Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Kebahagiaan Tiada Tara


__ADS_3

Dokter baru saja memeriksa Alisha untuk kesekian kalinya, ternyata pembukaan sudah lengkap dan siap untuk melahirkan bayinya. Sejak tadi Adnan setia mendampingi sang istri, ia terus menggenggam tangan sang istri yang terus saja merintih kesakitan saat kontraksi datang. Hatinya begitu perih melihat penderitaan yang di rasakan oleh Alisha, jika saja ia bisa menggantikan sang istri di sana, ia pasti sudah menggantikannya, namun sayang beribu sayang, ia tidak bisa menggantikan Alisha di saat seperti ini.


"Mas, ssh," Alisha kembali mengeluarkan rintihannya, membuat Adnan makin tak tega melihat keadaan istri tercintanya, tanpa terasa buliran kristal meluncur dari pelupuk matanya, ia tak kuasa membendung air mata itu.


Dokter memberi aba-aba pada Alisha, dan Alisha melakukan semua yang di perintahkan oleh Dokter.


"Bagus sayang, ayo sedikit lagi, kepalanya sudah kelihatan, ayo tarik nafas dalam-dalam lagi seperti tadi, bagus," Dokter Hanny mengarahkan Alisha supaya kembali mengejan.


Tanpa terasa Alisha mencengkram kuat lengan sang suami, bahkan Adnan ikut merintih kesakitan akibat cengkraman dari kuku-kuku Alisha. Tapi ia sadar jika sakit yang ia rasakan tak sebanding dengan sakit yang dirasakan oleh istrinya.


Tak lama terdengar suara tangisan bayi memenuhi ruangan bersalin tersebut. Alisha terlihat berbinar saat mendengar tangisan bayinya untuk pertama kalinya, begitu pun dengan Adnan. Rasa sakit yang baru saja ia rasakan lenyap begitu saja setelah melihat wajah mungil bayinya.


🌻🌻🌻


Setelah perjuangan panjang melahirkan bayinya, kini Alisha sudah berada di ruang rawat VVIP, di sana berkumpul kedua orang tuanya serta kedua mertuanya saling berebut ingin menggendong bayi yang baru sejam lalu di lahirkan oleh Alisha. Bayi laki-laki tampan itu kini tampak tenang dalam gendongan Mama Icha.


Ya, Alisha melahirkan seorang bayi laki-laki, ia sangat bersyukur sekali karena keinginannya memiliki anak pertama laki-laki terwujud juga. Mereka memang tidak ingin tahu jenis kelamin bayi itu saat masih dalam kandungan, supaya nanti menjadi kejutan saat bayi itu lahir.


Sejak tadi senyum di bibir Adnan tak luntur sedikit pun, ia bersyukur karena istri dan bayinya sehat. Meskipun tadi sempat panik saat sang istri sedang berjuang, bahkan ia tak tega melihat Alisha yang berusaha mengeluarkan bayinya. Jika biasanya banyak yang berteriak saat merasakan kontraksi, berbeda dengan Alisha, istrinya itu hanya merintih membuat ia makin tak mendengar rintihan Alisha.


"Mas, apa masih sakit?" pertanyaan Alisha membuyarkan lamunan Adnan. Alisha lengan sang suami yang tadi menjadi pelampiasan saat merasakan sakit luar biasa.


"Tenang aja, udah enggak sakit sayang. Apalagi setelah melihat anak kita lahir," jawab Adnan sambil tersenyum. "Harusnya aku yang tanya, apa kamu masih merasakan sakit? Sakit di lenganku tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan sakit yang kamu rasakan. Tadi kamu bahkan di jahit, aku aja ngeri liatnya." Adnan bergidik ngeri saat membayangkan area inti Alisha di jahit oleh dokter, karena ada robekan sedikit di sana.


"Rasa sakit itu seakan lenyap begitu saja saat mendengar tangisan bayi kita Mas, ya meskipun masih terbayang-bayang saat melahirkan tadi," Alisha tersenyum, ia melihat ke arah para orang tua yang sedang asyik berebut bayinya.


