
Sudah hampir senja, tapi Alisha belum menampakkan batang hidungnya, membuat Adnan khawatir terjadi sesuatu pada gadis itu, apalagi Rian sejak tadi tidak bisa di hubungi. Ia yang tadinya sedang mengecek pekerjaannya menjadi gelisah, lalu menutup laptopnya. Melihat jam dinding di kamarnya, namun jarum jam seakan enggan bergeser, saking tidak percayanya dengan jam dinding ia pun melihat jam di ponselnya dan ternyata sama.
Ia tentu saja khawatir dengan Alisha, jika gadis itu kenapa-kenapa ia akan merasa tidak enak dengan mertuanya karena telah gagal menjaga Alisha, bahkan belum genap seminggu mereka menikah, semua orang akan berkata apa nantinya, jika Alisha benar-benar pulang dengan tidak baik-baik saja.
Baru saja ia akan turun, tapi ia mengurungkan niatnya saat mendengar deru mesin mobil berhenti di depan rumah, ia yakin pasti itu Alisha. Dan benar saja saat ia mengintip lewat jendela yang mengarah ke halaman depan, mobil Alisha berhenti di sana, lega rasanya melihat Alisha pulang dengan selamat. Ia pun memilih untuk menunggu Alisha di depan pintu kamar dengan memasang wajah seramnya.
Cklek
Pintu terbuka dan nampaklah Alisha, dengan pakaian andalannya. Gadis itu terlihat ketakutan saat mendapati Adnan berdiri di hadapannya dengan melipat kedua tangan di dada.
"Kamu dari mana Alisha Noureen? Pergi enggak pamit, pulang ngendap-endap kaya pencuri aja," tanyanya penuh selidik, membuat Alisha memalingkan wajah tak mau menatap wajah seramnya.
Karena tak mendapatkan respon dari Alisha, Adnan pun mendekat, ia menjulurkan tangannya ke hadapan Alisha, "Selamat ya, kamu menang, meskipun jadi runner-up," ucapnya.
Alisha terkejut mendengar ucapan Adnan, di luar ekspektasi nya, ternyata Adnan tidak marah dengan dirinya. Ia menatap tangan suaminya itu, lalu bergantian menatap netranya.
"Jangan menatapku seperti itu?" ucap Adnan sambil terkekeh, karena berhasil mengerjai Alisha.
Alisha menjadi salah tingkah, lalu ia menerima uluran tangan Adnan, "Makasih, tapi kamu tau dari mana kalau aku iku balapan? Kamu enggak marah?" tanya Alisha hati-hati.
"Soal tahu dari mana itu tidak penting," Adnan menatap Alisha yang masih salah tingkah karena malu, "Aku marah sebenarnya, marah karena kamu enggak ngajakin aku ke sana. Aku kan pengen liat kamu beraksi," Adnan tersenyum.
Alisha lagi-lagi terkejut dengan ucapan Adnan, "Apa aku enggak salah denger?" tanyanya.
"Menurut kamu?"
"Serius kamu enggak marah, kan?" Alisha memastikan takut-takut Adnan hanya mengeprank saja.
"Aku marah, iya aku marah. Pertama marah karena kamu udah bohong, ke dua karena kamu pergi tanpa pamit, buat aku bingung, ke tiga karena kamu enggak ngajakin aku ke sana," Adnan menatap Alisha serius, "Lain kali ajak aku kalau mau balapan, biar bisa liat kamu," tambahnya.
"Tapi inget, enggak boleh ikut balapan liar," Adnan berbalik meninggalkan Alisha yang masih terbengong di tempat.
Alisha tersadar dari lamunannya, lalu dia mengikuti Adnan yang sudah duduk di sofa, ia ikut duduk di sisi Adnan. Tanpa terduga Alisha memeluk tubuh suaminya itu, "Makasih, kamu enggak marah sama aku, aku janji lain kali akan pamit kalau pergi, akan ajak kamu juga kalau ke arena," ucapnya, lalu ia segera melepaskan pelukannya.
"Tapi aku masih marah ya, kamu harus di hukum karena kesalahan hari ini," ucap Adnan.
__ADS_1
Alisha berdecak, kesal, "Tadi aja ngucapin selamat, sekarang mau menghukum," ucapnya, lalu beranjak dari duduknya meninggalkan Adnan.
"Apa hukumannya?" tanyanya. Ia meletakkan jaket yang baru saja di lepas.
"Nah gitu dong, buatin aku makan malam, sup buntut lada hitam. Jangan minta bantuan Bik Ana, kalau sampai minta bantuan nanti hukumannya lebih berat, terus satu lagi kalau tidak enak besok pagi harus masak dengan menu berbeda sesuai permintaanku, dan kalau besok masakannya masih enggak enak, siangnya juga kamu yang masak begitu seterusnya sampai rasanya enak menurutku," ucap Adnan tanpa dosa.
Alisha terperangah mendengar ucapan Adnan, mana bisa dia memasak? Apalagi itu sup buntut? Dia memang sudah belajar memasak, tapi hanya masakan sederhana saja, seperti goreng telur, membuat nasi goreng dan menggoreng ikan, selain itu dia tidak pernah.
"Hukuman macam apa itu? Yang lain lah," Alisha mengiba, ia sudah pesimis dulu sebelum mencoba, ia merasa pasti akan gagal kali ini.
