Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Rumah Bunda


__ADS_3

"Asik banget kayaknya, sampe lupa waktu," celetuk Adnan saat melihat Alisha masih asyik duduk di sofa rooftop sambil bermain ponsel.


Di rooftop kantor Adnan memang ada tempat untuk bersantai, biasanya Adnan sering datang ke tempat itu untuk merefresh pikiran saat pekerjaan membuatnya butuh banyak pemikiran.


Alisha menoleh, ia tersenyum pada suaminya itu, "Di sini enak, mau tidur juga kayaknya lebih aman dari pada di ruangan kamu," ucapnya.


"Emang, aku sering ke sini kalau lagi pusing mikirin kerjaan yang enggak kelar-kelar, ya, meskipun sejauh mata memandang hanya ada gedung-gedung pencakar langit, tapi setidaknya bisa membuat pikiran jadi lebih tenang," Adnan berdiri di sisi pembatas rooftop, melihat suasana di sekitar gedung kantornya.


Alisha beranjak dari duduknya, ia menghampiri Adnan dan ikut berdiri di sisi pemuda itu, melihat sekeliling seperti yang Adnan lakukan.


"Ayo pulang, kerjaanku udah selesai," Adnan menggenggam tangan Alisha, tidak ada penolakan dari wanita itu. Mereka berdua sama-sama melangkah meninggalkan rooftop dengan saling bergandengan tangan.


"Langsung ke rumah Bunda?" tanya Alisha saat menyadari mobil yang Adnan kendarai melewati pertigaan menuju rumah mereka.


"Iya, kalo pulang dulu bakalan malam sampe sananya, tadi aku udah telfon Bik Ana, kalo kita enggak pulang malam ini," jawab Adnan sedikit menoleh ke arah Alisha sambil tersenyum, ia meraih salah satu tangan Alisha lalu menggenggamnya. "Tidak apa-apa kan?" tanyanya.


"Iya enggak apa-apa, aku ikut apa kata kamu saja," jawab Alisha, ia membalas senyuman Adnan.


Tak lama mobil yang Adnan kendarai memasuki sebuah gerbang di salah satu perumahan elit. Entah kenapa Alisha tiba-tiba merasa gugup, padahal ia sudah menjadi bagian keluarga, mungkin karena ia jarang sekali datang ke rumah itu karena kesibukan keduanya.


"Tangan kamu dingin? Kenapa sayang?" tanya Adnan saat menyadari perubahan di telapak tangan Alisha.


Alisha menggeleng, tersenyum meyakinkan Adnan jika dirinya memang tidak apa-apa.


"Biasa aja, kamu juga sudah kenal Ayah dan Bunda, kenapa gugup?" tanya Adnan, ia tahu jika Alisha sedang menyembunyikan kegugupannya.


Alisha mengangguk, lalu keduanya turun dari mobil. Adnan kembali menggenggam tangan Alisha hingga masuk ke dalam rumah, menyapa Bunda dan Ayah, serta pekerja di sana. Angkasa tidak terlihat, entah di mana pemuda itu.

__ADS_1


Setelah berbasa-basi sebentar dan saling menanyakan kabar, Adnan pun mengajak Alisha masu ke dalam kamarnya. Alisha beberapa kali datang ke rumah ini, tapi tak menyempatkan diri masuk ke dalam kamar Adnan sebelumnya. Alisha melihat sekeliling kamar Adnan, tidak ada yang menarik sedikit pun, kamar itu tampak biasa saja seperti kamar pada umumnya.


"Kalau mau mandi dulu, ada beberapa pakaian di lemari itu," Adnan menunjuk sebuah lemari berukuran besar yang ada di kamar tersebut.


Alisha melihat ke arah telunjuk Adnan, ia mengernyitkan dahi, bingung.


"Bunda yang mempersiapkan semuanya, udah dari dulu sebelum kita nikah," ucap Adnan saat menyadari kebingungan di wajah Alisha.


'"Iya nanti dulu, aku masih mau liat-liat," timpal Alisha sambil berjalan menuju balkon.


Adnan pun mengikuti Alisha yang kini berdiri di sisi pembatas balkon. Adnan memeluk tubuh istrinya itu dari belakang. "Apa mau mandi bareng lagi?" bisiknya tepat di dekat telinga Alisha, membuat gadis itu merasa kegelian.


