
Adnan terbangun setelah mendengar adzan subuh dari ponselnya. Ia memandangi wajah damai istrinya yang terlihat nyaman dalam dekapannya. Tersenyum bahagia saat mengingat kejadian semalam, ia tidak menyangka jika semalam itu kenyataan, karena rasanya seperti mimpi saja. Padahal semalam ia terus memandangi wajah Alisha yang terlelap, entah ia memejamkan mata jam berapa.
Adnan mengecup puncak kepala Alisha berkali-kali, lalu mengecup keningnya, "Sayang, bangun. Ayo mandi, nanti boleh tidur lagi setelah sholat," ucapnya sambil mengelus rambut Alisha, tapi sepertinya Alisha masih nyaman dalam posisinya, karena tak bergerak sedikit pun.
Hingga beberapa menit kemudian, terlihat kelopak mata Alisha terbuka, mengerjapkan mata berkali-kali saat menyadari Adnan menatapnya sambil tersenyum, ia salah tingkah sendiri tapi tetap membalas senyuman Adnan meski canggung.
"Selamat pagi istriku sayang, ini adalah pagi terindah dalam sejarah hidupku selama ini," celetuk Adnan, membuat Alisha makin salah tingkah.
"Gombal," timpal Alisha sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Adnan tapi tak berhasil.
"Serius sayang, hari ini memang pagi terindah," Adnan berusaha meyakinkan Alisha yang tak menganggap jika ucapannya serius.
"Iya deh percaya, tapi lepas aku mau mandi," ucapnya saat tidak berhasil melepaskan diri.
"Ayok, mandi bareng aja," celetuk Adnan, ia bangkit dari tidurnya langsung mengangkat tubuh Alisha yang masih tertutup selimut. Karena semalam Alisha langsung terlelap dan tidur dalam keadaan polos, sedangkan Adnan masih sempat memakai celananya, bahkan tertidur hingga tengah malam.
"Enggak mau, aku mau mandi sendiri Mas," rengek Alisha. Akan sangat malu jika mandi berdua dengan Adnan, mungkin karena belum terbiasa.
Adnan tak mengindahkan ucapan Alisha, ia terus membawa Alisha ke kamar mandi, meletakkan Alisha di atas bathub, menarik selimut yang menutupi tubuh Alisha, tapi istrinya itu menahannya. "Kamu mau mandi pake selimut?" tanyanya.
"Malu, udah ah kamu ke luar aja aku mau mandi sendiri," jawab Alisha.
"Yaudah, sini selimutnya, aku bawa ke luar," Adnan tetap meminta selimut tersebut, tapi setelah itu ia benar-benar ke luar kamar mandi, memberi kesempatan Alisha untuk mandi.
Tak butuh waktu lama, Alisha ke luar dari kamar mandi mengenakan bathrobe. Ia bingung saat akan mengganti baju, karena tidak ada pakaian ganti di sana, hanya ada gaun semalam yang ia pakai dan tidak mungkin sekali jik harus memakai itu. Akhirnya ia memilih untuk memakai saja, bahkan saat melaksanakan sholat. Alat untuk sholat memang ada, karena sudah di persiapkan oleh Agil sebelumnya, sesuai perintah sang bos tentunya.
Setelah melakukan kewajibannya, Alisha naik ke atas tempat tidur, ia melihat ada sedikit bercak darah di spray, menyentuh bekas darah tersebut yang telah mengering. Teringat akan kejadian semalam, membuatnya tersenyum bahagia, apalagi Adnan melakukannya dengan lembut, meskipun masih merasakan sakit, tapi ia juga menikmati semua sentuhan yang suaminya itu kasih. Memilih naik ke atas tempat tidur, lalu duduk di sana, menunggu Adnan yang sedang mandi.
"Pakai itu dulu tidak masalah, kan? Nanti kalau sudah siang, biar Agil yang mengirim baju buat kamu," ucap Adnan saat menyadari Alisha masih memakai jubah mandi.
"Iya, enggak apa-apa," jawab Alisha sambil tersenyum. Ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, memperhatikan Adnan yang sedang melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai Adnan pun menghampiri Alisha dan ikut menyandarkan tubuhnya di sana.
"Masih sakit?" tanya Adnan, sambil menunjuk **** ***** Alisha dengan ekor matanya.
Alisha menggeleng, "Cuma agak perih aja," jawabnya, karena kenyataannya memang seperti itu, tidak begitu menyakitkan tapi membuat area intimnya sedikit membengkak.
__ADS_1
"Kalau mau lagi boleh enggak?" tanya Adnan sambil menatap Alisha yang juga menatapnya.
Wajah Alisha kembali bersemu merah, karena malu. Kenapa juga Adnan harus meminta ijin? Padahal itu haknya, kapan pun dia mau Alisha pasti tidak akan menolaknya. Alisha hanya membalas dengan senyuman, dan Adnan tahu jika itu tanda setuju.
Setelah mendpatkan persetujuan dari Alisha, tanpa menunggu lama ia sudah menyatukan bibir mereka. Lalu kembali melakukan hal yang sama seperti tadi malam, tapi kali ini Adnan bisa melihat jika Alisha benar-benar menikmatinya, membuat ia tak hanya melakukan sekali saja tapi berulang kali. Mereka bahkan terlihat kelelahan, dan kembali tertidur meski cahaya matahari sudah masuk menembus jendela kaca yang ada di kamar itu.
