Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Jangan Salahkan Takdir


__ADS_3

Adnan nampak gelisah, ia tidak konsentrasi saat memeriksa pekerjaannya padahal esok pagi ia harus bertemu klien sebelum mengajar di kampus. Pikirannya kini terfokus pada Cantika yang sedang berada di rumah Tante Siska, meskipun di sana sudah ada Anita, tetap saja Adnan masih merasa was-was, takut terjadi sesuatu dengan Cantika.


"Tidur Mas, ini udah malam, aku yakin Cantika baik-baik saja di sana." Alisha meletakkan segelas jus alpukat di atas meja yang ia bawa dari dapur. Lalu ikut duduk di sofa sebelah Adnan.


Adnan menghembuskan nafas kasar, lalu meraih jus alpukat yang tadi Alisha bawa. Entah sejak kapan Adnan menyukai jus tersebut, karena kini setiap malam sebelum tidur ia harus meminum jus alpukat kesukaan sang istri yang kini juga menjadi kesukaannya. Meneguk habis jus tersebut lalu meletakkan kembali gelas yang sudah kosong ke atas meja.


"Ayo tidur, kamu juga enggak boleh begadang." Adnan meraih tangan Alisha lalu menuntun sang istri menuju tempat tidur.


Adnan mencoba untuk memejamkan mata, tapi tetap tidak bisa. Bahkan sang istri sudah tertidur nyenyak dalam pelukannya, ia pun menatap wajah teduh Alisha saat tidur, terlihat lebih cantik dan menggemaskan. Hingga tanpa terasa Adnan pun tertidur, melupakan kegundahannya tentang Cantika.


🌻🌻🌻


Tok Tok Tok


Sura ketukan pintu menyadarkan Adnan dari tidur nyenyaknya, sepertinya ia baru saja tertidur belum lama, tapi ketukan pintu tersebut sungguh sangat mengganggunya, bahkan Alisha juga ikut terbangun saat mendengar ketika pintu bertubi-tubi, seperti ada sesuatu yang mengkhawatirkan.


Adnan segera membuka pintu, dan nampaklah Bik Ana dengan wajah gugup, bahkan rambutnya masih berantakan sepertinya tergesa-gesa belum sempat membenarkan tatanan rambutnya.


"Ada apa Bik?" tanya Adnan, tumben sekali Bik Ana membangunkannya di tengah malam begini, ah bukan tengah malam lagi melainkan hampir pagi.


"Anu Den, Bibik dapat telfon dari Anita...." Belum juga Bik Ana menyelesaikan ucapannya Adnan lebih dahulu menyela.


"Cantika kenapa Bik? Terjadi sesuatu sama Cantika?" tanya Adnan panik.


"Bukan Nona kecil Den, tapi nenek Aden," ucap Bik Ana belum jelas, Bibik mengucapkan itu sambil bergetar, membuat Adnan mengerutkan keningnya.


Adnan menghembuskan nafas lega, tapi sedetik kemudian ia kembali di buat terkejut dengan kenyataan yang di sampaikan oleh Bik Ana. Tanpa sepatah kata pun Adnan langsung berlari menuju kamar, berganti pakaian lalu mencari kunci mobil, baru saja ia melangkah mendekati pintu, hampir saja ia melupakan sang istri yang saat ini sedang berada di dalam kamar mandi.


"Mau kemana Mas?" tanya Alisha saat melihat Adnan sudah rapi.


"Ayo kita ke rumah Tante Siska sekarang, cepat ganti baju kamu," ucap Adnan, ia sudah tidak sabar ingin segera sampai di tempat Tante Siska.

__ADS_1


Alisha menuruti tanpa banyak protes, ia melihat raut wajah suaminya yang panik dan bisa menebak jika terjadi sesuatu di sana, tapi ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena Adnan belum memberitahu.


"Mas, pelan-pelan!" seru Alisha saat sang suami mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Maaf sayang, aku lupa," Adnan menoleh ke arah sang istri yang terlihat kesal akan kelakuannya, ia benar-benar lupa jika saat ini Alisha sedang hamil.


"Sebenarnya ada apa sih Mas? Dari tadi aku tanya enggak kamu jawab,"


Adnan menghembuskan nafas panjang, "Kata Bik Ana, Nenek di bawa ke rumah sakit, aku khawatir terjadi sesuatu," ucap Adnan.


"Semoga aja nenek baik-baik aja Mas, kita do'akan saja,"


Adnan mengangguk, ia kembali fokus dengan jalanan. Meskipun tengah malam tetap masih ada kendaraan lain yang berseliweran, meski tidak sepadat saat siang hari.


Tak lama mobil Adnan masuk ke sebuah halaman rumah sakit terdekat dari rumah Tante Siska, 8a memarkirkan mobilnya lalu turun dari mobil, masuk ke dalam rumah sakit sambil menggandeng tangan isteri tercinta.


Baru saja ia melangkah masuk ke dalam rumah sakit, ia melihat pemandangan yang mengejutkan, pasalnya Tante Siska dan anak perempuannya sedang menangis dalam pelukan seorang lelaki, mungkin suaminya karena ia belum sempat bertemu dengan suami Tante Siska.


"Apa yang terjadi? Terus dimana Nenek dan Cantika?" tanya Adnan, ia tentu saja mengkhawatirkan Cantika yang tidak terlihat di tempat tersebut.


