
Ke esokan harinya, pagi sekali Adnan dan Alisha sudah berada di Bandara. Mereka berdua yang akan bulan madu, tapi lihatlah yang terlihat bahagia justru ke dua orang tua mereka. Papa, Mama, Bunda dan Ayah, sengaja menyempatkan diri untuk mengantar pengantin baru itu ke bandara. Mereka lebih dulu datang ke rumah Alisha dan Adnan sebelum ke Bandara.
"Selamat bulan madu buat kalian berdua, semoga nanti pulangnya bawa cucu," celetuk Bunda Ayu saat menyalami kedua pengantin itu.
Alisha dan Adnan hanya tersenyum meninpali.
Sedangkan Mama Icha hanya memberikan ucapan selamat jalan, karena sepertinya wanita paruh baya itu mengetahui jika putrinya tidak begitu tertarik dengan acara bulan madu, entah apa alasannya. Sebenarnya ingin bertanya, tapi biarlah nanti saja jika mereka sudah kembali ke ibu kota lagi.
Pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat di Bandara Ngurah Rai Bali. Alisha dan Adnan pun sudah ke luar dari area bandara yang ternyata mereka sudah di jemput oleh orang suruhan Om Farhan. Membawa mereka ke hotel yang juga sudah di booking oleh Om Farhan, Alisha dan Adnan hanya tinggal menikmati saja.
Mereka berdua menyeret koper masing-masing menuju kamar. Ya, mereka membawa dua koper, padahal Adnan sudah meminta Alisha supaya membawa satu koper besar saja, tapi Alisha menolak, alhasil Adnan mengalah. Masuk ke dalam kamar hotel yang luas, bahkan luasnya melebihi kamar mereka di rumah. Kamar tersebut terlihat sangat mewah, bahkan Alisha sedikit terkejut, karena ia tak pernah menginap di hotel semewah ini, meskipun ia sering menginap di hotel saat liburan ke luar negeri.
Alisha meletakkan koper di sembarang tempat, lalu ia merebahkan diri di atas ranjang. Lelah sekali rasanya, meskipun hanya duduk saja sejak tadi, tapi tetap saja perjalanan panjang membuatnya kelelahan. Sedangkan Adnan, memilih untuk merebahkan diri di sofa, tak mau menggangu Alisha karena sepertinya gadis itu sedang tidak mau di ganggu.
🌻🌻🌻
Drrrt Drrrt Drrrt
Alisha terbangun saat mendengar suara ponselnya yang berdering nyaring mengganggu ketenangannya. Ia meraih ponsel tersebut tanpa melihat siapa si penelfon.
"Oke, siap! Kalian the best pokonya," ucapnya girang setelah mendengar suara seseorang di seberang sana. Alisha bergegas masuk ke dalam kamar mandi, tak lupa membawa pakaian ganti.
Adnan yang tertidur pun langsung terkejut mendengar teriakan Alisha. Ia mengernyitkan dahi saat melihat awan mendung di wajah Alisha sudah berganti dengan wajah cerah penuh sangat, entah apa yang membuat Alisha sebahagia itu, padahal sejak kemarin gadis itu terlihat cemberut.
Tak lama Alisha sudah ke luar dari kamar mandi, sudah memakai pakaian lengkap, tapi tunggu kenapa penampilan Alisha seperti itu? Adnan heran melihat Alisha yang mengenakan kaos kebesaran berwarna putih serta celana jeans berwarna hitam. Tapi sedetik kemudian, Adnan menetralkan keterkejutannya, ia juga ingin mandi suapaya lebih segar. Butuh waktu kurang dari sepuluh menit Adnan mandi, ia kembali terkejut saat Alisha sudah rapi dengan pakaian yang tadi, di tambah jaket denim berwarna hitam, serta rambut yang di kucir kuda.
"Mau kemana?" tanyanya, penasaran juga apalagi penampilan Alisha yang seperti itu, bahkan ia baru pertama melihat Alisha berpenampilan ala-ala anak brandal, menurutnya.
__ADS_1
"Ke luar, kalau kamu mau ikut, aku tunggu, lima menit," jawab Alisha tanpa menoleh ke arah Adnan, ia sibuk memasang tali sepatunya.
"Baiklah, tunggu sebentar,"
Tak butuh lima menit, Adnan sudah siap dengan pakaian santainya. Celana pendek dan kaos pendek berwarna coklat susu, menambah manis wajah Adnan yang memang sudah terlihat manis sebelumnya.
"Ayo," ucapnya setelah berada di hadapan Alisha yang fokus dengan ponselnya.
