
Sejak tadi Alisha tak bisa tidur dengan tenang, hanya memejamkan mata tapi pikirannya melayang entah kemana. Membuka selimut yang menutupi seluruh wajahnya, ia menoleh ke arah belakang ternyata Adnan tidak tidur di sana, kenapa ia tidak merasakan pergerakan Adnan pergi? Berarti ia sempat tertidur tapi mungkin hanya sebentar. Melihat sekeliling, nihil Adnan tidak ada, ia memutuskan untuk turun dari tempat tidur, mencoba mencari Adnan. Mungkin pemuda itu berada di luar kamar.
Benar saja, Adnan duduk di sofa depan menopang kepalanya dengan kedua tangan yang di letakkan di atas paha, sepertinya pemuda itu pun tidak bisa tidur. Setelah melihat keberadaan Adnan, Alisha memutuskan kembali ke kamar sebelum pemuda itu menyadarinya, ia meraih ponselnya yang berada di atas nakas, ada beberapa pesan dari teman-temannya yang mengucapkan selamat atas pernikahannya. Iya mengabaikan pesan-pesan itu karena melihat salah satu pesan yang sangat menarik perhatiannya, yaitu pesan dari saudara kembarnya.
Abang
Kamu tenang aja, Yesha udah ketemu, dia baik-baik aja dan sekarang udah pulang ke rumah. Jaga diri baik-baik, kalau Adnan nyakitin kamu lagi, ngomong sama Abang, biar Abang yang urus.
Alisha tersenyum setelah membaca pesan dari Aufa, ia tidak menyangka jika Aufa begitu perhatian, padahal dulu waktu mereka masih SMA, Aufa selalu menyebalkan menurutnya. Ya, meskipun ia tahu, menyebabkannya Aufa itu karena sayang dengan dirinya.
"Alhamdulillah kalo Kak Yesha udah ketemu," gumamnya, lalu ia kembali merebahkan diri untuk kembali terlelap, karena ia sudah tidak khawatir dengan keadaan sepupunya itu.
Mencoba memejamkan mata, tapi tak bisa. Pikirannya melayang, memikirkan masa depannya dengan Adnan, akan seperti apa nantinya. Pernikahan yang di awali dengan kebohongan, apakah akan ada kebohongan-kebohongan lagi setelah ini atau tidak? Ia berharap cukup sekali saja Adnan membohonginya, jika ada ke dua dan ke tiga kalinya ia tidak akan mengampuni pemuda itu.
"Kamu belum tidur?"
Alisha terkejut mendengar suara seseorang, spontan ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Tidurlah, udah malem. Kakak kamu juga udah ketemu, jadi enggak usah khawatirkan dia," celetuk Adnan.
Bukannya menurut Alisha justru membuka selimutnya dengan kasar, ia menatap pemuda yang sudah resmi menjadi suaminya itu dengan tatapan penuh kecurigaan. Sedangkan Adnan yang di tatap begitu hanya bisa mengernyitkan dahi, bingung.
"Kenapa?" tanyanya tak mengerti.
__ADS_1
Alisha turun dari ranjang, mendekati Adnan yang berdiri di sisi tempat tidur. "Oh, jadi kamu enggak bisa tidur karena mikirin Kak Yesha? Iya sih, aku sadar kalau aku tidak ada di hati kamu, berbanding terbalik dengan keadaanku yang hati dan pikirannya hanya di penuhi oleh kamu dan kamu," entah kenapa Alisha merasa kesal saat Adnan menyebut nama Yesha. Ia merasa tak di anggap di sini.
"Bukan begitu Alis, aku juga merasa bersalah jika terjadi sesuatu sama dia, karena kekacauan ini terjadi juga karena aku, tidak ada hal lain lagi," ucap Adnan, ia mencoba mendekati Alisha, saat akan meraih ke dua tangan gadis itu, Alisha menepisnya dengan kasar.
"Percayalah, sedikit demi sedikit aku sudah menghapus namanya di hatiku, menggantikannya dengan namamu,"
"Apa aku haru percaya? Sedangkan kamu sudah pernah berbohong pada ku, bahkan sejak pertama kita bertemu," lirih Alisha, gadis itu sudah menitipkan air matanya yang keluar tanpa permisi.
"Aku harus apa supaya kamu percaya? Katakan, aku harus bagaimana?" Adnan berlutut di hadapan Alisha yang masih berdiri di posisi semula.
