Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Tempat Terindah


__ADS_3

"Tunggu!" Alisha menghentikan langkah Adnan dengan menarik tangannya supaya suaminya itu kembali duduk.


"Kenapa?" tanya Adnan yang menghentikan langkahnya, ia kembali mendudukkan diri di sisi Alisha.


"Masih ada yang belum kamu jelaskan," Alisha menatap Adnan penuh tanya.


"Maksudnya?" Adnan tidak mengerti apa yang di maksud Alisha.


"Aku ingat banget, waktu itu cowok yang sering aku temui dan kasih makanan namanya bukan Adnan, tapi Bintang. Berarti bukan kamu, kan?"


Adnan tersenyum, ia bari ingat akan hal itu, "Memang dulu namaku Bintang," jawab Adnan.


"Orang tua angkatku yang dulu pernah bercerita, kalau mereka ingin aku menjadi bintang di keluarga mereka, terutama bintang untuk ayah dan ibuku, tapi sayang mereka telah tiada saat ini," wajah Adnan mendadak murung, mungkin karena mengingat kedua orang tua angkatnya yang telah tiada.


Alisha menyadari itu, meraih salah satu tangan Adnan lalu ia genggam, memberi kekuatan pada suaminya. Adnan pun tersenyum seakan mengatakan 'aku baik-baik saja' dan Alisha pun membalas senyum suaminya itu.


"Kematian kedua orang tua angkatku seperti di rencanakan, tapi sampai saat ini tidak di temukan siapa yang berada di balik kecelakaan itu, jika saja dulu aku sudah dewasa pasti akan aku cari mereka ke manapun mereka pergi, tapi sayang aku dulu hanya seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa, bahkan menurut saja saat di kembalikan ke panti asuhan, padahal sejak bayi aku sudah hidup di keluarga mereka. Yang aku tahu pasti alasannya karena harta, sebab sebagian kekayaan ayah sudah di hadiahkan ke aku, dan setelah aku di panti keluarga Ayah yang masih hidup tak sedikit pun datang,"


Alisha makin memepererat genggamannya, sambil teru mendengarkan kisah perjalanan hidup sang suami.


"Nama Bintang senagaja aku minta sama Bunda,. u tuk mengganti dengan nama lain, dengan alasan aku tak mau berurusan lagi dengan keluarga orang tua angkat ku dulu, jadilah namaku di ubah menjadi Adnan sampai saat ini," jelas Adnan mengahiri kisah hidupnya dahulu.


"Udah tau kan sekarang?" tanya Adnan.


Alisha mengangguk, "Pantes aja, dulu waktu pertama kita bertemu, aku sempat liat foto kamu itu, tapi kamu keburu pergi sebelum aku bertanya. Sejak saat itu aku nyari kamu, tapi tak juga bertemu. Saat bertemu dengan kamu ada aja halangannya buat nyamperin, seperti saat di panti dulu. Seakan bertemu dengan kamu itu sepertinya sangat mustahil banget," Alisha membayangkan beberapa waktu lalu ketika ia bersusah payah mencari keberadaan Adnan.

__ADS_1


"Sampai akhirnya aku mau di jodohin, dan saat tahu siapa yang mau di jodohin sama aku, ya begitulah, aku yang merencanakan untuk bertukar tempat dengan sepupuku karena aku ingin memastikan jika kamu benar-benar Bintang, jika menerima perjodohan itu udan pasti aku enggak bakalan bertemu sama Bintang lagi, pikirku dulu seperti itu, eh ternyata kalian berdua melakukan hal yang sama, sungguh kebetulan yang mengacaukan," Alisha menggelengkan kepala, tidak percaya dengan kebetulan yang mereka lakukan dulu.


"Kamu tahu kalau aku sama Angkasa juga tukeran?" Adnan terkejut, ia tidak tahu jika Alisha mengetahui mereka berdua bertukar tempat.


Alisha mengangguk, "Aku sempet bertemu dengan Angkasa waktu itu, tapi cuma dari jauh, aku sengaja mau tahu siapa yang di jodohkan sama aku," jawabnya.


"Maaf," kata itu yang tiba-tiba lolos dari bibir Adnan.


Alisha tersenyum, "Lupakan, yang terpenting kita sudah bersama saat ini," ucapnya.


"Terimakasih sayang, semoga kita selamanya bersama seperti ini." Adnan memeluk tubuh Alisha dari samping, satu tangannya meraih tangan Alisha untuk di genggam.


