
Di tengah kebahagiaan penuh haru keduanya, tiba-tiba saja Alisha teringat sesuatu lalu ia melepaskan pelukannya, membuat Adnan mengernyitkan dahi menjadi beberapa lipatan.
"Kenapa, sayang?" tanyanya.
"Aku masih ingat lho, jangan harap aku melupakan hukuman kamu karena semalam gagal bukan berarti kamu bebas hukuman," jawab Alisha, ya ia masih teringat akan hukuman untuk Adnan dan tidak akan membiarkan Adnan melupakan hukuman itu.
"Aku kira udah enggak berlaku hukumannya, emang mau hukum apa lagi? Jangan sampai nyesel kaya semalem," ucap Adnan sambil menaik turunkan alisnya, menggoda Alisha.
"Aku kasih tahu nanti, udah ah, aku mau ke dapur, bantu Bik Ana masak," Alisha baru saja akan beranjak dari sofa, tapi Adnan lebih dulu menarik tubuh istrinya itu hingga terduduk di pangkuannya.
"Biar Bik Ana aja yang masak," ucap Adnan lalu memeluk tubuh istrinya itu. Entah kenapa ia tak ingin melepaskan Alisha begitu saja saat ini.
"Aku ingin merayakan kebahagiaan ini," bisik Adnan tepat di telinga Alisha.
"Maksudnya?" Alisha tidak mengerti apa yang di ucapakan oleh suaminya itu, maksudnya merayakan kebahagiaan dengan cara apa?
Tapi perlakuan Adnan selanjutnya membuat Alisha paham apa yang di maksud oleh sang suami, dan ia tidak bisa menolak ketika sang suami menginginkannya meskipun di saat yang kurang tepat seperti sekarang ini.
Alisha hanya bisa pasrah ketika Adnan menggendongnya ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya perlahan.
"Emang boleh ya Mas, melakukan seperti ini saat hamil?" di tengah-tengah kegiatan mereka, karena jujur Alisha merasa khawatir terjadi sesuatu pada calon bayinya.
"Bolehlah sayang, kalau enggak boleh apa jadinya harus puasa selama kurang lebih sepuluh bulan," tentu saja Adnan menjawab seperti itu, ia tidak mau kegiatan mereka terhenti di tengah jalan, karena akan membuatnya pusing sepanjang hari dan tidak mau itu terjadi.
🌻🌻🌻
Tok Tok Tok
"Mama! Papa! Bangun! Aku mau berangkat sekolah," teriak Cantika dari luar kamar.
Suara ketukan pintu di susul teriakan Cantika dari luar kamar, membuat sepasang suami istri yang baru saja merayakan kebahagiaan mereka kalang kabut. Sudah bisa di pastikan Cantika akan langsung menyerobot masuk ke dalam kamar ketika pintu terbuka.
Adnan bergegas turun dari ranjang, memungut satu persatu pakaiannya lalu mengenakan celana.
"Biar aku yang buka, kamu ke kamar mandi aja," ucap Adnan, ia berjalan mendekati pintu.
__ADS_1
"Bentar sayang," ucap Adnan pada Cantika yang terus menggedor pintu kamar mereka.
"Mas! Pakai baju kamu, ada Embak Anita," Alisha baru menyadari jika suaminya hanya mengenakan celana pendeknya saja tanpa penutup di bagian atas.
Adnan pun mengambil kaos yang tadi ia lempar ke keranjang baju kotor bersama baju Alisha, lalu ia kenakan karena tidak memungkinkan untuk mengambil kaos di lemari, akan membuat Cantika makin merajuk karena pintu tak kunjung di buka.
Cklek
Adnan membuka pintu, benar saja gadis kecil itu langsung masuk ke dalam kamar, mencari sang Mama.
"Ih berantakan banget kamar Papa," protes Cantika ketika melihat ranjang yang berantakan, bahkan spreynya hampir terlepas, entah apa yang mereka lakukan tadi hingga tempat tidur menjadi berantakan seperti itu.
"Kamar aku aja bersih," tambahnya, lalu duduk di sofa, menunggu Alisha yang sedang mandi.
"Kamu udah sarapan? Kok udah mau berangkat?" tanya Adnan yang juga ikut duduk di sofa sebelah Cantika.
"Mau sarapan di suapin Mama,"
"Yaudah tunggu Mama, paling bentar lagi selesai,"
Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Alisha baru saja ke luar dari kamar mandi, mengenakan jubah mandi dengan rambut basah tergulung oleh handuk.
