Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Cemburu Membawa Berkah


__ADS_3

Alisha mengernyitkan dahinya, "Maksudnya? Kamu tau sendiri aku sama dia sudah berteman sejak lama, lagian kamu aneh banget tanya gitu," jawab Alisha.


"Harusnya aku yang marah karena kamu ganggu acaraku sama temen-temen aja," tambahnya. Seperti biasa gadis itu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, sengaja menghindari tatapan tajam Adnan.


Gadis itu tersenyum penuh arti di balik selimut, ia ingat ucapan teman-temannya saat di kampus, setelah ia curhat tentang dirinya dan Adnan.


"Gimana kalo Lo buktiin aja, apa bener Adnan cinta sama Lo atau enggak," ucap salah satu teman perempuan Alisha.


"Gimana caranya?" tanya gadis itu.


Temannya sempat berfikir, lalu Lyra lebih dulu mengeluarkan pendapatnya, "Gue punya ide, entar malem kita melakukan aksinya di acara ultah gue, yang penting Lo dandan cantik," ucap Lyra ambigu membuat Alisha dan yang lain jadi bingung.


Akhirnya Lyra pun menjelaskan ide gilanya, salah satunya aksi Alisha dengan Dani. Lyra juga mengatakan jika ada yang harus mengompori Angkasa supaya mau memotret Alisha saat bersama Dani.


Setelah mencetuskan ide tersebut, Lyra langsung menghubungi Dani, awalnya pemuda itu keberatan tapi pada akhirnya Dani menyetujui permintaan Lyra. Dan semua rencana berhasil dengan mulus, karena Adnan benar-benar terjebak dalam permainan mereka.


"Kamu dengerin aku ngomong enggak sih? Malah tertawa, seneng ya aku hukum, bagus deh," celetuk Adnan, Alisha pun tersadar dari lamunannya.


Alisha bangkit, membuka selimut yang menutup seluruh tubuhnya, berbalik menghadap Adnan.


"Kamu ngomong apa? Hukuman apa maksudnya?" tanyanya karena ia benar-benar tidak mendengar ucapan Adnan.


"Hukuman buat kamu,"


"Hukuman apa? Aku enggak salah kenapa harus di hukum?" tanya Alisha.


"Kamu benar-benar tidak merasa bersalah ya?"


"Emang aku enggak salah, kan? Coba salahku apa?" tanya Alisha pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


Adnan mengambil ponselnya, lalu menunjukkan foto Alisha saat duduk bersama Dani, "Ini salah kamu," ucapnya.


"Apanya yang salah sih?" Alisha masih saja bersikap sama, pura-pura tidak tahu.


"Berdua sama laki-laki lain, suap-suapan lagi, padahal kamu udah punya suami, apa itu enggak salah namanya?"


"Lagian kamu dapet foto itu dari mana? Kamu mematai-matai aku ya?" Alisha tak menghiraukan kekesalan Adnan.


"Jangan mengalihkan pembicaraan," protes Adnan.


"Kamu cemburu ya?" bukannya takut Alisha justru sengaja menggoda Adnan.


"Iyalah cemburu," ucap Adnan sepontan.


Apa yang di lakukan Alisha? Jika gadis lain akan tersanjung dan langsung memeluk laki-laki yang sedang cemburu, berbeda dengan Alisha gadis itu justru terbahak mendengan pengakuan Adnan.


"Ada yang lucu?" tanya Adnan heran.


Adnan menatap Alisha tajam, karena gadis itu terus saja tertawa, bahkan kini posisi Adnan sudah berada di atas tubuhnya, tapi Alisha belum menyadari itu karena masih asyik dengan tawanya.


"Mau berhenti tertawa atau...." Adnan tidak melanjutkan ucapannya, tapi wajah dan tubuhnya semakin merapat ke arah Alisha, membuat gadis itu gelagapan dan menghentikan tawanya.


"Adnan, stop!" seru Alisha sambil memejamkan mata. Ia membuka mata saat mendengar Adnan yang kini tertawa di sampingnya, mengernyitkan dahi menjadi berlipat-lipat, karena heran dengan sikap Adnan yang tiba-tiba berubah.


"Aneh, kenapa ketawa? Tadi aja marah-marah," protes Alisha, ia kesal karen Adnan tertawa. Ia berfikir jika Adnan tidak cemburu dan tadi hanya pura-pura saja.


