Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Di Culik 2


__ADS_3

Flashback On


Yesha ke luar dari hotel tempat berlangsungnya pernikahan antara Adnan dan Alisha dengan perasaan campur aduk. Jujur ia masih berat menerima kenyataan ini meskipun ia sudah belajar untuk ikhlas, tapi tetep saja sulit bukan? Ikhlas itu suatu kata yang mudah di ucapkan tapi kenyataannya sulit sekali untuk di lakukan.


Yesha masuk ke dalam mobil, mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia ingin melampiaskan kekesalannya pada diri sendiri, karena masih saja menyimpan rasa untuk Adnan. Ia berharap setelah ke luar sebentar untuk melampiaskan kekesalannya akan kembali dengan hati yang lebih baik. Ya, Yesha berniat ke luar sebentar dan akan kembali, gadis itu bahkan mengirim pesan untuk Arga sang adik sebelum meninggalkan hotel.


Yesha memberhentikan mobilnya di tempat sepi, tapi ia tidak tahu ini di mana. Saat mobil sudah berhenti gadis itu tersadar jika dirinya berhenti di tengah hutan, bahkan tadi ia tidak merasa masuk ke tengah hutan. Baru saja akan kembali, kaca mobil di ketuk oleh seseorang. Yesha semakin takut mana kala seseorang yang mengetuk pintunya terlihat menyeramkan. Tubuh kekar penuh tato, rambut gondrong dan hanya mengenakan singlet berwarna hitam, bahkan tidak hanya satu orang tapi ada dua orang.


Yesha masih bertahan di dalam mobil, tapi ketukan di luar kaca semakin keras, bahkan mobilnya sudah bergoyang. Akhirnya gadis itu memilih ke luar, jika itu perampok ia akan merelakan mobilnya saja dari pada celaka.


"Tas, kunci mobil, sini kasih gue!" bentak salah satu dari mereka setelah Yesha ke luar.


Tanpa berbicara apa pun gadis itu menyerahkan semua yang di minta oleh dua preman tersebut. Dengan senang hati dua preman itu menerimanya.


"Nah gitu, jadi gue enggak usah maksa," ucap salah satu preman, menyeringai.


Ayesha hanya bisa pasrah, ia berfikir yang penting nyawanya selamat, soal mobil dan benda lainnya masih bisa di beli.


Namun, baru saja preman itu akan melajukan mobil Yesha, segerombolan geng motor menghadangnya, berhenti tepat di depan mobil Yesha, membuat gadis itu terkejut dengan kedatangan anak geng motor itu. Ia jadi bertambah was-was, takut jika geng motor tersebut justru akan mencelakai dirinya. Memilih untuk lebih menjauh dari mereka.


"Minggir woy!" teriak salah satu preman karena merasa terganggu. Tapi segerombolan geng motor tersebut tak menghiraukan teriakan preman itu. Mereka justru turun dari motor, lalu menghampiri ke dua preman itu.

__ADS_1


Yesha sebenarnya mau lari, tapi saat melihat ada seseorang yang ia kenal di berada di antara anak geng motor itu membuatnya mengurungkan niat,ia tahu mereka pasti akan menolongnya.


"Kalian berdua turun atau gue bakar nich mobil!" acam salah satu dari anak geng motor itu.


Dua preman tersebut terlihat kesal, lalu mereka ke luar bersama menghadapi anak geng motor itu.


"Lo berdua boleh bawa mobil ini, kalau bisa ngalahin kita," ucap salah satu anak geng motor itu. Setelah itu terjadilah pertarungan, tentu saja kedua preman tersebut kalah menghadapi sepuluh anak geng motor.


Ada satu orang yang tidak turun dari motor sportnya, pemuda yang masih duduk di atas motornya bahkan belum melepas helm full face nya, mengamati anak buahnya dan sesekali melirik gadis yang berdiri di pinggir jalan. Ia tahu gadis itu menangis. Setelah preman itu kabur, ia melepas helmnya lalu mendekati Yesha.


