
"Aku kira kamu kabur, bangun tidur sudah tidak ada di kamar, ternyata ada di dapur," celetuk Adnan yang baru saja masuk ke dapur. Tadi ia sempat terkejut karena Alisha tidak ada di kamar, ia bahkan mengira Alisha kabur lagi. Setelah melaksanakan kewajibannya, ia pun mencari keberadaan Alisha yang ternyata ada di dapur, sedang memasak. Padahal matahari masih sembunyi di peraduan, tapi gadis itu terlihat bersemangat, padahal ia tidak meminta Alisha untuk masak, sepertinya gadis itu sudah mulai terbiasa dengan kegiatan tersebut, Adnan pun mensyukurinya.
"Enggaklah, mau kabur kemana? Aku enggak mau dapet hukuman lagi," timpal Alisha, ia menatap Adnan sekilas lalu kembali melanjutkan kegiatannya.
"Ya siapa tahu, kan?" Adnan mendekat, "Biar aku yang lanjutin, aku kan udah janji mau buat sarapan untuk kita selama seminggu," tambahnya.
"Kamu besok aja, mumpung ini hari Minggu biar aku yang masak," Alisha tidak mau mengalah, ia tetap melanjutkan kegiatannya.
"Yaudah kalo gitu," Adnan mengalah, ia melangkah ke luar dari dapur, tapi langkahnya terhenti ketika Alisha kembali bersuara.
"Udah aku buatin kopi di atas meja makan," ucap Alisha tanpa menoleh ke arah Adnan.
Adnan mengerutkan keningnya, tumben sekali Alisha membuatkan kopi untuknya tanpa di suruh, tapi setelah itu ia menggidikkan bahu.
"Makasih ya," ucapnya, lalu masuk ke ruang makan, dan ternyata benar di sana ada segelas kopi dan satu gelas susu coklat yang sudah habis setengah, sepertinya punya Alisha dan sudah di minum setengahnya.
Ia pun membawa kopi tersebut ke taman samping rumah, seperti biasa ia duduk di sebuah gazebo dekat kolam renang sambil menikmati kopi hitam kesukaannya dan melihat matahari terbit. Pagi yang begitu cerah, membuatnya semakin bertambah semangat apalagi ini hari libur, ia berencana akan mengajak Alisha ke suatu tempat.
Satu jam berlalu, Adnan masih setia berada di gazebo sambil memainkan ponselnya, entah apa yang membuat pemuda itu betah di sana. Padahal biasanya jika hari Minggu Adnan selalu menyempatkan untuk joging di sekitar komplek, tapi hari ini rasa malas menghampirinya, dan memilih untuk berdiam diri di gazebo.
"Mas, mau makan sekarang apa nanti?" pertanyaan Alisha mengalihkan atensi Adnan yang sedang khusyuk melihat ponsel.
"Udah beres masaknya?" bukannya menjawab, pemuda itu justru balik bertanya.
"Udah, kalau mau makan nanti, aku mandi dulu, tapi kalau sekarang, ayo," karena tidak mendapatkan jawaban, Alisha pun memberi dua opsi.
"Yaudah sekarang aja," Adnan beranjak dari duduknya, ia mengikuti Alisha yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
"Jadi inget waktu pertama kamu masak di rumah ini," celetuk Adnan saat melihat menu sarapan mereka yaitu sup buntut, tapi kali ini ada ikan goreng dan sambalnya.
__ADS_1
"Moga aja rasanya enggak kaya waktu itu," timpal Alisha, seperti biasa ia melayani Adnan, mengambilkan nasi.
"Pasti enggaklah," ucap Adnan, "Sini, lauknya aku ambil sendiri," Adnan meminta piring yang baru saja di isi nasi oleh Alisha dan gadis itu pun menyerahkannya.
"Sambelnya Bibik yang buat, aku enggak suka pedas, kalau aku yang buat takut enggak enak," celetuk Alisha saat melihat Adnan menyendok sambal.
"Iya tau, Bibik pernah bilang,"
"Gimana supnya? Enak enggak?" tanya Alisha, penasaran setelah melihat Adnan memasukkan satu suap sup ke dalam mulutnya.
Adnan mengacungkan jempolnya, membuat Alisha tersenyum. Ternyata usahanya tidak sia-sia, membuat sup kesukaan Adnan. Ya, Alisha baru tahu jika sup buntut adalah makanan kesukaan Adnan, karena kemarin Bunda yang bercerita saat datang ke rumah. Bunda juga memberikan resek yang biasanya ia gunakan saat masak sup buntut.