Bukannya menjawab pertanyaan Adnan, Alisha justru meninggalkan Adnan yang masih berlutut di hadapannya. Menyeka air mata yang semakin menderas, lalu ia ke berlari ke arah balkon kamar. Menutup pintu balkon dengan keras, membuat Adnan menoleh ke arah datangnya suara.
Sedangkan Adnan, meremas rambutnya frustasi. Ia semakin bingung dengan keadaan ini, bingung harus mengambil sikap seperti apa? Tapi yang harus ia lakukan sekarang adalah meminta maaf pada ke dua gadis itu, terutama pada istrinya. Meyakinkan Alisha jika dirinya memang sudah benar-benar melupakan Yesha.
"Mungkin gue emang enggak pantes buat di cintai," lirihnya.
Adnan tidak menyerah begitu saja, ia menyusul Alisha ke balkon. Merengkuh gadis itu, berharap rengkuhannya bisa meredakan tangis Alisha. Tapi apa yang di lakukan Alisha? Gadi itu memberontak sekuat tenaga, melepaskan diri dari rengkuhan Adnan.
"Lepas, lepas!" seru Alisha
Adnan pun sekuat tenaga untuk tidak melepaskan pelukannya.
"Dasar pemaksa!" teriak Alisha, membuat Adnan seketika melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Jangan pernah sentuh aku kalau di hati kamu masih ada wanita lain!" ucap Alisha penuh penekanan setelah terlepas dari pelukan Adnan.
"Aku minta maaf, baiklah kalau itu mau kamu, aku bisa apa?" Adnan pasrah, ia menuruti apa kata Alisha.
Bukannya senang, Alisha justru nampak bertambah kesal setelah mendengar jawaban Adnan. Padahal dalam pikirannya Adnan tidak pasrah seperti saat ini, ia butuh di perjuangkan tapi nyatanya Adnan justru pasrah membuatnya semakin kecewa.
Ia kembali masuk ke dalam kamar, lagi-lagi meninggalkan Adnan seorang diri. Mulai saat ini ia akan melihat kesungguhan Adnan terhadap dirinya? Apakah ucapannya serius atau hanya bualan semata?
Alisha memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper, ia berniat meninggalkan kamar pengantin itu, mungkin akan mencari kamar lain suapaya tidak satu kamar dengan Adnan, karena ia ingin sendiri tanpa gangguan siapa pun.
"Jangan pergi! Ini sudah larut malam kamu mau kemana?" tanya Adnan, pemuda itu ikut masuk ke dalam kamar setelah Alisha masuk.
Tidak mendapatkan jawaban, Adnan pun berujar kembali, "Kamu tetaplah di sini, aku akan tidur di luar, kalau memang kamu butuh waktu sendiri,"
Alisha menghembuskan nafas kasar, ia kembali meletakkan kopernya dengan gerakan kasar pula, melampiaskan kekesalannya yang terus bertambah saat melihat atau pun mendengar Adnan bertutur kata. Alisha menutup pintu kamar dan menguncinya setelah Adnan ke luar. Ia merebahkan diri di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.
"Mungkin gue egois, tapi emang itu yang harus gue lakuin sekarang, kalau gue pasrah gitu aja semuanya pasti akan bertambah kacau, biarlah Kak Yesha merasa tersakiti saat ini, gue yakin dia bakalan sembuh dalam waktu dekat," gumam gadis itu membayangkan wajah cantik sepupunya.
"Tapi besok gue harus ngomong sama dia," Alisha menghembuskan nafas kasar, ia bingung harus bersikap seperti apa besok ketika bertemu dengan Yesha? Apakah ia yang harus minta maaf duluan atau Yesha yang harusnya minta maaf karena telah membuat kekacauan di acara resepsi pernikahannya. Ah, bukannya keduanya sama-sama bersalah?
Alisha semakin di buat bingung, akhirnya ia memutuskan untuk memejamkan mata, akan memikirkan itu semuanya besok saja. Karena jujur ia sangat-sangat lelah sekali, lelah fisik dan juga hatinya.
Adnan ke luar menuju ruang tamu, karena di hotel yang mereka tempati ada penyekat antara kamar dan ruang tamu. Merebahkan diri di atas sofa sambil menatap langit-langit kamar. Perasaannya campur aduk tak karuan, bahkan luka di wajahnya akibat jajaran dari Angkasa tidak terasa sakit sedikit pun. Ia sadar semua kekacauan ini bermula dari kesalahan dan keegoisannya.
__ADS_1
Lama Adnan memikirkan masalah yang sedang ia hadapi saat ini, hingga tanpa terasa matanya terpejam entah pukul berapa.