
Mendadak hatinya bergemuruh tatkala samar-samar mendengar apa yang di ucapkan oleh suaminya.
"Maaf, aku belum bisa menemukanmu hingga saat ini. Padahal aku dulu pernah berjanji untuk menunggumu kembali." Adnan mengusap foto itu berkali-kali.
Tanpa terasa air mata Alisha menetes, pikirannya menerawang jauh mengingat semua perlakuan Adnan pada dirinya selama ini, suaminya itu terlihat begitu mencintainya, tapi yang ia lihat saat ini justru sebaliknya. Suaminya itu menunggu seseorang, yang ia tahu pasti itu siapa? Tapi kenapa Adnan tidak pernah jujur selama ini, kenapa justru membuatnya semakin jatuh dalam pesona Andan?
Alisha menyeka air matanya, meninggalkan kamar dengan tergesa. Ia tidak mau Adnan tahu jika dirinya memergoki suaminya yang sedang memandang foto seseorang tersebut, meski ia tak melihat foto itu tapi ia langsung menebak jika itu adalah foto sepupunya sendiri.
Ia berlari ke luar rumah, tak memperdulikan Cantika yang terus memanggil namanya.
"Mama! Mau kemana!" teriak gadis kecil itu, berlari mengejar Alisha namun sayang Alisha sudah lebih dulu melesat, mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Beberapa kali Alisha memukul kemudi, melampiaskan kekesalan dan kekecewaan nya terhadap Adnan. Sakit sekali rasanya, ternyata selama ini cintanya masih bertepuk sebelah tangan karena ternyata sang suami masih mencintai mantan kekasihnya.
Air mata Alisha terus mengalir bahkan makin bertambah deras. Ia beberapa kali mengumpati Adnan dengan kata-kata kasar, tapi sayang suaminya itu tak mendengarnya.
Setelah puas menangis, Alisha pun kembali melajukan mobilnya karena tadi ia sengaja berhenti di pinggir jalan, jauh dari rumahnya. Sekarang ia bingung harus pergi ke mana? Kembali ke rumah tidak mungkin, ia belum siap untuk melihat wajah Adnan. Ke rumah Mama? Sepertinya bukan ide yang tepat, karena Mama dan Papa pasti akan tahu jika mereka sedang bermasalah, dan ia otak mau itu terjadi. Ke rumah teman-temannya? Sepertinya juga tidak mungkin, karena mereka sedang touring. Ah sial, ia tak bisa berfikir jernih untuk saat ini.
Alisha mengendarai mobilnya tak tentu arah tujuan, hingga tanpa sadar mobilnya sudah berbelok memasuki sebuah gerbang rumah mewah.
"Sial, kenapa malah ke sini sih?" keluhnya saat menyadari ia berada di mana saat ini. Baru saja ia akan memutar balik mobilnya, suara klakson mobil dari belakang mengurungkan niat Alisha untuk kembali. Ia justru memukul kemudi berkali-kali untuk melampiaskan kekesalan dan kesialannya. Dengan terpaksa ia turun dari mobil, lalu menghampiri seseorang yang baru saja keluar dari mobil yang terparkir di samping mobilnya.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Adnan terkejut, ketika mendengan Cantika berteriak meneriaki Alisha. Ia kembali menyimpan foto yang sempat di lihatnya tadi ke dalam dompet, keluar kamar menghampiri Cantika yang sedang menangis dengan Anita yang berusaha menenangkan gadis kecil itu.
"Cantika kenapa Embak?" tanya Adnan pada Anita, janda muda yang usianya di atas Adnan itu mendongak melihat majikannya dengan tatapan kekhawatiran.
"Non Cantika nangis karena Ibu ngejar ibu, tapi ibu malah pergi tanpa berpamitan, Pak," jawabnya.
Adnan mengernyitkan dahinya menjadi berlipat-lipat, tapi sejurus kemudian ia meraih Cantika ke dalam pelukannya, "Udah ya sayang, Mama pasti sebentar lagi pulang," ucapnya sambil mengusap puncak kepala Cantika.
"Ma ma enggak de nger pas Cantika pang gil," ucap gadis cilik itu dengan tersedu-sedu.
Adnan menggendong Cantika menuju kamarnya, ia memberi kode pada Anita supaya mengikutinya ke kamar Cantika.
