
"Mau kemana?" tanya Alisha mengernyitkan dahi saat Adnan membelokkan mobilnya tidak ke arah rumah mereka melainkan ke tempat lain.
"Mampir ke suatu tempat dulu," jawab Adnan tanpa menoleh ke belakang di mana Alisha berada karena ia masih fokus dengan jalanan.
Setelah mendapat jawaban seperti itu, Alisha kembali terdiam seperti tadi bahkan kali ini ia memilih untuk memejamkan mata, tak ingin tahu Adnan akan membawanya ke mana, karena ia tak peduli selain itu ia juga masih kesal dengan suaminya, apalagi Adnan tak mengatakan apapun sejak tadi. Ia butuh penjelasan, ia berharap Adnan akan meminta maaf padanya lalu menjelaskan semuanya tanpa terkecuali. Padahal jika di pikir-pikir Adnan tidak tahu kenapa ia pergi dari rumah, ah biarkan saja yang penting ia butuh penjelasan. Mau Adnan tahu apa tidak penyebabnya ia kabur. Egois memang.
"Sayang bangun, sudah sampai." Adnan menyentuh pipi Alisha yang tertidur nyenyak di jok belakang, bahkan sampai ia membuka pintu belakang pun Alisha masih tertidur sama sekali tidak terusik.
Alisha mengerjapkan matanya, lalu ia menghela nafas panjang bersiap untuk turun tanpa ingin tahu jika mereka telah sampai di mana? Setelah ia turun dari mobil, dahinya mengkerut melihat sekeliling yang ternyata bukan di halaman rumahnya, meskipun tempat ini bukan tempat asing baginya, tapi kenapa Adnan mengajaknya ke tempat ini? Bahkan suaminya itu tidak pernah mengajak ke tempat ini sebelumnya. Baru saja ia akan membuka pintu mobil, tapi Adnan lebih dahulu meraih pergelangan tangannya.
"Kita mampir di sini sebentar, aku mau ngasih tau sesuatu," ucap Adnan, mengerti akan kebingungan Alisha.
"Jangan lama-lama, aku kangen sama Cantika," timpal Alisha sinis, sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Adnan tapi tak berhasil.
Adnan terus membawanya masuk ke tempat itu yang tak lain adalah taman. Mengajaknya duduk di sebuah kursi di bawah pohon yang rindang, kursi yang dulu sering ia duduki ketika bosan berada di rumah maupun saat malas berkumpul dengan teman-temannya. Ah, ia jadi teringat masa itu, menerawang jauh saat dirinya masih polos, saat berebut mainan dengan Abang kembarnya.
Lamunannya bertambah sempurna ketika ia melihat ada beberapa anak-anak mengenakan pakaian sekolah dasar, membayangkan saat dirinya seusia mereka. Namun ia tersadar, ini masih terlalu pagi dan kenapa anak-anak sekolah yang memakai seragam putih merah itu sudah bermain-main di taman? Apa mereka membolos, jika iya berarti pendidikan saat ini sangat memprihatinkan. Ia menggelengkan kepala ketika memikirkan anak-anak di depan sana.
"Kenapa?" tanya Adnan heran saat mendapati Alisha sedang menggelengkan kepala sambil melihat anak-anak berseragam putih merah di hadapan mereka.
__ADS_1
Alisha kembali menggelengkan kepala, kali ini Adnan tahu jika itu jawaban dari pertanyaanya tadi.
"Aku tahu apa yang membuat kamu marah sampai pergi dari rumah," Adnan menoleh ke arah Alisha yang masih menatap lurus ke arah anak-anak berseragam putih merah itu. Ia merubah posisi hingga menghadap Alisha, meraih salah satu tangan Alisha lalu ia genggam, tidak ada penolakan dari istrinya itu. Tapi Alisha tetap bergeming, tak merespon ucapannya maupun sentuhannya.
"Aku mau bercerita sedikit, sebelum menjelaskan kesalahfahaman ini," ucapan Adnan itu sontak membuat Alisha mengalihkan fokusnya dan mentap dirinya dengan dahi mengkerut.
"Dengarkan dulu ceritaku, setelah itu kamu boleh protes atau apa terserah, mau marah juga aku tidak masalah," Adnan lebih dahulu berbicara sebelum Alisha melayangkan suatu protes.
Tanpa menunggu persetujuan dari Alisha, Adnan mulai menceritakan sesuatu, "Seperti yang pernah aku ceritakan dulu, seperti apa kehidupanku sebelum di panti asuhan dan setelah di panti asuhan, tapi ada bagian yang belum pernah aku ceritakan ke kamu,"
Alisha diam menyimak, menunggu kelanjutan ucapan suaminya itu.