"Terimakasih sayang," ucap Adnan lalu mengecup kening Alisha.


"Mau kalian beri nama siapa bayi tampan ini?" tanya Bunda Ayu yang kini bergantian menggendong bayi mungil itu.


"Aidan Zafran Al Farisi, bagus kan Bun namanya?" jawab Alisha sekaligus bertanya pada Bunda.


"Bagus banget," jawab Bunda sambil terus menatap bayi mungil itu.

__ADS_1


"Eh, kok anget-anget gini, apa ya?" Bunda merasa ada yang aneh menembus pakaian yang ia pakai.


"Wah, baby Aidan ngasih hadiah ke Oma," celetuk Bunda saat menyadari jika baby Aidan pipis. Setelah itu baby Aidan menangis karena merasa tidak nyaman di tubuhnya, dengan segera Bunda pun mengganti popok Aidan.


Setelah Bunda dan Ayah berpamitan, kerabat mereka tak hentinya terus berdatangan. Mulai dari Kakek dan Nenek Alisha, hingga Om dan Tantenya. Mereka semua terlihat antusias saat melihat baby Aidan. Bahkan Papanya saja belum sempat menggendong Aidan karena merek semua berebut menggendong bayi mungil itu, sedangkan Alisha hanya bisa menggendong Aidan saat bayinya merasa lapar. Bukannya bersedih, Alisha dan Adnan justru bahagia karena semua kerabat terlihat antusias dan bahagia dengan hadirnya Aidan di sisi mereka.


🌻🌻🌻


Alisha hanya sehari semalam saja menginap di rumah sakit, kini ia sudah kembali ke rumah siang tadi. Kondisinya pun sudah membaik, hanya harus kembali ke rumah sakit untuk kontrol beberapa hari kemudian.


"Ma dedeknya imut banget, Cantika boleh gendong enggak?" tanya Cantika, gadis kecil itu bahagia sekali karena adik bayinya sudah kembali ke rumah karena sejak kemarin ia merengek meminta ke rumah sakit mau melihat adiknya, tapi Adnan dan Alisha melarang, karena Cantika masih kecil tidak baik jika berkunjung ke rumah sakit.


"Boleh dong, tapi nanti ya kalau dedek udah besar, sekarang belum boleh," jawab Alisha, ia sedang menyusui Aidan di pangkuannya, sedangkan Cantika duduk di hadapan Alisha sambil menoel-noel pipi gembul Aidan.


"Gemes Mas, pengen cium terus," celetuk Cantika.


"Sttt, dedeknya udah bobok sayang, biar dedek bobok dulu ya, nanti kalo udah bangun boleh cium-cium lagi," ucap Alisha saat Cantika akan kembali mencium pipi Aidan padahal Aidan sudah terlelap.


Alisha meletakkan Aidan di dalam box bayi dengan perlahan, supaya Aidan tidak terusik dalam tidurnya. Setelah itu ia pun ikut beristirahat, karena lelah baru saja pulang dari rumah sakit.


Sore hari Mama Icha berpamitan untuk pulang sebentar, ia akan kembali sebelum makan malam karena memang berencana menginap di rumah Alisha hingga beberapa hari ke depan, ingin membantu Alisha yang baru pertama kali merawat bayi, karena Alisha masih takut saat memandikan atau mengganti popok bayinya, membuat Mama tak tega jika tidak berada di samping Alisha hingga putrinya itu bisa mengurus Aidan sendiri.


Alisha sedang menyusui Aidan yang baru saja di mandikan oleh Omanya sebelum pulang tadi, tiba-tiba ponselnya berdering, dengan segera Alisha pun mengambil ponsel miliknya yang berada di atas nakas. Ia mengernyitkan dahi saat terdapat nomor baru dan bukan dari dalam negeri, melainkan nomor asing yang menelfonnya. Ia mencoba mengabaikan panggilan dari nomor tersebut, takut jika hanya orang iseng saja, tapi karena nomor itu terus saja menghubunginya ia pun menerima panggilan tersebut setelah empat kali berdering.


