
Pagi ini, mau tidak mau Alisha harus mengikuti Adnan kemanapun pemuda itu pergi. Jujur, ia sebenarnya masih sangat kecewa dengan pemuda yang sudah berstatus sebagai suaminya itu, tapi ia tidak ingin mengecewakan ke dua orang tuanya. Ia harus bertahan di sini demi orang tua, ia egois juga demi ke dua orang tua, yang terpenting sekarang jalani dulu, jika ke depannya semakin memburuk makan ia harus memikirkan langkah selanjutnya yang harus ia tempuh.
"Aku mau ke rumah Tante dulu," ucap Alisha tanpa menoleh ke arah Adnan yang sedang mengendarai mobil.
Rencananya mereka akan pulang ke rumah baru, rumah yang di hadiahkan untuk mereka dari orang tua mereka berdua. Semua barang-barang Alisha dan Adnan bahkan sudah di pindahkan ke rumah baru sebelum acara pernikahan mereka, karena orang tua mereka menginginkan anak-anaknya hidup mandiri.
"Iya," jawab Adnan singkat.
Setelah mengucapkan itu keduanya kembali membisu, Adnan fokus dengan kemudinya sedangkan Alisha fokus melihat jalanan yang sudah ramai meski ini masih pagi.
"Sarapan dulu ya," ucap Adnan memecah keheningan.
"Aku enggak laper, kalau kamu mau silakan, aku tunggu di mobil aja," timpal Alisha dengan posisi yang sama, masih menghadap ke jendela.
Adnan menghela nafas panjang, akhirnya ia memutuskan untuk membeli makanan di restoran cepat saji, dan memakan makanan itu di dalam mobil. Tentu saja ia memesankan makanan untuk Alisha juga, meskipun gadis itu sempat menolaknya tapi ia tidak tega jika harus makan sendiri.
"Dimakan ya, nanti kami sakit kalo enggak makan." Adnan meletakkan makanan di hadapan Alisha. Tapi gadis itu masih fokus menatap luar jendela, entah ada hal menarik apa sampai-sampai tak tertarik untuk menoleh.
Adnan kembali melajukan mobilnya, sesekali pemuda itu memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Ia juga sesekali menoleh ke arah Alisha yang masih setia menatap jalanan, bahkan mengabaikannya. Adnan tak mempermasalahkan hal itu, iya tahu Alisha masih sangat kecewa padanya.
Tak berapa lama mobil sport warna hitam itu memasuki halaman rumah mewah di kawasan elit. Rumah keluarga Farhan. Ketika mobil itu berhenti, seseorang langsung ke luar dari dalam mobil, masuk ke dalam rumah tersebut tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu, seperti biasa.
"Eh, penganten baru udah sampai sini aja, ada apa Sha?" Tante terkejut melihat kedatangan Alisha.
Alisha tersenyum kikuk, "Mau ketemu Kakak Tan, katanya tadi ma...." ucapan Alisha terputus karena Arga lebih dulu menyela.
"Udah di tungguin Kakak di kamar, Sha," ucap Arga yang baru saja turun dari lantai atas.
Alisha mengangguk, ia pun berpamitan untuk menemui Yesha di kamarnya. Tapi Arga justru mengekori Alisha sampai lantai atas.
__ADS_1
"Jangan cerita sama Mami atau Papi tentang kejadian semalam, mereka enggak ada yang tau, Lo mau mereka semua tau seperti apa kelakuan suami Lo itu? Ya, meskipun Mami udah tahu tentang masalah itu, tapi soal penculikan Kak Yesha kami sepakat untuk tidak memberitahu mereka," jelas Arga panjang lebar.
Ya, mereka semua sepakat untuk tidak memberitahu orang tua mereka jika Yesha sempat di culik, mereka mengatakan alasan lain saat Yesha tidak terlihat waktu acara resepsi itu dan kepulangan Yesha yang larut malam bersama Nevan dan Arga. Itu semua atas permintaan Yesha , ia tidak mau masalahnya semakin melebar karena dirinya juga ikut andil dalam masalah ini.
Alisha mengernyitkan dahinya, tapi beberapa detik kemudian gadis itu mengangguk, "Masalah penculiknya?" tanyanya.
"Enggak usah di pikirkan, mereka di tangkap polisi juga bukan masalah penculikan aja, ternyata mereka juga pengedar, dan itu biar jadi urusan kita juga, Lo tenang aja," jawab Arga.
Alisha kembali mengangguk, "Gue masuk boleh, kan?" tanyanya.
Arga mengangguk, lalu pemuda itu lebih dulu meninggalkan Alisha yang masih berdiri di depan pintu kamar Yesha.
