Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Rejeki Tak Terduga


__ADS_3

Maaf sebelumnya, author baru bisa up. Sibuk karena besok mau pindah domisili ke luar pulau, doakan ya, semoga selamat sampai tujuan. Yang mau bertemu sama author bisa banget, besok pagi ketemuan di bandara Ahmad Yani semarang😁


.


.


.


.____________________


Pagi menjelang, arunika menerjang jendela kaca yang sudah terbuka tirainya sejak subuh tadi. Si empunya kamar masih sibuk dengan kegiatan masing-masing, Alisha baru saja menutup laptopnya, melirik jam sudah hampir pukul enam pagi, untung ia sempat mandi sebelum subuh tadi, menghilangkan kantuk yang melanda, jika tidak, bisa di pastikan akan telat masuk kuliah.


Sebelum subuh, gadis yang sudah menyandang sebagai seorang istri itu melanjutkan mengerjakan tugas yang semalam sempat terbengkalai karena drama yang ia dan sang suami mainkan, dengan jiwa yang masih sedikit melayang di alam mimpi, ia pun terus melanjutkan mengerjakan tugasnya. Dan tugas itu akhirnya selesai juga, ia bersyukur sekali meski tidak sempat membuat sarapan untuk dirinya dan sang suami.


Sedangkan Adnan, terlihat baru saja keluar dari kamar mandi, pemuda itu juga sempat menyelesaikan pekerjaannya yang ia tinggalkan semalam.


"Udah selesai tugasnya?" tanya Adnan.


"Alhamdulillah, udah, baru aja selesai. Gara-gara kamu sih, aku harus bangun pagi ngerjain tugas," gerutu Alisha, gadis itu sebenarnya malu berhadapan dengan Adnan karena kejadian semalam, tapi ia mencoba untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Tapi kamu suka, kan?" Adnan mengedipkan sebelah matanya.


Alisha berdecak, bukan itu yang di maksud Alisha tapi karena ia melihat foto Adnan itu dan membuat dirinya tidak jadi mengerjakan tugas, "Suka apanya? Yang ada buat aku kesel," keluhnya, "dah lah aku mau siapin sarapan," Alisha tidak mau membahas masalah semalam, apalagi pikiran Adnan berbeda dengan dirinya.


Masuk ke dapur dan mendapati sang Mama sedang menata sarapan di atas meja makan. Tentu saja ia terkejut, karena tak biasanya Mama datang sepagi ini, untung ia tak berpenampilan urakan seperti biasanya.


"Mama, tumben pagi banget udah di sini? Wah ini Mama yang masak?" tanya Alisha, ia melihat di meja makan ada nasi goreng sosis kesukaannya.


Alisha lebih dulu menyalami, memeluk dan mencium sang Mama.

__ADS_1


"Iya, Mama sengaja masak banyak mau di bagi ke kamu juga, Mama baru aja datang kok, tadi udah ngabarin Bik Ana suapaya enggak usah masak pagi ini," jelas Mama.


"Mama kangen sarapan bareng sama kamu," ucap Mama lagi setelah melepaskan pelukan Alisha.


"Mama, aku jadi terharu. Aku juga kangen banget sama Mama," timpal Alisha.


"Mama sama siapa?" tanya Alisha.


"Di antar supir. Oh iya suamimu mana?" belum juga Alisha menjawab, Adnan sudah masuk ke dalam ruang makan dengan setelan baju kerjanya.


"Pagi Ma," Adnan menyalami Mama mertuanya.


Mereka pun sarapan bertiga, meja makan pagi itu di penuhi celotehan Alisha yang memuji masakan Mama.


"Mama bersyukur kamu udah ada perubahan setelah menikah," celetuk Mama saat mengantar Alisha dan Adnan yang akan pergi ke kampus. Mama memperhatikan penampilan Alisha yang sudah tidak berpakaian bak laki-laki, tapi kini lebih feminim.


Alisha tersenyum, "Mama bisa aja," ucapnya.


"Nanti pulang kuliah, enggak usah jemput aku ya. Mau cari kado buat Lyra," ucap Alisha di tengah-tengah perjalanan mereka.