"Aku baru denger detak jantung yang sedang lari maraton, sepertinya pemilik jantung itu berharap aku menciumnya," celetuk Adnan.


Alisha terkejut dengan ucapan Adnan, ia melempar bantal pas mengenai tubuh Adnan dan pemuda itu semakin tergelak.

__ADS_1


"Enggak jelas banget," ucap Alisha, ia kembali menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, tak menghiraukan Adnan yang masih tergelak. Wajahnya memanas karena ucapan Adnan tadi. Siapa coba yang tidak malu jika detak jantungnya yang tidak beraturan di ketahui oleh orang lain, apalgai orang yang kita cintai.


Setelah menghentikan tawanya, Adnan berusaha membuka selimut yang menutup tubuh Alisha, satu tarikan saja, selimut itu terlepas, lalu ia mengubah posisi tidur Alisha yang tadinya terlentang menjadi miring menghadap dirinya.


"Udah deh, aku mau tidur," ucap Alisha sambil memejamkan mata.


Tapi apa yang di lakukan Adnan membuat gadis itu membuka mata, merasakan benda kenyal menempel di keningnya cukup lama.


"Aku tadi benar-benar cemburu, tapi setelah mendengar detak jantung kamu, cemburu ku ilang, karena aku tahu kamu sayang dan cinta sama aku," ucap Adnan setelah melepaskan kecupannya.


Baru saja Alisha kan protes, Adnan lebih dulu menyela, "Aku juga cinta sama kamu. Dan aku baru menyadari itu, saat kamu berduaan dengan laki-laki lain, aku cemburu dan sangat marah, tidak rela wajah cantikmu ini di tatap oleh laki-laki lain," ucap Adnan, ia menatap wajah Alisha sambil menyingkirkan helaian rambut Alisha yang menutupi penglihatan gadis itu.


Suasana itu membuat Alisha tak berkutik, entah kenapa tiba-tiba kerja otot-ototnya melemah dan hanya bisa pasrah, bahkan untuk berbicara saja serasa berat dan tak mampu.


"Kamu juga cinta sama aku, kan Alis?" tanya Adnan, dan hal yang tak terduga pun terjadi karena Alisha mengangguk, sambil tersenyum. Adnan pun membalas senyuman Alisha, ia mengecup seluruh wajah Alisha dan berakhir menautkan bibir mereka, kali ini Alisha membalas sentuhannya di sana, meski sedikit kaku karena belum terbiasa.


Alisha menikmati setiap sentuhan sang suami, ia tidak protes saat tangan Adnan mulai nakal, menelusup kemanapun yang ia sukai. Setelah kehabisan nafas, mereka melepaskan diri lalu melempar senyum satu sama lain, saat itu Alisha tersadar jika kedua tangan suaminya sudah traveling kemana-mana. Ia mencekal tangan Adnan, supaya berhenti bergerak.


"Maaf Mas, aku belum siap," ucap gadis itu memelas, karena jujur ia memang belum siap untuk melakukan hubungan suami istri.


"Kenapa?" tanya Adnan, ia sudah tidak sabar jika harus menahannya untuk beberapa saat.


"Takut," ucap Alisha, lalu ia menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.


"Yaudah enggak apa-apa, tapi aku mau ini sekali lagi," pinta Adnan sambil menyentuh bibir Alisha dengan jarinya.


Dengan malu-malu gadis itu pun mengangguk, tapi ia tak mau mendongakkan wajahnya menatap Adnan, karena ia bisa menebak jika wajahnya kini sudah memanas menahan malu. Adnan tahu jika Alisha malu, ia pun tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Alisha, melakukan hal yang ia lakukan tadi.


Mereka semakin lama semakin memperdalam kegiatan panas mereka, bahkan tidak hanya sekali saja sesuai permintaan Adnan tadi, tapi mereka melakukan berkali-kali dan Alisha selalu membalasnya. Entah kenapa gadis itu bisa dengan mudah terbuai oleh Adnan malam ini.

__ADS_1


"Ini boleh ya?" tanya Adnan.


Alisha kembali mengangguk, sepertinya gadis itu benar-benar terbuai dan menikmati kegiatan mereka malam ini.


__ADS_2