"Kak," Alisha masuk ke dalam kamar Yesha tapi tak mendapati gadis itu di dalam kamar. Mencoba mencari keberadaan Yesha, ternyata gadis yang dicarinya sedang duduk di balkon kamar, di meja depan gadis itu ada laptop yang menyala. Mungkin Yesha sedang mengerjakan tugas, tapi tugas apa? Bukannya mereka baru saja selesai ujian semester?
"Kak?"
"Maaf," ucap mereka bersamaan, membuat keduanya terkekeh, lalu melepaskan pelukan masing-masing.
Alisha menggeleng, "Harusnya Shasa yang minta maaf Kak," ucap Alisha, lembut.
Yesha meletakkan telunjuknya di bibir Alisha, lalu ia menggeleng, "Kakak yang salah Sha," ucapnya.
Alisha menghembuskan nafas panjang, "Dari pada rebutan kita salah semua deh ya," ucapnya sambil terkekeh.
Yesha pun ikut terkekeh mendengar ucapan Alisha.
"Kakak minta maaf karena udah ngacauin malam pertama kalian," Yesha tersenyum saat mengatakan itu, "Sebenarnya kemarin itu cuma pengen pergi sebentar, terus balik lagi, eh malah kejadiannya gitu, sampai di culik lagi," Yesha menggelengkan kepala saat mengingat kejadian kemarin, ia sebenarnya masih trauma, tapi mencoba untuk melupakannya.
"Enggak apa-apa Kak, aku harus gimana sekarang?" tanya Alisha bingung, jujur ia butuh pendapat orang lain tentang masalah ini.
__ADS_1
"Adnan milih kamu, berarti dia udah mempertimbangkan banyak hal, bukan hanya berkorban untuk Angkasa, tapi Kakak yakin dia mengambil keputusan yang baik, jadi mulailah hidup dengannya, buat dia jatuh cinta," tutur Yesha, ia menepuk pundak Alisha yang kini bersandar di sisi pagar.
Alisha menatap netra Yesha, ia melihat ketulusan di sana, "Tapi dia masih cinta sama Kakak," ucapnya.
Yesha menggeleng, "Mungkin, tapi presentasenya mungkin hanya tinggal tiga puluh persen, karena kita juga baru aja kenal, kan? Jadi, tugas kamu sekarang isi hatinya yang tujuh puluh persen itu, gimana?'"
Alisha kembali menatap Yesha, ia tidak percaya jika sepupunya itu akan mengucapkan hal seperti itu. Bahkan sangat tenang saat mengucapkannya, membuat Alisha benar-benar menghilangkan rasa bersalahnya digantikan dengan semangat baru untuk menaklukkan hati suaminya.
"Apa kamu tidak marah sama aku, Kak?" tanya Alisha.
Yesha mengangguk, "Tadinya iya, tapi setelah di pikir-pikir, mungkin Adnan memang bukan jodohku, tapi jodoh yang di takdirkan buat kamu, ya meskipun awalnya sakit, tapi tidak masalah. Bukankah kita sesekali juga harus merasakan sakit, iya kan?"
Alisha mengangguk, menyetujui ucapan Yesha. Gadis itu lebih tenang sekarang.
"Makasih Kak," ucap Alisha, lalu ia memeluk Yesha dengan erat. Yesha pun membalas pelukan itu.
"Jadilah istri yang baik, percayalah cinta akan hadir seiring berjalannya waktu, apalagi kalian mencintai orang yang halal buat kalian cintai, semua itu pasti akan di permudah oleh pemilik cinta sejati," ucap Yesha penuh akan sarat makna.
"Pasti Kaka, makasih ya, aku akan buat dia jatuh, tapi aku mau liat dia berjuang dulu untuk mempertahankan aku di sisinya,"
"Ide bagus, Kakak setuju," Yesha tersenyum lalu melepaskan pelukan mereka.
"Yaudah sana, Adnan udah nungguin pasti, salam buat dia, eits enggak jadi aja deh, entar disalah artikan lagi," ucap Yesha pura-pura bersedih.
Alisha terkekeh mendengar itu, "Yaudah, aku pulang ya," ucapnya.
Yesha mengangguk, ia tersenyum mengiringi kepergian Alisha.
Alisha meninggalkan kamar Yesha dengan senyum merekah, ia sudah sedikit lega setelah mendengar ucapan Yesha tadi. Ia berjanji akan membuat Adnan jatuh cinta dengan caranya sendiri, entah cara seperti apa yang akan Alisha lakukan nanti.
__ADS_1