Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Puncak 3


__ADS_3

Adnan makin penasaran setelah mendengar ucapan istrinya, tapi ia masih bisa bersabar mengingat mereka masih berada di kota Bogor. Perjalanan yang sedikit terhambat karena kemacetan yang terjadi, membuat mereka menghabiskan waktu lebih lama di perjalanan. Lelah, tentu saja mereka rasakan, terutama sang sopir. Meski begitu Adnan tak pernah mengeluh bahkan ia selalu bahagia mengingat perjalanannya bersama orang-orang tercinta.


"Istirahat dulu Mas, apa kamu enggak capek?" tanya Alisha saat melihat suaminya langsung membuka laptop ketika sampai di dalam kamar.


"Rasa capek ku kalah dengan rasa penasaran," jawab Adnan.


Alisha terdiam, ia ikut duduk di sofa seperti yang Adnan lakukan. Tapi yang ia lakukan justru menutup layar laptop dengan gerakan pelan.


Adnan mengernyitkan dahi saat melihat kelakuan sang istri, "Kok di tutup?" tanyanya.


"Percuma, kamu tidak akan menemukan info apa pun di sana, kecuali silsilah keluarga itu," ucap Alisha dengan santainya. Ia tadi sengaja bersikap terkejut di hadapan Adnan, padahal ia hanya ingin membuat suaminya itu penasaran.


"Lagian kita ke sini mau liburan, bukan mau mengorek informasi tentang keluarga itu, lagian kamu mau pusing-pusing cari sendiri, belum tentu juga hasilnya memuaskan. Serahkan saja sama orang lain yang ahli dalam bidangnya," tambahnya saat melihat wajah Adnan yang masih terlihat bingung.


Adnan menghembuskan nafas, lalu ia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, meletakkan kedua tangan di belakang kepala, sambil menatap langit-langit kamar.


"Kenapa aku enggak kepikiran sampai situ ya?" tanyanya lebih pada diri sendiri.


"Ya karena kamu terlalu panik, makanya biar enggak panik ayo kita jalan-jalan sekarang," rengek Alisha sambil menarik-narik kemeja sang suami, tingkahnya bahkan melebihi Cantika.


"Ini sebenarnya yang mau jalan-jalan Cantika apa Mamanya sih? Kok Mamanya yang rewel? Padahal Cantika diam aja." Adnan meraih tubuh sang istri ke dalam pelukannya, ia gemas melihat tingkah Alisha yang makin lama justru makin manja, mungkin karena efek dari kehamilannya.


"Yang mau itu bukan Mamanya, tapi dedek bayi," alasan yang sering di ucapkan ibu hamil ketika menginginkan sesuatu. Kasian sekali bukan? Anaknya dijadikan kambing hitam.


"Itu mah alasan kamu aja, bilang aja kalau Mamanya yang mau, aku juga enggak akan keberatan,"


"Iya deh Mamanya yang mau, makanya ayo!" Alisha melepaskan diri dari pelukan sang suami.


"Iya, bentar aku mau telfon orang kepercayaan Ayah dulu, biar dia bisa cari info tentang keluarga Raharjo secepatnya," ucap Adnan, setelah itu ia pun menghubungi seseorang dan berbicara panjang lebar, hingga Alisha merasa bosan mendengarkan pembicaraan sang suami di telfon, memilih untuk keluar kamar menemui Cantika.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Akhirnya sore hari mereka baru ke luar dari villa, karena tadi Cantika masih terlelap di alam mimpi. Alisha yang siang tadi merasa bosan, akhirnya memilih untuk mengelilingi villa, karena sudah beberapa kali ke villa ini tapi ia belum sempat berkeliling, biasanya hanya ia habiskan untuk bermalas-malasan di kamar.


"Karena hari sudah sore, jadi kita tidak bisa ke kebun stroberi sekarang, enggak apa-apa kan sayang?" tanya Alisha.


Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil.


"Besok Papa janji ajak kamu ke kebun stroberi deh, nanti liburan kita tambah sehari,"


"Iya Ma, Pa, besok aja. Tadi Cantika ngantuk sih, jadi tidur deh," gadis kecil itu sepertinya menyesal karena tertidur tidak tepat waktu dan jalan-jalan ke kebun stroberi akhirnya gagal.


"Sekarang Cantika pengennya ke mana?" tanya Alisha.


"Ada pasar malam enggak Ma?" bukannya menjawab Cantika justru bertanya balik.