Gadis itu sedikit terpesona dengan penampilan Adnan yang seperti itu, jika saja ia sedang dalam mode seperti beberapa hari lalu, maka ia akan memuji penampilan suaminya itu, atau bahkan akan memeluknya karena merasa bangga memiliki suami semanis Adnan, tapi saat ini ia tidak akan melakukan hal itu dan lebih memilih untuk pura-pura tidak menghiraukan penampilan Adnan.
Alisha berdiri, lalu ke luar kamar terlebih dahulu. Bahkan ia berjalan lebih dulu tanpa menunggu Adnan.
"Kenapa kamu pake kayak gini? Kaya mau balapan aja," tanya Adnan, ia penasaran juga kenapa Alisha berpenampilan seperti itu. Ia sebenarnya ingin mengucapkan 'kamu lebih cantik kalau pake dress dari pada seperti ini,' tapi ia urungkan, takut Alisha bertambah marah, takut gadis itu tersinggung.
"Nanti lihat saja," jawab Alisha singkat.
Alisha hanya mengangguk, membuat Adnan menghela nafas.
"Mau sampai kapan kamu diemin aku Alis?" tanya Adnan, ia sebenarnya merasa tak nyaman karena mereka seperti orang asing, berbeda sebelum mereka menikah, Alisha yang selalu tertawa bahagia saat dirinya hadir.
Alisha menggidikkan bahu, tanpa menoleh ke arah Adnan.
"Apa akan selamanya seperti ini? Apa kamu tidak bosan kalau kita kaya orang asing gini?" tanya Adnan lagi, ia tidak jera meski Alisha tidak menjawab pertanyaannya.
"Enggak tau," lagi-lagi Alisha hanya menjawab singkat.
Adnan kembali menghela nafas, setelah itu ia juga memilih diam, tapi tangannya meraih salah satu tangan Alisha. Membuat gadis itu menghentikan langkahnya, lalu menolah ke arah Adnan.
__ADS_1
"Biar enggak di kira jalan sama bodyguard," ucap Adnan sambil terkekeh, karena jika di lihat-lihat dirinya seperti berjalan dengan bodyguard cantik yang siap membantunya kapan saja.
Alisha mendelik, lalu ia membenarkan ucapan Adnan setelah meneliti penampilannya. Tapi hati dan ucapan kadang tak selalu sama. "Lebih baik gitu, kan? Dari pada di kira bos pacaran sama bodyguard nya," ucapnya, lalu melepaskan genggaman tangan Adnan.
Adnan tersenyum, karena Alisha mau menimpali ucapannya meski dengan nada yang masih dingin, sedingin bermalam di kutub Utara.
"Bos mana yang tidak jatuh cinta sama bodyguard secantik ini, coba?" Adnan tersenyum saat mengatakan itu.
"Omong kosong, namanya perempuan ya cantiklah!" Alisha menanggapi dengan nada yang masih sama, datar dan dingin.
"Udahlah enggak usah bahas bodyguard, karena aku bukan bodyguard kamu," tambahnya sebelum Adnan menyela. Lalu ia kembali berjalan mendahului Adnan, ia sebenarnya tersanjung mendengar gombalan Adnan, tapi sebisa mungkin untuk bersikap biasa saja.
Tak lama mereka sampai di loby hotel, seseorang yang tadi menjemput mereka di bandara pun menghampiri Adnan. Sepertinya itu petugas hotel karena mengenakan seragam yang sama dengan resepsionis.
"Maaf Pak, ini titipan dari Pak Raffa, katanya suapaya memudahkan kalian untuk jalan-jalan ke luar selama di sini," ucap orang tersebut dengan sopan, lalu menyerahkan sebuah kunci mobil.
Adnan pun menerima kunci mobil tersebut, ia sudah tidak heran jika Om dari istrinya itu memberi mereka mobil saat di sana, karena menurut sepengetahuannya, Om Raffa memiliki saham hampir setengahnya di hotel tersebut.
"Ini mobil Om Raffa apa mobil siapa Pak?" tanya Alisha, penasaran.
"Iya, itu mobil Pak Raffa yang biasa beliau gunakan saat di sini," jawab petugas hotel tersebut.
Alisha pun mengangguk, mengerti.
"Terimakasih Pak," ucapnya Adnan, lalu mereka ke luar dari loby menuju basmen, diikuti oleh petugas hotel tersebut. Petugas itu pun menunjuk sebuah mobil sport berwarna putih yang tadi mereka naiki.
Mereka pun pergi menggunakan mobil itu ke tempat tujuan.
__ADS_1