
Matahari telah meninggi, bahkan cahayanya menelusup ke dalam celah jendela yang tirainya masih tertutup rapat. Seseorang masih terbalut selimut tebal di atas ranjang, terlelap dengan damainya. Setelah semalam melakukan aktifitas panjang hingga subuh menjelang, Alisha kembali tertidur setelah melaksanakan sholat subuh, berbeda dengan sang suami yang sudah berangkat bekerja beberapa jam yang lalu.
Adnan sengaja tidak membangunkan sang istri ketika akan berangkat bekerja, ia tidak mau mengganggu tidur lelap Alisha yang sepertinya kelelahan akibat olah raga semalam. Sebenarnya Adnan juga masih ingin malas-malasan di atas kasur seperti istrinya, tapi tidak mungkin karena ia harus bekerja apalagi pagi ini ada rapat dosen di kampus tempat ia mengajar. Meskipun tubuh terasa lemas, karena sebelum berangkat ke kantor tadi ia sempat mual karena mencium aroma masakan yang tidak ia sukai, alhasil ia tidak sarapan di rumah.
"Assalamualaikum, Bik. Alisha mana?" tanya Mama yang baru saja turun dari mobil. Bertemu Bik Ana di halaman depan yang menyirami tanaman.
"Wa'alaikumussalam, Buk. Non Alisha masih di kamar belum ke luar sejak tadi, Buk," jawab Bik Ana apa adanya.
"Suaminya juga?"
"Enggak Buk, Den Adnan sudah berangkat bekerja,"
Mama mengangguk, lalu berpamitan pada Bik Ana. Ia ingin segera bertemu dengan putrinya itu, setelah semalam mendapatkan kabar dari dokter Hanny jika Alisha sedang hamil. Semalam dalam acara jamuan makan malam klien sang suami, Mama Icha kebetulan bertemu dengan dokter Hanny yang ternyata juga mendapatkan undangan jamuan makan malam tersebut.
Pagi ini, Mama sudah tidak sabar ingin menanyakan langsung pada Alisha. Karena anaknya itu belum memberi tahu jika sedang hamil.
Mama Icha beberapa kali mengetuk pintu kamar Alisha, namun tidak ada jawaban dari dalam, membuat Mama berinisiatif untuk membuka pintu kamar tersebut yang ternyata tidak di kunci. Mama hanya bisa menggelengkan kepala ketika melihat sang putri masih bergelut dengan selimut, bahkan sepertinya tidak terusik dengan kehadirannya.
"Bangun Sha, jam segini kok masih molor." Mama menggoyangkan tubuh Alisha, sambil berusaha melepas selimut yang menutup tubuh putrinya itu.
Alisha terlihat menggeliat, tapi belum juga membuka matanya, "Bentaran Mas masih ngantuk, kamu berangkat aja," gumamnya tidak jelas.
"Ini Mama Sha, suami kamu udah berangkat kerja dari tadi," ucap Mama yang kini telah berhasil meraih selimut yang menutup tubuh Alisha.
Perlahan-lahan Alisha membuka matanya, "Mama? Kok ada di sini?" tanyanya. Ia sedikit terkejut melihat keberadaan sang Mama karena menurutnya ini masih pagi buta.
"Emang jam berapa sih, Ma?" tanyanya lagi karena tidak mendapat jawaban dari pertanyaan sebelumnya.
__ADS_1
"Jam sembilan, perempuan, ibu, istri, kok jam segini belum bangun. Malu-maluin Mama aja, pasti tiap hari libur kaya gini, kan?" Mama mengomeli Alisha karena kelakuan putrinya itu masih sama saja seperti sebelum menikah.
"Ih Mama, bukannya peluk dan cium anaknya, malah ngomel. Apa itu cara Mama mengobati rasa rindu sama anaknya?" protes Alisha sambil mengerucutkan bibirnya, terlihat seperti Cantika yang sedang merajuk.
Bukannya marah Mama justru tertawa mendengar rengekan Alisha, lalu beringsut memeluk tubuh putri satu-satunya itu. "Kamu masih saja putri kecil Mama yang bandel yang sukanya bikin orang tua kalang kabut karena perbuatan kamu," ucapnya sambil memeluk Alisha.
Alisha kembali cemberut mendengar penuturan Mama, "Itu kan masa lalu Ma, sekarang udah enggak," ucapnya.
"Iya, iya. Sekarang, kan udah ada pawangnya," ucap Mama sambil terkekeh.
"Mama bisa aja," kali ini Alisha terkekeh mendengar penuturan Mama.
Selanjutnya mereka saling menanyakan kabar masing-masih, tak lupa Mama menanyakan kabar yang ia dapat dari dokter Hanny semalam, betapa bahagianya Mama ketika Alisha membenarkan ucapan dokter Hanny.
"Jaga calon cucu Mama dengan baik ya sayang, Mama sudah enggak sabar pengen nimang cucu," Mama mengelus perut rata Alisha yang terbalut dress.
"Bunda sudah kamu beri tahu? Pasti belum, kan?" tebakan Mama benar sekali karena Alisha mengangguk mendengar pertanyaan sang Mama.