"Bintang, Nenek sudah ninggalin kita untuk selamanya," ucap Tante Siska terbata-bata karena tangis yang belum reda.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un,"


Setelah itu Adnan pun langsung masuk ke dalam UGD, ia ingin memastikan apakah yang di ucapkan Tante Siska benar atau tidak dan ternyata benar, nenek sudah terbujur kaku di atas brangkar, tubuhnya tertutup kain putih. Ia pun memberanikan diri untuk membuka wajah nenek, tanpa terasa air matanya menetes, meskipun di masa lalu nenek tidak menganggapnya ada, tapi ia masih memiliki ikatan darah dengan sang nenek. Ia tak sejahat itu untuk tidak memaafkan nenek.


"Semoga nenek tenang di alam sana, salam buat Mama dan Papa ya Nek," ucap Adnan sambil mengecup kening nenek yang terasa dingin. Setelah itu ia menutup kembali wajah nenek dan meninggalkan ruangan tersebut.


🌻🌻🌻


Acara pemakaman Nenek baru saja usai, semua orang sudah membubarkan diri, termasuk kedua orang tua Alisha dan juga Adnan. Hanya Tante Siska yang masih enggan untuk meninggalkan makam, ia sangat kehilangan orang tuanya itu. Apalagi hanya dirinya yang menemani saat terahir nenek, adiknya yang berada di luar kota tidak mengetahui jika nenek sudah tiada, karena mereka tidak memiliki akses untuk menghubungi adiknya itu.

__ADS_1


Adnan sudah berusaha untuk mencari pamannya, tapi belum juga ada hasil hingga saat ini, membuat Tante Siska menyuruhnya untuk mengakhiri pencarian, percuma saja karena nenek pun sudah tiada.


"Pa, kenapa Nenek juga ninggalin Cantika sama kaya Ayah dan Bunda? Padahal Cantika baru bertemu sekali sama Nenek," Cantika masih saja menangis, meskipun Alisha dan Adnan sejak tadi sudah membujuknya. Tangisnya bahkan bertambah ketika melihat jasad nenek di kebumikan. Gadis kecil itu memaksa untuk ikut ke pemakaman meski Alisha dan Adnan telah melarangnya.


Mereka saat ini sedang berdiri di belakang Tante Siska dan sang suami yang masih duduk di sisi makam nenek.


"Kan masih ada Papa sama Mama. Nenek sudah kangen sama Ayah dan Bunda, jadi menyusul mereka. Sekarang Cantika doakan Ayah, Bunda, Abang dan nenek ya, supaya mereka di sana terus tersenyum," ucap Adnan, kembali menenangkan Cantika.


Adnan paham sekarang, ternyata kemarin adalah permintaan terakhir nenek sebelum beliau meninggal, untung saja sang istri membujuknya dan memperbolehkan Cantika menginap di sana semalam, jika tidak ia pasti akan menyesal untuk selamanya.


"Emang mereka di mana Pa? Kok bisa tersenyum? Mereka kan di bawah tanah," pertanyaan polos itu meluncur dari bibir Cantika.


"Merek ada di syurga sayang," jawab Alisha.


"Ayo kita ajak Tante Siska pulang, Cantika mau main lagi kan sama Kak Ririn?" Alisha mengalihkan pembicaraan, ia tak mau jika Cantika bertanya kemana-mana.


"Mau Ma, kasian juga Kak Ririn di rumah sendiri,"


Setelah itu mereka benar-benar meninggalkan area pemakaman.


🌻🌻🌻


"Serius Tante tidak mau aku pertemukan dengan kedua anak Tante?" tanya Adnan, saat ini mereka berada di rumah Tante Siska. Adnan tadi menawari sang Tante untuk bertemu dengan kedua anaknya yang dibawa oleh ayah merek ke luar negeri.


Sudah seminggu yang lalu setelah kepergian Nenek, Adnan ingin membantu sang Tante menemukan anaknya, tapi ternyata penolakan yang di dapatkan.


"Tante serius, sebenarnya Tante kangen sama mereka tapi Tante takut kalau mereka tidak mau menganggap Tante ini Mamanya, biarkan mereka bahagia bersama Papanya di sana," jawab Tante Siska.


"Baiklah kalau itu yang Tante mau, tapi jika Tante berubah pikiran datanglah ke rumahku, nanti aku akan pertemukan Tante dengan kedua anak Tante, mereka pasti sudah dewasa," Adnan memang mengenal dua anak Tante Siska, keduanya perempuan. Yang pertama umurnya mungkin sepantaran dengan Alisha sedangkan yang pertama dulu masih kecil sekali.


"Terimakasih, biarkan Tuhan yang mempertemukan Tante dengan anak Tante sendiri, karena Tante yakin mereka pasti akan mencari keberadaan Tante suatu saat nanti,"

__ADS_1


"Tante akan menerima hukuman ini, karena telah memisahkan kamu dengan kedua orang tuamu, sekarang Tante merasakan betapa sakitnya di tinggalkan. Tante minta maaf sama kamu ya, Tante benar-benar menyesal, jika waktu bisa terulang lagi, Tante tidak akan melakukan itu, tapi sayang, waktu tak dapat berputar kembali," tanpa terasa Tante menitikan air mata.


"Sudah Tan, semua yang terjadi di masa lalu adalah Takdir, dan kita tidak boleh menyalahkan takdir tersebut, yang terpenting sekarang Tante sudah menyesali semuanya," Adnan sekarang benar-benar yakin, jika Tante Siska benar-benar menyesali perbuatannya di masa lalu. Ia bisa melihat ketulusan di mata sang Tante, mungkin karena pelajaran hidup yang Tante alami selama sepuluh tahun lebih setelah kehilangan harta benda.


__ADS_2