"Assalamualaikum Sha, mana keponakan baru aunty? Penasaran mau lihat wajah tampannya," orang tersebut langsung bertanya panjang lebar saat panggilan Vidio tersebut terhubung.


"Wa'alaikumussalam, wah Kak, apa kabar? Lama sekali tidak memberi kabar, betah ya di sana sampai-sampai lupa sama rumah sendiri, pasti ada yang spesial di sana, kan? Makanya enggak pulang-pulang, dua tahun lho Kak," Alisha tidak menjawab pertanyaan orang tersebut, ia justru ngomel saat mengetahui siapa yang menelfonnya.


"Spesial semua di sini, kabarku baik Sha, kamu sekeluarga bagaimana? Maaf baru bisa menghubungi, emang sengaja juga sih, he-he-he, takut enggak betah di sini kalau sering nelfon orang rumah,"


Ya, orang yang menelfon adalah Ayesha, ia baru saja mendapat kabar dari sang Mami, jika Alisha telah melahirkan, tentu saja ia bahagia dan ingin segera melihat bayi Alisha.


Mereka berbicara panjang lebar, mengobati rindu yang telah lama tak bersua, apalagi sejak kecil mereka sering bersama, dan kini justru terpisah sudah dua tahun lamanya tanpa ada kabar sedikit pun.

__ADS_1


"Siapa sayang? Kayaknya asik banget," Adnan tiba-tiba masuk ke dalam kamar, tentu saja mengejutkan Alisha yang masih asik berbicara dengan saudara sepupunya.


Adnan ikut duduk di sisi Alisha dan mengambil alih Aidan yang tadi ada dalam pangkuan Mamanya. Alisha tidak menjawab pertanyaan Adnan tapi justru mengarahkan kamera ponselnya ke hadapan Adnan.


"Apa kabar Kak? Selamat ya buat kalian berdua, aku ikut bahagia," ucap Yesha setelah melihat wajah Adnan di layar ponselnya.


"Eh, alhamdulilah baik, makasih ya. Cepat selesaikan pendidikan di sana terus nyusul kita, biar nanti Aidan ada temennya," celetuk Adnan sambil melirik Alisha, ia takut jika sang istri masih cemburu saat dirinya berbicara dengan Yesha.


"Doakan saja ya Kak, kalau gitu aku tutup dulu ya, di sini udah sore, assalamualaikum,"


"Wa'alaikumussalam," jawab Adnan dan Alisha.


Adnan menatap lekat sang istri, ia mencari sesuatu di dalam mata Alisha.


Alisha justru tersenyum saat Adnan menatapnya lekat, "Jangan memikirkan yang tidak-tidak, aku justru bahagia kalau kalian sudah berbaikan, santai aja aku tidak akan cemburu, Kak Yesha juga tidak akan mau sama kamu," ucapnya seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Adnan.


Adnan tersenyum menanggapi ucapan Alisha, ia juga tidak akan mungkin berpaling dari istrinya, apalagi setelah mengetahui perjuangan Alisha saat melahirkan Aidan, tentu saja ia tak akan tega menyakiti wanitanya, ia juga sangat mencintai Alisha. Dan berjanji akan terus bersama dengan wanita itu hingga akhir hayat.


THE END


.


.


.


.


*Cerita ini sudah aku tamatin ya, mungki nanti akan ada extra part-nya, tapi belum tahu kapan. Karena konfliknya juga sudah selesai dari pada membosankan jadi aku tamatkan saja.


Makasih buat yang setia membaca dari awal hingga akhir ini. Tunggu novel selanjutnya, nanti aku infokan..


Awalnya mau meneruskan cerita Ayesha di sini, tapi sepertinya lebih baik buat novel baru saja, tunggu aja ya...

__ADS_1


__ADS_2