Adnan lebih dahulu terbangun saat mendengar ponselnya berbunyi, tapi ternyata Alisha juga terusik dengan bunyi ponsel tersebut.
"Siapa Mas?" tanyanya, masih bertahan di posisi ternyaman, dalam dekapan Adnan.
Pemuda itu meraih ponsel yang berada di atas nakas dengan satu tangan, karena tangan yang satunya menjadi bantal untuk Alisha.
"Agil, bentar ya aku angkat dulu," Adnan menerima telfon tersebut. Sedangkan Alisha kembali memejamkan mata di posisi semula, ia bahkan mengeratkan pelukannya pada sang suami.
"Masih pengen tidur lagi?" tanya Adnan setelah menyelesaikan bicaranya di telfon.
"Iya, capek banget, badanku kayak remuk rasanya," keluah Alisha, bukannya kasihan Adnan malah terkekeh mendengar keluahan Alisha. Ia sebenarnya juga sama, tapi lebih memilih diam, karena capek yang ia rasakan tidak sebanding kenikmatan yang ia dapatkan.
"Biar aku pijit ya," celetuk Adnan dan mendapatkan sambutan baik dari Alisha.
"Ih, Mas, jail banget deh," keluh Alisha saat Adnan tidak lagi meemijit punggungnya, tetapi memijit salah satu dari dua benda kembar milik Alisha.
Adnan terkekeh, tapi ia tak menghentikan perbuatannya, justru semakin menjadi. "Paling suka kalo mijit di sini, pas banget, enggak kekecilan apalagi kebesaran," celetuknya.
Alisha mencubit pinggang Adnan dengan kuat, tapi yang di pijit tidak bereaksi apa pun, justru makin semangat bermain-main di sana. Tiba-tiba Adnan merubah posisi tidurnya menjadi di atas tubuh Alisha. "Sekali lagi ya sayang, janji deh sekali aja ya," ucapnya memohon.
"Sepertinya aku ketagihan, tau gini, kenapa enggak aku paksa dari dulu aja," tambahnya sambil tersenyum menatap wajah Alisha.
"Janji sekali aja, aku capek banget, kayaknya enggak kuat kalo lebih dari sekali,"
"Terimakasih sayang," Adnan tersenyum bahagia, ternyata Alisha memenuhi permintaanya, padahal ia tadi hanya ingin menjaili istrinya itu, jika Alisha menolak ia juga tidak masalah, tapi jawabannya lain dan ia tidak mau melepaskan kesempatan yang di berikan oleh istrinya.
Entah sudah berapa banyak Adnan menanamkan bibitnya di rahim Alisha, ia hanya berharap semoga bibit yang ia tanam membuahkan hasil, ya meskipun mereka baru melakuakannya hari ini saja, toh berharap tidak ada salahnya, bukan?
"Terimakasih ya sayangku, meskipun lelah kamu tidak menolak permintaanku," ucap Adnan setelah menuntaskan hasratnya. Ia berbaring di samping Alisha lalu kembali mendekap tubuh istrinya, meskipun keringat masih bercucuran setelah pertarungan yang entah keberapa kali, pagi ini.
__ADS_1
"Enggak usah berterimakasih, harusnya aku yang minta maaf, karena udah nolak ajakan kamu waktu itu, jadi sebagai gantinya aku akan berusaha memenuhi keinginan kamu," timpal Alisha, ia menyesal karena waktu itu sudah menolak ajakan Adnan. Ia mengusap lembut seluruh wajah Adnan yang masih berkeringat lalu mendaratkan bibirnya di bibir Adnan, sekilas.
"I love you, istriku sayang," ucap Adnan.
"Love you too suamiku sayang," balas Alisha.
"Rasanya hari ingin tidak ingin berakhir, pengen gini terus, nginep lagi semalam ya," celetuk Adnan.
Alisha mencubit pinggang suaminya dengan keras, membuat Adnan mengaduh.
"Sakit sayang, duh," keluhanya sambil mengusap bekas cubitan Alisha.
"Habisnya kamu ngelunjak," ucap Alisha, cemberut. "Aku lapar tau enggak? Emang kamu enggak laapr?" tanyanya.
"Enggak, aku udah kenyang," jawab Adnan.
Alisha mengernyitkan dahinya, ia berfikir Adnan sudah sarapan tadi saat dirinya tertidur, tapi apa iya suaminya setega itu, ah tapi tidak mungkin, karena saat bangun tadi Adnan masih polos seperti saat ini.
"Kenyang makan apa Mas?" tanyanya, heran.
Adnan tersenyum, "Kenyang minum ini," jawabnya sambil menunjuk sesuatu di tubuh Alisha.
Bugh
Alisha memukul lengan Adnan, tapi pemuda itu justru terkekeh.
"Dasar mesum!" teriak Alisha.
"Udah ah, aku mau mandi, kalau gini terus beneran enggak jadi pulang hari ini," Alisah meloloskan diri dari Adnan sambil menyeret selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
"Mandi bareng ya sayang," Adnan menyusul Alisha, ia masuk ke dalam kamar mandi sebelum Alisha berhasil menutup pintu.
Kali ini Alisha tidak menolak, "Iya, tapi jangan macam-macam, aku capek," ucapnya.
Adnan mengangguk, ia memang benar-benar hanya ingin mandi berdua saja tidak lebih.
__ADS_1