Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Rumah Alisha


__ADS_3

Setelah pulang dari kampus, seperti biasa Adnan meluncur ke kantor Ayah, pekerjaan sudah menunggu untuk di sentuh, meski lelah dari pagi sampai siang berada di kampus, tapi pemuda itu tak pernah mengeluh sedikit pun, ia sadar karena Ayah dan Bunda sudah berbaik hati mengasuhnya sejak masih kecil. Di saat dirinya tidak pernah merasakan kasih sayang dari ke dua orang tuanya tapi Ayah dan Bunda sudah lebih dari ke dua orang tua yang menyayanginya bahkan Adnan sudah melupakan untuk mencari di mana ke dua orang tua kandungnya, karena merasa bersyukur memiliki Ayah dan Bunda.


Belum juga ia masuk ke dalam ruangannya, sekertaris Ayah lebih dulu mencegahnya masuk. "Pak Adnan, Bapak Faris sudah menunggu di ruangan, katanya ada hal penting yang akan di bicarakan oleh Bapak," ucap sekretaris Ayah yang umurnya sebaya dengan dirinya.


"Oke, terimakasih, saya segera ke sana," Adnan lebih dahulu masuk ke dalam ruangannya, meletakkan tas yang ia bawa. Setelah itu pemuda itu pun menuju ruang sang CEO yang tak lain adalah Ayahnya sendiri.


Ia layaknya seperti karyawan pada umumnya saat masuk ruang pimpinan, mengetuk pintu setelah di persilahkan ia pun masuk ke dalam ruangan Ayah. Tersenyum saat mendapati ada orang lain di sana, menyalami dua laki-laki yang duduk di sofa, yang satu terlihat masih muda di banding sang Ayah.


"Kamu ikut meeting ya, kita akan bahas proyek yang akan kita kerjakan dua bulan lagi, kebetulan Om Al juga ikut kerja sama dalam proyek ini," ucap Ayah seakan mengerti akan kebingungannya karena adanya Om Al di ruangan sang Ayah.


"Baiklah Ya, aku persiapkan dulu berkas-berkasnya," ucapnya lalu ia berpamitan menuju ruangannya.


Adnan memang sering mengikuti pertemuan dengan para klien, tidak hanya di area kantor tapi kadang ia juga menemui klien di luar kantor.


Setelah memakan waktu lebih dari dua jam di dalam ruang meeting, akhirnya selesai juga pertemuan itu. Mereka bertiga kembali ke dalam ruangan Ayah, entah akan membahas apa lagi.


"Om denger cerita dari Ayah kamu, tentang perjodohan itu yang sebenarnya Adik kamu yang akan di jodohkan dengan Alisha," Om Al mulai berbicara terlebih dahulu setelah mereka duduk di sofa ruangan ayah.


"Apa kamu serius dan tidak keberatan menikah dengan anak Om?" tanya Om Al.


"Om cuma khawatir aja, kalau kamu terpaksa lebih baik batalkan saja sebelum semuanya terlampau jauh," Om Al sedang berperan sebagai Papa untuk Alisha.

__ADS_1


"Pernikahan itu akan berlangsung seumur hidup, jika dari awal sudah terpaksa maka ke depannya akan tidak baik, Om tidak mau kalau anak Om tersakiti karena keterpaksaan kamu," tentu saja Om Al merasa khawatir, karena ia telah merasakan bagaimana dirinya menikah karena terpaksa, dia awal yang sangat menyakitkan sang istri meski akhirnya mereka menjadi keluarga bahagia saat ini.


"Aku yakin Om, aku tidak terpaksa sama sekali," ucapnya dengan mantap karena ia sudah benar-benar memantapkan hatinya untuk menikahi Alisha, meski awalnya karena ia tak ingin mengecewakan Angkasa. Ia juga sadar pernikahan itu bukan main-main, makanya ia sekuat tenaga untuk memantapkan hatinya, meski saat ini masih sulit.


"Baiklah, Om percaya sama kamu, semoga Alisha bisa menjadi istri yang sholihah buat kamu karena sepertinya Alisha bahagia sekali saat tahu kamu yang di jodohkan dengannya," Om Al tahu itu, karena sang istri menceritakan tentang antusias Alisha saat akan di ajari memasak.