"Sama siapa?" tanya Adnan, ia menoleh sebentar ke arah Alisha.


"Sama temen, biasalah,"


"Cowok apa cewek?"


Alisha mentap Adnan, tumben sekali suaminya itu bertanya seperti itu. "Kamu kan tahu sendiri teman-temanku," ucap Alisha tak menjawab pertanyaan Adnan.A


Adnan menghembuskan nafas, "Baiklah," ucapnya pasrah.

__ADS_1


Tak lama mobil Adnan berhenti di depan fakultas Alisha, sebelum turun seperti biasa gadis itu menyalami Adnan terlebih dahulu. Tapi kali ini Adnan ingin mengerjai Alisha, setelah melihat jam masih ada waktu sepuluh menit lagi.


"Cuma cium tangan aja?" protes Adnan.


"Biasa seperti itu, kan?" tanya Alisha balik.


"Sama Mama aja cium pipi, masa sama aku enggak? Curang banget," Adnan pura-pura merajuk, ia sengaja seperti itu, apakah Alisha mau menurutinya atau tidak.


Alisha berdecak, ia memilih tak meladeni ucapan Adnan karena itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya, ia melepas seatbelt lalu membuka pintu mobil, tapi sayang pintu sengaja di kunci oleh Adnan.


"Kok di kunci sih? Aku mau ke luar, nanti telat," protesnya.


"Kalau permintaanku belum di turuti enggak akan aku buka kuncinya," ucap Adnan.


"Ck, yaudah, terserah. Aku bolos kuliah enggak apa-apa." Alisha melipat ke dua tangannya di dada, ia tidak mau menuruti perintah Adnan yang menurutnya membuat dirinya malu. Ia tidak akan pernah menuruti permintaan Adnan yang satu itu, terlalu malu.


"Yaudah, kalo gitu kita di sini sampai kamu mau nurutin permintaanku, kalau enggak mau ya enggak apa-apa, aku kuat meskipun sampai besok pagi,"


Alisha mentap Adnan tak percaya, "Yaudah, terserah," ucapnya lalu menyandarkan tubuh di sandaran kursi.


Tapi ia tak menyangka jika Adnan mendekat ke arahnya, karena ia bisa merasakan hembusan nafas Adnan di pipinya. Ia sengaja menjauhkan wajahnya, lalu menoleh ke arah Adnan, dan di saat yang sama Adnan kembali mendekatkan wajahnya, hingga terjadi hal yang tak di inginkan oleh Alisha. Karena di saat seperti itu ia tidak bisa mengelak sama sekali dan hanya bisa pasrah, bahkan saat Adnan menarik tengkuknya. Ia hanya diam menikmati sentuhan sang suami, hingga tersadar di mana mereka berada. Alisha lebih dahulu melepaskan diri, ia malu dan sangat malu, padah tadi menolak untuk mencium pipi, tapi saat bibirnya dengan leluasa Adnan kuasai ia hanya bisa pasrah.


Alisha segera membuka pintu, karena ternyata kuncinya sudah di buka oleh Adnan, ia tidak berani menatap wajah pemuda itu yang sedang tersenyum penuh kemenangan.


"Terimaksih, semangat kuliahnya ya," ucap Adnan, sebelum ia benar-benar keluar dari dalam mobil.


Alisha tidak menghiraukan ucapan Adnan, ia langaung lari setelah keluar dari mobil. Ia masih merasakan panas di wajah dan bibirnya, tapi tak urung ia pun tersenyum saat mengingat kejadian tadi.


Adnan pun sama, pemuda itu tersenyum bahagia, ia mendapatkan rejeki nomplok di pagi hari. Padahal niatnya tadi hanya mengerjai Alisha, ia jufa sebenarnya tadi hanya ingin mengecup sekilas pupi Alisha, tapi yang namanya rejeki tidak akan kemana, dan ia mendapatkan lebih dari yang ia inginkan.

__ADS_1


Setelah puas membayangkan wajah Alisha saat malu-malu tadi, ia pun kembali melajukan mobilnya menuju kampus, senyumnya tak pernah luntur, pagi ini pagi yang sangat membahagiakan untuknya.


__ADS_2