"Ada sayang, Cantika mau ke pasar malam? Oke kita ke pasar malam ya, makan malam dulu baru kita naik permainan di sana," ucap Adnan, membuat Alisha mengurungkan niatnya untuk membuka mulut


Alisha tersenyum bahagia melihat kebahagiaan Cantika, ia paham dan sangat paham sekali, jika selama di panti Cantika tak pernah sekali pun berwisata. Selain membutuhkan biaya banyak, berwisata sepertinya juga tidak ada dalam agenda tahunan panti.


"Cantika pernah ke pasar malam?" tanya Alisha.


Cantika menggeleng, "Enggak pernah Ma, kata Bu panti anak kecil enggak boleh ke pasar malam, nanti kalo ada orang jahat enggak ada yang menolong," jawab Cantika, polos.


"Berarti seneng dong kalo sekarang mau ke pasar malam?" kini Adnan yang bertanya.


"Seneng banget Pa, makasih ya, mau ajak Cantika ke pasar malam," Cantika memeluk Adnan lalu bergantian memeluk Alisha.


Adnan sengaja menyuruh Pak Joko untuk menjadi sopir, karena ia merasa lelah. Alhasil, Anita tidak ikut serta bersama mereka. Alasan sebenarnya, Alisha ingin menikmati masa liburan bersama Cantika, sebelum ia kembali melakukan aktifitas rutinnya, yaitu kuliah.

__ADS_1


Tak lama mereka pun sampai di tempat tujuan. Seperti yang mereka rencanakan sebelumnya, setelah sampai di tempat itu mereka pun memilih untuk makan malam terlebih dahulu. Adnan dan Alisha benar-benar memanjakan Cantika, memberi kebebasan pada Cantika untuk memilih menu makanan sendiri dan hasilnya, gadis kecil itu memilih banyak menu makanan, tapi beberapa ada yang di bawa pulang ke villa.


Setelah makan malam, mereka menuju wahana permainan, sejak tadi Adnan selalu mengatakan, "Kamu enggak usah ikut naik, kali ini jadi penonton setia dulu, biar aku yang nemenin Cantika," alasan Adnan mengatakan seperti itu karena ia khawatir terjadi sesuatu pada kandungan Alisha.


Dengan cemberut, Alisha pun mengiyakan permintaan sang suami. Meski begitu Alisha tetap bahagia ketika melihat sang suami dan Cantika tertawa-tawa di atas wahana, ia pun ikut tertawa sambil mengarahkan kamera ponselnya ke arah suami dan anaknya.


Saat ia memeriksa hasil jepretannya, tiba-tiba tepukan di pundak mengejutkannya.


"Wah, kita ketemu lagi ya. Kalian di sini juga?" tanya seseorang yang menepuk bahunya itu.


Alisha memaksakan diri untuk tersenyum, ia belum bisa bersikap baik dengan orang yang baru di kenalnya ini, apalagi orang itu memiliki perasaan terpendam terhadap sang suami.


"Iya, kami liburan," jawab Alisha singkat, ia sengaja tidak bertanya balik supaya wanita ini pergi dari hadapannya tanpa ia usir.


Ya, wanita itu adalah Angel. Ia datang bersama putranya.


"Wah, seru dong liburan bareng suami," celetuk Angel.


Alisha hanya tersenyum menanggapi.


"Enggak ikutan naik nih? Ayo ikut naik, aku mau naik nemenin anak," ucap Angel.


"Enggak, silakan kalau mau naik," Alisha tersenyum lega setelah kepergian Angel.


"Bisa-bisanya dia ada di mana-mana? Kaya hantu aja, apa jangan-jangan dia beneran hantu lagi? Ihh, kan serem, gue kok jadi merinding gini sih," gerutu Alisha, ia melihat sekeliling, banyak orang dan ini bukan di tempat terbuka, tapi kenapa ia merasa takut.


"Pak Joko sini deh." Alisha melambaikan tangan ke arah Pak Joko yang duduk tidak jauh dari arahnya.


"Kenapa Neng?" tanya Pak Joko.

__ADS_1


"Sini aja Pak, saya kok takut," ucap Alisha, jujur.


Setelah Pak Joko berdiri di belakangnya, ia pun kembali fokus pada suami dan anaknya, tapi ia justru terkejut mendapati pemandangan di hadapannya.


__ADS_2