"Max?" kening Yesha mengkerut saat mendapati pemuda yang di hadapannya adalah orang yang sangat ia hindari sekaligus musuh Alisha. Ia tidak menyangka jika salah satu teman Alisha yang ia lihat tadi ternyata anak buah Max. Ya, Yesha tadi melihat teman Alisha yang ikut menyerang dua preman itu.


"Lo baik-baik aja, kan?" pemuda yang tak lain adalah Maxim itu terlihat khawatir dengan keadaan Yesha.


"Tidak masalah," timpal Max santai, "sebagai gantinya Lo harus nemenin gue makan siang," sebuah perintah yang sepertinya tak bisa di bantah.


"Kali ini aja, gue janji enggak akan ganggu Lo lagi setelah ini," ucap Max saat ia tahu akan mendapatkan penolakan dari Yesha.


Akhirnya Yesha mengangguk, "Lo jalan aja makan di mana, entar gue ngikutin Lo dari belakang," ucapnya.


Max menggeleng, "Lo ikut gue aja, wajah Lo terlihat masih panik, gue takut entar Lo celaka lagi, soal mobil biar anak buah gue yang bawa," itu sebenarnya hanya alasan saja, tapi mau tak mau Yesha pun menurut, gadis itu tak memiliki rasa curiga sedikit pun terhadap Max dan anak buahnya.

__ADS_1


Yesha ikut bersama Max ke sebuah kafe, sedangkan mobilnya di bawa oleh salah satu anak buah Max. Sedangkan yang lainnya entah pergi kemana Yesha tidak tahu.


Yesha dan Max memesan makanan, sambil menunggu makanan di sajikan mereka terlihat mengobrol santai. Yesha menjadi semakin yakin jika Max memang berniat baik karena selama mengobrol mereka tidak membicarakan masalah pribadi, bahkan Max terlihat tulus di mata Yesha.


Setelah makanan datang, ke duanya pun menikmati hidangan yang sudah tersaji. Namun setelah menghabiskan semua makanan yang ia pesan, Yesha merasakan kantuk luar biasa, sepertinya makanan Yesha sudah tercampur dengan obat tidur, tapi tentu saja Yesha tidak menyadarinya.


Melihat Yesha sudah tertidur, Max membawa Yesha ke luar dari kafe. Memasuki mobil yang memang sudah di persiapkan oleh anak buah Max, dan meninggalkan mobil Yesha di depan kafe. Entah kenapa pemuda itu sampai tledor meninggalkan mobil Yesha, ia tidak berfikir jika akibatnya akan fatal. Mungkin Max terlalu percaya diri.


Max membawa Yesha ke rumahnya, rumah yang biasa ia jadikan sebagai markas geng motornya. Rumah itu memang hanya dirinya yang menempati bersama dua pekerja, tapi rumah itu tak pernah terlihat sepi karena anak buah Max tak jarang sering menginap di sana.


Max meletakkan tubuh Yesha di atas tempat tidur miliknya, memandangi wajah lelah gadis itu sambil tersenyum puas karena telah berhasil membawa gadis tercintanya.


"Selamat istirahat cantik, karena nanti malam kita akan bekerja," ucap pemuda itu sambil menyeringai. Max mengecup singkat kening Yesha lalu meninggalkan gadis itu di dalam kamar, tak lupa ia mengunci kamar.


"Siapa dua preman tadi?" tanya Max saat sudah berada di antara anak buahnya.


"Mereka biasa beraksi di daerah itu, tapi Lo tenang aja bos, gue jamin mereka sudah enggak berani beraksi di sana. Apalagi tadi kita sempet datengin markasnya," ucap salah satu anak buah Max.


"Bagus,"


"Untung aja Lo enggak kehilangan jejak Yesha, kalo saja kehilangan jejaknya udah pasti terjadi sesuatu sama dia,"

__ADS_1


Seorang anak buah Max tadi sempat melihat Yesha masuk ke area hutan tersebut, lalu dengan cepat melaporkan pada Max. Mereka pun bergegas menyusul Yesha. Awalnya mereka membuat rencana untuk berpura-pura merampok Yesha dan Max akan jadi pahlawan, tapi sebuah keberuntungan berpihak pada Max karena adanya dua preman itu membuat mereka benar-benar murni menolong Yesha tanpa settingan.


Flashback Off


__ADS_2