
Beberapa hari berlalu, ini adalah hari minggu, matahari telah meninggi, namun sepasang suami istri ini masih terlelap, sepertinya mereka enggan beranjak dari tempat tidur. Sang suami yang biasanya rajin lari pagi saat hari libur, kini memilih menemani sang istri yang masih terlelap dengan damainya. Namun suara ketukan pintu dari arah luar membuatnya terpaksa turun dari tempat ternyaman nya.
Adnan membuka pintu sambil menguap, rambut yang masih acak-acakan tak membuat lelaki itu malu, ia melihat Bik Ana berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ada apa Bik?" tanyanya. Bik Ana tidak akan berani mengetuk pintu kamarnya jika tidak ada hal mendesak atau hal penting.
"Maaf Den, ada tamu di bawah, nungguin Aden," jawab Bik Ana sopan.
"Siapa Bik?" tanya Adnan.
"Katanya sudah janjian sama Aden,"
Adnan mengernyitkan dahi, sepertinya ia tidak memiliki janji di hari Minggu, apalagi masalah pekerjaan. Tapi ia penasaran juga siapa yang datang pagi-pagi dan mengganggu tidur nyenyaknya. Ia pun menyuruh Bik Ana untuk membuatkan minum sambil menunggu dirinya bersiap.
Tak lama Adnan sudah ke luar dari kamar, meninggalkan sang istri yang sepertinya masih enggan untuk bangun padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih.
Adnan terkejut saat mendapati dua orang yang ia kenal, orang suruhannya yang ia suruh untuk menyelidiki tentang keluarga Luna Mahesa, memangnya sangat penting sehingga hari Minggu seperti ini harus datang ke rumah? Pikirnya.
"Maaf Pak mengganggu hari libur Anda, tapi kami terpaksa ke sini di hari libur, karena besok Tuan memerintahkan kami untuk ikut dengan beliau ke luar negeri," tutur salah satu dari dua orang itu, yang ia maksud tuan adalah sang Ayah.
"Tidak masalah, apa kalian sudah mendapatkan informasinya?" tanya Adnan yang juga penasaran, apakah dugaannya benar atau salah.
"Ini informasi yang kami dapatkan." Salah satu dari keduanya memberikan map berwarna cokelat pada Adnan. Dan Adnan menerimanya, lalu membuka map tersebut.
"Luna Mahes..." Ucapan orang suruhan Adnan itu terpaksa di hentikan, ketika Adnan memberi kode dengan mengangkat tangannya.
__ADS_1
"Biar saya baca sendiri," ucap Adnan.
Adnan terkejut setelah membaca map yang berisi tentang keluarga Mahesa, ternyata dugaanya benar jika Luna Mahesa adalah adik kandung dari Papa angkatnya, Raditya Putra Mahesa. Yang membuatnya tercengang bukan itu, melainkan informasi lain yang membahas tentang kekayaan keluarga Mahesa. Ternyata keluarga itu sudah bangkrut lebih dari sepuluh tahun yang lalu, itu artinya tidak lama setelah ia tinggal bersama keluarga Ayah dan Bundanya.
Adnan meletakkan map tersebut di atas meja, "Apa kalian tahu di mana anak-anak Mahesa yang lain selain Raditya dan Luna yang sudah tiada?" tanyanya.
"Menurut informasi, anak ke dua sekarang hidup di luar kota, tepatnya di kota sang istri, dan anak ke tiganya, masih tinggal di daerah Jakarta tapi di perkampungan bersama ibu mereka yang sudah tua," jawab salah satu dari mereka.
"Alamat tepatnya di mana?" Adnan penasaran ingin mengetahui mereka tinggal di mana, dan tentunya ingin mengunjunginya, meskipun dulu mereka tidak menganggap adanya Adnan.
"Sebentar saya tuliskan alamatnya Pak,"
Setelah memberitahu di mana tempat tinggal salah satu saudara Papa angkatnya, dua orang itu pun berpamitan untuk pulang. Adnan juga merasa cukup dengan informasi yang ia dapatkan.
🌻🌻🌻
"Kalau kamu enggak mau ikut juga enggak apa-apa, aku akan pergi sendiri, kamu istirahatlah di rumah," ucap Adnan ketika Alisha menolak untuk di ajak mengunjungi nenek angkatnya. Dengan alasan capek dan lain sebagainya.
