
Sudah seminggu terlewat setelah mereka menginap di rumah keluarga Adnan. Tentang pertanyaan Bunda waktu itu sebenarnya mengganggu pikiran Alisha, tapi ia tak pernah mau jujur ketika Adnan bertanya. Ia sebenarnya belum siap jika harus hamil saat ini, tapi mau bagaimana lagi jika memang sudah ditakdirkan. Dan ucapan bunda waktu itu membuatnya berfikir untuk segera memberikan cucu pada orang tua mereka. Dan hari ini Alisha tersadar jika sudah lebih dari satu bulan ia tidak datang bulan, membuatnya berfikiran optimis, kemungkinan ia benar-benar hamil, tapi apa mungkin? Bahkan mereka baru beberapa hari ini melakukan hubungan suami istri, entahlah.
Hari ini ia pulang dari kampus tidak sesuai jadwal dan itu membuatnya pulang naik taksi, tentu saja tidak langsung ke rumah melainkan ke kantor Adnan. Seperti biasa ia masuk ke dalam ruangan Adnan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, membuat Adnan yang sedang fokus dengan pekerjaannya terkejut.
"Apa tidak bisa ketuk pin...." Adnan tidak meneruskan ucapannya saat menyadari siapa yang datang, meskipun ia tak melihat orangnya. Dari parfum yang tercium di indera penciumannya ia bisa menebak jika istri tercintanyalah yang masuk, bukan Agil seperti yang ia kira sebelumnya.
Dan benar saja saat ia mengalihkan fokusnya dari laptop, yang pertama ia lihat senyum manis di bibir sang istri, membuat rasa lelah yang tadi sempat menjalar menguap begitu saja berganti dengan semangat membara. Entah mengapa senyum Alisha membangkitkan energi positifnya, wanita itulah yang saat ini menjadi semangat hidupnya untuk terus bekerja meskipun lelah sering menghampiri.
Ia bangkit dari duduknya, menghampiri Alisha yang baru saja masuk, "Tumben jam segini udah pulang?" tanyanya lalu memeluk tubuh Alisha dan mendaratkan bibirnya di kening sang istri. Entah kenapa rasa rindu selalu hadir di saat mereka tak bersama, meski hanya dalam hitungan jam.
Alisha membalas pelukan Adnan, menyembunyikan wajahnya di dada sang suami, "Dosen terahir tidak bisa hadir, karena ada urusan keluarga," jawabnya masih dalam pelukan Adnan. Ia lebih dulu mengahiri pelukan itu, karena sepertinya Adnan enggan melepaskannya.
Hari ini Adnan juga tidak ke kampus, karena jadwal mengajarnya juga kosong, jadi ia bisa bekerja seharian di kantor.
Alisha lebih dahulu duduk di sofa di susul oleh Adnan yang duduk di sampingnya.
"Ada sesuatu buat kamu, dari kampus," celetuk Alisha, ia mencari sesuatu yang dikirim dari kampus yang katanya untuk Adnan. Setelah menemukan benda tersebut, ia memberikannya pada Adnan.
"Apa ini? Jangan bilang surat peringatan!" ucapnya setelah menerima surat tersebut.
"Jangan suudzon dulu, baca dulu biar tahu apa isinya," Alisha cemberut tidak terima jika Adnan berburuk sangka padanya.
Adnan mulai membuka amplop berisi surat tersebut, ia membacanya dengan dahi mengkerut, "Haruskah kamu mengikutinya?" tanyanya.
"Menurut kamu yang berprofesi sebagai Dosen gimana?" bukannya menjawab Alisha justru balik bertanya.
"Seminggu? Lama banget," keluhnya. "Selama seminggu aku bakalan tidur sendiri dong," Adnan cemberut membayangkan di tinggal Alisha selama satu minggu, hari-harinya pasti akan terasa sepi, padahal dulu sebelum menikah juga begitu kan?
"Mau ikut juga boleh," celetuk Alisha sambil tersenyum karena melihat wajah Adnan yang tampak lucu saat cemberut.
"Ck, yaudah enggak apa-apa, ini juga tugas kampus. Aku tidak bisa melarang," ucap Adnan, lalu ia meletakkan surat tersebut di atas meja.
Surat dari kampus itu berisi tentang studi banding fakultas Alisha ke sebuah kampus ternama di Yogyakarta dan kegiatan itu berlangsung selama satu minggu. Keberangkatannya tertulis minggu depan yang artinya masih ada waktu seminggu u tuk mempersiapkan semuanya.