"Oke kalau enggak mau yang itu, hukumannya buatin aku makan malam selama satu bulan penuh, aku yang nentuin masak apa, gimana? Mau yang pertama apa yang ke dua?" tanyanya.
"Itu mah sebelas dua belas alias sama aja, yaudah aku pilih opsi pertama,"
Adnan tersenyum mendengar ucapan Alisha, sebenarnya ia memberi hukuman itu untuk kebaikan Alisha juga.
Alisha memilih untuk mandi terlebih dahulu, setelah itu ia turun ke dapur membuat sup yang Adnan minta. Ia melihat tutorial memasak di media sosial, berharap masakannya enak supaya tidak mendapatkan hukuman lagi.
"Ya Allah Non! Ini dapur kaya habis kena gempa aja, Non buat apa sih? Sini biar Bibik aja Non," Bik Ana terkejut mendapati area kekuasaannya berantakan seperti kapal pecah, bahan masakan berserakan di lantai bahkan ada tumpahan minyak. Peralatan dapur yang tak terpakai ke luar dari tempat persembunyiannya, belum di kembalikan lagi.
"Jangan Bik, nanti aku di hukum lagi sama Adnan! Bibik diam dan duduk aja di sana, bereskan nanti kalau aku udah selesai," Alisha mencegah Bik Ana yang akan membantunya.
"Iya deh iya Bik, aku lupa," Alisha tidak marah sama sekali mendapatkan teguran dari Bik Ana, ia justru senang karena Bik Ana perhatian.
Bik Ana geleng-geleng kepala melihat kondisi dapur, alamat dia akan tidur sampai larut malam karena membereskan dapur dulu.
"Udah mateng belum? Aku dah lapar," Adnan masuk ke dapur tanpa dosa, ia tidak tahu saja jika sang koki sedang berusaha membuat makanan pesanannya.
Koki yang sama sekali tidak profesional itu hanya berdecak sebal mendengar ucapan Adnan, ia masih bersusah payah menuruti permintaan sang raja.
"Kamu masak apa perang?" tanya Adnan saat melihat keadaan dapur yang berantakan.
"Menurut kamu? Ya, perang lah, perang sama panci dan kawan-kawannya. Orang aku enggak bisa masak," jawab Alisha mengada-ada.
Adnan terkekeh mendengar ucapan Alisha, "Yang sabar ya Bik, ini cobaan. Punya majikan enggak bisa masak, tapi tenang aja Bik, nanti Alisha pasti bantuin Bibik," ucap Adnan, tersenyum menatap Bik Ana.
__ADS_1
"Sudah biasa Den, Non Alisha selalu nyusahin Bibik dari dulu," timpal Bik Ana.
Alisha membawa mangkuk berisi sup yang baru saja ia masak ke ruang makan, "Kamu harus enak rasanya, kalau tidak aku akan di hukum lagi," ucap Alisha pada sup yang ia bawa. "Kerja sama lah sama aku," ia seperti berbicara dengan mahluk hidup saja.
Adnan mengikuti Alisha ke ruang makan, sedangkan Bik Ana mulai membereskan dapur yang berantakan tersebut.
"Ayo di coba, ini pasti enak. Aku tadi liat tutorialnya di sosmed milik koki ternama," ucap Alisha percaya diri, ia menyerahkan semangkuk kecil sup yang baru saja ia ambil pada Adnan.
Adnan pun menerima sup tersebut, sebelum mencicipi rasa supnya, ia lebih dulu mencium bau sup tersebut, "Baunya sih wangi, bau lada hitam, tapi rasanya belum tau, aku coba ya," Adnan memasukkan satu sendok sup ke dalam mulutnya, ia bersusah payah menelan sup tersebut.
"Gimana? Enak kan?" tanya Alisha masih penuh percaya diri.
"Sini kamu coba, nanti kamu akan tahu rasanya seperti apa? Pasti tadi enggak di cobain, kan?" Adnan menyendok sup tersebut lalu menyuapi Alisha. Baru saja masuk ke dalam mulut, Alisha langsung memelototkan bola matanya.
"Week, kok bisa manis banget gini sih? Apa aku tadi salah ngasih garem ya, perasaan tadi yang aku masukin garam deh bukan gula,"
"Hukuman akan berlanjut, besok," ucap Adnan.
"Terus kita makan malam gimana?" tanya Alisha lesu. Ia sebenarnya sudah sangat lapar sekali.
Ting Tong
Ting Tong
Ting Tong
Adnan tidak menjawab pertanyaan Alisha, ia memilih untuk membukakan pintu. Tak lama Adnan masuk ke ruang makan dengan membawa tiga paper bag di tangannya.
"Kamu udah pesen makanan? Kapan?" tanya Alisha penasaran.
"Tadi, karena aku tahu masakan kamu pasti tidak sesuai permintaanku," ucap Adnan lalu mengeluarkan isi dalam paper bag tersebut.
Alisha terperangah mendengar ucapan Adnan, "Kamu meremehkan aku kalau gitu, huhf," Alisha terlihat kesal, tapi Adnan tidak menghiraukannya.
"Udah makan aja, katanya lapar," ucap Adnan.
__ADS_1
Akhirnya mereka menikmati makan malam dengan diam, tanpa ada yang mau memulai pembicaraan.
__________________________________________