Sebenarnya alasan Alisha tidak mau ikut bukan karena capek, tapi ia tidak mau kejadian yang sama ketika di rumah Oma terjadi lagi, di mana dirinya dan sang suami yang tidak di anggap oleh keluarga Bunda, bahkan mereka seperti enggan menyapa Alisha. Ia tidak mau menelan pil pahit yang dulu pernah ia rasakan. Tapi membiarkan sang suami berangkat sendiri juga bukan hal yang baik menurutnya, nanti kalau Adnan di usir bagaimana? Ah, pusing juga. Dan pada akhirnya
"Yaudah aku ikut, nanti pulangnya mampir mall ya," ucapnya.
"Baiklah, ajak Cantika sekalian biar rame," usul Adnan dan di setujui oleh Alisha.
Setelah bersiap, mereka pun meluncur menuju tepat tujuan. Ternyata realita tak semanis ekspektasi karena sudah setengah jam lebih mereka berkeliling kampung mencari alamat tersebut, tapi tidak ada yang tahu. Apakah alamat itu palsu? Tapi masak iya orang suruhannya menulis alamat palsu? Sepertinya tidak mungkin.
__ADS_1
"Coba tanya namanya aja deh Mas, siapa tahu mereka justru mengenal orangnya," usul Alisha, ia juga sudah lelah berkeliling kampung tapi tak ada hasil.
Adnan pun mengikuti usulan sang isteri, ia bertanya pada ibu-ibu yang sedang berbelanja di sebuah warung, sepertinya sambil bergosip ria.
"Permisi Ibu-ibu, saya mau tanya apakah di sini ada yang mengenal Bu Siska Mahesa atau minimal pernah mendengar namanya?" tanya Adnan ada ibu-ibu tersebut.
Empat ibu-ibu itu saling memandang satu sama lain, lalu salah satu dari mereka menjawab, "Iya tahu Mas, ada apa ya? Apa Bu Siska berbuat masalah atau jangan-jangan Mas ini salah satu korbannya? Sudah punya suami baik-baik eh dia sukanya sama daun muda yang tajir, Mas kok mau aja sih," sepertinya ibu tersebut tidak menyukai Tante Siska, terbukti dari omongannya.
"Maaf Buk, saya keponakannya. Kalau boleh tahu di mana rumahnya ya?" Adnan tidak meladeni ucapan ibu itu, karena ia ingin segera bertemu dengan Tante Siska dan Nenek Mayang.
Ibu itu tampak terkejut, hal selanjutnya ia seperti tak percaya dengan ucapan Adnan, "Keponakan nemu di jalan, saya percaya," gerutu nya.
Si pemilik warung sepertinya tahu jika Adnan tidak berbohong, "Mas tinggal lurus aja, nanti ada perempatan belok kanan, nah rumahnya kiri jalan nomer dua dari perempatan, tapi Bu Siska biasanya jam segini ada di pasar jualan bakso, palingan yang ada ibunya," jawab ibu itu.
Adnan tampak terkejut mendengar jawaban ibu itu, apa katanya, Tante Siska jualan bakso? Menghela nafas, ia percaya sekarang jika kehidupan itu bagaikan roda yang berputar, yang di atas pasti akan merasakan bagaimana rasanya di bawah suatu saat nanti.
"Terimakasih Buk, saya permisi," ucapnya, memilih untuk langsung pergi, ia tidak mau terpancing emosi hanya karena gosip yang belum jelas tentang Tante Siska.
Ia masih bisa mendengar ibu-ibu itu tidak percaya dengan ucapannya, "Masak Siska punya keponakan kaya dan ganteng gitu, kagak percaya gue,"
Dan ibu si pemilik warung yang memilih percaya dengan ucapan Adnan, "Sepertinya beneran keponakan Siska Buk, saya lihat tadi ada wanita di dalam mobil, mungkin istrinya. Kalau dia berbohong pasti data sendiri enggak sama istrinya,"
Setelah itu Adnan sudah tak mendengar ucapan ibu-ibu tadi, karena ia sudah masuk ke dalam mobil. Membunyikan klakson lalu pergi meninggalkan ibu-ibu itu.
"Kenapa Mas? Kok kaya kesel gitu?" tanya Alisha yang sepertinya menyadari perubahan raut wajah sang suami.
__ADS_1
Adnan menghela nafas, "Enggak apa-apa, kesel aja sama mereka, di tanya apa jawabnya apa. Sudahlah lupakan," ucapnya.
Alisha pun memilih tidak penasaran dengan apa yang terjadi di luar mobil.