Cukup lama mereka berdua membisu dalam keadaan seperti itu, saling menguatkan, menikmati kedamaian yang mereka rasakan di tempat sejuk ini, sambil melihat anak-anak berseragam putih merah berlari-larian mengejar bola, hingga suara Adnan melenyapkan kesunyian yang baru saja tercipta.


"Iya itu cuma berlaku sampai aku sekolah dasar, setelah itu semua teman-teman manggil aku dengan sebutan Shasa, sampai sekarang. Kamu aja yang manggil aku beda sendiri," Alisha berdecak sebal di akhir kalimatnya, membuat Adnan melebarkan senyumannya.


"Masih enggak nyangka aja, kalau gadis kecil itu kamu, masalahnya enggak ada mirip-miripnya gitu," Adnan melepaskan pelukannya lalu meraih foto dalam dompet, memperhatikan wajah Alisha bergantian dengan foto masa kecil mereka.


Alisha meraih foto itu dari tangan Adnan, "Kok bisa ya? Tapi kamu sebenarnya agak mirip lho, kenapa aku enggak ngeh selama ini? Mungkin karena udah kecewa saat tahu nama kamu bukan Bintang, kali ya?" Alisha bertanya dan ia juga menjawab sendiri pertanyaan yang di lontarkan tadi.


"Aku imut banget ternyata waktu kecil, pantes aja kamu enggak bisa menolak pesona masa kecilku," ucap Alisha lagi, masih memperhatikan foto di tangannya.


"Sekarang juga aku enggak bisa menolak pesonamu," Adnan tersenyum, mengusap puncak kepala Alisha.


Alisha justru berdecak mendengar pernyataan Adnan, "Iya sekarang, dulu aja terpesona sama yang lain," ucapnya.

__ADS_1


Adnan terkekeh mendengar cibiran Alisha, "Itu kan dulu sayang, berbeda dengan sekarang," ucapnya.


"Pulang yuk Mas, Cantika nanti nyariin aku, sebentar lagi dia pulang sekolah," Alisha memperhatikan jam di pergelangan tangannya, sudah cukup lama mereka berada di taman ini karena sebentar lagi Cantika pulang sekolah.


"Yuk," Adnan beranjak lebih dahulu di susul oleh Alisha, mereka berjalan menuju parkiran, saling bergandengan tangan seakan takut jika mereka terpisahkan.


"Tempat ini bakalan jadi tempat terindah untuk kita, karena di sini menyimpan banyak kenangan manis, dan tempat ini juga yang mempertemukan kita," celetuk Adnan di tengah-tengah langkah keduanya. Mereka saling bercerita, bergurau mengingat masa kecil dulu. Terutama Adnan yang menggoda Alisha dengan hal-hal yang absurd yang pernah Alisha lakukan dulu saat bersama Adnan. Membuat Alisha mendengus tapi sejurus kemudian tertawa juga. Hingga langkah mereka menuju parkiran tampak lebih cepat.


🌻🌻🌻


"Bik, Cantika belum pulang?" tanya Alisha setelah sampai di rumah, ia menghampiri Bik Ana yang sedang memasak.


"Belum Non, mungkin sebentar lagi," jawab Bik Ana, menoleh ke arah Alisha sebentar lalu kembali melakukan aktifitasnya.


"Masak apa Bik? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Alisha, memperhatikan masakan yang sedang diaduk olek Bik Ana di dalam panci.


"Sip buntut kesukaan Den Adnan," jawab Bibik, "Ini udah selesai semua Non," tambahnya.


"Harumnya, oke aku ke kamar mau mandi dulu sambil nungguin Cantika pulang ya, setelah itu baru makan siang, siapkan aja sekalian enggak apa-apa Bik,"


Setelah mengatakan itu, Alisha pun menaiki anak tangga menuju kamarnya. Mendapati Adnan yang sedang fokus menatap layar persegi dihadapannya. Alisha baru ingat, jika Adnan tidak ke kantor hari ini karena harus menjemputnya di rumah Tante Nayla.


Mendengar Alisha masuk ke dalam kamar, Adnan mendongak menatap sang istri dengan senyum manisnya, tapi beberapa detik kemudian Adnan menutup hidungnya.


"Kamu bau apa sih? Eneg banget." Adnan beranjak dari duduknya menuju kamar mandi, karena tiba-tiba perutnya terasa mual.

__ADS_1


__ADS_2