"Sebelum bertemu dengan Angkasa dan ikut dengannya, aku sering sekali datang ke tempat ini karena menurutku di sini tempat ternyaman untuk menyendiri, selain tak banyak yang berkunjung di sini juga sejuk, tidak seperti sekarang sudah ramai pengunjung, apalagi setelah taman ini di renovasi," Adnan melihat sekeliling, sudah berbeda sekali suasana di tempat ini sekarang.
"Dulu, setelah pulang sekolah aku selalu mampir ke sini, kadang cuma nongkrong sambil menikmati suasana asri tempat ini, kadang juga mengerjakan tugas dari sekolah, semua aku lakukan sendiri tanpa ada teman. Tapi, ketenangan ku mendadak terusik, ketika suatu hari ada seorang gadis kecil datang tanpa permisi, awalnya malu-malu tapi akhirnya tidak tahu malu," Adnan tersenyum membayangkan betapa menggemaskannya gadis kecil itu.
Alisha menerawang jauh, mengingat kenangannya dengan seseorang di tempat ini. Tapi ia tidak berfikir sama sekali jika yang di ceritakan suaminya itu adalah dirinya.
"Awalnya aku kesal, tapi lama kelamaan lucu juga, apalagi saat dia selalu ngasih aku makanan dan maksa untuk makan, menghabiskan semua bekalnya, dengan terpaksa aku memakan semuanya dan itu tidak gratis, karena setelah makan aku harus mendengarkan ia bercerita panjang lebar, mulai dari menceritakan Abangnya sampai teman-temannya di sekolah,"
__ADS_1
Dada Alisha mendadak bergetar hebat, tapi ia belum yakin dengan apa yang ia pikirkan tentang gadis kecil itu, memilih untuk kembali menyimak cerita Adnan tanpa bertanya maupun protes.
"Kita bahkan sempat mengabadikan momen di sini, sebelum aku pergi, karena setelah itu aku ikut Bunda ke Bandung," tersirat kekcewaan di mata Adnan, "Aku bahkan sering datang ke tempat ini, setelah aku kembali ke Jakarta, tapi tak pernah sekali pun bertemu dengan gadis itu, mungkin karena aku hanya punya foto lamanya saja dan tidak jelas dia sekarang sudah seperti apa, pasti sudah berubah," Adnan mendadak meraih dompet dalam saku celananya. Mengambil selembar foto, baru saja akan menyerahkan foto itu pada Alisha, istrinya itu lebih dahulu memeluknya, sambil meneteskan air mata. Entah apa alasannya, membuat ia panik.
"Kamu kenapa menangis? Apa ucapanku ada yang membuatmu terluka?" tanya Adnan bingung, ia membalas pelukan Alisha.
Alisha menggeleng, "Aku menangis bahagia," ucapnya lalu melepaskan pelukannya, menatap sepasang mata suaminya penuh makna. Lalu kembali memeluk Adnan, membuat suaminya itu makin bingung.
"Kamu tahu Mas? Kalau ternyata takdir telah menyatukan kita sejak lama," ucap Alisha, kini ia kembali menatap sepasang mata suaminya, tersenyum manis melihat Adnan yang terlihat bingung.
"Tanpa menunjukkan foto itu, aku tahu di mana gadis kecil itu sekarang, dia juga merindukanmu, berharap bertemu dengan pangeran kecilnya itu," tambahnya.
Adnan terkejut mendengar ucapan Alisha, "Di mana gadis itu sekarang? Apa kamu mengenalnya? Aku ingin sekali bertemu dengan dia," ucap Adnan, "Jangan salah faham dulu," ucapnya lagi saat mendapati Alisha berwajah murung.
"Serius kamu tidak kenal dengan gadis itu Mas?" tanya Alisha sambil menggelengkan kepala, "Ini sih luar binasa. Jahat banget sih, sampai enggak ngenalin istrinya sendiri," tambahnya sambil mengerucutkan bibir.
Adnan terkejut, "Maksudnya?" tanyanya ke lebih meyakinkan apa yang ia dengar.
Alisha mengangguk, sambil tersenyum penuh arti. Setelah itu kini giliran Adnan yang memeluk dirinya erat, mengecup puncak kepalanya berkali-kali, hingga rambutnya berantakan. Lalu beralih mengecup seluruh wajahnya tanpa terkecuali, ia jadi malu sendiri karena jadi bahan tontonan orang-orang di sekitar mereka termasuk anak-anak berseragam putih merah.
__ADS_1
"Udah Mas, malu tau. Tuh liat, anak-anak kecil juga ikut nonton," Alisha mencoba melepaskan diri.
Adnan pun menghentikan kegiatannya, "Ayo pulang, ceritakan semuanya di rumah," ucapnya sambil meraih tangan Alisha.