"Itumah maunya kamu, enggak ah. Kamu mandi dulu aja sana, aku masih mau menikmati suasana di sini," Alisha menolak ajakan Adnan, ia tahu akan berakhir seperti apa jika mereka mandi bersama.


"Yaudah, aku mandi dulu ya," ucap Adnan, ia mengecup sekilas pipi Alisha, lalu melepaskan pelukannya. Meninggalkan Alisha yang masih menikmati suasana balkon di kamar itu, pemandangan yang terlihat taman samping rumah yang berisi banyak tanaman bunga, sepertinya Bunda menyukai tanaman seperti Mamanya.


🌻🌻🌻


"Iya Mas," Alisha beranjak dari duduknya menghampiri Adnan yang masih berdiri di depan pintu kamar, memperhatikan Alisha dari atas sampai bawah sambil tersenyum, Alisha merasa risi di perhatikan seperti itu, meskipun yang memperhatikan adalah suaminya sendiri.


"Ada yang salah dengan penampilanku?" tanyanya.


Adnan menggeleng, "Kamu terlihat lebih cantik kalo pakai kaya gini," ucapnya.


Alisha memperhatikan penampilannya, memakai dress rumahan yang terlihat elegant karena hanya dress itu yang terlihat lebih cocok untuk dirinya. Di dalam lemari banyak pilihan dress tapi menurutnya terlalu ribet kalau di pake di rumah seperti saat ini. Tentu saja, karena Alisha tak terbiasa mengenakan dress seperti itu


"Di lemari cuma ada ini yang pas untuk di pakai di rumah, semuanya terlalu ribet kalau hanya untuk santai di rumah," timpal Alisha.

__ADS_1


"Tidak masalah, ini lebih baik," ucap Adnan, "Dari pada kamu berpakaian seperti di rumah, aku lebih menyukai seperti ini," tambahnya dalam hati, ia tak mau Alisha berfikiran yang tidak-tidak, karena ia mau Alisha berubah dengan sendirinya tanpa paksaan dari siapa pun.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang makan, di sana sudah ada Ayah dan Bunda.


"Angkasa ke mana Bun?" tanyanya pada Bunda karena sejak tadi tak mendapati Angkasa di rumah.


"Dia pamitan sama Bunda mau ke luar negeri katanya, entah mau cari apa," jawab Bunda, ia tidak memberi tahu alsan sebenarnya Angkasa pergi ke luar negeri, karena menurutnya Alisha tidak berhak tahu.


Angkasa ke luar negeri mencari seseorang yang ia cintai, karena ia sempat mendapat kabar jika gadis yang ia cintai yang tak lain adalah Yesha ada di sana, tapi entahlah itu benar atau salah.


"Yaudah ayo makan, anggap aja rumah sendiri ya," Bunda mulai mengisi piring Ayah dengan nasi dan juga lauk, begitu pun Alisha ia berinisiatif mengisi piring suaminya dengan nasi dan lauk.


Mereka makan malam sambil di selingi obrolan ringan, tidak seperti di rumah Mama, jika sedang makan Papa sangat melarang mereka untuk berbicara, karena menurutnya tidak sopan.


"Kalian sudah nikah lebih dari dua bulan, gimana Alisha sudah hamil belum?" tanya Bunda di tengah-tengah kegiatan makan mereka.


Uhuk Uhuk


Alisha tersedak mendengar pertanyaan dari Bunda. Adnan segera memberinya air putih yang sudah tersedia di hadapan mereka.


"Hati-hati kalo makan sayang," ucap Adnan setelah menyerahkan air minum pada Alisha.


Alisha hanya mengangguk, lalu menyerahkan kembali gelas yang sudah kosong tersebut.


"Baru aja berhasil mematahkan pertahanan dia, belum hamil lah Bun," ucap Adnan dalam hati.


"Doakan aja ya Bun," jawabnya.

__ADS_1


"Pasti Ayah dan Bunda selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua, nikmati dulu masa-masa pacaran kalian," ucap Ayah, ia tidak mau membuat Alisha kepikiran. Ia ingat betul saat dulu istrinya yang selalu mendapat pertanyaan yang sama dari sang Mama, dan berahir menangis di kamar karena setelah beberapa tahun tak juga mendapatkan keturunan bahkan hingga saat ini.


Alisha hanya tersenyum menanggapi, tapi entah di dalam hatinya seperti apa? Semoga dia baik-baik saja, karena Alisha wanita yang kuat.


__ADS_2