__ADS_1
"Terimakasih ya, kamu mau melarang juga boleh asalkan kamu datang langsung ke kampus, itu pun dengan alasan yang masuk akal, jika tidak sudah di pastikan tidak di ijinkan," jelas Alisha.
Adnan menggeleng, "Kamu harus ikut, karena itu termasuk program kampus. Aku di tinggal seminggu tidak masalah, kita kan bisa video call," ucapnya.
"Terimakasih ya,"
"Cium dong, kalau terimakasih aja tanpa cium di tolak mentah-mentah," ucap Adnan sambil menyentuh salah satu pipinya.
Alisha menangkup wajah Adnan dengan kedua tangannya.
Cup
Ia mengecup kedua pipi Adnan dan berahir di bibir. Hanya kecupan dan tidak lebih, setelah itu ia melepaskan tangannya dari wajah Adnan.
"Udah sana kerja lagi, ini belum waktunya istirahat," ucap Alisha seperti bos yang sedang memerintah anak buahnya.
Adnan pun menurut, ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena kehadiran Alisha.
🌻🌻🌻
"Sayang, kamu udah ngantuk?" tanya Adnan tepat di dekat telinga Alisha, membuat wanita itu sedikit menggeliat karena kegelian.
Alisha mengangguk.
"Baru jam sembilan malam, tumben banget udah ngantuk?" tanya Adnan.
"Enggak tahu, rasanya ngantuk banget," keluh Alisha.
"Aku minta servis dulu, boleh ya," ucap Adnan, ia berharap Alisha menuruti permintaannya kali ini.
Alisha berbalik, ia tidak mengerti apa maksud dari ucapkan Adnan, "Servis apa Mas? Emang aku tukang servis?" tanyanya dengan polos.
Adnan tergelak, merasa lucu dengan kepolosan Alisha, apakah ia harus menjelaskan secara detail apa yang ia maksud servis? Tapi sepertinya tidak mungkin.
__ADS_1
"Seminggu lagi kamu mau pergi, dan selama seminggu sebelum kamu pergi, tiap malam aku minta servis, harus servis terbaik," ucapnya sambil tersenyum. Ia tidak menjawab kebingungan Alisha, ia justru membuat Alisha makin bertambah bingung.
"Servis apa sih Mas? Aku bener-bener enggak ngerti," keluh Alisha.
"Masa enggak ngerti sih? Coba di pikir dulu, nanti kalau masih enggak ngerti baru aku kasih tahu,"
Alisha berfikir sejenak, "Maksudnya pijit?" tanyanya.
"Iya tapi pijit plus-plus," jawab Adnan sambil tersenyum.
Plak
Reflek Alisha memukul lengan suaminya dengan keras, ia baru mengerti apa yang di maksud oleh Adnan.
"Duh, sakit sayang," keluh Adnan sambil mengusap lengan yang Alisha pukul tadi.
"Salah sendiri sih, pake bahasa yang enggak jelas gitu, aku kira tadi mau servis mobil,"
"Gimana servisnya? Boleh kan?" tanya Adnan.
Alisha mengangguk, "Sekali aja, aku capek plus ngantuk banget," keluhnya.
Setelah mendapat persetujuan dari Alisha, Adnan pun mulai melancarkan aksinya. Dan malam itu, Adnan benar-benar mendapatkan servis terbaik dari sang istri.
"Terimakasih sayang," ucap Adnan sambil mengecup kening Alisha yang berada dalam pelukannya.
"Tidurlah, aku akan kembali bekerja," sambungnya, melepaskan Alisha dari pelukannya.
"Udah malem Mas, kenapa masih mau kerja?" tanya Alisha, melihat jam dinding ternyata sudah pukul sepuluh malam, berarti mereka berdua bercinta selama kurang lebih satu jam.
"Bentar kok, tinggal dikit, kamu tidur aja," Adnan beranjak dari tempat tidur, memungut pakaian yang tadi sempat ia lempar ke sembarang arah, lalu memakainya.
Ia juga memungut baju tidur Alisha, "Pakailah, aku tidak bisa menjamin kamu aman malam ini kalau tidak pakai apa pun seperti itu," ucapnya sambil menyerahkan dress tidur milik Alisha.
__ADS_1
Alisha pun menerimanya tanpa protes, langsung mengenakan pakaian tersebut di balik selimut, ia masih malu jika berpenampilan polos di hadapan Adnan saat tidak sedang melakukan hal yang menyenangkan itu..