"Maaf ya sayang, tunggu sebentar Mama pakai baju dulu ya,"
Cantika mengangguk, pandangan matanya terus mengikuti Alisha hingga ke masuk walk in closet dan sudah tak terlihat batang hidungnya. Tapi tak berapa lama Alisha sudah ke luar mengenakan pakaian santai.
"Mama antar aku ke sekolah ya, aku mau sekolah di antar Mama," celetuk Cantika ketika melihat Alisha ke luar dari walk in closet.
"Iya nanti Mama antar, tapi Mama enggak bisa nungguin ya, Mama ada urusan,"
Cantika mengangguk, gadis kecil itu mengerti jika sang Mama memiliki kesibukan tersendiri.
"Mas, aku antar Cantika dulu sebentar, kamu tunggu di rumah aja," pamit Alisha saat akan pergi untuk mengantar Cantika ke sekolah. Mereka baru saja selesai sarapan, dan Cantika sudah merengek untuk segera berangkat ke sekolah takut terlambat.
"Iya, belajar yang rajin ya sayang, biar jadi anak pintar." Adnan mengecup puncak kepala Cantika setelah Cantika menyalaminya. Ia tidak bisa mengantar sampai depan karena sarapannya belum habis. Sebenarnya Adnan yang ingin mengantar Cantika ke sekolah, tapi saat melihat jam sudah siang, ia pun mengurungkan niatnya. Bisa besok lagi lah, pikirnya.
__ADS_1
🌻🌻🌻
"Sus, bisa bertemu dokter Hanny enggak ya?" tanya Alisha. Mereka berdua saat ini sudah berada di rumah sakit milik dokter Hanny.
"Maaf sekali Buk, saat ini dokter Hanny sedang melakukan operasi, mungkin selesai sekitar jam sepuluh siang," jawab suster tersebut.
Alisha melihat jam di pergelangan tangannya, masih ada sekitar dua jam lebih jika menunggu dokter Hanny ke luar dari ruang operasi dan pasti dokter Hanny juga akan istirahat setelah melakukan operasi.
"Kalau minta nomor ponselnya, bisa kan sus?" Alisha berencana ingin menghubungi dokter Hanny, dan menanyakan kapan sang Dokter ada waktu senggang.
"Maaf Buk, kami tidak di perkenankan memberikan nomor pribadi dokter Hanny, kalau nomor rumahnya ada,"
Alisha menghembuskan nafas kasar, "Yaudah makasih Sis," ucapnya lalu meninggalkan meja resepsionis.
"Minta sama Mama, pasti dikasih. Kalau minta ke resepsionis enggak bakalan di kasih lah," celetuk Adnan.
Ah iya, Alisha baru ingat jika mereka punya grub keluarga besar kakeknya dan ia masuk ke dalam grup itu, yang pasti ada nomor pribadi dokter Hanny, kan? Tidak mungkin tidak ada.
"Kenapa aku bisa lupa ya," gumamnya.
"Kenapa?" tanya Adnan, ia tidak mendengar dengan jelas gumaman Alisha.
Tapi ternyata istrinya itu tidak menggubris pertanyaannya, justru sibuk entah mencari apa dalam ponselnya.
"Duduk dulu aja." Adnan menarik Alisha ke kursi kosong.
"Nah, kan, beneran ada. Coba dari tadi cari di sini, enggak susah-susah tanya segala," ucap Alisha berbinar setelah menemukan nomor ponsel dokter Hanny.
"Ada apa sih? Kamu cari apa?" tanya Adnan.
"Aku dapat nomor dokter Hanny, engga kepikiran tadi, kita kan ada dalam grup keluarga," jawab Alisha.
"Coba aku hubungi deh," baru saja Alisha akan menghubungi nomor dokter Hanny, tapi Adnan lebih dulu mencegahnya.
"Jangan, kirim pesan aja. Kalau di telfon nanti mengganggu," Adnan memberi saran.
__ADS_1
Alisha tersenyum lalu mengangguk, menyetujui saran dari sang suami.
"Semoga aja hari ini beliau ada waktu," celetuk Alisha. Jujur ia sudah tidak sabar ingin melihat kandungannya, apakah ia benar-benar hami atau tidak? Jika iya, maka ingin tahu sudah berapa lama kehamilannya.