
Adnan mengira hari ini akan berjalan berdua saja dengan Alisha, tapi nyatanya ia salah. Karena saat ini mereka sedang menikmati indahnya pantai di pagi hari dan menyaksikan sunrise bersama teman-teman Alisha semalam, membuat Adnan kian pasrah dan memilih untuk menikmati pagi ini. Tadi Alisha sempat marah padanya saat di bangunkan hampir telat, karena gadis itu ternyata berencana ke pantai habis subuh dan ingin menyaksikan sunrise.
"Kalau udah bangun dari tadi, kenapa enggak bangunin aku sih?" tanya Alisha dengan kesal, saat menyadari jika waktu sudah hampir jam lima pagi.
"Kamu sulit banget di bangunin,"
"Ck," Alisha hanya berdecak, lalu gadis itu masuk ke dalam kamar mandi, mengambil air wudhu setelah itu melakukan sholat. Setelah selesai sholat, barulah Alisha mengajaknya ke pantai, untung saja pantai dekat dengan tempat mereka menginap.
Ia hanya geleng-geleng kepala mengingat kekesalan Alisha sejak tadi pagi, gadis itu selalu saja bersikap seperti itu terhadap dirinya, tak pernah bersikap manis sedikit pun.
"Mas, fotoin ya," ia terlonjak kaget saat Alisha tiba-tiba menyodorkan ponsel di hadapannya. Yang membuatnya terkejut karena sikap Alisha yang berubah manis, mungkin karena ada teman-teman Alisha di sana.
Ia meraih ponsel tersebut, lalu melihat teman-teman Alisha yang sudah bersiap di hadapannya, dengan berbagai pose. Alisha pun ikut menyusul teman-temannya. Hanya teman-teman perempuan saja, yang laki-laki mungkin masih tertidur di villa, biasanya memang perempuan yang doyan foto-foto di tempat indah. Hanya ada satu laki-laki yang ikut, yang ia tahu pemilik villa tersebut, karena dia yang kemarin menemaninya saat Alisha sedang asyik bermain, tapi entah kemana pemuda itu saat ini, karena tidak ada di sana.
"Nanti gantian kalian berdua yang kita fotoin!" teriak salah satu teman Alisha yang sudah bersiap, membuatnya tersenyum lalu mengangguk.
Beberapa kali pose yang di ambil, membuatnya geleng-geleng sendiri melihat tingkah para gadis itu, ternyata di balik sikap premanisme mereka juga memiliki sikap manis seperti saat ini, kenapa ia mengatakan sikap premanisme? Karena penampilan mereka semua tidak ada yang feminim sedikit pun bahkan terlihat seperti anak-anak jalanan saja atau bahkan preman, karena ada salah satu dari mereka yang mengenakan celana jeans panjang yang sobek di bagian lutut, ada rantai yang menempel di salah satu sisi celana. Untung saja, Alisha tak mengenakan pakaian seperti itu, gadis itu mengenakan celana pendek sedikit di atas lutut dengan kaos kebesaran seperti biasa. Tapi ia yakin jika sebenarnya mereka anak orang berada seperti Alisha.
"Makasih, sekarang giliran kalian berdua," salah satu teman Alisha merebut ponsel yang ia pegang tanpa permisi, membuatnya menggelengkan kepala, lalu mendekat ke arah Alisha yang masih berdiri di tempat mereka foto tadi.
"Kok gitu sih, yang mesra dong," protes gadis yang berperan sebagai fotografer.
"Lyra! Ajari mereka pose yang bagus, Lo yang ngatur cepatan, gue yang motoin," perintah gadis itu pada temannya.
Gadis yang bernama Lyra itu pun mendekat ke arah keduanya, "Kalian itu suami istri tapi kaya orang asing aja sih, foto ginian aja harus di ajarin," gadis itu menggerutu, sedangkan Alisha hanya mendengus.
Sebenarnya Alisha malas foto berdua dengan Adnan, tapi demi menjaga nama baik mereka berdua, ia pun menuruti teman-temannya itu.
Setelah selesai berfoto mereka memilih mencari sarapan, karena matahari sudah menampakkan cahaya cerahnya.
"Guys! Kalian kita pergi dulu ya, kita sarapan di hotel aja," ucap Alisha tanpa memberitahu Adnan sebelumnya, padahal pemuda itu sudah hampir duduk.
__ADS_1
"Cie yang penganten baru, pengennya makan berdua tanpa gangguan," celetuk salah satu teman Alisha, "Yaudah, sana, huss huss," gadis itu mengibaskan tangannya seperti mengusir.