"Adnan itu suka sama sup buntut, dia suka minta di buatin itu untuk sarapan, kadang juga makan malam," celetuk Bunda.
"Kamu udah tau?" tanya Bunda.
Alisha menggeleng, "Belum Bun, tapi dia pernah minta di buatin sih, tapi enggak di makan karena kemanisan," Alisha berucap jujur pada Bunda.
Dan pagi ini Alisha mempraktekkannya, ia bahagia ketika Adnan menyukai masakan yang di buat.
"Hampir sama kaya masakan Bunda," ucapan Adnan menyadarkan Alisha dari lamunannya.
"Itu resep dari Bunda, waktu kesini kemarin Bunda ngasih tau aku kalau kamu suka sama sup buntut di tambah sambal tomat," timpal Alisha setelah menelan makanan yang baru saja masuk ke dalam mulut.
Adnan sudah menebak pasti itu ulah Bunda mengingat Bunda kemarin datang dan mengobrol banyak dengan Alisha.
"Ada sejarahnya, kenapa aku suka sup buntut itu," beritahu Adnan.
"Kok bisa?" tanya Alisha.
__ADS_1
Adnan mengangguk, ia kembali melahap makanannya, menghabiskan makanan tersebut sebelum kembali berbicara. Sedangkan Alisha menghentikan makannya, menunggu Adnan berbicara.
"Habiskan makanannya," ucap Adnan ketika melihat Alisha menghentikan makannya dan justru menatap Adnan, menunggu pemuda itu berbicara.
Alisha mengangguk, lalu ia kembali melanjutkan makannya.
"Dulu, waktu di panti asuhan, tiap hari Minggu pasti masak sup buntut, biasalah kami bisa makan enak enggak setiap hari tapi seminggu sekali, terus pas aku udah di rumah Bunda, selalu di tanya mau makan apa, karena aku tidak tahu jenis-jenis makanan enak dan tahunya hanya sup buntut, ya aku sebutin sup buntut itu," Adnan menerawang jauh ke beberapa tahun yang lalu, membuka memori lama tentang masa kecilnya.
"Saking seringnya Bunda masak itu bukannya bosen, aku justru menyukainya. Sampai sekarang, Bunda selalu saja buatin aku sup buntut," Adnan mengahiri ceritanya.
"Oh pantes aja, kalau makanan manis kenapa enggak suka?" tanya Alisha, gadis itu sudah menyelesaikan makanannya.
"Bukannya enggak suka, tapi menghindari makanan manis berlebihan, itu sih berjalan sejak aku kuliah di London," Alisha mengangguk mendengar ucapan Adnan. Setelah itu ia pun melanjutkan menikmati makanannya yang masih tersisa sedikit. Sedangkan Adnan masih setia menunggu di meja makan.
"Aku hari ini mau pergi bareng temen-temen ku boleh enggak?" tanya Alisha setelah menyelesaikan kegiatannya, ia berucap sambil membereskan bekas makanan mereka.
"Oh, jadi kamu mau nyogok aku dengan masak ini?" tanya Adnan sambil tersenyum.
"Kalau enggak boleh yaudah," Alisha cemberut, ia berjalan ke arah dapur sambil membawa piring kotor. Lalu mencucinya, masih dengan Mulan yang tak enak di pandang.
Adnan masih setia duduk di meja makan, sambil menikmati buah yang tersedia di sana.
"Boleh, tapi jangan pulang terlalu sore," ucap Adnan ketika melihat Alisha keluar dari dapur.
Alisha tersenyum, ia kembali mendekati Adnan, "Serius di bolehin?" tanyanya tak percaya.
"Hem, sebenarnya aku mau ajak kamu ke suatu tempat, tapi kalau kamu ada janji kita bisa lain kali ke sana, Minggu depan aja enggak apa-apa," ucap Adnan masih menikmati buah pir.
"Oke deh, aku janji enggak akan pulang terlalu sore, nanti aku buatin kamu makan malam deh," Alisha terlihat ceria setelah mendapatkan ijin dari Adnan.
__ADS_1
"Enggak usah, nanti malam kita makan di luar aja, selama menikah kita kan belum pernah makan di luar,"
Alisha tersenyum, ia mengangguk menyetujui ucapan Adnan, "Yaudah aku mandi dulu ya," pamit gadis itu, melenggang meninggalkan ruang makan menuju kamar mereka.