
"Kok bisa?" hanya itu yang ke luar dari bibir Alisha, ia masih terkejut mendapati kenyataan ini.
"Bisa apanya?" Adnan justru balik bertanya.
"Ya itu, kamu bukan anak Ayah dan Bunda,"
"Ya emang seperti itu kenyataannya," Adnan menghela nafas sebentar, "tapi Bunda sama Ayah selalu memperlakukan kami layaknya anak kandung sendiri," tambahnya.
"Orang tua kalian di mana?" tanya Alisha makin penasaran.
"Orang tua Angkasa masih ada, tapi mereka sudah punya keluarga masing-masing, kalau orang tua kandungku entahlah, aku juga enggak tahu, sejak bayi aku di asuh orang tua angkat, tapi setelah ke dua orang tua angkatku meninggal karena kecelakaan, aku di kembalikan ke panti asuhan, dan di situlah aku bertemu dengan Angkasa, pertemuan tidak sengaja, karena aku melihat Angkasa sedang di maki sama pedagang bakso, dia makan tapi tidak bisa bayar, saat itu aku yang membayarkan makanannya, setelah aku tanya ternyata dia kabur dari rumah, padahal rumahnya di Bandung, kok bisa sampai Jakarta, lalu aku membawanya ke panti asuhan," Adnan menerawang jauh mengingat pertemuan pertamanya dengan Angkasa.
"Dia bercerita banyak tentang kehidupannya, mulai dari kecil yang tidak pernah di akui oleh ke dua orang tuanya, hidup tertekan bersama nenek dan tantenya, Papa Mamanya bahkan tidak memperdulikan dia. Mendengar cerita kehidupan Angkasa, membuatku tersadar, ternyata kehidupanku jauh lebih baik dari dia,"
"Setelah beberapa hari ternyata orang tuanya datang hanya Papa dan Tantenya, dia meminta Papanya untuk mengajakku pulang, tapi Papanya menolak, aku hanya bisa pasrah, tapi ternyata dia tidak menyerah begitu saja, karena beberapa hari kemudian dia kembali ke panti asuhan bersama Ayah dan Bunda, merekalah yang mengadopsi ku, sejak aku tinggal di rumah Bunda, Angkasa tidak pernah mau pulang ke rumah Oma, dan sejak saat itulah Bunda mengangkat Angkasa sebagai anaknya tentu saja Papa Angkasa menyetujuinya dengan senang hati, terus aku pindah ke Bandung dan sekolah di sana, saat SMA kelas dua, kami baru pindah ke Jakarta sampai sekarang," Adnan mengahiri ceritanya.
Alisha seperti pernah mendengar cerita itu, tapi entah di mana? Dia berfikir keras, tapi tak kunjung mendapatkan jawabannya. "Hubungan Bunda sama Papanya Angkasa apa?" tanyanya kemudian
"Bunda itu adik kandung Papanya Angkasa. Bunda pernah bercerita katanya dulu mau mengangkat Angkasa sebagai anak tapi di larang oleh keluarga Ayah, hingga bertahun-tahun Ayah dan Bunda menikah, mereka tidak di karuniai anak, akhirnya memilih untuk mengangkat anak, yaitu aku, juga karena permintaan Angkasa sih, ya seperti itulah ceritanya, mungkin kalau di ceritakan secara detail tidak akan selesai dalam waktu satu Minggu," Adnan mengahiri ceritanya.
"Satu hal yang membuat aku salut sama Ayah, dulu Ayah sama Bunda menikah juga karena perjodohan, tapi Ayah bisa menerima kekurangan Bunda meski tidak bisa hamil, katanya Bunda dulu pernah meminta Ayah untuk menikah lagi kalau mau punya anak, tapi Ayah menolak, dan sampai sekarang kehidupan mereka baik-baik saja," Adnan tersenyum membayangkan sikap Ayah yang selalu saja manja saat bersama Bunda.
"Aku enggak menyangka begitu sulit kehidupan kalian, apalagi Angkasa, seperti apa rasanya tidak di akui anak oleh orang tua sendiri, kok ada orang tua yang seperti itu ya?" Alisha menggelengkan kepala, tidak menyangka jika ada orang tua yang setega itu dengan anaknya sendiri.
"Mereka mungkin punya alasan tersendiri, masa lalu biarlah tersimpan rapi, yang penting sekarang kita semua sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi,"
Alisha mengangguk, ia menyetujui ucapan Adnan, "Iya bener, masa lalu jika kita ceritakan dan ingat-ingat lagi hanya akan membuka luka lama, yang mungkin sebenarnya sudah sembuh," ucapnya.
__ADS_1
"Tumben pinter," timpal Adnan, lalu dia tersenyum saat mendapati Alisha cemberut.