Alisha berbalik meninggalkan mereka tanpa menanggapi celotehan temannya itu, ia sudah tidak sabar menahan sesuatu yang memaksa untuk keluar.
Adnan menyusul Alisha yang berjalan terburu-buru, entah kenapa gadis itu seperti di kejar oleh rentenir saja.
"Buruan, aku kebelet," ucap Alisha.
Oh ternyata, Adnan baru tahu kenapa Alisha membatalkan sarapan bersama teman-temannya. Hanya butuh waktu kurang lebih lima menit, mereka sudah sampai di hotel, Alisha lebih dahulu melesat ke kamar, sedangkan dirinya memilih untuk memesan makanan. Lalu menyusul Alisha ke kamar, karena makanan akan di antar ke kamar mereka.
"Udah aku pesenin makanan, tunggu aja sebentar lagi pasti datang," ucap Adnan setelah Alisha ke luar dari kamar mandi.
"Makasih, aku mau mandi dulu." Alisha mengambil handuk dan baju ganti, lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi. Tak berapa lama pun Alisha sudah ke luar kamar mandi, ia mendapati ada makanan di atas meja yang sudah tertata rapi.
"Kenapa enggak makan?" tanya Alisha.
"Nungguin kamu," jawab Adnan sambil tersenyum.
Alisha mengangguk, setelah mengeringkan rambutnya, ia pun ikut duduk di sofa berhadapan dengan Adnan. "Katanya nungguin aku, kok masih diem sih? Mau sarapan apa enggak?" tanya Alisha karena Adnan hanya menatapnya saja tanpa berniat mengambil makanan.
"Ogah!" ucap Alisha ketus, membuat Adnan berdecak, lalu mengambil sarapan sendiri tanpa bantuan Alisha.
Mereka pun sarapan dengan keadaan hening, menikmati makanan mereka masing-masing.
"Besok pagi kita pulang," ucap Alisha setelah menyelesaikan sarapannya.
"Lho kenapa? Masih ada satu hari lagi, kan?" tanya Adnan, bingung.
"Males di sini ngebosenin, lagian aku mau liat turnamen di Bogor," jawab Alisha.
"Kapan?"
__ADS_1
"Lusa,"
Adnan mengangguk, ia tidak berani melarang keinginan Alisha untuk saat ini, "Kamu ikut dalam turnamen itu?" tanyanya.
Alisha menggeleng, "Enggak, Dani yang ikutan," jawabnya.
"Aku boleh ikut enggak?"
"Mau ngapain? Enggak usah deh,"
"Pengen tau aja, seperti apa kegiatan kamu di sana, kalau enggak boleh yaudah, tapi entar aku anterin deh, kita bisa menginap di rumah Omaku, nanti aku kenalin sama Oma," ucap Adnan panjang lebar.
"Oma? Kok enggak dateng pas kita nikah?" tanya Alisha penasaran.
"Enggak, Oma kayaknya lagi enggak enak badan, makanya tidak hadir,"
"Tapi masak iya, cucunya nikah enggak mau liat, pasti kalau sayang sama cucu pasti di bela-belain hadir, kaya ada yang aneh?" Alisha menatap Adnan curiga, sepertinya ada yang di sembunyikan darinya.
Adnan menghela nafas, "Ceritanya panjang," ucapnya.
"Apa?" Kekepoan Alisha sudah tingkat dewa, ia penasaran apa masalahnya.
"Nanti kamu akan tahu sendiri,"
"Aku mau taunya dari kamu, bukan dari orang lain," Alisha memaksa Adnan untuk bercerita.
Adnan kembali menghela nafas, ia sebenarnya malas bercerita, tapi karena Alisha memaksa ia terpaksa bercerita, "Aku sebenarnya bukan anak kandung Bunda sama Ayah, aku hanya anak angkat," ucap Adnan.
Alisha terkejut mendengar ucapan Adnan tersebut, ia baru tahu jika Adnan bukan anak kandung Ayah dan Bunda.
"Angkasa juga iya, kita bukan anak kandung Ayah dan Bunda, cuma kalau Angkasa masih ada hubungan darah sama Bunda," belum juga hilang keterkejutan Alisha, ia kembali terkejut mendengar penuturan Adnan.
__ADS_1
"Jadi, Oma tidak pernah menganggap aku ada, meski aku menganggapnya Nenekku sendiri," tambahnya.
Sekarang bukan tentang Oma yang membuat Alisha penasaran, tapi justru tentang Adnan dan Angkasa yang bukan anak dari Bunda Ayu dan Ayah Faris.