Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Serba Salah


__ADS_3

Ternyata pesan yang di kirim ke dokter Hanny tidak langsung mendapat jawaban, membuat mereka berdua meninggalkan rumah sakit. Mungkin nanti atau kapan mereka akan datang lagi setelah mendapatkan kabar dari sang Dokter.


Di tengah perjalanan mendadak Alisha menyuruh Adnan berhenti, entah apa yang akan di lakukan oleh istrinya itu. "Mau kemana?" tanya Adnan saat Alisha akan membuka pintu mobil tanpa mengucap sepatah kata pun.


"Mau beli pecel." Alisha menunjuk sebuah warung makan tepat di samping mobilnya.


Adnan membiarkan istrinya turun dari mobil dan ia mengikuti dari belakang. Memasuki sebuah warung sederhana tapi nampak bersih, di dalamnya juga luas meskipun dari luar terlihat hanya warung kecil saja.


"Siapa Neng?" tanya seorang wanita paruh baya, mungkin pemilik warung tersebut.


"Oh, kenalkan Bude, ini suamiku," Alisha memperkenalkan Adnan pada wanita tersebut.


"Pantesan jarang ikut nongkrong, ternyata udah ada suami. Kapan menikah? Kok Bude enggak di kasih tau,"


Alisha menjawab pertanyaan pemilik warung tersebut dengan sesekali melirik Adnan yang berada di sampingnya.


"Seperti biasa kan Neng?" pemilik warung tersebut sepertinya sudah hafal dengan makanan yang biasa di pesan oleh Alisha.


"Tapi kali ini pedes ya Bude, lagi pengen makan pedes," jawabnya.


"Asalkan jangan kebanyakan, secukupnya aja enggak apa-apa, kalau orang hamil mah gitu," pemilik warung tersebut sepertinya paham jika Alisha sedang mengidam meskipun Alisha tidak mengatakannya.


Alisha hanya tersenyum canggung.


"Mas nya enggak sekalian?" tanya wanita tersebut karena Adnan tadi tidak ikut pesan makanan hanya minuman saja yang di pesan.


"Enggak Buk, biar istri saya aja," jawab Adnan.

__ADS_1


"Kaya hafal banget sama kamu ibu itu," ucap Adnan setelah mereka duduk di meja yang mereka pilih.


"Dari SMA dulu tongkrongan kita di sini, kebetulan warung ini milik salah satu teman SMA ku," jawab Alisha.


"Tadi pemiliknya?" tanya Adnan lagi.


Kali ini Alisha menggeleng, "Bukan, adiknya yang punya warung ini, makanya kita-kita manggilnya Bude, ikut temenku itu," jelas Alisha.


"Dulu waktu SMA kalo mau nongkrong pasti alasan sama Mama mau belajar kelompok, terus ngirim foto sama temen-temen yang aku suruh buka buku mereka," Alisha tersenyum kecut membayangkan betapa nakalnya dirinya waktu SMA, "jago banget ya bohongnya, tapi anehnya Mama percaya aja," tambahnya.


Adnan terus mendengarkan cerita Alisha, istrinya itu kadang tertawa saat menceritakan hal lucu, kadang juga tersenyum kecil mengingat masa lalunya yang seperti itu. Tapi di tengah cerita Alisha seorang pelayan datang membawa pesanan Alisha tanpa menunggu lama Alisha pun melahap makanan tersebut.


Adnan memperhatikan istrinya makan hanya bisa geleng-geleng kepala, padahal tadi di rumah Alisha sudah sarapan tapi entah kenapa makannya seperti orang tidak bertemu makanan seminggu, padahal dirinya saja tidak akan sanggup untuk makan lagi saat ini, perutnya masih terasa penuh . Adnan kembali menggelengkan kepala ketika melihat sambal kacang yang tersedia di mangkuk sudah ludes tanpa sisa. Sepertinya istrinya ini menjadi lebih menyukai makanan pedas semenjak hamil.


"Alhamdulillah, kenyang," ucap Alisha setelah menghabiskan satu porsi pecel tanpa nasi.


"Yah udah habis, padahal kamu belum mencicipi ya. Enak banget lho," ucap Alisha saat melihat sang suami yang terus memperhatikannya. "Aku pesenin ya, nanti bisa di makan di kantor," ucapnya lagi. Baru saja akan berdiri, Adnan mencegahnya.


