut Adnan benar-benar bertemu dengan wanita lain di luar sana, mau menelfon tapi ia malu, pasti nanti Adnan akan tahu jika dirinya gelisah, jika tidak menelfon makan pikirannya tidak tenang sama sekali.
Setelah berfikir harus berbuat apa, akhirnya ia memutuskan untuk menyusul Adnan. Nanti ia akan membuat alasan, jika sudah bertemu dengan Adnan, yang terpenting sekarang melihat Adnan sedang apa dan dengan siapa.