"Papa mau telfon Mama dulu, kamu sama Embak dulu ya," Adnan menurunkan Cantika dari gendongannya setelah masuk ke dalam kamar gadis kecil itu. Kamar yang bernuansa biru putih dengan dinding bergambar frozen, terlihat cerah dan cocok untuk kamar gadis kecil seperti Cantika. Di atas tempat tidur di penuhi dengan boneka-boneka yang pernah Alisha belikan dulu ketika masih di panti, di tambah dengan beberapa boneka yang baru saja di beli setelah Cantika berada di rumah itu.
"Udah nangisnya, nanti cantiknya ilang kalau nangis terus, Cantika mau cantiknya ilang?" ucap Adnan lagi, karena Cantika masih saja terisak.
"Papa tinggal dulu ya," ucap Adnan lalu mengecup puncak kepala Cantika sekilas sebelum benar-benar pergi.
"Bik, Alisha kemana ya?" tanya Adnan pada Bik Ana, ia sengaja bertanya pada Bik Ana, mungkin Bik Ana tahu kemana perginya sang istri.
"Setau Bibik, Non Alisha baru aja masuk setengah jam yang lalu, Bibik malah enggak tahu kalau dia pergi lagi,"
Karena tak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Bik Ana, ia pun mencoba menghubungi Alisha. Tapi ternyata ponsel Alisha mati. Ia melangkah ke luar rumah dan ternyata benar mobil Alisha tidak ada di sana.
__ADS_1
Kepalanya penuh dengan pertanyaan yang tidak bisa ia ketahui jawabannya. Kenapa Alisha pulang hanya sebentar? Terus tadi Cantika menangis karena Alisha pergi tanpa berpamitan, kenapa? Ia mendadak pusing, apalagi saat ponsel Alisha justru tidak bisa di hubungi. Apa terjadi sesuatu dengan istrinya itu? Tapi apa?
"Pak, istri saya bilang mau pergi kemana gitu enggak?" tanyanya pada satpam yang sedang berjaga saat ini.
"Enggak ada Pak, cuma tadi perginya kaya tergesa-gesa gitu Pak," jelas satpam tersebut.
Membuat Adnan semakin mengernyitkan dahi, ada a
apa dengan Alisha? Ah, ia mendadak mengingat sesuatu, apa Alisha tadi melihat dirinya saat di balkon? Pasti iya, dan istrinya itu pasti salah paham. Tapi ia bingung harus mencari Alisha di mana? Menghembuskan nafas kasar, lalu mencoba menghubungi Mama mertuanya, siapa tahu Alisha berada di sana.
Tapi iya harus kecewa karena ponsel mertuanya juga tidak aktif, bahkan ponsel Papa pun tidak aktif. Sungguh kebetulan yang memusingkan, membuat ia mau tak mau mendatangi rumah mertuanya.
"Mama sama Papa kemana Syad?" tanyanya pada Arsyad sang adik ipar yang sedang belajar di ruang keluarga.
"Eh, Mas," Arsyad terkejut mendapati Adnan sudah berada di dalam rumah, dan ia tidak mendengar Kakak iparnya itu masuk dan mengucapkan salam, mungkin saking seriusnya ia belajar.
"Ke luar Mas, mungkin baru aja mendarat," jawab Arsyad.
Adnan sedikit lega karena kedua mertuanya tidak ada di rumah, itu artinya ia tidak harus menjelaskan panjang lebar tentang kepergian Alisha.
"Kakak kamu ada pulang enggak?" tanyanya lagi.
"Enggak Mas, Kak Alisha malah udah lebih dari seminggu enggak kesini,"
__ADS_1
Adnan mengangguk, lalu ia berpamitan pada Arsyad. Ia berpesan pada adik iparnya itu supaya tidak usah bilang ke Mama dan Papa kalau Alisha pergi dan Arsyad menyetujuinya.
Adnan memutar otak, kemana perginya Alisha. Ke rumah Bunda tidak mungkin sama sekali, istrinya itu pasti tidak berani datang ke rumah Bunda tanpa dirinya. Ia menghembuskan nafas panjang, kembali melajukan mobilnya menelusuri jalan raya untuk mencari Alisha. Tapi ia justru memutar balik mobilnya setelah mendapat telfon dari Bik Ana jika Cantika rewel.