"Kalau gitu Om permisi, ini sudah sore, sepertinya istri saya sudah menunggu di rumah," Om Al berdiri dari duduknya.


"Nanti makan malamlah di rumah Om, karena menurut istri Om, Alisha sedang belajar memasak, kamu bisa mencicipi masakan pertamanya," Om Al tersenyum menggoda, setelah itu ia pun berpamitan dan ke luar ruangan Ayah.


Tentu saja Adnan tidak bisa menolak undangan calon mertuanya, suapaya meyakinkan ke dua orang tua Alisha jika dirinya serius akan pernikahan yang akan mereka jalani sebulan lagi.


"Ayo langsung saja masuk ke ruang makan, Tante Icha sudah menunggu," Om Al mempersilahkan Adnan untuk masuk ke ruang makan.


Baru dua menit ia duduk, terlihat seorang pemuda yang ia ke tahui kalau itu adiknya Alisha berjalan ke arah mereka, di susul seorang gadis yang fokus dengan gawainya. Bukan itu yang menjadi perhatian Adnan, tapi penampilan gadis itu, yang hanya mengenakan kaos kebesaran dengan hotpen sebagai bawahannya, bahkan celananya tenggelam karena kaos yang begitu besar di tubuh gadis itu, entah memakai kaos siapa, pikirnya.


Bahkan setelah makan malam, gadis itu pun tak mengganti kostumnya, saat kembali menemui dirinya di ruang keluarga saat ia sedang bercanda dengan Arsyad, membahas sekolah Arsyad tepatnya membahas tentang temannya yang di hukum karena mengantuk di kelas.


"Ngobrolnya di belakang aja Mas, biar si Arsyad belajar di sini," ucapan gadis itu mengalihkan pandangannya dari Arsyad.


"Oke, Kakak tinggal ya Syad, belajar yang rajin biar pinter kaya Abang kamu," ucapnya pada Arsyad. Tentu saja Adnan tahu jika Aufa kembaran Alisha adalah pemuda yang cerdas bahkan beberapa kali menjuarai olimpiade, karena Bunda yang menceritakannya.

__ADS_1


Keduanya duduk di samping rumah, di depan mereka duduk ada sebuah kolam kecil, ia bisa menebak jika isinya ikan hias yang harganya laur biasa. Di sekeliling taman ada pot-pot berisi tanaman bunga, ia bisa menebak lagi jika itu bukan koleksi bunga milik Alisha mungkin milik Mamanya.


"Itu semua Mama yang tanam, ikan ada di situ juga karena permintaan Mama," seakan tahu apa yang di pikirkan oleh Adnan.


"Sudah ketebak," gumamnya yang masih di dengar oleh Alisha.


"Mama emang suka mengisi waktu dengan hal seperti itu, selain mengurus toko rotinya yang terletak di mana-mana," celetuk Alisha, ia tidak tersinggung sama sekali dengan gumaman Adnan karena kenyataannya ia memang tidak suka dengan hal yang di sukai Mamanya.


"Betew kamu kok bisa ada di sini Mas?" tanya Alisha.


"Tadi Papa kamu yang ngundang aku makan malam di sini, katanya kamu lagi belajar masak gitu," jawab Adnan jujur.


Alisha tersipu malu mendengar ucapan Adnan, jadi Adnan tahu jika masakan tadi hasil dari olahan tangannya dengan bantuan Mama.


"Tapi itu Mama yang banyak berperan, aku cuma bantu-bantu aja," ucapnya.


"Iya, tapi lumayan lah, tidak terlalu mengecewakan," ucap Adnan jujur.


Alisha tersenyum malu, tapi sebenarnya hatinya bersorak gembira, mendapatkan pujian di hari pertama ia memasak dengan berbagai drama yang di lakukannya tadi. Jika ia belajar sendiri sudah di pastikan masakannya tidak akan enak di makan, karena rasanya atau bahkan karena gosong.


Mereka kembali melanjutkan acara mengobrolnya, bahkan Bibik menyediakan kopi untuk Adnan, membuat pemuda itu harus menghabiskan kopi panas yang baru saja tersaji, padahal niatnya sebelum ada kopi, ia ingin berpamitan. Jujur ia masih sulit beradaptasi dengan Alisha, ya meskipun gadis itu terlihat biasa saja seperti sudah saling mengenal lama.

__ADS_1


__ADS_2