Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Tanpa Ampun


__ADS_3

"Jelasin Ga? Gue enggak ngerti maksud Lo!" Alisha tidak memperdulikan pertanyaan yang terlontar dari bibir Nevan, ia bingung tak mengerti apa yang di maksud Arga.


Sedangkan Adnan tampak membisu, pikirannya berkecamuk, haruskan secepat ini Alisha tahu? Bahkan acara resepsi pernikahan mereka belum usai, ah Adnan lemas, ia seakan tak bisa menopang bobot tubuhnya, bingung, takut, resah, gelisah semua bercampur menjadi satu, bak gado-gado siap santap. Apa reaksi Alisha saat mengetahui semuanya?


Mereka yang ada di sana tampak membisu, termasuk Arga, tapi pemuda itu justru sibuk mengotak-atik ponselnya, menghubungi seseorang yang sejak tadi tak membalas atau pun menerima panggilannya.


"Arga!" Alisha geram karena tak kunjung menadapat jawaban dari Arga, ia mendekati Arga lalu menarik kerah di leher Arga, seperti yang Arga lakukan tadi pada Adnan.


"Lo mau tau dari gue apa dari suami Lo?" tanya Arga enteng tanpa melepas cengkraman Alisha di lehernya. "Lo mau kasih tau istri Lo apa gue yang kasih tahu, hah?" tatapan Arga kini menjurus ke arah Adnan.


Semua orang yang ada di sana terlihat bingung dengan ucapan Arga, saling menatap satu sama lain. Tapi yang mereka dapati hanya gelengan kepala dari masing-masing orang.


Adnan mencoba menegakkan tubuhnya yang hampir terjatuh, ia menatap Alisha penuh penyesalan bergantian menatap Arga yang juga menatapnya tajam.


"Oke, aku akan jelasin, beri aku waktu untuk bicara dengan Alisha," pinta Adnan, ia bermaksud menjelaskan semuanya hanya dengan Alisha.


Arga menggeleng, "Lo jelasin di sini, biar semua orang tahu," ucapnya.


Adnan menghela nafas berat, lalu menatap Alisha yang juga menatapnya. Rasa bersalah tiba-tiba hadir membuat sesak di dada, ia jadi tak tega dengan gadis itu. Tapi mau tidak mau ia harus mengatakannya sekarang juga, karena sudah terbongkar meski belum sepenuhnya.


"Cepetan! Atau gue aja yang ngomong," Arga seakan hilang kesabarannya, ia menghawatirkan sang Kakak yang sejak tadi tidak ada kabar, hanya pesan terahir kali sebelum meninggalkan gedung tersebut, tepatnya tadi pagi sebelum acara ijab qobul.


"Aku minta maaf sebelumnya, terutama sama Alisha," ucap Adnan lalu ia mendekati gadis itu, menggenggam tangan Alisha.


Alisha semakin bingung di buatnya, ia tidak mengerti sama sekali. "Sebenarnya apa yang terjadi sih Mas? Ayo katakan jangan buat aku penasaran," Alisha sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang akan diucapkan Adnan.


"Sebenarnya aku mengenal Yesha, aku yang datang saat itu, bukan Angkasa, tapi ternyata kamu juga memiliki ide sama dengan Angkasa, sampai akhirnya, aku pun menyetujui pernikahan ini karena tidak ingin mengecewakan Bunda, aku juga mengatakan pada Yesha untuk tidak menceritakan semuanya sama kamu," Angkasa menjelaskan semuanya, tapi ia tidak mengatakan jika menikahi Alisha karena Angkasa ternyata mencintai Yesha.


Alisha terlihat lemas setelah mendengar perkataan Adnan, ia meluruhkan tubuhnya ke lantai. Adnan mencoba menggapai tubuh itu, tapi keburu dirinya di tarik oleh seseorang dari belakang.

__ADS_1


Bugh


Satu hantaman mengenai wajah tampannya.


Bugh


Satu lagi, tapi Adnan tak sedikit pun melawan. Ia pasrah karena ia bersalah di sini.


"Gue enggak habis pikir Lo akan lakuin ini!" seru orang tersebut. "Gue kecewa sama Lo? Kenapa enggak jujur aja? Kalau pun Lo jujur gue akan mengalah, bukan begini caranya!" orang itu kembali menarik Adnan untuk mendekat, ia kembali melayangkan bogemannya ke wajah Adnan. Ya siapa lagi yang melakukan itu jika bukan Angkasa.


Tadinya Aufa ingin menghajar Adnan tapi keduluan Angkasa, dan pemuda itu hanya jadi penonton tanpa mau melerai dua saudara tersebut.


Angkasa kembali melayangkan kepalan tangannya ke wajah Adnan, pemuda itu seakan lupa jika yang berada di hadapannya adalah saudaranya sendiri. Bahkan ia tidak menghiraukan wajah Adnan yang sudah babak belur.


"Udah Ang, Abang Lo bisa mati kalo Lo pukulin mulu!" Nevan menarik paksa Angkasa yang sedang brutal, buakannya berhenti Angkasa justru melayangkan satu pukulan ke wajah Nevan.


Alisha sudah berdiri di bantu oleh Aufa, air mata gadis itu sudah banjir, bahkan make up di wajahnya hampir luntur karena derasnya air mata yang mengalir. Ia sangat-sangat kecewa dengan Adnan, kenapa Adnan harus berbohong, kenapa?