Setelah membayar makanan Alisha, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kantor. Sudah sangat siang memang, tapi Adnan merasa tidak enak hati jika tidak masuk kantor, ya meskipun biasanya ia akan masuk kantor siang hari setelah mengajar di kampus.


🌻🌻🌻


Apa yang di lakukan Alisha kali ini membuat Adnan kembali geleng-geleng kepala. Kenapa begitu? Karena setelah sampai di kantor, Alisha tertidur di sofa berselimutkan jas milik Adnan yang sengaja ia pasang untuk menutup tubuh istrinya, bahkan sampai jam makan siang istrinya itu belum juga terbangun. Beberapa kali Agil masuk ke dalam ruangannya pun Alisha tidak merasa terganggu sedikit pun, seperti baru saja minum obat tidur.


"Sayang, bangun. Udah waktunya makan siang." Adnan menyentuh tubuh sang istri yang terbalut jas miliknya.


"Kamu aja yang makan, aku masih ngantuk, perutku juga mual banget, kaya penuh gitu," ucap Alisha dengan mata terpejam.

__ADS_1


Akhirnya Adnan hanya memesan makanan lewat OB, ia tidak mau meninggalkan sang istri di dalam ruangannya sendirian. Tak berapa lama pesanannya pun datang, membuatnya langsung melahap makanan tersebut tanpa menunggu Alisha bangun. Namun baru saja ia menghabiskan makanannya, sang istri terbangun.


"Mas, aku lapar," keluh Alisha setelah duduk, ia belum menyadari jika Adnan baru saja selesai makan.


Belum juga Adnan mengeluarkan suara, Alisha lebih dulu berceletuk, "Lho, kamu makan enggak ngajakin aku sih? Tega banget," ucapnya cemberut.


Adnan terkejut mendengar ucapan Alisha, padahal tadi istrinya itu jelas-jelas mengatakan tidak mau makan, tapi apa sekarang justru sebaliknya.


"Aku tadi udah bangunin kamu, tapi katanya kenyang. Yaudah aku pesen makan aja," ucap Adnan santai.


"Kapan aku ngomong gitu? Pasti cuma alasan kamu aja, kan? Padahal enggak mau bangunin aku," Alisha membuang muka saat mengatakan hal itu, ia kecewa dengan Adnan yang makan tanpa menunggu dirinya terbangun.


Adnan menghela nafas tidak percaya jika Alisha ya kini berubah kekanakan bahkan melebihi Cantika, apa mungkin semua wanita hamil seperti ini?, pikirnya. Ia pun mendekati Alisha dan duduk di sisi istrinya itu.


"Yaudah, sekarang kamu mau makan apa? Di mana? Aku anterin deh, udah jangan ngambek lagi," Adnan mencoba membujuk Alisha, ia berusaha untuk tidak terpancing emosi, takut jika Alisha semakin menjadi.


"Mau pesen aja, males ke luar," jawab Alisha tanpa menatap Adnan, sepertinya ia masih kecewa


"Yaudah kalo gitu pesen aja,"


"Mana hape kamu, aku mau pesen pake hape kamu," kali ini Alisha menghadap ke arah Adnan sambil menyodorkan tangannya.


Tanpa sepatah kata pun Adnan mengambil ponselnya lalu memberikan pada Alisha.


Adnan tidak menyangka jika makanan yang di beli oleh Alisha ternyata banyak sekali bahkan sangat banyak, seisi meja di penuhi oleh pesanan Alisha bahkan masih ada beberapa paperbag yang masih utuh tergeletak di atas sofa. Beberapa kali OB mengetuk pintunya hanya untuk menyampaikan pesanan Alisha.


"Emang kamu habis makanan segitu banyaknya? Kalau enggak habis kan mubadzir, sayang," tanya Adnan dengan nada lembut, berharap istrinya itu tidak tersinggung.

__ADS_1


"Kalau enggak habis ya kamu lah yang menghabiskan, enggak ikhlas ya aku pesen makanan dari ponsel kamu,"


Adnan menghela nafas, ia terdiam dan tidak akan bertanya lagi, takut pertanyaanya justru akan menjerumuskan dirinya sendiri. Ia hanya terus memperhatikan Alisha yang mencicipi setiap makanan dan setelah di cicipi makanan itu di tutup kembali, sepertinya belum ada yang pas di lidah Alisha.


__ADS_2