"Terserah," ucap Alisha jutek.
"Kapan-kapan aku ajak ke panti asuhan, biar kamu tahu seperti apa kehidupan di sana, jangan hanya doyannya ke arena balapan saja," ucap Adnan tak menghiraukan kekesalan Alisha.
Alisha mencibir mendengar penuturan Adnan, dia tidak tahu saja jika Alisha sering mendatangi panti asuhan, ngomong-ngomong tentang panti asuhan , ia jadi teringat dengan Cantika, sedang apa ya gadis kecil itu. Ah iya dirinya baru ingat jika pernah mendengar cerita yang sama dengan cerita Adnan, yaitu dari pengasuh panti asuhan Cantika, apakah Adnan dari sana? Mungkin juga karena dia juga pernah melihat Adnan di panti itu?
"Apa nama panti asuhan yang dulu kamu tinggali?" tanya Alisha, penasaran.
Drrrt Drrrt Drrrt
Baru saja Adnan akan menjawab pertanyaan Alisha, ponselnya lebih dahulu berbunyi, ia pun meraih ponsel tersebut lalu menerima panggilan itu.
Alisha menghembuskan nafas kasar, dia tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Sejurus kemudian ia terkejut karena Adnan menyodorkan ponsel di hadapannya.
"Siapa?" tanya tanpa suara.
Alisha menerima ponsel itu, lalu berbicara dengan Mama dan Bundanya.
"Ini." Alisha meletakkan ponsel Adnan di atas meja dengan wajah cemberutnya.
"Mama ngomong apa? Kenapa kamu gitu?" tanya Adnan saat melihat wajah cemberut Alisha.
"Mama sama Papa mau nganterin Abang ke London, aku sebenarnya mau ikut, kan belum pernah ke sana," keluh Alisha.
"Mau cari apa di London?" tanya Adnan tak menghiraukan keluhan Alisha.
__ADS_1
"Cari cowok ganteng, mau ngapain lagi coba? Siapa tahu bisa dapet cowok bule, biar memperbaiki keturunan," jawab Alisha tanpa dosa.
Adnan mengerutkan keningnya, "Kamu enggak nganggep aku ada?" tanyanya.
"Bukan sebaliknya ya?" Alisha mencibir, lalu dia meninggalkan Adnan yang masih duduk di sofa.
Adnan tidak menjawab pertanyaan Alisha, ia mencerna ucapan Alisha barusan, ternyata gadis itu masih saja tidak percaya dengannya. Jika dia sudah menerima kehadiran Alisha, meski hatinya belum sepenuhnya menerima. Karena kini Alisha adalah tujuan hidupnya, ia tidak akan mempermainkan pernikahannya dengan Alisha, meskipun harus belajar dari nol untuk mencintai Alisha tetap akan ia lakukan, karena ia yakin jika cinta akan hadir dan menghiasi kehidupan mereka kelak.
Adnan memilih untuk mandi, menyegarkan tubuhnya yang terasa lengket karena air pantai dan juga keringat. Setelah selesai mandi, ia tak mendapati Alisha di dalam kamar, ia takut Alisha kabur mengingat gadis itu punya seribu cara untuk kabur, seperti yang di ceritakan Mama mertuanya. Tapi pemikirannya salah, ternyata Alisha duduk di balkon sambil memandang sekitar hotel, cahaya matahari tak membuat gadis itu beranjak dari tempatnya.
"Mau ke mana setelah ini?" tanya Adnan.
"Enggak ada, teman-temanku udah pergi duluan," jawab Alisha tanpa menoleh ke arah Adnan.
"Kita pergi berdua aja, gimana?"
Kini gadis itu menoleh, lalu mengangguk. "Iya, dari pada di sini bosen mau ngapain," ucapnya.
"Kalau kita buat pesanan Bunda gimana?" tanya Adnan menggoda.
"Kenapa harus buat, kan bisa beli? Emang bunda pesan apa sih?" Alisha benar-benar tidak mengerti dengan pertanyaan Adnan, mau bawa oleh-oleh kenapa harus buat sih, pikirnya.
"Ya enggak bisa dong, karena Bunda pesannya cucu," Adnan terkekeh saat mendapati respon Alisha, gadis itu membulatkan bola matanya.
"Jangan harap, sebelum kamu move on, aku enggak mau jadi pelarian," ucap gadis itu tanpa mau memandang Adnan.
Sedangkan Adnan kembali terdiam, entah ia memikirkan apa. Membuat ke duanya saling membisu, tenggelam dalam lamunan masing-masing.
__ADS_1
__________________________________________
Yang pengen tahu kapan aku up, yuk follow IG ku @abil_rahma, biasanya aku buat stori pemberitahuan up di sana..