"Bang, tolongin dia," Alisha merasa tidak tega melihat Adnan pasrah di pukuli oleh Angkasa. Ia sempat teriak, tapi Angkasa tak menghiraukan teriakannya bahkan semakin brutal. Enatah kenapa Angkasa seperti sedang kesrurupan saja, ia lupa segalanya hanya ada emosi dan kemarahan yang terpancar dari bola matanya.


Belum sempat Aufa melangkah, seseorang datang dengan tergopoh-gopoh. Bunda Ayu beserta Ayah Faria datang. Setelah mendapatkan pukulan dari Angkasa tadi, Nevan langsung menghubungi Bunda Ayu untuk datang ke tempat mereka berada saat ini, karena menurutnya hanya Bunda yang bisa menghentikan perbuatan Angkasa.


Bunda tampak histeris menyaksikan Angkasa menghajar Adnan tanpa ampun, lantas yang wanita paruh baya itu lakukan, memeluk tubuh Angkasa dari belakang. Terbukti perlakuan Bunda ampuh dan menghentikan Angkasa yang membrutal.


"Sudah Nak, kasian Abang kamu, apa kamu mau dia mati? Ingat Nak, dia satu-satunya saudara yang kamu miliki," lirih bunda masih setia memeluk Angkasa.


Sedangkan Adnan, sudah di bantu berdiri oleh Ayah, menggiring pemuda itu masuk ke dalam ruangan. Diikuti oleh Aufa yang menuntun Alisha yang masih terlihat lemas.


Angkasa berbalik menghadap sang Bunda, ia membalas pelukan Bunda tanpa mengucap sepatah kata pun. Dalam pelukan Bunda ia samar-samar mendengar obrolan Arga dan Nevan.

__ADS_1


"Bang, ayo cari Kak Yesha. Dia sejak tadi enggak bisa di hubungi, terakhir cuma kirim pesan ke gue, katanya mau pulang sebentar, nanti balik lagi, tapi sampai saat ini belum pulang dan enggak balik ke sini, gue khawatir," ucap Arga.


"Jangan mikir yang macem-macem, gue tau siapa Kakak Lo, dia enggak bakalan ngelakuin hal bodoh yang bisa merugikan dirinya, kecuali memang dia sedang...." ucapan Nevan terputus, ia terperangah saat mengingat sesuatu.


"Ayo, gue jadi ikut khawatir, takut dia di celakain orang," Nevan berjalan diikuti oleh Arga


Angkasa pun mengekori dua pemuda itu setelah berpamitan dengan Bunda. Bersamaan dengan Aufa yang muncul dan menyusul mereka, Aufa juga sempat khawatir pada Yesha, apalagi setelah membaca pesan Yesha dari ponsel Arga tadi sebelum huru hara ini terjadi.


Mereka berempat sepakat untuk mencari Yesha, tapi mereka bingung harus mencari di mana? Sedangkan mereka tidak tahu ke mana perginya gadis itu.


"Hapenya di hubungin masih nyambung enggak Ga?" tanya Nevan di tengah kebingungan mereka.


"Masih Bang, tapi enggak di angkat sama sekali, bahkan gue udah hubungin berkali-kali dan terahir online di sini pagi tadi bang," jawab Arga.


"Di lacak aja gimana?" usul Aufa.


Akhirnya mereka menyetujui usulan Aufa, pemuda itu pun menghubungi temannya yang bisa melacak keberadaan seseorang dengan nomor ponsel.


🌻🌻🌻


Di dalam kamar tempat Adnan dan Alisha, Bunda dengan telaten mengompres luka di wajah Adnan dan mengobatinya. Sedangkan Alisha masih duduk terdiam di pinggir sofa di temani Mama yang baru saja datang. Orang tua mereka belum mengetahui duduk permasalahannya, kenapa Adnan bisa di pukuli habis-habisan oleh Angkasa. Tadi saat di tanya, Alisha menjawab jika mereka salah paham tapi Bunda tidak percaya begitu saja, karena tadi bisa melihat betapa marahnya Angkasa saat itu.


"Sudah suami kamu baik-baik saja, jangan nangis lagi," Mama Icha mengelus puncak kepala Alisha, memeluk tubuh putrinya. Wanita paruh baya itu mengira jika Alisha menangisi Adnan yang terluka, padahal kenyataannya tidak seperti itu.


Pikiran Alisha kacau, ia kecewa pada diri sendiri juga pada Adnan. Ia kecewa kenapa tidak menyelediki semua itu lebih dahulu, kenapa ia percaya begitu saja dengan Adnan. Jika saja ia tahu Kakak sepupunya itu mencintai Adnan, ia pasti menolak untuk menikah dengan Adnan, ia pasti membiarkan Yesha yang menikah dengan Adnan. Secara tidak langsung dirinya juga bersalah di sini, ia yang meminta Yesha untuk mencintai dan membuat pemuda itu jatuh cinta pada Yesha.


Jika saja pernikahan ini belum terjadi, ia pasti akan membatalkannya secara sepihak, tapi nyatanya sudah terlanjur terjadi dan tidak mungkin mereka berdua akan berpisah secepat ini, karena itu hanya akan mengecewakan ke dua belah pihak. Ah, Alisha semakin frustasi. Rasa cinta yang baru hadir untuk Adnan kini berubah jadi benci, ia benci pemuda yang baru saja menjadi suaminya itu, benci kenapa harus berbohong, bahkan ia rasanya ingin menghajar Adnan juga, tapi tak mampu karena tubuhnya lemas tak berdaya.


Acara resepsi sudah di bubarkan lebih awal, dengan alasan mempelai pria sakit. Jadi dengan terpaksa acara di akhiri. Bahkan tanpa berpamitan dengan ke dua mempelai.

__ADS_1


__ADS_2