Setelah itu, Mama benar-benar menelfon Bunda Ayu dan satu jam kemudian Bunda Ayu sudah berada di kediaman anaknya itu.
🌻🌻🌻
Tiga wanita berbeda generasi itu saling bertukar pikiran, membicarakan hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan oleh ibu hamil, terutama Mama yang lebih banyak berbicara, tentunya karena Mama lebih berpengalaman, sedangkan Bunda meskipun tidak pernah mengandung tapi sedikit tahu tentang masalah kehamilan. Alisha menjadi lebih bersemangat setelah mendapatkan wejangan dari Mama dan Bunda tentang kehamilan, ya meskipun dia juga sempat membaca beberapa artikel dari internet, tapi rasanya kurang jika belum mendengar langsung.
Keseruan mereka berahir ketika sore hari, Bunda harus segera pulang karena akan menyambut kedatangan Ayah dari luar negri. Sedangkan Mama berencana untuk menginap di rumah Alisha.
"Ma, kemarin dokter Hanny cerita sama aku, katanya Mama pernah keguguran, emang iya Ma? Terus kenapa bisa keguguran, Ma?" sejak tadi Alisha ingin menanyakan hal tersebut, tapi ia merasa tidak enak karena masih ada Bunda di sana.
__ADS_1
"Iya bener, Mama memang pernah keguguran. Ya karena kecerobohan Mama sendiri, jadi Mama keguguran, apalagi saat itu Mama baru aja lulus SMA, masih suka pecicilan, ya gitu lah," jawab Mama sambil meracik bumbu. Saat ini mereka sedang berada di dapur, membuat makanan untuk makan malam.
Tentu saja Mama tidak mau jujur tentang alasan kegugurannya, ia tidak mau menimbulkan titik kebencian untuk Alisha pada seseorang yang dulu melukainya, karena Mama sudah benar-benar ikhlas bahkan sekarang mereka berteman. Apalagi saat mengetahui nasib temannya itu kurang baik, sebenarnya Mama juga kasihan melihat kehidupan temannya itu, tapi Mama tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku kira ada kejadian apa gitu Ma, soalnya Tante Hanny serius banget pas ngomong itu," untungnya Alisha percaya dengan alasan Mama, membuat Mama bernafas lega dan tidak harus membuka luka lama yang sudah sembuh.
Mama diam tidak menimpali ucapan Alisha, justru merubah topik supaya tidak membahas hal itu lagi, "Suami kamu biasanya pulang jam berapa, Sha?" tanyanya.
Alisha melihat pergelangan tangannya sebentar, "Bentar lagi Ma," jawabnya.
"Masih ngajar di kampus?" tanya Mama lagi.
"Masih Ma, sebenarnya aku sudah menyuruh untuk resign, tapi belum mau, katanya masih bisa menghandle semuanya, nanti kalau sudah merasa kewalahan baru mau resign, gitu katanya," jawab Alisha.
Mereka berdua kembali mengobrol, kini berbicara tentang kehidupan sehari-hari Alisha, dari mulai mengurus rumah tangga hingga mengurus Cantika.
Tak lama Adnan benar-benar pulang, dengan wajah lusuhnya. Membuat Mama mengernyitkan dahi saat melihat kedatangan menantunya itu. Karena biasanya Papa selalu terlihat segar meskipun bekerja seharian, pulang dengan senyum bahagia apalagi saat Mama menyambut kedatangannya.
"Kamu sakit?" tanya Mama setelah menerima uluran tangan dari sang menantu.
"Aku lupa cerita, kalau Mas Adnan yang ngalamin ngidamnya aku, Ma," Alisha yang menjawab pertanyaan Mama.
"Ya Allah, kasian banget. Mama jadi inget temen Mama, dia pas hamil juga suaminya yang ngidam bahkan suaminya itu sampai enggak bisa kerja. Kamu yang sabar ya Nak, demi calon anak kalian." Mama menepuk pundaknya sekilas.
"Makasih Ma," setelah itu Adnan berpamitan untuk membersihkan dirinya di kamar.
"Mas Adnan itu gitu kalau jauh dari aku Ma, katanya di kantor bawaannya lemes, pengen tidur aja dan kurang enak badan kalau aku enggak ada di sampingnya, tapi kalau ada aku biasa aja Ma, aneh kan?" Alisha kembali menceritakan keanehan yang terjadi pada suaminya, semenjak ia mengetahui jika dirinya hamil.
__ADS_1
"Itu tandanya, suamimu sangat mencintai kamu, Sha. Harusnya kamu bersyukur punya suami kaya Adnan, dia baik, sholeh, bertanggungjawab dan sepertinya juga enggak neko-neko, kamu harus pandai menjaga hatinya, jangan pernah sekalipun menghianati cinta tulusnya, karena orang seperti Adnan itu sekali di bohongi dia sulit percaya lagi dengan si pembohong,"
Alisha membenarkan ucapan Mama dalam hati, karena Alisha pernah mengalaminya. Ya, ketika dia berkumpul dengan teman-temannya, Adnan sering kali tidak percaya jika dia tidak memberikan bukti yang bisa di mengerti, seperti foto tempat dan foto dirinya bersama temannya.